
Note : scene this you can hear music while reading.
Hari demi hari berlalu Alin, Ru, dan Ray akhirnya kembali ke kampung halaman mereka. Selama diperjalanan Alin merasa seperti seorang ibu yang tengah mengurusi kedua anaknya "Al sumpah, perut aku mules. Rasanya pengen muntah" Ruan Ruo sedari tadi menarik baju Alin yang tengah bersandar sambil membaca buku "Al, aku serius mau muntah!" keluh Ruan Ruo lagi seraya menahan gejolak diperutnya. Alin menutup bukunya dan mengambil sebuah botol dari tasnya "Buka bajumu lagi!" ucap Gadis kecil itu untunglah tak banyak orang yang ada diatas kapal yang sama dengan mereka sehingga tanpa malu Ruan Ruo membuka bajunya. Tangan halus dan lembut Alin mulai menyapu punggung kekar pria itu "Ru aku saranin lebih baik kau tidur saja" ucap Alin yang mulai memijat tubuh Ruan Ruo. Dengan lemas Ruan Ruo menggelengkan kepalanya "Aku sudah banyak tidur Al" Ruan Ruo bersandar dipangkuan Alin setelah memakai bajunya, Alin mulai berpikir bagaimana caranya dia bisa membuat Ru tertidur sangat disayangkan obat tidak berpengaruh pada Ru.
Alin menghela nafasnya kebetulan Ray, Kapten Samy serta anak buah yang lainnya sedang bermain pedang di diluar "Kau mau aku bernyanyi?!"
Alin sebenarnya tak yakin saat menawarkan Ru hal sepele seperti itu
"Bukan kah dulu pas di Istana kau mengakunya tak bisa bernyanyi ?!"
Ingin sekali saat ini Alin menghapus ingatan Ru karena kesal "taruh kepalamu disini" Alin menepuk pahanya dan saat Ruan Ruo menuruti perkataan nya. menjadikan pahanya sebagai bantal, Alin mulai bernyanyi dan menghelus kepala Ru tapi saat baru satu kalimat Alin bernyanyi Ruan Ruo menatap Alin "Al coba deh kamu nyanyi lagu mandarin aku pengen denger!" Alin menghela nafasnya dia bahkan tak seberapa fasih berbahasa mandarin "Aku nggak hapal banyak, tapi akan ku coba" ucapnya seraya kembali menghelus kepala Ruan Ruo
"那一年默默无言 只能选择离开
Nà yī nián mòmò wú yán zhǐ néng xuǎnzé líkāi
{That year filled with silence, I only choose to leave}
(Di tahun itu penuh dengan kesunyian, Aku hanya bisa memilih untuk pergi)
无邪的笑容已经不再精彩
Wú xié de xiàoróng yǐjīng bù zài jīngcǎi
{The innocent smile is no longer exciting}
(Senyuman yang polos itu sudah tidak lagi menarik)
你害怕结局所以拼命伤害
Nǐ hàipà jiéjú suǒyǐ pīnmìng shānghài
{You're afraid of the ending so tried to hurt}
(Kamu takut akan hasil akhir, sehingga dirimu mencoba menyakiti)
说是我挡住你的美好未来
Shuō shì wǒ dǎngzhù nǐ de měihǎo wèilái
__ADS_1
{Said I'm blocking your wonderfull future}
(Kamu mengatakan bahwa aku menghalangi masa depanmu yang indah)
你坚决 不希望我等待
Nǐ jiānjué bù xīwàng wǒ děngdài
{You insist, don't want me to wait}
(Kamu bersikeras, tidak menginginkan diriku menunggu)
我便默默的让你走开
Wǒ biàn mòmò de ràng nǐ zǒu kāi
{I silently let you go away}
(Aku jadi diam-diam membiarkanmu pergi)
......................................."
......
