
Ray menggoda Alin dengan tawa khasnya. Alin menyeringai "Ya ntar juga kau akan tau setelah menikah" ucap Alin, dari nadanya semua orang tau Alin sedang menyindir adiknya agar cepat menikah
"Hahaha kakak bisa aja" ucap Ray dengan pipi yang memerah
Alin pergi menuju keluarga angkatnya "Ayah, bunda sudah kenalan belum sama orang tua Ru?" tanya Alin
Sang ayah tertawa miris "Ayah lupa hehehe, kami tadi sempat bicara namun belum berkenalan" ucap ayahnya
Alin menghela nafas untuk kesekian kalinya dia menarik kedua tangan orang tua angkatnya ke tengah podium untuk memeriah kan pesta dia bercerita sedikit tentang kisah hidupnya
"Para tamu terhormat disini saya akan memeperkenalkan semua keluarga saya, pada awalnya saya punya dua keluarga, pertama keluarga kandung dan yang kedua keluarga angkat namun karena telah menikah keluarga saya bertambah lagi satu jadi ada tiga. Disini ada keluarga angkat saya, ini ayah saya Roberth Khalid dan ini ada bunda saya tercinta Stefani Khalid" saat menjelaskan Alin memang berbicara pada semua tamu, namun matanya jelas menatap keluarga Ru seperti seorang yang mencoba menjelaskan
"Dan Oh ya saya lupa, saya punya abang angkat juga namanya Revano Adam Khalid, dia bekerja di Indonesia dan sudah menikah sekarang namun sayangnya istri tercintanya tak bisa hadir bersama kita disini karena sedang hamil muda" ucap Alin seraya melirik ke arah kakak laki lakinya itu
Setelah itu Alin menarik keluarga kandungnya ke tengah podium "Dan yang ini keluarga kandung saya yang asli. Disini ada papa saya Rafien Swanetta, ini mama saya Sofia, ini Oma saya Alley Swanetta, adik laki laki saya Rayden, kakak ipar saya Raveya Ferata dan kakak perempuan saya Amy Ferata"
Setelah itu Ruan Ruo juga bergabung dan menarik tangan kedua orang tuanya beserta neneknya ke tengah podium "Para tamu yang terhormat saya juga akan memperkenalkan kedua orang tua saya dan nenek saya tercinta, ini ayah saya Lee jing Ruo, ini ibu saya Huan erlang dan ini nenek saya yang sering dipanggil Mrs. Ruo" ucap Ruan Ruo tak kalah bersemangat dari Alin
Perayaan berlangsung dengan meriah, Alin dan Ru keduanya saling berbincang. Seorang pria berbusana dan cukup gagah menarik perhatian semua orang saat dia ditengah podium berbicara dengan sangat gembira "Para tamu dan keluarga bahagia, sebagai hiburan kali ini bagaimana kalau kita tantang kedua pengantin untuk bernyanyi?" ucap Pria itu yang tak lain adalah Arzan
Alin menatap tajam ke arah Arzan yang ada ditengah podium lalu beralih melirik Ru yang ada didepannya. Para tamu sudah bersorak gembira meminta keduanya untuk bernyanyi "Ru kau saja yang bernyanyi!" pintah Alin dengan kekehan. Alin kira Ru kali ini akan menuruti keinginannya namun sangat disayangkan dia justru menggelengkan kepalanya "Aku tak mau, kau tau tadi suaraku sudah habis saat membaca surah ar-rahman didepan penghulu tadi sore" ucap Ru dengan jelas. Alin mengerucut kan bibirnya lalu beralih ke arah Arzan "Tak ada yang bisa bernyanyi diantara kita berdua" teriak Alin dari arah samping podium
Arzan berdecak kesal "Kalau kalian berdua tak bernyanyi, kalian harus mendapatkan hukuman" ucap Arzan drngan seringai penuh kenakalan
"Apa hukumannya?" tanya Alin
Para tamu menjawab "Cium" "Cium" "Cium" "Cium" Rame sorakan yang meminta Alin dan Ru berciuman dihadapan mereka
Alin menggelengkan kepalanya "NGGAK! Aku nggak mau kalian semua mesum, disini tuh masih ada anak dibawah umur" ucap Alin dengan tak Acuh
Arzan masih menyeringai kearah Alin "Kalau begitu bernyanyilah!" ucapnya lagi.
