
Wanita itu tangguh
Fisiknya saja terlihat lemah
Jangan remehkan diri mereka
Kalau tak ingin terkena batunya
--------------------------------------------------
"Permisi, aku ke sini ingin mencari jendral muda kalian?!" ucap Alin seraya tersenyum ramah
Beberapa perajurit ikut tersenyum ramah namun beberapa lagi memandang remeh dirinya
"Kau ada hubungan apa dengan dirinya? Dari jas mu aku tau kau seorang dokter. Heh..., Sekarang di Istana begitu banyak dokter wanita di setiap pelosok bahkan di tempat terkecil pun ada. Pasti harga dokter sangatlah murah hahaha..." ucap salah satu prajurit berawakan tinggi
Diikuti tawa peajurit lainnya
Mengingat kata kata Wei, Alin menahan ego nya. Dia berkata lagi namun kali ini dengan nada lembut
"Tuan-Tuan sekalian, aku bertanya disini. Aku mencari jendral muda kalian, apa diantara kalian tak ada yang melihatnya"
Para prajurit tertawa lagi dan kali ini pria yang tadi menatap Alin dari atas ke bawah dengan penuh nafsu
"Kau pasti wanita yang dia tinggalkan semalam, atau bisa jadi kau....
Emm, sudahlah aku tak sanggup menahan tawa melihat wajah cantikmu itu. Sebaiknya kau pulang saja kerumah nona, istana ini bukan tempat untukmu. Kau bermain saja dengan boneka dan pisau bedahmu sebuah pedang tak cocok untuk dirimu"
Alin hanya diam dan saat pria itu berbalik dan hendak berjalan Alin mengangkat roknya dan menyandung Kakinya hingga di jatuh berlutut dan dia berdiri didepannya
"Bukankah Prajurit tak boleh selalu memandang ke atas, ada saatnya dimana kau berlutut dihadapan sesorang. Aku sudah menanyakan dengan baik kalian hanya tinggal bilang ada atau tidak"
Alin mengambil pedang kecil dari balik jasnya dan semua prajurit mengarahkan pedangnya ke diri Alin.
"Tenang lah aku bukan mata mata kerajaan lain dan ini hanya pisau yang berbentuk pedang" ucap Alin seraya mengembalikan miliknya ke dalam jas. Awalnya Gadis kecil itu berniat untuk sedikit bermain main dengan pria yang berlutut dihadapannya
"Siapa kau?"
"Aku bukan lah siapa-siapa kalian tak perlu tau. Aku hanya perlu kalian menjawab siapa nama jendral kalian? berapa umurnya? apa hobinya? Apa makanan kesukaannya ? Dan... Apa dia mau memakan pisang atau nggak?" Cukup malu untuk Alin menanyakan hal itu, dia pikir dia akan dapat ledekan lagi namun para prajurit tak ada satupun yang tertawa
"Kau Fans nya Marcell ?"
Alin menggeleng "Tentu bukan, aku bahkan belum pernah melihatnya!"
Seseorang yang lebih tua dan bijaksana maju kedepan untuk berbicara ke Alin
"Aku tau kau dari keluarga bangsawan tapi daerah ini dilarang raja untuk dimasuki wanita. Sebaiknya kau pergi ntar aku bilang pada Marcell"
"Oh jadi namanya Marcell, aku mengerti sekarang. Kalian tenang saja sebelum aku menikah raja sendiri yang mengijinkan ku untuk bebas pergi kemanapun kalau ada yang menghalangiku beliau berkata dia sendiri yang akan berhadapan dengan orang itu!" ucap Alin seraya memasang wajah datar yang membuat orang bergidik
dikepala mereka seorang wanita bangsawan yang telah menikah sangat dilarang untuk mencari pria lain. "Maa..."
Pria tua itu berhenti saat merasakan aura suram datang dari belakangnya
"Ekhm...Ada apa ini?" suara barinton yang kasar itu membuat Alin menatap ke arah empunya suara
"Kau ..."
Pria didepannya berbadan tegak dengan setelan baku prajurit berwarna putih, matanya gelap layaknya malam dan rambutnya berwana hitam pekat.
Pria itu menganga kaget "Kau Wanita Peledak itu kan?!"
