
Ya semua berjalan normal lagi, semuanya kecuali Alin, Ru, dan Ray sudah pulang. Hanya tersisa mereka bertiga, mereka tak ingin pulang lebih awal karena Ru masih harus bekerja sedangkan Alin harus menjelaskan hasil risetnya ke Profesor Alpha dan yang lain, sedangkan Ray dia tak ingin pulang karena merasa liburannya belum cukup.
Kali ini mereka bertiga tidak tinggal di California, mereka tinggal di apartement Alin yang sederhana diboston.
"Ru, Ray sarapan sudah siap!" teriak seorang Gadis kecil di balik counter
Seperti biasa mereka berdua molor. Sudah dua hari Alin masak namun mereka berdua nggak memakannya
"Sudahlah mungkin mereka elergi masakanku" gumam Alin seraya duduk sendiri dicounter dan menikmati masakannya.
Saat sudah selesai makan Alin melihat jam dan sekarang sudah jam 07.30 . Alin melihat kearah kamar dengan senyum jahilnya biasanya Ru akan keluar dengan terburu-buru
"Alin dimana Pakaian ku?" ucap Ruan Ruo yang dengan santainya hanya memakai handuk berjalan kearah Alin.
Alin menggelengkan kepalanya "Tadi kan sudah ku taruh diatas tempat tidur"
Ruan Ruo menggaruk kepalanya dan kembali masuk ke kamar
Selang beberapa menit Ray keluar dari kamar dengan wajah kusutnya
"Kak ponsel ku rusak, Beliin yang baru please!"
Ray duduk disamping Alin dengan wajah ditaruh diatas meja "Emangnya ponsel mu kenapa?" tanya Alin penasaran
Alin mengambil ponsel ditangan Ray Diliat dari keadaan fisiknya nggak ada yang lecet sedikit pun
Ru tiba-tiba datang dengan seragam pilot dan kopernya "Apa masalahnya?" tanya Ru seraya mengambil ponsel dari tangan Alin
"Nggak tau tuh" ucap Alin. Alin berdiri dan membenarkan dasi suaminya itu "Kamu mau sarapan apa?" tanya Alin menatap Ruan Ruo yang masih mengamati Ponselnya Ray
"Seperti biasa aja. Lagian aku buru buru ini" ucap Ru seraya duduk disamping Ray. Alin pergi ke balik counter dan menyiapkan lemon tea dan Roti
"Ponselku nggak bisa dipake foto" ucap Ray. Ruan Ruo membuka Galeri foto milik adik iparnya itu "Ini sih bukan Rusak tapi kepenuhan" ucap Ru seraya melempar ponsel itu ke arah Ray.
Kepala Alin muncul dari belakang "Berarti nggak perlu gantikan" ucap Alin, keduanya kaget ini sudah kesekian kalinya mereka dikagetkan dengan keberadaan Alin yang tiba-tiba.
"iya nggak perlu ganti!" ucap Ru seraya mengacak rambutnya Alin. Ru mulai memakan sarapannya sementara itu Alin berbincang dengan Ray "Padahal saat disana dulu, ponselmu dianggurin tapi kenapa sekarang penuh dengan foto?"
"Namanya juga orang ganteng kak, ya biasa lah banyak fotonya" gumam Ray yang mendapat gelengan kepala dari Alin dan Ru. Sejak Ray sudah mulai bisa mengenakan ponsel, dia jadi ketergantungan "Al, aku rasa adikmu mulai nggak waras!" bisik Ruan ruo ditelinga Alin. Alin mencubit perutnya "bilangin orang nggak waras emangnya kamu sendiri waras" Ruan Ruo tertawa walaupun perutnya sakit karena cubitan Alin.
Ray membawa sebuah kotak hadiah keluar dari lemari "Kak kok yang ini nggal dibuka?"