"Aku tak bisa bernyanyi" ucap Alin seraya memandang ke arah lain. Dia malu menatap mata Arzan dan para tamunya itu
Mr. Reyfan papa nya Alin yang diam sedari tadi memegang pundak putrinya itu "Kamu bisa, pasti bisa. Papa yakin kamu bisa melakukan nya dengan baik, anggap ini permintaanku sebagai Papamu" bisiknya ditelinga Alin.
Air mata Alin mengalir dan dia bergumam "Papa... hiks" Mr. Reyfan memeluk putrinya "Cup...Cup... jangan nangis" ucapnya seraya menghapus air mata Alin, Alin tersenyum karena merasakan kehangatan dari orang tuanya itu.
"Oke aku akan bernyanyi tapi ada syaratnya!" Ucap Alin
"Apa syaratnya?!"
"karena Ru sedang tak bisa bernyanyi, Aku bebas memilih pasangan untuk laguku ini!" ucap Alin
Alin memilih secara acak dan kebetulan dia memilih Allen
Semua lampu dimatikan dan saat lampu menyala Alin mulai bernyanyi dengan suara sederhananya. Tidak lupa dia melampiaskan kekesalannya pada Arzan dengan menginjak Kakinya, arzan meringis namun Alin bersikap seakan akan dia tak sengaja
(Note: scene this qode then enjoy that song)
__ADS_1
"I still hear your voice when you sleep next to me
I still feel your touch in my dreams
Forgive me my weakness, but I don't know why
Without you it's hard to survive
'Cause every time we touch, I get this feeling
And every time we kiss I swear I could fly
Can't you feel my heart beat fast, I want this to last
Need you by my side
'Cause every time we touch, I feel the static
And every time we kiss I reach for the sky
Can't you hear my heart beat so I can't let you go
Want you in my life
Your arms are my castle, your heart is my sky
They wipe away tears that I cry
You make me rise when I fall
'Cause every time we touch, I get this feeling
And every time we kiss I swear I could fly
Can't you feel my heart beat fast, I want this to last
Need you by my side
'Cause every time we touch, I feel the static
And every time we kiss I reach for the sky
Can't you hear my heart beat so I can't let you go
Want you in my life
'Cause every time we touch, I get this feeling
And every time we kiss I swear I could fly
Can't you feel my heart beat fast, I want this to last
__ADS_1
Need you by my side"
Suara tepuk tangan menggema, tanpa sadar banyak orang yang terharu dengan suara dan lagu yang dibawakan Alin. Pada dasarnya Alin hanya memilih lagu yang dia sering dengar.
Arzan kembali ke tengah podium "ALIN, kau penipu! Kau bilang tak bisa bernyanyi tapi yang kau tunjukkan kali ini berbeda..." Arzan terus mengoceh sehingga menimbulkan gelak tawa para tamu
Saat Alin kembali duduk disamping Ru. Ruan Ruo mentapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan "Ada apa?" tanya Alin, Ruan Ruo menggelengkan kepalanya "Tak ada apa-apa" ucapnya singkat. Jujur suara Alin mengejutkannya karena dia merasa pernah mendengar suara itu diIstana dulu
Saat larut malam Alin kembali ke kamar Resort, sedangkan Ru mengurus beberapa orang tamu yg mabuk "Hey kau bangun!" Ru menggertakkan giginya
"A... Aku nggak mau, kenapa Alin jadi milikmu?! Padahal dulu aku pernah melamarnya. ku ajari dia semua tentang islam yang aku ketahui, aku bantu dia dalam pekerjaannya dan sebagainya tapi kenapa takdir memisahkan dirinya dari ku... Hiks... "
Arzan mulai menangis tak karuan
Untungnya tamu lain dan semua keluarga sudah bubar, hanya tinggal Captain Samy, Vano dan Ru yang tersisa. Vano membekap mulut Arzan
"Kau bodoh, kenapa kau minum alkohol tak bisakah kau membedakan yang mana Alkohol dan Air putih?! Padahal cuman minum setengah gelas dan kau sudah tepar begini" ucap Vano dengan kesal matanya beralih ke Ru yang bersikap tak peduli
"Ru jangan salah paham, Oke? Arzan memang sedang mabuk, ini pertama kalinya dia minum jadi omongan nya ngacok semua" Vano tersenyum dan mulai merangkul Arzan dipundaknya
"Hiks... Selama ini dia hanya cinta sama Lucifer tapi kenapa sekarang dia menikah?! Vano kau tau aku pernah melihat Alin Syok karena kejadian sedih, jujur dia begitu tenang dihadapan orang lain namun saat dia sendiri dia akan menangis dan itu imut sekali... hehehe" gumam Arzan tanpa sadar. Ingin sekali Vano menyumpel mulut Arzan saat ini sangat disayangkan kedua tanganya digunakan untuk menahan beratnya.
