
_________________________________
Hanya kamu yang kuinginkan....
Hanya kamu yang ku perlukan.....
Dan hanya kamu satu satunya duniaku.
________________________________
Di Vanish tanpa terasa waktu berlalu, kembali ke Roma Alin disibukkan dengan persiapan pernikahan Arzan. "Duh kayak aku aja yang mau nikah, malah besok kakak memintaku pergi dari sini" protes Alin yang tak ada hentinya.
Arzan hanya bisa tersenyum masam
"Kalau bukan aku sama kamu terus siapa lagi yang nikah? Kamu pikir aku buat persiapan kayak gini buat nikahin kucing apa"
"Katamu mau ngurus ini semua sendiri, kenapa jadi bawa bawa aku sih?" protes Alin sekali lagi
Arzan menghela nafasnya "Tidak semua bisa pria yang ngelakuin. Di indonesia sebelum nikah tuh pengantin pria bakalan ngasih kado ke pengantin wanita biasanya sih selain al-qur'an, mukkenah dan sajaddah, kita juga bakalan ngasih satu set pakaian dalam dan juga perlengkapan wanita dari atas ujung rambut hingga ujung kaki. Mana aku tau ukuran pakaian wanita nya kayak gimana? Kecuali kamu mau ngasih contoh pakaian dalamnya kayak apa baru aku bakalan tau" jelas Arzan.
Wajah Alin bersemu merah...
"Dasar Mesum! Aku kasian pada wanita yang bakalan jadi calon istrimu"
Arzan menyentil dahi nya Alin "Pemikiranmu tuh yang kotor!" gumamnya seraya cengengesan.
"Terus, Zan gimana dengan keluargamu yang di indo ?"
"Ya kamu kan tau aku nggak bakal mampu membayar semua tiket keluarga besarku ke sini jadi cukup ortuku..."
"Emangnya uang hasil risetmu selama di indonesia, kemana? Kalau menurutku uang itu cukup buat biayain 10 hingga 15 belas orang untuk bolak balik... Kebetulan aku punya kenalan orang maskapai, Kalau butuh diskon tinggal bilang ke dia"
Seketika Arzan mematung di tempat "Kamu sudah ingat Al?" gumam Arzan yang masih tampak ragu.
Alin menggelengkan kepalanya "Aku ingat tapi tidak semua..."
"sejak kapan? Dan sampai mana kamu mengingatnya?"
"Aku ingat saat naik gondola Vanish bersama anak anak. Hmm... Jadi aku benar Alin Craetta yang Ruan Ruo cari kan?"
Arzan mengangguk "iya Jadi apa setelah semua ini kamu masih mau kembali bersamanya... Aku bersama keluargamu nggak setuju Al. semua sudah berusaha menjauhkanmu darinya"
Alin hanya diam 'Aku ingat alasanku meninggalkannya, sebenarnya sejak awal aku nggak berniat pergi darinya lima tahun bukan waktu yang singkat. Sebelum kecelakaan itu aku hanya ingin pergi selama sebulan karena ingin menyembuhkan mataku agar bisa melindungi dia dari tangan wanita lain. tapi ntah mengapa sekarang dia jadi terasa asing bagiku, apa aku biarkan saja kita berdua tetap seperti ini? ' pikir Alin yang telah menyadari keputusannya yang dahulu sangatlah egois.
Suara arzan membuyarkan semua pikiran Alin "Al...jangan melamun! Aku tau kamu banyak masalah tapi berusahalah tidak terlalu memikirkannya aku takut kamu nge down dan tiba tiba pingsan.Jadi besok semua keputusan ada ditangannmu Al, terserah kamu mau pergi atau tetap disini sampai hari pernikahan"
........................
