The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
6. Dipertemukan


__ADS_3

"Ini dimana oma?!" Alin memandangi sekelilingnya dengan sedikit takjub setiap sudut rumah itu sangat kuno ada arsitektur cina di dindingnya


"Ini rumah pasienku, dia anak dari seorang perdana menteri"


"Huh? Perdana menteri?!" mulut Vrela menganga. Ya... Alin membawa nya ikut


Oma masuk ke dalam sebuah kamar


"Eh... Nyonya Swan sudah datang. Kami semua sudah menunggu mu!" sapa nyonya besar rumah itu seraya menyapa oma dengan memeluknya


Vrela berbisik "Ternyata ada orang lain dengan gaya sepertimu" gumamnya membuat alin sedikit terkekeh


Nyonya besar rumah itu melirik kearah dua orang gadis dibelakang oma "Nyonya kau punya dua Gadis Cantik dibelakangmu dan tidak mengenalkannya padaku hah?! Aku marah sekali"


Oma alin mengusap wajahnya "Ya ampun, sejak kapan kau jd formal padaku! Gadis-gadis ini adalah Cucuku dan temannya orang Cina"


Alin dan Vrela mendatangi keduanya "Salam Tante, Namaku Alin Craetta biasa dipanggil alin dan ini temanku Vrela" ucap Alin seraya mencium punggung tangan nyonya besar itu lalu memeluknya wajah ramah terbentuk di wajah nyonya besar itu


"Alin tidak perlu Formal padaku! namaku Xua Lie aku teman nenek mu sejak lama. dulu aku melihatmu saat kau masih berumur dua tahun dan sekarang kau telah tumbuh jd gadis yg manis" ucapnya


Lama berbincang Alin dibiarkan mengintip apa yg sedang dikerjakan neneknya "Oma apa ada yg bisa kubantu?"


"Ya ada kalau tidak aku takkan menyuruhmu datang bersamaku"


Alin mencibir "Aku kan tidak bawa alat medisku mana bisa aku menyembuhkannya, paling nggak aku hanya bisa mendiagnosis penyakitnya"


Oma yg mendengar itu dengan marah berkata "Dia pasien ku siapa yg menyurumu menyembuhkannya? Aku hanya menyuruhmu untuk menumbuk kunyit yg sudah ku rebus ini"


Alin melirik Vrela, lalu Vrela mengendikkan bahunya "Sorry Ling'er, tp aku harus pergi sekarang restoran membutuhkan ku saat ini!"


Vrela pergi meninggalkan Alin beserta tumpukan kunyit yg harus di tumbuk "Kenapa Nggak diblender aja si!" cibir Alin kesal


10 menit alin menumbuk akhirnya selesai juga baju Alin basah karena keringat tumbukan batu itu cukup berat untuk digunakannya


"Oma boleh aku liat pasiennya oma?! Kan percuma kalau numbuk kunyit sebanyak ini dan ntar nggak ngefek"


Oma yang lagi menyiapi obat lain segera mengangguki permintaan cucunya itu.


"Silakan aja sekalian kau salin pasta Kunyit itu dan berikan padanya"


Alin mendekati tempat tidur pasien itu dan memeriksa denyut nadinya lalu dia mendiagnosis penyakitnya "Oma ini keracunan Makanan kalau menurut hasil diagnosaku dia sudah 3 hari terkena racun" ucap Alin seraya mengoleskan pasta kunyit dileher pasien itu


"Iya kau benar dia sudah 3 hari sakit"


Oma mendekati Alin dan menyuruhnya menyingkir, alin memperhatikan betul apa yang sedang omanya lakukan


"Kau bodoh karena hanya mengoleskannya saja! Kalau begini kau harus memijitnya dengan kuat" ucap Oma seraya menunjukannya


Alin bergidik ngeri melihat perlakuan oma pada pasiennya bagaimana tidak alin membayangkan jika dirinya menjadi pasien sudah pasti semua tulangnya bakalan remuk


BYUURR....