Alin menghela nafas dan memijat pangkal hidungnya
"Jadi kau adalah Marcell?!" tanya Alin
.......
Flashback on
Karena sepi dan bosan Alin tak bisa melakukan apapun di istana, selain itu setiap gerak geriknya selalu dipantau oleh selir raja yang bernama Sheng Ning. dia selalu menegur atau menyinggungnya setiap ada kesempatan sudah sangat jelas bibi nya Ruan Ruo yang satu itu sangat tidak menyukai nya, dipernikahannya dengan Ru hanya Selir Sheng yang tak hadir mungkin karena masih marah atas kejadian di acara pertunangannya Fang Zue. pada akhirnya Alin menyuruh Vrela membantu dirinya membawa peralatan ke istana lama yang tak terpakai lagi
Dia masih belum bisa mengobati pasien dengan kondisi tangannya jadi kesempatan itu dia pakai untuk bermain bersama Vrela
"Vre... Tolong aduk bagian ini?!" ucap Alin. Ya walaupun saat ini tangannya nggak bisa dipakai untuk memegang pena dia masih bisa memetik tanaman dengan ujung jarinya
"Al, apa yang kau buat ini?!" tanya Vrela penasaran karena sedari tadi dia merasa sedang bermain masak masakan
"Hehehe... Nanti saat mendidih jangan lupa pakai maskermu. Didalam itu aku membuat obat bius sekali kau hirup kau bisa pingsan karena baunya"
Vrela melebarkan matanya
"Kau... Nggak bilang ini obat bius!"
"Ya ini kan tadi belum jadi obat jd aku nggak bilang"
Vrela dengan cepat mengambil masker dari tangan Alin
"Kau tak pakai?!" tanya Vrela yang melihat Alin masih asyik mengetik dengan laptopnya.
"Nggak usah kau saja yang pakai. Aku sudah terbiasa"
__ADS_1
Alin berdiri dan menaruh laptopnya didalam tas kali ini dia mengeluarkan kamera dan mulai merekam
"Ini proses Riset //**** yang saya dan rekan saya lakukan di Istana Lama. Dan ini tabung berisi karbon dioksida dan..." Alin mulai menjelaskan setiap tabung yang telah ia pisah pisahkan
Lalu dia mengambil maskernya "It's for safety" Ucap Alin didepan kamera yang terpasang tripod.
Alin baru ingat dia harus mengecilkan api yang merebus obat obat itu "Vre, tolong dikecilkan!" Vrela mengecilkan Api itu namun sayangnya Apinya makin besar dan Air yang mendidih mulai keluar dari tempatnya "What should i do?" teriak Vrela yang mulai panik. Alin yang memegang tabung berlari ke arahnya "Matikan!" ucap Alin seraya mematikan api itu. Karena buru buru tadi Alin nggak sadar ditangannya masih memegang tabung dan beberapa tetes karbon itu tumpah di Cairan yang masih mendidih, Alin melempar tabung itu dan mendorong Vrela agar menunduk
BOOMM!!!!
Seperti yang Alin duga obat itu akan meledak. Semua ruangan tertutup Asap gas Karbon dioksida "Vre, kau nggak papakan?"
Vrela menggeleng lemas Alin memapah nya keluar "Padahal sudah pakai masker!" gumam Alin. Dia tak peduli dengan tangannya yang sakit "Kalau sudah kepepet, aku bisa apa?"
Alin menggendong Vrela dipunggungnya dan keluar dari ruangan itu sementara dua gadis itu keluar beberapa prajurit masuk keruangan itu dan sebagian dari mereka pingsan "Huh? Ini gas beracun!" ucap Pria tegak yang sudah menutup hidungnya dengan baju yang ia pakai. Alin yang sudah mengaman kan Vrela berlari lagi kedalam ruangan untuk mengambil perlengkapannya
"Apa yang kalian lakukan disini?!" tanya Alin seraya memastikan para pria yang tumbang dilantai tidak kenapa napa "Nona ini bahaya gas beracun mengepul!" ucap Pria yang menutup hidungnya dengan baju
"Terus apa yang kau lakukan!" teriak Alin yang memberinya isyarat untuk segera mengangkat temannya dan keluar.