"Ru jangan dengarkan dia" ucap Vano
Ruan Ruo yang membantu Captain Samy mengangguk "Baik kak" ucapnya. Dirangkulan Ruan Ruo kaptain Samy tertawa "Hahaha... Berikan aku minuman itu lagi! Sangat enak hingga rasanya jantungku berhenti berdetak" Ruan Ruo menepuk jidatnya, orang mabuk selalu merepotkan "Hay kau bocah tengik, awas saja kau buat gadis kecilku menangis. Kalau sampai dia menangis kau akan tau akibatnya" Ucap Captain Samy seraya menjitak kepala Ruan Ruo. walaupun sakit Ruan Ruo berusaha tetap sabar karena dihadapannya itu orang jauh lebih tua darinya.
.....
Sesampainya dikamar Ru melihat Alin sudah terbaring dengan kaus lusuh dan celana boxer "Kau sudah tidur?!" tanya Ru seraya melepaskan jas dan sepatunya, tak ada tanggapan sedikitpun dari Alin namun saat dia duduk disamping Ranjang dia mendengar Alin bergumam "Ru kalau sudah mau tidur, pergi madi dulu sana!" Alin masih setia menutup matanya hingga membuat Ruan Ruo terkekeh
"Kamu seperti bocah, Oh ya kamu kan emang bocah bukan wanita" gumam Ruan Ruo tanpa sadar mata Ruan Ruo menyapu ke pakaian lusuh gadis kecil itu, pakaiannya begitu tipis sehingga terlihat bayangan dari bra nya 'Apa dia tak takut aku menyerangnya?!' ucap Ru dalam hati seraya memasangkan selimut ditubuh Alin.
Gadis kecil itu bergumam "Kalau kau menyerangku malam ini, ku pastikan besok kakimu akan patah semua" gumamnya, Ruan Ruo tak percaya Alin bisa menjawab apa yang ada dipikirannya selang beberapa detik Ruan Rui tertawa sendiri karena merasa lucu
Ke esok paginya atau lebih tepatnya disubuh hari. Alin mengguncang tubuh Ru yang telanjang dada "Ru bangun, kita sholat bareng" ucap Alin ditelinganya. Alin bisa melihat dengan jelas otot otot kekar ditubuh Pria itu "Ru cepatlah" masih tak mendapat respon Alin berbisik lembut ditelinga Ruan Ruo "Ru sayang bangun cepat" ntah mengapa dengan cara itu Ruan Ruo baru merespon. Ruan Ruo sudah terbangun namun dia masih diam menatap Alin ditempat tidur. Alin mengecup pipi pria itu "Masih pagi jangan melamun, yuk kita sholat" sadar dari lamunannya wajah Ruan Ruo memerah dan dia dengan cepat berlari ka kamar mandi
Sehabis sholat subuh Ruan Ruo menatap Alin menunggu penjelasan "Kenapa kau menciumku?"
"Apa? Mencium apa? itu tadi hanya morning kiss aku sudah biasa mencium pipi orang tuaku dipagi hari"
Morning kiss....
Itu tadi morning kiss?!
Ruan Ruo tak percaya morning kissnya akan diberikan dibagian pipi...
•
•
~•
__ADS_1