Tak cukup memijatnya omanya alin juga menyemburkan sebuah air ke kepala pasien itu, alin yang melihatnya sedikit menganga. dulu dia juga sering melihat omanya menyembuhkan orang tapi ini baru pertama kalinya dia melihat omanya menyemburkan air dari mulutnya


"Oma apa itu ngaruh?!" bisik alin yang sudah berdiri disamping omanya


"Ya ngaruh lah dasar bocah kau emang belajar dari buku tapi kau juga perlu belajar dari pengalaman"


"Ya..ya... aku tidak akan bertanya lg!"


Ucap Alin seraya membenarkan Hangfunya


"Wah... Apa ini nenek dan cucu bekerja sama?! Kau beruntung cucumu peduli padama Ms. Swan"


Ms. Xua masuk dan langsung merangkul pundak Alin


"Hey nak, lebih baik kau membiarkan nenekmu itu menjalankan tugasnya, karena kau bekerja keras membantunya Hangfumu jadi terkena pasta kunyit lebih baik kau mandi rumah kami menyediakan pemandian air hangat kau bisa bersantai disana"


alin hendak menolak nya "Ta... Tapi..."


"Nggak ada tapi tapian ayo aku antar!"





Di pamandian alin merilekskan tubuhnya "Oh... God, thanks for your Mercy" gumam Alin. Setengah jam kemudian alin sudah siap dengan Hangfu baru yang disediakan Nyonya besar rumah itu.

__ADS_1


Hangfu biru selembut sutra itu sangat Cocok ditubuh Gadis muda sepertinya wajahnya sama sekali tak memakai make up


Saat hendak balik ke Oma alin mendengar seseorang mengeluh


"Aku sudah tua mana bisa berjalan jauh, Cucu sialanku nggak mau membantu" ucap wanita tua yang hampir seumuran dengan oma


Keliatannya Nyonya besar rumah ini memiliki tamu lain "Ekhm... Apa kau tak bisa menasehati cucuku itu dia hanya fokus ke kerjaannya saja"


Begitu dia melihat alin hatinya sedikit lega "Eh... Ada Alin sini nak, aku ingin memperkenalkan mu padanya" ucap Ms. Xua dengan pelan ia juga berbisik


"Help me!"


Alin ditarik dan ikut masuk dia hanya bisa tersenyum masam karena ikut terlibat


"Ms. Ruo ini Alin Craetta cucu dari tabib istana yg bernama Ms. Swan dia belajar dan bekerja di london"


Ms. Ruo yang awalnya hanya diam kini tersenyum ramah "Wah gadis yg cantik, apa kau merekrutnya jadi calon menantu mu?!"


Alin langsung menggelengkan kepalanya "Ms. Rou aku disini membantu nenek dan tidak ada hal lain, Nenek seorang tabib dan aku seorang dokter aku akan membantu memijat kakimu agar kau bisa berjalan jauh" ucap Alin seraya menarik kaki wanita tua itu


Wanita tua itu hendak protes namun dihentikan oleh Ms. Xua, nyonya besar rumah itu tau Alin melakukannya untuk mengurangi keluhan yg keluar dari lambe wanita tua didepannya


"Ms. Xua bisa kau berikan aku minyak Zaitun" pintah Alin yang langsung ditanggapi oleh Ms. Xua


Sebenarnya itu keberuntungan bagi Ms. Xua berkat gadis muda itu dia nggak harus mendengar kan semua keluh kesal dan ocehan wanita tua itu


"Kau bocah aku tak mau dipijat, ntar kau malah mematahkan tulangku"


Alin tidak mendengarkan nya dia duduk dilantai dan dengan lihai memijat Kaki wanita tua itu "Nenek tua kau seharusnya menyewa fisioterapi, kaki mu nggak akan langsung sembuh kau perlu olahraga menggerakkan kakimu, setelah memegang kakimu aku tau kau sangat jarang berdiri"


"Bocah sialan Kau tau bukan kau saja dari london, cucu ku bintang besar disana dia pemain basebaa terkenal dan dia sudah mengirim kan ku berbagai macam jenis dokter dan mereka semua sm saja aku tak suka mereka"