"Apa itu?" tanya Alin seraya mendekat ke arah kotak. Ruan Ruo juga ikut ikutan melirik kotak itu "Oh itu hadiah dari Fang zue. Kan kita emang belum membuka semua kado dari tamu" ingat Ru pada Alin. Ray membuka kotak ditangannya "Wah... kak isinya patung Angsa berbentuk hati, Romantis sekali hehehe...Pangeran Fang zue sungguh pintar memilih kado untuk pasangan baru" ucap Ray seraya meletakkan patung itu ditengah meja makan.
sementara Ru masih mengamati patung itu, wajah Alin sudah berubah datar dan dingin
"Kalau kau tak mau buang saja, aku tidak memerlukan barang seperti ini!"
Ru menaikkan sebelah Alisnya "Apa salah Kedua angsa ini, Kenapa kamu begitu marah?"
Alin teringat dimalam menjelang pernikahanya dengan Ru, malam itu Fang zue memintanya bertemu di sungai dekat makam tempat dimana mereka bertemu pertama kali, perlahan namun pasti kaki alin melangkah melewati hutan, Awalnya Alin tidak mau pergi namun Fang zue mengancam 'Apa yang kau mau?' tanya Alin langsung to the point. Fanng zue tersenyum Ringan "Aku hanya ingin bermain"ucap Fang zue dengan wajah dingin.Alin menyodorkan obornya ke wajah Fang zue, dari mata hitam Fang zue terlihat api obor yang dibawa Alin, sementara itu rambut panjangnya berkubar diantara angin
Alin menyeringai 'Apa kau pantas bermain dengaku? palingan baru satu ronde kamu sudah kalah' ejek Alin. Fang zue mengambil Pedang dari pinggangnya 'Jika kau kalah maka kau harus hentikan pernikahanmu dan menikah denganku'
'Cih... apa untungnya bagiku bertaruh denganmu?' Tanya Alin dengan kesal. tiba tiba saja sekitar Alin menjadi terang akan cahaya lilin bahkan ditengah sungai dipasang lampion teratai yang sudah sangat mirip dengan bunga Aslinya, Fang zue menunjuk ke arah beberapa tanaman langka dibelakangnya 'Jika aku kalah kau boleh membawa semua itu dan aku berjanji tidak akan menganggumu lagi'
Alin memeriksa tanaman langka dibelakang Fang zue, diantara banyak nya tanaman hanya satu yang menangkap ketertarikan Alin. tanaman itu jamur Lingzhi yang dikenal sebagai Raja Herbal, seribu khasiat. Alin menarik Sebilah kayu bengkirai didepannya
'Mari kita lakukan' Alin hanya menggunakan batang kayu sementara Fang zue memakai pedang yang sudah dibawa dirinya ke medan perang, sementara lagi bertarung mereka berdua seraya berbicara 'Menikahlah denganku! aku mencintaimu hidupmu akan sangat baik jika bersamaku'
'Buat apa? hidupku yang sekarang sudah sangat baik. aku tidak mencintaimu...'
' Masa depanku sangat cerah dibanding kan Adikku, dimasa depan aku akan menjadi Raja dan aku jauh lebih bisa melindungimu dibandingkan dengannya'
__ADS_1
Alin tertawa sementara tangan dan jemarinya masih sibuk memainkan Batang pohong yang dibawa 'Aku tidak perlu orang untuk melindungiku, justru aku mencari Orang yang bisa aku lindungi. Ruan Ruo mungkin tidak ada apa apanya dibandingkan dirimu saat ini tapi aku yakin dia bisa berubah dan menjadi Seorang pemimpin yang bijaksana' ucap Alin dengan mata yang terfokus pada setiap gerkan pedang Fang zue.
'Kenapa bukan aku saja yang kau lindungi? kenapa harus dia bukan kah aku yang pertama kali bertemu denganmu?'