Saat kembali Alin mengepak barang barangnya ya mereka kembali ke rumah ayah dan bunda angkatnya Alin. Ini pertama kalinya Ruan Ruo datang ke sini "Wah luas juga ya rumah orang tua angkatmu?!" Alin hanya mengangguk. "Ya kau benar dan oh ya kamu tidur di kamar abang dilantai atas ya!" seru Alin. Seketika Ruan Ruo menatap horor tangga didepan samping kamar Alin "Kamarnya Vano? Ogah aku nggak mau!" Alin menepuk jidatnya "Jadi kau mau tidur dimana? Ini sudah malam jadi nggak usah yang aneh-aneh" gumam gadis itu. Alin masih kesana kemari merapikan barang bawaanya
"Al... aku tidur bareng sama kamu aja ya?! kayak yang diapartement. Karena lelah Alin hanya mengiyakannya saja lagian kan mereka suami istri jadi sah sah saja
Keesokan harinya Alin kembali bekerja sementara Ru kembali ke istana. "Ling ling selamat!" teriak jing an, Alin menutup telinganya dari wanita itu dan langsung pergi ke ruangannya Dr. Gi "Dok saya kembali!" ucap Alin seraya menaruh oleh oleh diatas mejanya "Ling'er maaf aku tak bisa datang kesana" Dr. Gi menundukkan kepalanya. Alin terkekeh "Nggak papa dok"
......
Saat hendak pulang Alin menyempat diri mampir ke restoran mama dan papanya "Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam" ucap mamanya seraya membereskan meja. direstorannya emang sering ada pedagang arab jadi tak asing bagi kedua orang tuanya untuk tau budaya islam.
"Mama Alin laper, Alin mau pay buatan mama!" rengek Alin yang seketika berubah jadi gadis manja
Mrs. Sofia terperangah melihat sikap anaknya pasalnya baru 1 bulan lewat 15 hari setelah dia menikah, mrs. Sofia duduk didepan Alin dan menatap serius perutnya "Perlukah ku panggilkan Mama untuk mengeceknya" gumam Mrs. Sofia. Alin menggelengkan kepalanya "Apaan sih ma? Nggak perlu panggil oma orang Alin sehat, bugar gini. Alin nggak lagi hamil" ucap Alin acuh tak acuh ada jejak kecewa dimata Mrs. Sofia "Ya udah nggak usah manja kalau mau sana gih ambil sendiri" ucap Mrs. Sofia. Alin terkekeh seraya memeluk mamanya "Mama jangan marah ntar Alin buatin satu" mata Mrs. Sofia berubah cerah "Kau Serius?" tanyanya. Alin berbisik "Serius ntar Alin buat nya pake tepung sama gula"
Mrs. Sofia hendak menarik kuping gadis nakal itu namun sayang orangnya sudah lari masuk kedalam dapur
__ADS_1
Dengan gembira Alin mengambil potongan pay di etalase kaca "Emm... Wuenakk ee" gumamnya. Alin mengambil satu potongan lagi dan meletakkannya diatas piring namun saat mengangkatnya Alin melihat sebuah amplop coklat bertuliskan nama papanya "Ish papa kebiasaan naruh barang sembarangan!" Alin mengangkat piringnya beserta amplop itu keruang kerja papanya. Saat hendak menaruh piring amplop itu tanpa sengaja tergelincir dari tangan Alin "Yah kan terhamburan isinya" gumam Alin seraya melihat lembaran lembaran kertas berserakan dilantai. Alin menunduk dan mengambil semuanya tangannya berhenti saat memegang sebuah Rontgen tulang belakang, "Apa ini? Apa ini juga punya papa, tapi sejak kapan?!" Alin duduk didepan meja kerja papanya dan mulai membaca hasil rontgen itu. Air mata menetes layaknya bendungan yang bocor sebagai dokter bedah tentu saja Alin langsung tau penyakit apa itu tapi alin tak mau mempercayainya. Alin menghapus air matanya saat seseorang masuk keruangan itu dia dengan cepat menyembunyikan hasil rontgen itu ke dalam tasnya "Ali kau sudah pulang nak!" ucap pria paruh baya yang langsung memeluk Alin. Alin menahan air matanya yang hendak tumpah "Pa... Pa, Alin kangen"
Ucap Alin. Alin mengusap matanya dan mulai serius "Papa Alin nemu Rontgen milik papa, Papa harus jelasin semuanya sekarang? Kenapa papa nyembunyiin penyakit papa dari Alin dan yang lain? Sejak kapan pa?" suara Alin tidak gemetar sama sekali dia begitu tenang, karena dia tau kalau dia menangis justru papanya itu akan khawatir dan membuatnya merasa baik.