"Basebaa?! Mungkin maksud Nenek Baseball?" tanya Alin memastikan


"Iya itu maksudku,jika kau berniat mematahkan tulangku aku akan melapor pada dirinya"


"Benarkah bintang baseball? Aku belum pernah kanal dia dilondon?! Nenek dia pemain baseball bukan polisi atau mentri HAM percuma saja kau mengeluh padanya dia akan fokus pada karirnya dia hanya perlu menelfon dan dokter lain akan datang untuk mendengar keluhanmu"


"Iya betul dia bocah yang nakal walaupun aku sudah bilang tak perlu memanggil dokter dia trus saja mencarikan ku dokter. Aku sampai kehabisan akal untuk mengusir dokter-dokter itu aku lebih suka tabib dari pada dokter sok pintar seperti mereka "


Walaupun dia seorang dokter, Alin tak mengambil hati ucapan wanita tua itu bagi Alin semua wanita tua itu sama saja kalau lagi sakit sudah pasti cerewet nya kambuh terkadang mereka melampiaskan semua kesalahan ke orang yang mereka tak sukai


Alin masih memijat kaki wanita tua itu


Ms. Ruo mengerutkan keningnya dan dengan marah berkata "Mereka memukul kakiku dengan palu dikira tembok apa?! Bukannya sembuh yang ada entar kaki remuk!"


"Oh jadi nenek nggak suka diperiksa seperti itu tapi kan nek nggak semua dokter pake metode seperti itu"


"bagiku mereka semua sama aja, menyebalkan aku nggak suka Cucuku menyuruh mereka, kalau bisa aku akan menyuruh dirinya memenjarakan semua dokter itu"


"Emang dia siapa? Raja kerajaan inggris?!"


"Kau jangan Remehkan Cucu-cucu ku, mereka semua orang yang baik ku akui emang yang seumuran kamu anaknya itu cukup nakal tapi dia sangat pengertian dan baik hati sebab itu kakaknya selalu mengabulkan keinginannya dan membiarkan dia jadi bintang besar dilondon"


"Bintang Baseball, di london bukan cuma satu nek. Aku sudah cukup banyak bertemu orang tapi sekalipun tak pernah mengenalnya, Emangnya siapa namanya Nek?"


Alin mencoba mengulur waktu agar pijatannya bisa selesai tanpa harus mendengar keluhan sakit dari wanita tua itu


"Nama aslinya Ruan Ruo, tapi dilondon dia pakai nama Rumireo Radeya"


Alin mengerutkan keningnya dia sering ke london menjenguk kakak Angkatnya tapi dia belum pernah mendengar nama British serumit itu


"Aku tak mengenal nya! Kalau ada kesempatan aku akan sangat senang bertemu dengan nya"


Wajah wanita tua itu terlihat rileks dan dengan bahagia dia mengatakan "Kau akan bertemu dengannya, dia ada disini aku menyuruhnya tinggal selama 1 tahun kedepan"


Alin melepaskan tangannya dari kaki wanita tua itu "Ya semoga saja, nah nenek kau sekarang bebas berjalan!"


Alin mengelap tangannya dengan kain basah yang diberikan Ms. Xua. Wajah Ms. Xua terlihat sangat senang


"Coba kau berdiri Ms. Ruo?!"


"Ya tanpa kau suruhpun aku akan berdiri!"


Wanita tua itu berdiri dan melangkahkan kakinya semakin dia melangkah wajahnya terlihat bersinar memancarkan kebahagiaan


"Wah sungguh tak sakit, apa kau menyembuhkan aku bocah?! Bagaimana bisa kamu menyembuhkannya dalam waktu singkat?"