"Ti...Tidak Nona aku harus mencari dalang dari peledakan ini!"
Pria itu melihat sekelilingnya lalu melihat ke arah Alin lagi
"Apa kau melihat orang lain disekitar sini nona?"
Alin menggeleng "Tidak ada yang disini, selain diriku. Kau bodoh seharusnya kau membuka jendela dulu!" Dalam hati Alin mengucapkan beribu sumpah serapah untuk kelakuan prajurit didepannya.
Alin berlari untuk membuka semua jendela, sementara itu pria yang tadi masih mencerna perkataan Alin segera membuka semua pintu istana dengan lebar. "Buka jendela besar diatas itu!" Teriak Alin dari suduk ruangan.
Pria itu mengangguk dan mulai memanjat dinding layaknya seekor cicak "Shit... Kelamaan!" Alin mengambil mainan masa kecilnya dari tas dan melempar beberapa batu sedang hingga jendela besar itu terbuka
Semua kembali normal, Alin duduk dengan penuh keringat saat pria yang memanjat dinding itu menghampirinya dan mengacungkan pedang dilehernya "Apa tujuanmu melakukan peledakan ini?!" ucap orang itu seraya to the point.
Alin mengangguk dan dia melepas maskernya "Aku Alin Craetta dari keluarga Swan. Aku sendiri mendapat ijin dari raja untuk bebas keluar masuk disini, tadi itu kecelakaan kerja dan seharusnya kau memakluminya karena aku sedang melakukan riset penting!"
"Riset apa yang sampai bisa meledakkan gas beracun?"
"Ini obas anesti yang sering disebut obat bius, aku tak punya tujuan tertentu selain melakukan riset"
........
Flashback off
........
"Jadi apa kau menerima tawaranku?"
tanya Alin dengan tatapan serius
Alin mengangguk, namun Marcell tak mau begitu mudah menerima tawarannya
"Tapi ada syaratnya!"
Mulut Alin sedikit menganga namun saat sadar dia mulao berekspresi datar lagi "Apa itu?"
"Ada rumor mengatakan wanita bahkan bisa memainkan pedang lebih baik dari pria. Aku ingin melihatmu bermain pedang didepan semuanya"
Tanpa berkata apapun Alin pergi ke tengah ruang latihan dan membuka perban ditangannya walaupun masih sakit tapi itu lebih baik dari sebelumnya. Marcell menyetel lagu dan Alin mulai memainkan pedangnya.
Semua orang tercenggang bahkan Wei
Yang menonton dari jauh pun takjub.
Alin memainkan kedua pedang ditangannya layaknya sebuah pita begitu cepat sehingga gerakan itu terlihat sangat indah.
Tariannya berhenti saat Alin melihat seorang yang tak asing di ujung netranya. Alin meletakkan pedangnya dan melambaikan tangan
"Halo bi!" ucap Alin dengan canggung
"Apa yang kau lakukan? Seorang wanita bangsawan tidak boleh bermain pedang, apa kau mau menurunken derajat kami para bangsawan!"
Seperti biasa perkataannya sadis dan sangat tajam. Alin tak mau kalah darinya "Aku hanya bermain dan menunjukkan tidak semua wanita lemah. Hanya wanita lemah yang berlindung dibawah kekuasaan! bahkan ada wanita yang berbakat memimpin suatu negara di dunia ini. Aku hanya membuka wawasan mereka agar mereka tidak berpikir dunia itu sempit" jelas Alin dengan tak kalah angkuhnya.
"Kau akan liat apa yang terjadi kedepannya" ucap Selir Sheng seraya berjalan pergi.
Alin bernafas lega dan mematikan tap recorder di ponselnya.
"Kau hebat ling'er, kau bisa melawan nenek sihir itu" ucap Wei seraya berlari kecil kearahnya. Semua prajurit kembali tunduk dihadapan Wei "Salam Hormat kami pada putri Wein!" ucap mereka serempak.
Wei tertawa dan menghelus perutnya "Kalian nggak perlu sopan padaku, perlakukan aku seperti kalian memperlakukan adik iparku yang satu ini" ucap Wei seraya merangkul pundak Alin yang lebih tinggi dari nya.
