
-Rs. Kota pukul 09.00-
"Alin apa kau tak menghandiri acara Festival?"
Alin yang masih sibuk dengan laporan penelitian melirik ke arah wanita muda didepannya "Hmm..."
"Alin ayolah aku sudah ingin belanja banyak hal" wanita muda itu menarik tangan alin
"kau pergilah sendiri atau ajak saja suamimu, aku masih Sibuk"
"Stop kan saja kegiatanmu itu dulu, kan bisa di kerjakan dirumah. Lagian rumah sakit ini nggak ramai bahkan tak ada satu pun pasien"
Alin menghembuskan nafasnya dengan sangat berat ya itu menjadi suatu pertanyaan karena ntah mengapa sangat jarang ada orang yang datang ke rumah sakit ini walaupun rumah sakit ini tergolong kecil karena hanya punya 1 ruang operasi, 1 UGD, 1 Laboratorium, 1 Farmasi, dan 3 ruang rawat inap serta ruang Dokter yang masing-masing berbeda namun Rumah Sakit ini memiliki Fasilitas alat-alat medis yang cukup lengkap
"Nggak ah, aku nitip makanan ringan aja! Kalau aku ikut pergi nggak ada yang menjaga Rs ini Jin an"
Wanita muda itu mengerucutkan bibirnya lalu seketika dia mendapatkan sebuah Ide "Aku Tau bagaimana kalau kita tutup saja sebentar rumah sakit ini"
Alin terkekeh lalu menjitak kepala wanita muda itu
Akh...
"Kau Pikir ini toko yang seenaknya dibuka lalu ditutup lagi. Ini masih pagi jin an toko saja tutup paling lambat disore hari"
"Ayolah! Kau selalu menolakku lagiankan ini keinginan Baby nya" jin'an mengelus perutnya yang masih rata alin terkekeh dan menyentuh perut Jin'an. Jin'an teman alin satu itu emang sedang hamil muda tapi dia masih memaksa datang ke tempat kerja walaupun itu hanya untuk sekedar menganggu dirinya
"Dok ada pasien!" ucap seorang perawat yang tiba-tiba saja masuk.
Alin tersenyum masam ke arah Jing'an "Hehe... Lain kali aja ya, ini kamu pergi aja sama yin'er" alin menunjuk perawat tadi dan memberinya kode mata
Yin yang bertugas sebagai perawat dipagi hari pun dengan cepat menangkap maksud alin
"Dokter Jing'an aku saja yang menemanimu, kebetulan aku belum sarapan"
Pada akhirnya jing'an mengalah alin bisa bernafas lega dan fokus kembali pada pasiennya
2 Jam 30 menit kemudian
Alin melepas lensa matanya lalu mencuci muka dia tak memakai kembali lensanya melainkan mengambil kacamata dan memakainya
"Mereka mana sih? Kan aku nitip makanan tapi kok mereka lama banget malah sudah mau jam makan siang lagi"
Alin merasa letih dan mengantuk karena sedari tadi trus-trusan saja menatap Laptop nya
"pengen Coffee Latte" gumam Alin seraya beranjak dari ruangannya
Saat dia melewati pintu hendak ke dapur alin tak menyadari seseorang masuk ke Rumah Sakit. Alin tak melihatnya namun dia melihat Alin
"Eeh bukankah itu wanita yang menyebalkan kemarin?!"
Pria yang awalnya hanya berniat bersembunyi di ruangan itu akhirnya mengikuti langkah kakinya
Alin melepas kacamata dan membasuh wajahnya di wastafel setelah itu tangannya dengan cepat meracik sebuah minuman, minumam itu mengeluarkan aroma yang sangat enak
Pria yang mengintipnya dari balik pintu sedikit menganga melihat Gadis kecil itu menyeruput minuman nya layaknya seorang model di Iklan, dia terlihat begitu menikmati minumannya sehingga tak memperhatikan sekelilingnya
Aroma nya sangat menggiurkan sehingga pria itu tanpa sadar melangkah lebih jauh
Seketika Gadis itu menatapnya dengan tajam "Ka.. Kau? Ngapain disini?!"
"A.. Aku cuma mampir" pria itu Ruan Ruo menggaruk kepalanya yang tak gatal
"Sedang apa? Apa kau punya keperluan disini?" ucap Alin dengan santai
"Bukan kah aku sudah bilang Nona, aku disini cuman mampir"
Ide jahil terlintas di pikiran Alin, dia menyeringai menatap pria dihadapannya "Tuan Ru kalau emang kau hanya mampir buat apa kau mengikuti ku ke dapur, apa kau ingin mencuri atau ada keperluan denganku?!"
