The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
42. Belum bisa


__ADS_3

________________________________


Semua yang telah dimulai bisa saja berakhir seketika jadi hargailah


_________________________________


~•Ruan Ruo Pov


Aku sangat senang pada akhirnya semua berakhir dengan bahagia, hidupku dan Alin akan bersama lagi.


Keluargaku pasti akan sangat senang mendengarnya tapi yang jadi masalah aku tak tau apa yang dipikirkan keluarganya Alin, mereka membuat sandiwara kematian alin untuk menjauhkan kita berdua karena itu aku pikir mereka semua pasti membenciku


Tapi aku takkan menyerah setelah menikah nanti aku akan sembah sujud dihadapan mereka untuk meminta maaf...


Malam ini aku ada janjian dengannya.


Katanya dia akan memberikanku jawaban resmi jika jawabannya dia bilang iya maka aku akan rujuk dengannya


Sebenarnya aku tak terlalu paham masalah pernikahan terutama masalah cerai di pengadilan tapi dalam kasus ku dan Alin dulu kami menggunakan kontrak yang cukup simpel jika salah satu dari kami melanggar kontrak maka dia berhak meminta cerai tentu saja masalah ini ditangani oleh pengacara dan pihak yang dimintai cerai tidak boleh menolak karena ini merupakan suatu kesepakatan antara kedua pihak. Sudah pasti Tidak boleh hanya sekedar bukti mulut, harus ada bukti nyata jika mau mengajukannya...


Kemarin lusa Alin memberiku kesempatan menjaga Hanzel dan Khana karena dia ada rapat darurat diluar kota. Semua keperluan mereka mulai dari mandi, pakai seragam, buat  sarapan aku sendirian yang urus tanpa bantuan Alin kini aku tau susahnya menjaga dua orang anak sekaligus, aku nggak habis pikir gimana Alin menghadapinya jika ini ditambah Bocah Kecil bernama Lucy. Sepulangnya dari rapat Alin membawa kado dan kue ukuran raksasa bertuliskan 'HBD Twins, for my dear Hanzel and Khana. From your lovely mother'


Karena sebelumnya aku belum dikasih tau saat itu juga sebagai hadiah aku mengajak mereka jalan ke tempat wisata dan disana lah aku bertanya tentang keputusan Alin.malam ini aku sungguh tidak sabar hehehe...


Aku mencari setelan kasual dan sebelum pergi kesana aku menyempatkan diri membeli bunga untuk Alin. Saat ini aku di toko bunga saat melihat berbagai bunga aku baru ingat dulu Alin selalu dikelilingi oleh tanaman untuk risetnya, dia sama sekali tidak bereaksi jika ditanya bunga apa kesukaannya. Aku melihat dipojokan ada bunga kecil yang numpuk "Bu, Itu bunga apa namanya?"


"Oh itu hanya tanaman liar yang sering dijumpai dan jarang dilirik orang. Karena bunga kecil berwarna violetnya dengan batang yang panjang begitu indah jadi saya petik, bunga itu belum punya nama karena dia tumbuh ditempat yang tidak dikira oleh orang jadi saya akan memberinya nama Wild Flower" jelas ibu ibu penjual bunga itu


"Wild Flower?" nama yang unik. Kurasa ini cocok.


"Tolong wild flower nya dijadikan buket ukuran besar" ucapku. Tepat didalam mobil saat menatap bunga itu Aku membayang kan Alin bertanya dengan wajah manis dan suara lembutnya 'Ru kamu beneran cinta sama aku? Sebesar apa presentase cintamu itu?' jika hal itu terjadi aku akan menjawabnya "TENTU SAJA SEBANYAK TANGKAI BUNGA YANG KU BAWA MALAM INI" buket ini sungguh besar jelas ini lebih dari 1000 karena satu tangkai bunganya ukuran mini sekali jadi mudah dibawa. mana ada persentase melewati seratus, aku tertawa sendiri memikirkannya


Tinnnn....Tinnnn...Tinnnn...