Alin melipat kedua tangannya didada

__ADS_1


"Nenek tua aku tak bisa menyembuhkan mu sepenuhnya, kesembuhanmu tergantung kemauan mu jika kau banyak olahraga dan terapi didokter pasti penyakitmu akan sembuh"


"Tapi kan aku sudah bilang, aku tak suka dokter! Mereka semua menjijikkan dan hanya mau uang"


"Ekhm... Nenek tua, aku disini juga seorang dokter" Alin mendengus sedikit kesal


Wanita tua itu terkekeh "Terkecuali kau Gadis Imut, berkat sentuhan tanganmu aku bisa bebas bergerak lagi"


Alin memutar bola matanya dengan malas "Gombal" gumam Alin


"Ya sudah ms. Xua dan ms. Ruo karena aku sudah tak ada urusan aku akan pergi sekarang, terimakasih" ucap Alin seraya pergi setelah mendapat anggukan dari keduanya


Alin tak mau pergi ke omanya, karena sudah pasti dia akan disuruh lagi jadi dia lebih memilih untuk berjalan-jalan diteras


"Hmm...Lumayan Luas" Gadis itu menghirup udara segar sebanyak-banyaknya lalu seketika dia mengingat "Oh ya ampun, aku lupa aku kan belum ngabarin siapapun dirumah" pekik Alin sedikit ketakutan karena hari sudah semakin sore


Alin mengeluarkan ponselnya dan menelfon telpon rumah yang ada direstoran


"Ya dengan Mr. Rafael Swan disini"


"Papa..."


"Ee Alin, dimana kamu nak?! Papa khawatir sama kamu" pekik ayahnya ditelfon


"Papa tenang dulu jangan teriak-terlalu keras entar mama tau bisa bahaya"


"Bahaya apa maksudmu?"


"Pa... Nanti mama ngehukum Alin lagi tuh, sumur aja alhamdulillah bisa diisi sampai penuh ntar kalau mama marah nggak tau deh hukuman apalagi yg bakal diberikannya ke aku"


"Iya tapi kamu dimana? Semalam papa cariin disumur nggak ada trus kamu juga nggak pulang"


"Aku lagi sama oma dan Ray dikota ntah apa namanya, alin nggak tau kenapa tiba-tiba bisa sampai disini juga"


"Sama Ray? Dia bakal pulang nih"


"Iya ntar dia pulang bareng kalau oma sudah selesai sama pasiennya. Rayden makin jago ya pa, papa yang ajarin dia pedang?!"


Alin terhanyut dalam pembicaraan nya di telfon dan pemandangan kolam air terjun didepannya hingga dia tak menyadari kemana ia pergi


"Iya kalau ada waktu senggang papa bantuin tuh ngasah kemampuan pedangnya. kamu kok tau Ray jago, Tau dari mana?!"


"Ya tadi abisnya dipasar dia hampir ngalahin alin"


"Ngalahin?!"


Alin menutup mulutnya dengan kaget dia menyadari dirinya terlalu hanyut dalam pembicaraan


"Kalian berantem?!"


Alin mencoba mengeles "Nggak tadi cuman ngetes skill nya doang"


"Tapi kalian berdua nggak papa kan"


"Iya papa, Alhamdulillah masih sehat wal afiat jadi nggak perlu khawatir"


Alinnn....


Iya Oma tunggu bentar


"Papa sudah dulu ya oma manggil alin, bhay. Love you papa!"


"Love you too Baby, take care yourself!"


Alin buru-buru mematikan ponselnya dan langsung berbalik. baru satu langkah dia ambil, kakinya sudah terpeleset badannya serasa melayang diudara Gadis kecil itu menutup matanya untuk menyiapkan diri akan rasa sakit yg nantinya dia rasakan sebelum benar-benar jatuh untung lah sebuah lengan kekar menangkap pinggang nya dengan sigap


Pria itu memeluk tubuh Alin dan wajah mereka saling berdekatan. dengan perlahan Alin membuka kedua matanya karena tak merasakan sakit disekujur tubuhnya, dia begitu kaget saat menatap manik berkilau milik mata orang yang menangkapnya. Alin dapat merasakan hembusan nafas yang begitu hangat dan Tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang


Mereka berdua terdiam cukup lama, karena sibuk dengan pemikiran nya masing-masing.





~•Tbc


Masih berlanjut nih wkwk 😆 semangat semua.

__ADS_1


__ADS_2