The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
26. Hilang


__ADS_3


Setangguh apapun karang,


pada Akhirnya akan runtuh,


Jika tuhan akhirnya memiliki rencana yang lebih indah untukmu, cobalah untuk ikhlas


Menangis takkan membantu apapun


Sekuat apapun mental


Pasti akan merasa sedih saat harus


Kehilangan


----------------------------------------


Sesorang menubruk tubuh gadis kecil yang baru saja masuk, dia terisak wanita didepannya terisak bahkan histeris saat memeluknya "Hiks... Al... Alin...Hiks..." Alin terdiam dan menjatuhkan oleh oleh yang ia bawa tadi matanya terbelalak kaget melihat sekelilingnya.


Orang begitu ramai memegang buku yasin dan ibunya yang biasanya tidak berjilbab kini berjilbab dan juga terisak saat melihat dirinya, ada kasur ditengah ruangan dan disamping kasur ada foto papanya. 'Sesak' itu yang alin rasakan saat ini. Alin mencoba tersenyum dan menenangkan wanita yang ada dipelukannya "Kak, tenanglah Alin sudah ada disini. Kakak harus kuat masih ada Alin, mama, Ray, kak Vey dan Ru, kakak nggak sendirian. Alin akan pergi membantu Ray dan yang lain kakak disini aja tolong jaga mama ya kak" Ucap Alin lemah lembut dan tampak tenang. Alin yang sudah memakai celana dan baju panjang kini mengambil selendang dan menutupi kepalanya layaknya memakai jilbab, dia mengambil barangnya yang jatuh tadi dan dia taruh disamping meja lalu ia pamit kepada ibu ibu yang ada disana.


Ada rasa sakit yang tak bisa diartikan dihati Ru yang terdalam saat melihat sikap tenang nya Alin, dia begitu tenang bahkan tak mengeluarkan sedikit pun isakan. Ia tau Alin sedang terguncang tapi dirinya tak bisa terus begini "Al, jangan paksakan dirimu!"


Alin tersenyum tipis "Aku tak apa, aku baik baik saja, saat ini keluargaku memerlukanku, aku harus kuat lagian tak ada gunanya air mataku. Kalau saja air mata ini bisa mengembalikan papaku Ru, aku sudah pasti akan mengeluarkan semuanya bahkan hingga darah yang keluar aku sanggup" ucap Alin dengan lemah lembut suaranya sangat tenang dan tak bergetar sedikitpun.


Alin berjalan sangat cepat bahkan Ru sangat sulit untuk menyamakan langkah kakinya "Ru, cepatlah!" gumam Alin. Ruan ruo menarik tangan Alin kali ini lalu mereka berdua berlari bersama.


Mereka berhenti tepat didepan sekumpulan orang "Al, kau yakin kau kuat melihatnya?" Alin mengangguk lalu berbisik ditelinga Ru "Ru bolehkah aku minta sesuatu dari mu? Aku mohon antarkan papa aku untuk yang terakhir kalinya. Sungguh aku ingin menjadi orang yang membantu dibawah sana tapi aku tak bisa jadi aku mohon gantikan aku untuk papaku" Ruan Ruo mencium kening Alin dan menghelus pipinya "Tanpa kau suruhpun aku akan melakukannya, tunggulah aku sebentar"ucap Ru.


Ray yang melihat kakaknya dari kejauhan hanya bisa menetesakan air matanya, gadis itu masih bisa tersenyum. Saat Ru turun ke lubang kubur Ray memarahinya "Kenapa kau bawa kakak ke sini? Ini pasti berat untuknya" ucap Ray seraya menghapus air matanya. Ray mengendikkan bahunya "Dia kakakmu seperti yang kau bilang dia sangat keras kepala"


Alin melihat dengan mata kepalanya sendiri papa yang selama ini ia sayangi dibalut sebuah kain putih dan timbun tanah secara perlahan. Munafik kalau dia bilang tak sedih, biarpun dirinya telah menyiapkan diri untuk kemungkinan yang terburuk.


Setelah papanya dikubur dan orang orang pada pulang. Alin melangkah ke keluarganya yang masih berdiri didepan kuburan papanya, Alin berjongkok dan menghelus papan nisan yang bertuliskan Rafien Swanetta. Disisinya masib ada Ray, Ru, Raveya, vano dan juga ayah angkatnya.

__ADS_1


Mr. Roberth selaku ayah angkat Alin sangat berduka atas kehilangan yang saat ini anaknya rasakan "Sayang kau tenang saja papamu sudah tenang dialam sana. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk papamu" ucap


Mr. Roberth seraya menghelus bahu putri kecilnya itu. Alin berbalik lalu terkekeh dan tersenyum kecil "Aku tau ayah, aku baik baik saja. Aku sudah ikhlas menerima kepergiannya, aku bersyukur papa sudah berada dijalan yang benar sebelum ajal menjemputnya. Ayah boleh kah Alin pinjam buku yasin nya!" mr. Roberth mengangguk seakan tau apa yang akan Alin lakukan setelahnya "Ya... Sudah ayoo, kita semua pulang" ucap Mr. Roberth ke arah para pria yang tersisa.