Keesokan harinya Alin bersama Lucy, Khana, dan Hanzel tetap memutuskan pergi dari italia namun kali ini Alin tidak langsung kabur tanpa pemberitahuan seperti yang dulu biasa ia lakukan. Dia berpisah seperti tak ada apapun yang telah terjadi
"Ini undangannya, kamu harus datang karena ini eksklusif dariku. Yang lain belum dapat, baru kamu karena dirimu adalah tamu khusus milikku. Arzan bahkan belum punya satu kertaspun ditangannya hehehe... " gumam Alin. Alin melirik Arzan dengan senyum nakal diwajahnya
Ruan Ruo mengambil undangan itu "Tentu aku akan datang" hal yang sulit dia ucapkan kini terlontar dari mulutnya. Dia sudah berkali kali berlatih namun tetap saja hatinya masih belum siap melepaskan Alin.
Dia hanya bisa melihat dari kejauhan, Alinnya berbincang dan tertawa bahagia bersama anak anak dan calon suami barunya. Saat hendak balik langkah Ruan ruo dihentikan seorang gadis kecil didepannya
"Uncle mau kemana?" tanya Lucy dengan sorot mata tajam miliknya.
"Tentu saja pulang, urasan Uncle disini sudah selesai"
Lucy menyilangkan kedua tangannya didepan dada "Uncle nggak mau nunggu sampai kami berempat masuk ke pesawat dulu, baru pulang. Om Arzan, sama om Ganesh aja nunggu masa Uncle nggak?"
__ADS_1
"OK... Fine, young Lady. As you wish, i will waiting" ucap Ru dengan mengalah.
Ru masih menatap Gadis kecil didepannya, kali ini Lucy memeriksa saku jaket yang ia kenakan "Uncle ini untukmu!" ucap Lucy seraya memberikan sebuah buku ukuran mini ke tangan Ru
"Diary milik siapa ini?" tanya Ru seraya menimbang nimbang berat buku itu dengan tangannya
Lucy membuat isyarat dengan tangannya agar Ru menunduk tepat ditelinga Ru, Lucy berbisik "This belongs to someone special"
"Alessa hmm..." tebak Ruan Ruo. Lucy mengangguk dan mengancungkan jempolnya "ini rahasia kita jangan sampai aunty tau..."
"As you wish young lady..."
Ucap Ru seraya tersenyum lebar dan memasukkan buku kecil itu kedalam saku bajunya.
"Okay child... Sekarang beri ciuman pada Uncle Ru dan kita akan masuk kedalam!" ucap Alin seraya berjalan perlahan ke arah Ru bersama Hanzel dan Khana.
Hanzel dan Khana mencium kedua pipi Ru lalu berpamitan "Kami pergi dulu Uncle... See you!" teriak hanzel seraya berjalan menjauh dan masih melambaikan tangannya
"See you..." Ucap Ru seraya ikut melambai.
Sesampainya dirumah Ru melepaskan semua penatnya dia liat tanggal diundangan yang Alin berikan disitu tertulis 30 februari Itu artinya dua minggu lagi. Ru langsung melemparkan undangan itu ke dalam laci tanpa membukanya
Hari demi hari Ru menyibukkan diri dengan penerbangan berturut turut selama 48 jam dia mengalihkan semua pikirannya dengan terus bekerja hingga tiba saatnya dia masuk ke rumah sakit
"Lo gila Ru! Gue kan udah nyuruh lo istirahat" ucap Farz teman pilot nya Ru. Allen mengangguk "Ya gitu Farz, dia itu nggak bisa dikasih tau mana ada orang yang mau 48 jam dipesawat terus. Istirahat juga cuman sehari dalam seminggu"
Allen diam diam mengfoto Ru yang masih lemas dengan tangan terinfus
"You know Ru... Lusa adalah nikahannya Alessa dan aku juga diundang. Aku bakal bilang kalau kamu sakit jadi nggak bisa datang"
Ru yang tadinya ingin tidur jadi terbangun karena perkataanya Arzan
"Mana bisa kamu datang dengan kondisimu yang sekarang! Yang ada ntar aku malah dibunuh sama Alessa kalau bawa kamu dalam keadaan begini. Sore ini aku berangkat jadi besok sampai dan masih bisa istirahat dulu di hotel" jelas Allen. Ruan Ruo tak bisa merespon sedikitpun ucapan Allen jadi dia hanya bisa mendengarkan
"Alessa siapa sih? Kayak dia penting banget buat lo berdua" tanya Farz.