Semua prajurit bertukar tatapan dan salah satu dari mereka yang lebih tua dan sempat berbicara dengan Alin tadi, kembali membuka mulutnya
"Adik Ipar, Apa maksudnya?"
Wei mengusap wajahnya "Aku lupa kalian tak menghadiri pernikahan Pangeran Ru, karena dilakukan di luar negeri"
Semua orang yang mengerti arti perkataan putri wei mulai ketakutan
"Jadi maksud mu, dia adalah istri pangeran Ru ?" para prajurit baru ingat dengan rumor terkenal di ibu kota yang mengatakan Pangeran Kedua sudah menikah dinegeri orang, dan istrinya seorang dokter yang sangat cantik.
"Apa yang kalian bayangkan!" ucap Alin dengan nada datar. Fitur Alin yang tidak kurus ramping melainkan sedikit berisi membuat nya berbeda dengan kebanyakan gadis di Kerajaan, mata Alin yang memakai lensa hanzel segera dibuka dan memperlihatkan dua netra biru laut yang sangat indah.
__ADS_1
Alin mengambil kacamata dan jas dokternya lalu memakai keduanya
Semua orang ternganga karena wajah Alin yang terkena terpaan matahari sangatlah indah layaknya sebuah lukisan "Marcell, aku harap kau tak lupa janjimu!" kerena dirimu telah membuatku terlibat masalah lagi dengan Selir Sheng, sudah pasti Selir satu itu tidak akan diam begitu saja.
Alin menarik tangan Wei "Ayo kak, kata mereka daerah ini dilarang!"
Seketika semua prajurit termasuk Marcell menunduk "Maafkan ketidaktahuan Kami tuan Putri. Kami salah dan berhak dihukum" ucap mereka serempak yang diawali dengan suara Marcell
Alin terkekeh "Hukuman untuk Kalian? Hmm... Coba ku pikir kan karena salah satu dari kalian membuatku terkena masalah dengan Bibi Sheng jadi aku tak kan mudah memaafkan. Tapi kalian tenang saja aku tak kan melaporkannya pada raja ataupun pada Ru, aku membebaskan kalian dan berhentilah bersikap formal aku mau suatu saat nanti disaat kuperlu bantuan kalian semua mau bekerja sama dan membatuku"
Para prajurit itu berdiri dan berkata
Serempak "Kami Siap!"
Alin tersenyum puas
......
Beberapa hari ini kesehatan raja menurun Alin sudah memeriksanya
dan mendiagnosis nya
"Anda terkena diabetes, dan itu berarti anda harus mengurungi makan makanan manis ataupun gula"
"Bagaimana bisa?" tanya sang Ratu yang merupakan ibu Ruan Ruo
"Ibu bukan kah kau berkata ayah habis jatuh dua minggu yang lalu dan terluka dibagian siku. Luka itu belum sembuh sampai sekarang karena ayah terkena diabetes melitus tipe dua. sekarang Alin tanya ke ayah, Apa ayah sering lelah saat melakukan kegiatan kecil ?"
"Ya Alin kau benar Ayah ayah mudah lelah" ucap Mr.Lee
"Ayah sering buang Air kecil tengah malam, dan penglihatan ayah sering kabur seketika selain itu ayah sering merasa lapar"
Mr. Lee mengangguk itu semua benar gadis didepannya benar benar berbakat. Padahal dirinya sudah pernah bertanya tentang penyakitnya ke dokter terkenal dikerjaaannya tapi dokter itu tidak melihat ada tanda yang salah ditubuhnya
"Apa bisa disembuhkan Sayangku?" tanya Mrs.Huan pada menantunya itu.
Alin menggeleng "Diabetes nggak bisa disembuhkan bu, tapi bisa dikelola. Biarpun gula darah ayah kembali normal itu bukan berarti ayah sudah sembuh total jika ayah kembali memakan makanan manis berlebihan saat gula darahnya normal ada kemungkinan besar diabetes itu akan datang lagi dan terjadi komplikasi"
Alin menarik selembar kertas dan memberinya pada Mrs.Huang
"Bu ini obat yang bisa membantu ayah, akan lebih baik lagi kalau ayah memperbanyak olahraga dan kau juga bu..."