"Tenangkanlah istrimu" bisik Mr. Roberth pada Ruan Ruo sebelum pergi. Saat yang lain pergi hanya tersisa Ru dan Alin disana, Alin duduk diantara kedua nisan yang saling bersampingan lalu bergumam pelan "Assalamualaikum papa, Opah ini Alin. Ya papa Alin kembali seperti janji Alin sebelumnya tapi kenapa papa malah yang meninggalkan Alin?! Alin membawa oleh oleh kesukaan papa, sekarang harus Alin apakan itu semua? Opah bukankah papa sedikit keterlaluan dia menyusul opah duluan tanpa pamit pada yang lain. Opah Alin mohon jaga papa Alin disana, jangan biarkan dia kesepian"


"Al sudah!" ucap Ruan Ruo seraya menghelus kepala Alin. Gadis kecil didepannya mengangguk dan tersenyum tipis dia menyuruh Ru duduk disampingnya


Alin membuka buku yasin ditangannya dan mulai melantunkan ayat ayat suci Al-qur'an diiringi oleh Ru. di bagian akhir bacaan Ru baru sadar Alin tidak lagi mengiringi suaranya, begitu melihat kesamping Alin sudah tak sadarkan diri dengan kepala yang bersandar diatas batu nisan papa tercintanya. Setelah menyelesaikan bacaannya Ru pun mengangkat tubuh kecil Alin dalam peluknya "Istirahat lah sebentar. aku tau kehilangan adalah hal yang paling menyedihkan bagi kita semua. Seandainya saja kau tidak menyembunyikan emosimu aku yakin kau tidak akan sampai pingsan seperti ini"


Setelah Alin sadar mereka kembali ke rumah orang tuanya, mrs. Stefani yang baru saja sampai langsung memeluk tubuh kecil Alin "Kau yang sabar ya nak, bunda tau ini berat bagimu!" Runtuh sudah pertahanan Alin dipelukan bundanya.


Sebutir air mata dan isakan lolos dari dirinya "Hiks.... Bun, Alin nggak boleh nangiskan bun?kasian Mama, kak Amy, sama Ray pasti mereka juga akan tambah sedih bila Alin nangis" untuk sesaat Ruan Ruo terhenti saat hendak masuk ke kamar bisa dibilang ini pertama kalinya dia melihat Alin menangis dipelukan ibu angkatnya.


"Bun, Alin lelah Alin mau tidur dipangkuan bunda. Boleh ya bun?!" sang bunda mengangguk lalu membacakan beberapa surah selagi menghelus kepala Alin


........


Seminggu kemudian semuanya sudah kembali seperti biasa, keluarga Angkat Alin sudah pulang dan Alin kembali ke villa nya. Alin bersikap manis seperti biasanya hanya saja sekarang bila sendiri Alin lebih banyak melamun


"Al, aku pergi dulu ya. Tunggu aku pulang" ucap Ru seraya mencium kening istrinya tercinta itu. Alin membawakan bekal untuknya "Ini,aku masak untukmu. Maaf karena ku jarang memasak belakangan ini" Ruan Ruo mengangguk dan mengambil tas berisi tempat makan itu.


Nanti malam tujuh harinya Mr.Raf


"Ray bantu kakak, mengangkat ini!" ucap Alin seraya mengangkat beberapa dus makanan dari kapal


Gadis Kecil itu tengah sibuk mengurusi semuanya. Sejak meninggalnya sang papa tercinta, semuanya terlihat lesu Mrs.Alley bahkan tak memiliki nafsu untuk makan. Kata Bunda dalam agama islam masih harus mengadakan tahlilan jadi Alin memesan makanan


Setelah selesai Alin pun duduk disamping tempat tidur kayu milik Mrs.Alley "Omah aku bawakan bubur kesukaan omah!" ucap Alun seraya mulai menyuapi omahnya yang terbaring lemas setelah kepergian ayahnya. Bukan hanya omah yang sangat terpukul tapi mama nya juga


"Omah jangan gini trus kasian makanan nya mubazir, kalah kalah anak kecil makannya masa oma baru tiga sendok sudah nggak mau makan lagi"


Dari balik pintu Ray melihat kakaknya begitu sabar membujuk Mrs.Alley . Awalnya Ray hendak masuk namun mendengar suara amarah Mrs.Alley membuat dirinya mematung ditempat


"APA GUNANYA KAU SEBAGAI DOKTER, Dari dulu sampai sekarang kau menyelamatkan nyawa orang lain tapi kau tak bisa menyelamatkan nyawa keluargamu sendiri. Kau mengatakan pada mama mu kau bisa menyelamatkannya tapi apa? Kau justru berbohong persis saat dulu apa kau ingat yang kau katakan padaku huh?! Kau bilang semua akan baik baik saja Hiks...kau penipu!"