"Kau duduklah dulu, papa akan menceritakan segalanya jadi papa sudah terkena penyakit ini 5 tahun yang lalu dan sekarang sudah stadium ...." Alin menghentikan omongan papanya itu dia tak sanggup mendengar nya lagi.
"Papa selama ini berobat dimana? Disinikan nggak ada yang bisa begituan?"
"Kalau papa sedang pergi melaut papa sekalian pergi ke london untuk berobat dirumah sakit **********"
"Pa..., besok lusa kita ke london!" bukannya Alin tak bisa merawatnya disini tapi disini dia kekurangan bahan obat jadi dia tak ingin mengambil resiko.
"tapi gimana restoran nak?" tanya pria itu lagi. Alin tersenyum "papa nggak perlu khawatir ntar aku minta bantuan Vrela" Alin mengambil tasnya dan segera pulang.
......
Saat Ruan Ruo pulang dia mencari Alin disetiap sudut Rumah dia punya kabar bagus karena pada akhirnya dirinya menemukan anak yang dia cari selama ini "Ali aku menemukan nya, aku sangat nggak sabar ingin memberitahumu" Alin yang sedari tadi melamun segera tersadar dan tersenyum pada Ru "Siapa dia Ru?"
tanya Alin dengan suara sedikit gemetar. Ruan Ruo menjatuhkan dirinya diatas ayunan disamping Alin "Dia wanita yang paling cantik yang pernah kuliat" Alin berpura pura terkejut "Oh ya? Dia cantik, cantikkan mana sama aku?!"ucapnya seraya menggoda Ru. Dengan polosnya Ruan Ruo menatap Alin dan berkata "Kau yang paling Cantik tapi sayangnya kau bukan wanita" bullshit perkataanya, dia menghina atau memuji "Aku bukan Wanita berarti aku robot" Alin menaikkan sebelah Alisnya menunggu jawaban Ru. Ruan Ruo mengangguk "Ya kau seperti Robot yang terus bekerja tanpa henti biarpun dirumah" Alin melempar Ru dengan bantal ditangannya dan Ru hanya tertawa melihat wajah kesalnya
•
•
•
Alin menatap lautan darah didepannya dangan bingung tempat apa itu, saat ini dia berada diperahu bersama seorang pria paruh baya "Papa?!" pria itu menoleh ke arah alin dengan senyuman "Tak apa nak, jangan takut papa ada disini" papanya tak melihat Alin saat berbicara. Gadis itu menangis "Hiks... Papa kenapa nggak bisa liat Alin? Papa buta ayo pa kita ke rumah sakit!" Gadis Kecil itu mengambil dayung dan mulai mengayuh "Hiks... Papa Alin takut, papa jangan pergi" seketika semuanya jadi gelap.
Alin terbangun dengan keringat bercucuran diseluruh tubuhnya untunglah dia tak membangunkan Ru yang masih tertidur nyenyak.
Segera Alin bergegas sholat malam lalu pergi ke Rumah Kaca dia mengambil buku dirak dan membacanya.
"Ini dia, aku harus bisa menemukan nya"
Saat Ruan Ruo bangun dipagi hari, Alin sudah tak ada disampingnya tempatnya terasa dingin itu berarti dia sudah lama pergi "Kau dimana Al?"
•
•
~•
__ADS_1