__ADS_1
"Tak ada apa apa. Apa aku tak boleh bermain sesekali ke sini?" Ruan Ruo tetap tenang dia tau Gadis didepannya mencoba bermain dengannya
Alin tak bodoh bisa menyerah begitu saja " 'Tak ada apa-apa' kata itulah yang selalu diucapkan orang yang ketangkap basah, gerak-gerikmu mecurigakan sekali tuan"
Belum sempat Ruan Ruo menyerang balik Alin sudah melanjutkan perkataannya " Oh ya ampun atau mungkin kau ke sini dengan niat mengintip para perawat berganti pakaian, Sungguh kau sangat Cabul"
Awalnya Ruan Ruo hanya ingin mengabaikannya namun perkataan Alin membuat wajahnya memerah. Rasa malu dan Amarah bercampur di dirinya "Ka... Kau wanita menyebalkan, bagaimana bisa kau berpikir sekotor itu?"
Alin terkekeh melihat Ruan Ruo yang tak bisa menahan ucapannya
"Seorang Pervert tak kan mau mengaku atau nanti dirinya berubah makin rendah dan menjadi seorang *****"
"Kau sangat menyebalkan bahkan lebih menyebalkan dari yang ku duga untung saja kau wanita kalau pria kau pasti sudah habis ditanganku!" Suara serak khas prianya sangat tenang namun dingin
Alin menyeruput minumannya dan "Akh... Emangnya kenapa kalau wanita? Apa yang mau kau lakukan?" Suara alin yang lembut dan berani begitu penuh dengan nada ejekan
Ruan Ruo menyeringai lalu perlahan mendekat ke arah alin "Apa yang mau kulakukan!" Sebelah tangannya memegang meja dibelakang alin dan sebelahnya lagi memegang pinggulnya agar dia tak lari
Wajah keduanya begitu dekat sehingga dirinya bisa merasakan wangi bunga plum dari rambut Gadis kecil dihadapannya, dalam diam dia menatap gadis kecil itu
Lagi-lagi Alin syok dengan tindakan pria gila didepannya, matanya yang hitam dan dalam membuat setiap gadis tak bisa tak menatapnya hembusan napas pria itu begitu lembut dan beraroma mint membuat siapapun akan meleleh bila merasa kannya
Saat Ruan Ruo mulai mendekatkan wajahnya lagi, alin tersadar dan dengan cepat menempatkan Gelas Coffee hangat ditangannya ke depan mukanya sehingga mulut pria itu terkena
Alin tertawa terpingkal melihatnya 'Cium tuh Cawan' ucap alin dalam hati, Pria itu tanpa malu mengambil Gelas didepannya dari tangan alin dia menyeruput Coffee itu dan menikmati nya
"Eeh itukan punyaku!"
"Kan ku sendiri yang menyodorkan nya padaku. Ya jadi aku berhak atas ini"
"Tapi itu sudah bekas mulutku"
Alin kira pria itu akan merasa jijik tapi di luar dugaan dia malah meminum setengah miliknya
"Selama kau tak meludah didalamnya itu terasa nikmat"
"Kalau kau mau tak perlu mengambil punyaku, aku akan membuatkannya"
Alin memutar bola matanya dengan malas, lalu tangannya mengambil sebuah gelas baru "Yaya... Terserah apa menurutmu, kau kan tamu yang nggak diundang. Oh ya ini mau Coffee yang sama denganku atau kau mau Americano Coffee?"
"Punyamu terlalu manis kalau begitu buatkan aku Americano"
Dengan cepat tangan alin meraciknya "Kau harus ingat tuan, aku bukan pelayanmu jadi aku nggak terima adanya Protes"
Alin menyerahkan kopi hitam itu ke Ruan Ruo dan membiarkannya meminumnya dengan tenang
"Jadi kau ke sini bersembunyi dari siapa?" tanya Alin pelan dan lembut
Uhukkk... Uhuukkk... Uhuukkk...
Ruan Ruo terbatuk dan menatap Gadis kecil dihadapannya dengan tatapan tak percaya
"Nona apa kau bisa membaca pikiran?"
Alin menggeleng "Kalau aku bisa mungkin aku bisa jadi Gila sekarang"
"A... Aku nggak bersembunyi tadi aku hanya bosan dan berjalan-jalan ke sekeliling"
"Kau Sepertinya dicariin, sebaiknya kau pergi sekarang!" Alin menunjuk ke sebuah Jendela dan mereka melihat beberapa orang pria berteriak memanggil namanya
Tuan Rumireo dimana kamu?