Aku tersadar dari lamunan ku. lampu sudah berwarna hijau pantas saja aku di klakson sama mobil belakang


Ntah mengapa saat ini aku merasa jalanan padat banget nggak kayak biasanya apa mungkin karena ini malam minggu, seharusnya kemarin aku tidak membiarkan Alin berpikir lebih lama.


Dari jauh aku bisa melihat kafe Diseberang taman, dan sialnya kafe itu nggak punya parkiran mobil yang kosong. Untung di taman ada parkirannya...


Aku mengunci mobilku tak lupa membawa sebuket bunganya juga. di penyebrangan dari sini aku bisa melihat seorang wanita berjilbab ungu lagi asyik memandang berkas didepannya. Sambil menunggu lampu berwarna hijau untuk pejalan kaki aku menelponnya


"Halo... Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam... Kamu dimana?"


"Aku nggak jauh dari kamu. Tunggu aku ya"

__ADS_1


"Iya hati hati"


Wajah cantik nya tersenyum bahagia, melihat dirinya seperti itu karena ku jantungku mulai berdebar tak karuan. Kaki ku ingin cepat cepat melangkah ke arahnya begitu lampu berwarna hijau aku melangkah kan kakiku


........


~•Alin Pov


BRAKK...


Aku menjatuhkan ponselku saat suara hantaman yang nyaring terdengar. Ku liat sekelilingku dan diluar kaca ada orang yang berkerumun 'Itu kecelakaan ya Allah...' gumam ku dalam hati. Aku langsung berlari keluar


Hal yang paling tidak ingin ku liat, terjadi didepan ku. Air mataku meluncur begitu saja, tanganku gemetar, ku liat tak ada yang berani memberikan pertolongan pertama  "Cepat Hubungi 118 sekarang!" teriakku, aku mencoba menenangkan diriku lalu menarik lengan bajuku sebatas siku. Aku cek denyut nadinya lalu Perlahan ku lepaskan tali pinggang nya agar dia bisa bernapas setelah itu membenarkan posisi kepalanya


'Astagfirullah ini terulang lagi... Kenapa ini terjadi lagi... Hiks...Hiks'


Sayup sayup dia melihatku dengan wajah berlumuran darah, dia tersenyum seolah olah menyuruhku agar tidak khawatir. Aku bisa merasakan denyut nadinya semakin melemah, jika terus begini dia pasti akan.... Aku bahkan tak ingin memikirkan kemungkinan terburuknya


"Ru ku mohon bernapas lah perlahan"


Setelah itu Ru dibawa ke rumah sakit internasional yang terdekat. Aku hanya bisa menunggu dan terus berdoa didepan ruang operasi, dokter dan beberapa perawat bolak balik berlari ke arah ruang operasi itu


Kepalaku sakit mungkin akibat terlalu banyak menangis, selain itu tubuhku masih bau darah. Ya tentu saja bukan darahku, Ku liat jam sudah menunjukkan pukul 13.11, tiba tiba saja seseorang menepuk bahuku


"Arzan"


Selepas sholat aku baru teringat anak anakku "Arzan... Hanzel dan Khana gimana?"


Arzan menghela nafasnya "Mereka tidur bersama Biruni Di apartemenku"


Untunglah Biruni istrinya Arzan sangat Akrab dengan mereka berdua.


Tak lama itu dokter keluar dari ruang operasi "Apa anda keluarga pasien?"


Aku mengangguk "Ya saya istrinya" Jantungku berdetak dua kali lebih cepat saat melihat tampang kusut dokter itu "Maaf Nyonya. Sekarang pasien masih dalam keadaan kritis dan memerlukan Donor Jantung segera!"


Seketika tubuhku lemas, seperti perkiraan ku sebelumnya "A...Apa dia Gagal Jantung?"


Arzan menggeleng dia menahan ku dengan sebelah tangannya agar aku tidak jatuh "Seharusnya kamu tau itu lebih parah dari sekedar gagal jantung" bisik Arzan.