"Alessa itu orang yang mirip Alin"
"Alin siapa? Yang lo maksud Alin istrinya Ru itu atau orang lain"
"Istrinya dia makanya dia ngalihin pikirannya dengan kerja"
"Oh pantes dia maksa gue buat ngerubah jadwal penerbangannya menjadi 96 jam dalam seminggu. Lo kurang ajar Ru... Gue jadi merasa bersalahkan ngabulin permintaan lo saat itu, seharusnya kalau ada masalah Lo bisa cerita ke yang lain minimal Allen lah jangan dipendam sendiri" oceh Farz.
Ru mengerutkan keningnya lalu membuka matanya sedikit dan bergumam "Kalau kalian berdua mau berisik lebih baik ke luar sana!"
"Yuk kita ngopi Farz!" pintah Allen yang mendapat anggukan dari Farz.
"tapi sebelum kita pergi ini ada vidcall masuk dari Alessa" ucap Allen seraya meletakkan layar ponselnya dimeja menghadap ke arah Ru
Ru hanya samar mendengar ucapannya jadi dia dengan santai tidur.
Saat bangun dan melihat ke arah ponsel, Ru dikejutkan dengan tampilan dilayar ponsel milik Allen disitu ada tiga orang yang menatap nya dengan serius
"Kok kalian Vidcall nggak bangunin aku?!" tanya Ru seraya duduk dan mengambil ponsel dari meja
Khana menjawab dilayar ponsel "Tadi papa lagi tidur kata bunda orang di infus kalau lagi tidur nggak boleh diganggu"
"Uncle sakit apa?" tanya Hanzel.
Ru berpikir sebentar "Uncle cuman kelelahan"
__ADS_1
Tiba tiba wajah Alin muncul diantara Khana dan Hanzel "Kamu bohong! Aku dan anak anak sudah mengamati kamu tidur lebih dari tiga jam jadi kita tau"
"Bunda tadi dengar dokter yang menjelaskan kondisi tubuh papa ke Uncle Allen terus bunda bilang itu gejala Hipoksia" jelas Khana.
Hanzel menambahkan "tadi bunda bilang Hipoksia itu penyebab utamanya adalah kekurangan oksigen bisa jadi karena kelelahan atau ketinggian saat membawa pesawat"
Ru mengangguk "Ya sebab itu hidungnya Uncle dipakaikan selang kayak sekarang hehehe..." ucap Ru
Alin muncul lagi "Tadinya kita mau menunjukkan ke kamu gaun yang dipilihkan Arzan tapi karena kamu sakit, Kita nggak mau ganggu.kamu nggak perlu datang nanti, sekarang fokus saja pada kesembuhanmu setelah acara kita semua akan menjengguk mu disana"
Ru tertawa mendengarnya "Emang kamu tau aku dirumah sakit mana Alessa?"
Alin mengangguk "Of course i know... Salah satu murid yang kuajar ada yang memakai baju yang sama dengan dokter yang mengecek kondisimu tadi dan sudah pasti aku tau letaknya"
"sebisa mungkin aku akan menyempatkan diri datang ke acara pernikahanmu Al!" gumam Ru.