__ADS_1


Prang....


Mrs. Alley melampiaskan amarahnya dengan melempar piring Ke tembok hingga pecah berkeping keping. Bukannya sedih gadis kecil didepannya justru menunduk beberapa detik lalu setelah itu ekspresi sangat tenangnya muncul dia berjalan ke arah tumpukan keping keping kaca yang berserakan lalu dia bergumam pelan "Tidurlah Omah, kepalamu pasti pusing!"


Mrs.Alley membalikkan badannya hingga punggunya yang menghadap ke Alin. Saat Dia melangkah dia menginjak tangan Alin yang sudah mulai mengumpulkan kepingan kaca. bukan maksud Mrs. Alley melukai cucunya itu dia tidak sengaja menginjak tangan Alin,justru Alin lah yang spontan meletakkan tangannya diatas lantai begitu melihat omah nya hendak melangkah diatas serpihan kaca. Tangan berdarah gadis kecil itu diabaikkannya, ya Alin terluka tapi dia masih bersikap tenang dan tersenyum miris seraya lanjut mengumpulkan pecahan kaca "Perhatikan lah langkah mu omah. jangan sampai kau melukai dirimu sendiri" ucapnya dan saat keluar kamar Alin dikejutkan dengan Ray yang berlinang air mata


Apa dia menangis?


Apa dia membenciku juga?!


Alin meletakkan serpihan yang telah ia bersihkan tadi ke tempat sampah


"Ray bisa kau sini" Masih dengan Air mata yang turun dari pelupuk matanya, Ray menuruti perintah Alin. mencabut serpihan kaca dari kulit mulus kakaknya membuat Ray merasa ngilu yang tak tertahankan "Kau itu anak laki laki tidak seharusnya ngeri liat hal yang seperti ini" canda Alin seraya tertawa. Ray,adiknya itu hanya menggeleng selang beberapa saat setelah selesai mengobati dia berucap "Aku nggak bisa mengobati orang seperti yang kakak lakukan, aku juga nggak bisa tidak memiliki emosi seperti kakak, dan aku pun nggak bisa menanggung beban sebesar beban yang kakak tanggung, aku bukan lah dokter pada dasarnya aku tidak mengerti cara mengobati. Jadi aku mohon jangan lukai diri kakak lagi, aku mungkin bisa melindungi kakak tapi tidak selamanya karena pasti ada saat dimana aku harus pergi" Alin terharu mendengarnya, dia kira Ray marah seperti omah namun sebaliknya jadi Alin pun tak menahan diri untuk memeluk adiknya itu "Adikku sekarang sudah dewasa" gumamnya dengan senang


Saat waktu Tahlillan tiba Ru datang dan Alin menyambutnya, namun langkahnya terhenti melihat wanita dibelakang Ru.


Kalau diliat Wanita itu begitu cantik dan manis layaknya bidadari apalagi ditambah hijab syari berwarna pink


Senyuman mengembang diwajahnya saat melihat Alin


"Alin aku turut berduka atas kehilanganmu" ucap Shenna seraya memegang kedua tangan Alin didepan


Alin tak berkata apapun dia hanya menatap mata shenna tak ada sedikitpun emosi diwajah Alin sangat datar hingga membuat Ruan Ruo merasa tidak enak hati


Saat Alin melepaskan tangannya dari Shenna, Alin tersenyum tipis dan merangkul tangan Ruan Ruo dipundaknya "Kau dan dia pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh dari istana. Ru lebih baik kau mandi dan kau Shenna bisakah kau bantu aku?" ucap Alin


Raut wajah Shenna berubah kesal dan tak enak dipandang "Bisa tentu saja bisa" ucapnya dengan nada terpaksa.


Ruan Ruo mencium kening Alin didepannya sebelum berpamit untuk pergi ke kamar


Setelah Ruan Ruo pergi, Shenna menghela nafas dan Alin menaikkan sebelah Alisnya "Kau tak perlu bersandiwara didepanku, lagian Ru sudah pergi" ucap Alin seraya melwati dirinya


Shenna yang kesal dengan dirinya pada Akhirnya menarik rambut gadis kecil itu "Kau pikir kau ratu dihatinya huh?!" gumam Shenna. Alin meringis dan mencoba melepaskan rambutnya dari tangan shenna


Shenna jatuh "Akh...ouch" pekiknya dengan suara nyaring sehingga semua orang yang bekerja disana berhenti dan melihat kearah mereka, Gadis licik itu mulai menangis "Hiks... Aku tau Ling'er membeciku tapi disini niatku sangat baik...Hiks...Hiks" Alin menatapnya dengan tak percaya dan dia sedikit tertawa melihat Shenna hingga sebuah suara bariton membuatnya berbalik badan

__ADS_1


"Alin apa yang kau lakukan?!"


~•TBC


__ADS_2