'Kau adalah calon Raja kerajaaan ini. sebagai Raja sangat mudah untukmu melindungi Rakyat namun untuk Rayat biasa melindungimu itu adalah hal yang sulit karena diperlukan kekuasaan yang sebanding dengan status mu kelak'
'Aku mencitaimu Alin jadilah milikku satu satunya, yang aku inginkan harus ku miliki' gumam Fang zue dengan mata yang sudah memerah
'Ckck, aku bukanlah sebuah barang yang bisa beralih tangan. cukup satu orang yang ku perbolehkan masuk dihatiku, cukup satu orang yang harus kujaga, dan cukup satu orang yang yang ku perbolehkan menyentuh diriku. sayangnya orang itu adalah Adikmu Rumireo Radeya dan bukannya dirimu'
dihadapkan dengan kenyataan yang begitu menyakitkan Fangzue menjadi lengah sementara Alin menangkis semua serangan Fang zue dan memukul titik lemahnya 'Ouch... Kau sungguh ingin merusak masa depanku' jerit Fang zue seraya memegangi bagian yang sakit
'Tenanglah itu mu akan baik baik saja, mana berani aku merusak masa depan kerajaan' Begitu Fang zue menjatuhkan pedangnya Alin pun membuang batang kayu yang sudah bengkok ditangannya. Alin membilas tangannya dengan Air sungai namun dia tak menyangka justru Fangzue meluknya hingga diri mereka berdua jatuh kedalam dinginnya Air sungai 'Kau gila dasar pengindap Anuptaphobia'
Alin membetulkan rambut rambut yang menutupi wajahnya yang basah 'Sst... Diam lah coba liat diantara lampion itu' ucap Fang zue seraya memeluk Alin. ditengah sungai jauh dari mereka ada angsa yang sedang kawin, kepala mereka berdua melengkung membentuk sebuah Hati karena lampion teratai yang cukup terang itu terang itu terlihat seperti di film fantasi
'Kau gila, lepaskan aku. perlu kuingatkan padamu rasa sukamu terhadapku itu hanya sebatas kagum itu sudah hal yang biasa terjadi pada orang mengidap Anuptaphobia yang takut hidup sendiri'
Patung angsa mengingat kan nya pada malam itu, jadi dirinya menjadi kesal namun sekarang dia tutupi dengan senyumannya dan kembali fokus ke Ruan Ruo
"Kamu pergi naik apa?" tanya Alin
"maybe with Taxi" ucap Ru tak yakin karena waktunya begitu mepet. Alin mengambil jaketnya dan sebuah kunci "Ayo, aku antar sekalian aku juga mau kerumah sakit sehabis ini!"
"Naik apa? Kamu punya mobil" tanya Ru
Alin menghela nafas "Sudah ikut aja, oh ya Ray kalau kau ingin keluar jangan lupa kunci pintu" ucap Alin sebelum menghilang begitu saja dibalik pintu
begitu Ru ke luar Alin memperkenalkannya "Ru kenalkan dia Lucifer, dia yang akan mengantarmu hari ini"
......
Maki Ruan Ruo. Alin mengendikkan bahunya saat ini dia hanya ingin ketawa melihat wajah pucat suaminya itu
"Lah siapa suruh mau ikut?!" ucap Alin seraya tertawa. Alin tak merasa bersalah sedikitpun "Kau nggak takut mati ya!" pekik Ru. Alin mengangkat wajahnya dan merangkul Ruan Ruo yang masih terus mengoceh "aku takut kalau aku mati ntar kau akan rindu aku" ucap Alin, wajah Ruan Ruo seketika memerah hingga ke telinga Alin kembali tertawa dia mengabaikan tatapan orang disekitarnya
Ekhm...
Suara deheman seseorang mengalihkan perhatian mereka berdua "Kalian sudah selesai bermesraannya tuan dan nyonya Radeya?! Atau kami semua perlu menunggu lagi" ucap Allen seraya merangkul keduanya lalu melirik ke arah semua kru dibelakangnya
Alin tersenyum canggung "Hey semua" sapanya seraya melambaikan tangan. Ruan Ruo segera melepaskan rangkulan Allen dari pundak Alin "Apaan sih pake rangkul rangkul segala?!" gumam Ruan Ruo. Alin teringat sesuatu dan berbisik ditelinga Ruan Ruo "Ru ntar aku akan pergi berbelanja sekalian membawa Ray keliling, apa kau ingin titip sesuatu?" ucap Alin yang dibalas gelengan oleh Ru.