Lagi lagi air mataku jatuh, mana ada pendonor jantung tengah malam begini. Jika Ru bermasalah dengan jantungnya dia tidak bisa melanjutkan karirnya sebagai pilot, rasa bersalah lagi menghantuiku seharusnya dia tidak bertemu denganku lagi jadi dia tidak mengalami hal naas seperti ini. Aku yang bertanggungjawab atas kecelakaannya jika saja aku tidak menunda nunda untuk memberitahunya keputusanku hal ini tidak bakalan terjadi, aku yang akan bertanggung jawab


"Biar aku saja..."


..........


Selepas operasi berjalan dengan lancar, Ruan Ruo kini telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Saat dia sadar Arzan menjenguknya

__ADS_1


"Apa kau baik baik saja?"


"Ya Alhamdulillah. Oh ya aku sudah menginap disini lebih dari satu minggu tapi kenapa aku tak melihat Alin"


Arzan menggeleng lalu menghela nafasnya, Alin menyuruhnya merahasiakan segalanya demi kesehatan Ru. dia membuka laci nakas disamping Tempat tidur pasien


"Sudah ku duga kamu belum melihat ini"


Se amplop surat coklat dan kotak kecil.


"Emangnya itu apa?" tanya Ruan Ruo penasaran. Firasatnya sudah buruk


Saat membuka kotak yang isinya cincin Alin yang digunakan saat pernikahannya dulu, dia membuka surat itu dan membacanya


'Dear my Ru....


Aku tau ini berat bagimu Ru. Tapi selembar surat ini akan menjawab semua pertanyaan mu.


Aku minta maaf...


Untuk sekarang Aku belum bisa kembali lagi padamu...


Masih ada hal yang perlu aku selesai kan,


Aku tau kamu sedang sakit tidak seharusnya aku membahas ini.


Aku ingat semuanya, dan aku tak pernah membencimu sedikitpun, Ya kalau marah mungkin sering tapi itu hanya sesaat. Saat aku pergi dulu pun aku masih sangat mencintaimu, satu satunya alasan aku pergi karena aku ingin kamu belajar suatu pelajaran yang penting. Ya aku sebenarnya tipe yang egois Ru aku nggak ingin berbagi dan juga tidak ingin dilindungi, aku ingin menjadi satu satunya pemilik yang bisa melindungi milikku. Seiring berjalannya waktu ternyata perasaan itu tak juga terhapus....


Kapal ku sudah menjadi retakan kayu dan hanya bisa mengikuti arus tapi kapal mu masih kokoh berdiri diatas samudra. Hidupmu masih panjang jangan menyerah hanya pada satu impian...


Nikmatilah hidupmu selagi kamu bisa jangan terpuruk hanya karena aku. Aku akan mendapatkan hal baru dalam perjalanan ku, kamu juga harus dapat yang lebih baik! jika mungkin ini terlalu sulit bagimu... mau kah kamu menungguku kembali aku janji ini takkan lama?...


Itu saja Ru tanganku sudah sakit menulis rapi agar tulisannya bisa kebaca


Note : Kalau kamu mau bertemu anak anak kamu bisa melihat mereka di Istanbul Rumah Omah mereka setiap liburan musim panas aku juga mengijinkan kamu membawa mereka saat hari itu tiba.


Roma Italia, * ** ****


From Alin Craetta'


"Ikhlaskan lah dia, mungkin Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik untukmu Ru. Contohnya adalah aku begitu aku mengikhlaskan Alin aku langsung bertemu Biruni Istriku dalam hidup ini"


Ru menghela nafasnya, kecewa tentu saja tapi itu sudah menjadi keputusan yang dipilih olehnya. Alin sudah memenuhi semua keinginannya berkali kali jadi kenapa sekarang dia tidak bisa membalas untuk memenuhi keinginan Gadis kecilnya itu.lagian Alin telah menyelamatkan hidupnya....


"Akan ku coba bersabar... lagian dia tak memintaku pergi, aku akan menunggunya walaupun itu memakan waktu seumur


hidup... "

__ADS_1


~•Tbc


__ADS_2