Alin tertawa saat eksperesi Ruan Ruo menjadi dingin
"Dok sedang apa kau disini di luar ada pasien masuk UGD?" ucap seorang perawat yang membuka pintu
Dengan Cepat alin meletakkan gelasnya dan langsung berjalan dengan cepat ke ruang UGD bersama Perawat, Ruan Ruo yang tak mengerti apa pun juga ikut menyertainya "Bagaimana Kondisinya?" tanya Alin ke Perawat
"Pasien mengalami sakit perut dan demam tinggi"
__ADS_1
Alin dengan cepat masuk ke ruang UGD, saat Ruan Ruo hendak masuk dirinya di tahan oleh perawat "Selain keluarga atau kerabat pasien yang bersangkutan, orang lain dilarang masuk"
"Orang Lain?!" Gumam Ruan Ruo tak percaya kalau selain alin ada juga yang tak mengenalnya
Hahaha...
Suara tawa cekikikan terdengar disampingnya "Oh ya ampun Tuan Ru disini kau rupanya? Aku dan yang lain sudah mencarimu dipenjuru kota" ucap Ray seraya duduk disebelahnya
Ruan Ruo menyeruput minumannya lagi "Kau tau Ray Gadis didalam itu sungguh menyebalkan"
Rayden mengangguk setuju walaupun dia tak tau siapa gadis yang ditunjuk tuannya "Ya semua Gadis sangat menyebalkan"
"Mereka berpura-pura manis dan mencari perhatian" ucap Ruan Ruo
"Mereka berpura pura lemah agar kita terlihat bodoh" tambah Ray
Keduanya masih menatap Ruang UGD yang sama lalu Ruan Ruo berbalik dan menghadap Ray "Oh ya Ray aku dengar kakakmu yang Cantik sudah datang, Bagaimana dengannya?"
"Dia sama seperti sebelumnya, hanya saja dia makin cantik dan berbakat. Dan oh ya Nyonya menyuruhku membawamu kembali ke Salon"
Ucap Rayden
"Kau tau Ray salon itu tempat khusus wanita memanjakan dirinya, buat apa kita sebagai pria pergi ke Salon btw Ray bakat apa yang dimiliki kakakmu" Ruan Ruo tertarik dengan perkataan Rayden tadi
"Aku punya dua kakak, satu sudah bersuami dan kau tau sendiri suaminya seorang mentrinya kakakmu dan satunya lagi baru kembali dari london. Mereka punya bakat yang jauh berbeda kalau kakak pertamaku dia sangat pandai berias dan hanya tertarik dengan Romansa dunia sedangkan kakak keduaku itu emm... " Ray mencoba membayangkan Alin kakaknya
"Dia pandai bermain anggar dan hanya tertarik pada Ramuan Obat, Racun, dan operasi medis. Dia sangat jarang menyukai Romansa kalau pun ada Romansa di hidupnya itu tak lebih dari sebuah lembar buku yang ia baca"
"Dari mana kau tau Dia masih pandai atau tidak memainkan pedangnya?"
Ruan Ruo menatap Rayden dengan tajam seolah mencari kebohongan dimatanya
Rayden berbicara jujur "Aku dan yang lain sudah bertarung dengannya dipasar dan kami semua dikalahkannya"
Ruan Ruo tak lanjut bertanya karena dia tahu pasti bagaiamana rasanya saat dipermalukan wanita
"Nanti perkenalkan aku dengan kakakmu itu ya!" gumam Ruan Ruo
Yang dibalas anggukan olehnya
Saat alin keluar dari ruang UGD
"Siapa Wali pasien didalam?"
Rayden berdiri dan mengangkat tangannya "Aku"
Alin menatap Rayden yang berdiri disamping Ruan Ruo "Kau walinya?"
"Iya kakak"
Dengan wajah serius alin menjelaskan hasil diagnosa "Pasien mengalami Kram perut karena mengalami kekurangan makanan karena itu juga dia menderita demam Tinggi jadi kau harus menebus obat di resep ini" Alin memberinya sebuah resep yang tidak bisa ia baca
"Tulisan macam apa ini?" gumam Ruan Ruo yang melihat secarik kertas ditangan Rayden
Ray terseyum masam "Ini tulisannya kakakku, tulisan seorang dokter"
"Kakak?"
Ray menatap keduanya dari atas ke bawah "Bagaimana kalian bisa Kakak berAdik?"
Alin tersenyum lalu merangkul pundak Ray dan mendekatkan pipinya di pipi Ray "Bukan kah kita terlihat mirip? Hanya iris mata kita saja yang berbeda karena bawaan dari Gen"
Ruan Ruo mengangguk emang keduanya terlihat mirip hanya saja iris mata alin dibalik kacamata berwarna biru sedangkan Ray berwarna Hitam kecokelatan
Alin...
•
•
__ADS_1
~•