"Sudahkan aku harus pergi. Oh ya ini" Ru mengambil sebuah Kartu dari dompetnya. "ATM kamu buatku?" tanya Alin seraya mengamati kartu gold ditangannya Ruan Ruo mengangguk lalu mencium Kening Alin "Aku harus pergi untuk dua minggu jadi kalau ada apa apa pakai saja kartu itu" ucap Ru. Alin mengangguk senang "OKE. Terimakasih ku pastikan isinya akan terpakai" Alin begitu bersemangat hingga sifat manisnya keluar begitu saja.
Ekhm...
Allen dan beberapa kru sempat tak berkedip melihatnya kalau saja bukan deheman Ru mereka mungkin nggak akan berhenti menatap Alin, saat Ruan Ruo dan para kru mulai berjalan menjauh Alin berteriak
"Da... Da... Suamiku!"
Ruan Ruo sempat berbalik untuk melihat Alin yang melambaikan tangannya dengan gembira. Wajahnya kembali memerah "Istrimu kelewatan manisnya, Hati-hati ntar lo bisa diabetes!" ucap Allen ditelinga Ruan Ruo
.........
Alin kembali memacu Lucifer ke arah Rumah sakit sesampainya disana dia berganti pakaian. jas putih dan kacamata sudah bergantung dihidungnya tak lupa dia mengikat rambutnya saat memasuki Ruangan Lab, banyak suster yang menyapanya
"Selamat pagi Dr. Craetta"
Alin membalas semua salam itu dengan tersenyum Ramah. "Oh ya sus ada siapa dilab riset?" tanya Alin
Suster itu melihat ke arah lab "Ada beberapa dokter magang, Dok!" alin mengangguk mengerti dan membiarkan suster kembali bekerja
__ADS_1
Sebelum memasuki lab dia berjalan kearah anak kecil yang sedang meratapi mesin kopi "hey... Little brother what are you doing?" tanya Alin seraya menyamakan tingginya dengan anak kecil itu
Anak itu tersenyum seperti malaikat "hehehe dok saya mau minum coklat tapi tak bisa hehehe" anak itu terus tertawa. Alin mengerutkan keningnya dengan curiga "Apa kau sakit? Dimana orang tuamu?" alin melirik ke sekelilingnya begitu banyak orang tapi tak ada satupun dari mereka yang memperhatikan anak ini
Anak itu membuka mulutnya "Ayah ada dikamar adik, adik sedang sakit kata dokter harus dioperasi hehehe" wajahnya tak terlihat sedih sedikitpun
"My name Alin Craetta. Can I ask you, what your name?"
"My name is Thomas" ucap anak itu. Alin memasukkan uang dimesin kopi dan memberi anak kecil itu sekaleng Coklat "This is yours" Alin tersenyum melihat Anak itu tersenyum "Miss, can you buy one again, I want to give it to my little brother" ucap anak itu. Alin membeli dua lagi namun satu kopi dan satu coklat "Okay, this all for you" ucap Alin seraya mengelus rambut itu "Terimakasih Dok" ucap nya seraya tertawa.
Anak itu berlari kearah salah satu kamar pasien sedangkan Alin membeli kopi buat yang lain
Saat dilab Alin meletakkan sepaket kopi itu diujung meja "Hello all"
Semuanya tiba-tiba menghentikan pekerjaan nya dan berdiri menyambut Alin "Eh...kenapa berhenti, kalian nggak perlu formal padaku" ucap Alin seraya melemparkan mereka satu persatu kaleng kopi "Rileks okay!"