Alin bisa melihat tekad yang kuat dimata Ru jadi dia hanya bisa menghela nafasnya "Terserahlah yang penting kamu jangan memaksakan diri. Aku nggak mau diacara lusa nanti, aku harus sampai nyiapin satu mobil ambulans hanya untuk orang yang lagi sakit"
Selesai vidcall an dengan Alin, Ru baru ingat tentang diary ukuran mini yang diberi Lucy. Untunglah dia menyimpan jas nya dilaci
Lembaran demi lembaran terbaca dengan penuh penghayatan oleh Ruan Ruo 'Hanzel dan Khana sekarang umur 9 bulan dan sudah bisa melangkah satu dua langkah untuk pertama kalinya' Ru tersenyum lebar membacanya hingga dihalaman terakhir senyuman nya berubah menjadi derai air mata 'Dia kembali muncul dan apa aku harus kembali padanya? Lima tahun tidak semudah kelihatannya ada saat aku meragukan siapa ayah dari kedua anakku. Ada saat dimana aku membenci diriku sendiri saat aku tak bisa menjawab pertanyaan Hanzel tentang seperti ayahnya. Menyedihkan? Ya cukup miris nasib ku sebenarnya ada satu pertanyaan yang sejak dulu sangat ingin kutanyakan pada ayah dari kedua anakku. Aku akan mengatakannya suatu saat nanti' Rasa menyesal kembali menghantui Ruan Ruo. Ada rasa senang juga karena di diary itu Alin menulis bahwa dirinya tak membenci ayah dari anak anaknya, justru dia sangat berterimakasih karena telah diberi dua malaikat sekaligus.
.........
"Bagaimana Para hadirin ? Sah?"
"Sah" ucap semua orang dengan serempak.
"Alhamdulillah" ucap Alin.
Arzan mencium kening istrinya lalu dia berkata "Sekarang ayo kita lanjutkan acara resepsi..."
Disisi lain Ru masih mengejar taxi dibandara "Pak cepat ke lefay resort sekarang!"
"Oke siap Tuan"
Namun sesampainya disana para tamu sudah pulang dan yang terlihat hanyalah Arzan bersama beberapa orang "Hey... Maaf aku terlambat" ucap Ru seraya bersalaman
"Tak apa lagian acara ini masih berlanjut hingga ronde ketiga jadi santai aja"
"Selamat kamu sudah berhasil mengambil hatinya Alessa. Aku mengaku kalah...." belum sempat Ru melanjut suara lembut wanita menyeletup ucapannya
"Kalah apa? Cinta itu bukanlah sebuah Game" otomatis Ru berbalik ke arah suara dan melihat gadis cantik bergaun syar'i yang sedang menyilangkan kedua tangannya didepan dada
Hanzel dan Khana juga ada bersamanya, mereka berdua Asyik berlarian "Papa akhirnya datang juga" ucap Hanzel. Untuk yang pertamakalinya Hanzel memanggil Ru dengan sebutan papa, Ru melihat sekelilingnya namun tak ada yang melihatnya dengan aneh karena kedua bocah itu memanggilnya papa 'Bukankah seharusnya yang dipanggil papa sekarang adalah Arzan?' pikir Ru
Tiba tiba sebuah tangan menepuk pundaknya "Mikirin apa sih? Kamu nggak suka ya anak anak aku manggil kamu dengan sebutan papa" ucap Alin Seraya menaikkan kedua alisnya
Ru menggeleng lalu mengeluarkan Hadiah yang ia bawa khusus untuk pengantin wanita "Nggak papa kok,Al. Ini ada hadiah untuk mu" Ru menyodorkan hadiahnya ke Alin, namun Alin sama sekali tak berniat mengambilnya
"Kenapa? Apa kamu nggak suka hadiahnya?"
Alin menggeleng "Aku suka tapi yang seharusnya kamu berikan hadiah itu pengantinnya bukan aku"
"Huh?!"
Ru sedikit bingung dan semua orang tertawa kecuali Alin. Seorang wanita menggunakan Kebaya khas indonesia datang ditengah tengah orang yang sedang ketawa, Alin menarik lengan wanita itu ke depan Ru "Tuan Rumireo Radeya kenalkan ini Alessa Sekar Tanjung Biruni dia pengantin wanita yang Asli sekaligus Istri nya Arzan sekarang"
Wanita itu menyodorkan tangannya didepan Ru untuk bersalaman namun Fokus Ruan Ruo hanya pada Alin, Senyum bahagia merekah diwajahnya lalu dia memeluk Alin dengan sangat kuat "Terimakasih telah memberiku kesempatan sekali lagi"
~Tbc
__ADS_1