Mr. Lee langsung menatap tajam Alin dan istrinya itu "Apa yang kalian sembunyikan dariku?"
Alin menatap ayah mertuanya dengan mata polosnya "Bu, kau belum memberitahu ayah tentang kondisimu?! Alin sudah bilang kalau penyakit jangan disembunyikan cukup papa Alin. Alin nggak mau itu akan terjadi pada kalian berdua, Aku akan memberitahu Ru, Fang Rui dan putri Wein jadi aku harap kalian berdua mengerti"
Alin mengambil tangan ibu dan ayahnya diatas tangannya "Ibu punya penyakit jantung, jantungnya ibu lemah itu sama seperti ayah sama sama tidak bisa disembuhkan total. Cara terbaik yang dapat Alin pikirkan
adalah Kalian perbanyak olahraga dan jangan terlalu Stress. Alin sudah meresepkan obat dan vitamin buat kalian jadi jangan lupa secara rutin diminum!"
Mr. Lee dan Mrs. Huan mengangguk mengerti "Ling'er aku rasa sudah saatnya aku turun tahta. Aku akan memberikan tahtaku pada Ru, aku yakin dengan bimbinganmu Ru akan menjadi raja yang baik"
Brakkk....
Seketika pintu dibuka dengan kasar dan Alin melihat Sosok pria yang iya rindukan. Ruan Ruo masih dengan seragam pilotnya berjalan ke arah mereka bertiga "Apa benar yang kau katakan Al?!" tanya Ruan Ruo dengan suara beratnya
"Iya" ucap Gadis kecil itu seraya mengangguk
"Diabetes ? Bagaimana bisa? Dan ibu lemah jantung?" Ruan Ruo terlihat tak percaya saat menatap kedua orang tuanya
"Diabetes adalah suatu kondisi dimana insulin tak diproduksi tubuh dan lemah jantung ... Aku tak perlu menjelaskannya padamu" jelas Alin yang dianggukin oleh suaminya itu
Ruan Ruo menatap Raja yang merupakan ayahnya "Ayah aku tidak bersedia menerima tahta mu. Berikan saja itu pada kakak"
Sang Raja mengangguk "Awalnya aku memilihmu karena kau telah tumbuh dengan baik dikalangan masyarakat luas berbeda dengan kakakmu yang selalu di kerajaan ini tapi aku tak masalah karena kalian berdua adalah kebanggaanku. Setelah ini aku berencana untuk pindah keluar negeri bersama ibumu, kami akan menghabiskan sisa waktu kami berdua dikanada"
"Aku setuju ayah terimakasih sudah memilih Kakak. Tapi ayah jika kau turun tahta sekarang bagaimana persiapan perang yang telah kita lalukan sejak tahun lalu"
"Hal itu aku yakin kalian berdua bisa mengatasinya!"
Setelah kembali ke kamar Alin segera mengunci pintu dan ditutupnya gorden dijendela. Ruan Ruo yang sedang membuka bajunya tertawa "Apa kau tak sabar sampai mengunci dan menutup semuanya? Hehehe"
Alin duduk diatas sofa dan menyilangkan tangannya
"Jangan mesum. Sekarang jelaskan dulu Apa maksudmu Perang? Kau tau jika ada peperangan yang paling dirugikan adalah rakyat"
Ruan Ruo mengangguk lalu berkata
"Aku tau Itu kalau saja bukan karena kerajaan diutara telah melanggar batasan wilayahnya dan telah melakukan pemberontakan diam diam. Ayah dan kakak tidak akan melakukan hal itu"
Alin mulai gelisah
"Apa tak ada cara lain selain perang?
Aku tau aku telah berjanji tidak akan ikut campur masalah politik tapi jika benar akan terjadi perang, aku akan membawa semua keluargaku keluar negeri dan tinggal bersama ayah dan bunda angkat"
Ruan Ruo membelai rambut gadis kecil didepannya "Aku tau kau khawatirkan mereka tapi kau tenang saja percayalah istana ini akan melindungi kalian semua dan para rakyat"
Alin mengangguk dan mulai mengajukan pertanyaan lagi
"Kapan Perangnya akan dimulai?"
........
__ADS_1
~•TBC