Alin lanjut memeriksa monitor riset "sudah sejauh apa risetnya?!" tanya Alin pada salah satu dokter magang itu "Dr. Craetta kami sudah berusaha dan sekarang hasilnya sudah memasuki uji pasar" Alin mengangguk "Trus Efek sampingnya apa kalian sudah temukan?!" para dokter magang menjawab "Kami hanya menemukan satu" Alin sudah tau jawabannya tapi dia masih ragu.
Alin mulai mengotak ngatik monitor didepannya "Siapa yang memegang data hasil uji efek samping kemarin?"
"Kalau tidak salah Dr. Tia" Alin memijat pangkal hidungnya dalam hati dia mengutuk Arzan yang tak menyelesaikan tugasnya.
Wajah Alin berubah serius saat menatap monitor, tenang dan begitu hening bahkan tak ada yang berani bersuara dalam lab itu
Hingga profesor Alpha akhirnya datang "Ngapain kalian?!" tanya nya dari sorot mata profesor para dokter lainnya pergi meninggalkan ruangan
Alin menghela nafas lalu berbalik menatap profesor "Prof aku perlu bicara!"
......
Saat Alin keluar dari lab Alin bertemu lagi dengan anak tadi kali ini ia jatuh didepannya "Are you okay, little thomas?" tanya Alin. Anak itu bangun lalu mengangguk dia ketawa lagi "hehehe... Aku baik baik saja sedikit sakit tapi tak apa, aku lagi buru-buru mau ke toilet"
Alin menghela nafas lega namun baru beberapa langkah anak itu berlari dia kembali terjatuh pada akhirnya Alin memegang tangannya dan membantunya hingga ke depan toilet
"dimana ayah mu?!"
Baru saja Alin bertanya sang Ayah pun datang "Thomas kemana saja kamu?" ucap pria itu. Sebenarnya pria itu terlihat seusia dengan Alin
"Kau ayahnya?!"
Pria itu mengangguk dia melihat name tag Alin lalu dengan sopan menyapanya "Iya dok saya ayahnya"
Alin menghela nafas "Bisa kita bicara?" pria itu mengangguk
"Ini ada apa ya dok?"
"Boleh saya tanya sejak kapan Thomas sering ke kamar kecil dan terjatuh, selain itu kenapa dia terus menerus tertawa?"
Pria itu menggaruk kepalanya tak mengerti apa yang dibacarakan dokter didepannya "Kalau sering ke kamar mandi itu sudah dari bulan lalu tapi kalau masalah ketawanya anak itu emang sangat Ceria dari kecil dok"
Alin mengurut hidungnya lagi "Hmm.. Pak lebih baik bapak periksakan anak bapak ke poli anak saya tidak bisa menjelaskan lebih detail karena saya bukan bidangnya" ucap Alin
Alin cukup lama berbincang dengan pria itu hingga akhirnya dokter Arzan yang menggantikannya
......
Sesampainya dirumah Alin mengganti pakaiannya dan mengajak Ray berkeliling untung bahan bakar lucifer masih penuh
Selama berkeliling Di mall Alin bolak balik memasuki toko, dan tempat mainan. tak lupa dia memasuki tempat elektronik "Kak kita mau ngapain kesini?" tanya Ray penasaran dengan semua alat disekililingnya Alin mengambil sebuah Kamera dan mencoba untuk memotret Ray "Ish kakak!" Alin tersenyum puas. saat direstoran Alin memberikan kamera itu pada Ray "Ini untukmu, lain kali ku akan ku ajarkan cara memakainya"
~•Tbc
Hoo hai semua maaf baru muncul lagi hehehe... Yang penasaran siapa Lucifer ini
__ADS_1
Ya lucifer itu motor kesayangan nya Alin sama seperti Ru yang punya Venus sebagai mobil kesayangannya, oke sudah cukup sekian btw makasih ya yg sudah mau vote dan coment. Enjoy reading all 😽