The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
16. perjanjian


__ADS_3


Ruan Ruo melirik Ray yang duduk disampingnya "Ray, menurutmu Alin itu orang yang bagaimana?"


Ray mengusap wajahnya dengan kasar ini sudah ke sekian kali tuannya itu menanyakan hal yang sama "Tuanku, Pengeran Ru. Aku kan sudah menjelas kan apa yang ku tau tentang kakak ku itu, jadi bisakah kau berhenti menanyakan hal yang sama"


Ucap Ray seraya tersenyum miris


Ruan Ruo terkekeh "Apa ada kebiasaan buruk yang kau jelaskan tadi?! Sependengaranku Kau hanya memuji kakakmu saja"


Ray tertawa hambar "Kau seriusan ingin tau hal buruk tentangnya?" tanya Ray ragu-ragu


Ruan Ruo mengangguk pasti, Ray menghela nafas sebelum menjelaskannya "ini peringatan pertamaku untukmu pangeran, Yang Pertama kau harus tau Kak Alin tak bisa memasak jadi kusarankan jangan pernah mencicipi masakannya. Peringatan kedua kau juga harus tau Kak Alin itu orangnya pendendam. ada pepatah yang mengatakan marahnya orang sabar itu berbahaya bahkan lebih berbahaya dari pada pembunuhan saat kau menikah dengannya nanti kau juga akan tau. Dan yang ketiga ini peringatan terakhirku, kak alin biasanya akan mementingkan orang lain dari pada dirinya namun sekali dia kecewa pada orang tersebut dia akan pergi"


Mulut Ruan Ruo menganga hal sepenting itu tak diberitahukan padanya sebelumnya "Apa ada lagi?"


Gumam Ruan Ruo


seketika sebuah tangan halus menyentuh pundak keduanya "Ya masih banyak lagi" ucap orang itu seraya tersenyum


Ray tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya "Kakak, sejak kapan kakak disini?!" tanya Ray. Di mata Alin sikap Ray sangat lucu, dia seperti seorang anak yang ketahuan mencuri.


"Ya cukup lama untuk mendengarkan obrolan kalian" ucap Alin seraya duduk disamping Ruan Ruo, Ray yang tau maksud kakaknya "Saya permisi, karena ada yang perlu saya tangani pangeran!" ucap Ruan Ruo seraya pergi


Alin menyesap kopi ditangannya "Kenapa apa kau takut dengan pernikahan ini?" tanya alin dengan santai


Tatapan Dingin Ruan Ruo kini berubah menjadi sebuah seringai "Takut, kenapa takut?" gumam Ruan Ruo


Alin terkekeh "Kau nggak takut tapi aku yang takut jujur aku punya keinginan untuk menikah hanya sekali dalam seumur hidupku"


Ruan Ruo mengangguk "Aku pun begitu tapi Kita berdua tak saling mencintai sebuah hubungan tanpa cinta apa akan berhasil?!"


"Ru banyak orang mengatakan cinta tumbuh karena terbiasa"


"Ya banyak begitu banyak tapi sayangnya aku sudah pernah jatuh cinta dan aku menunggu cinta itu"


Alin merasa Ruan Ruo mulai terbuka padanya "Mari kita ceritakan rahasia satu sama lain, dalam pernikahan kejujuran sangat dibutuhkan"


Ruan Ruo mengangguk setuju "Iya boleh saja, anggap ini pelajaran sebelum kita menikah. Kalau begitu kau duluan yang bercerita!" ucap Ruan Ruo dengan seringai khas nya.


****...


Pengecut ya kali wanita dulu yang ngomong, nggak peka banget jadi orang. Urat nadi dipelipis alin terlihat karena sangkin kesalnya "Jujur aku bukan wanita baik karena aku sudah nggak perawan" ucap alin.


Alin tak mengharapkan Ru bertindak biasa biasa saja seolah itu adalah hal umum yang terjadi "Itu sudah biasa alin, kau tau bahkan di negar j anak berusia kurang dari 17 tahun malu jika dia masih perawan"


Alin menahan emosinya hingga wajahnya memerah ingin sekali rasanya dia memukul orang didepannya saat ini "Sekarang giliranmu?" ucap alin seraya menunjuk Ru


"Kamu belum selesai bercerita, kenapa harus aku?"


Dengan sabar alin menghelus dadanya lalu dia melanjutkan ceritanya "Dulu saat umurku lima tahun, opah menitipkan ku pada raja karena saat itu keluargaku sedang ada di kerajaan lain sebrang pulau. Raja menitipkan aku pada tanteku dan anaknya yang tinggal sendiri di desa, disana beliau memanfaatkan ku nyapu, ngepel, jemur, lap piring, cabut rumput, nyiram tanaman, dan bekerja itu sudah jafi kebiasaanku dulu aku tak apa, aku tak pernah mengeluh saat pertama kalinya hingga suatu hari kakak sepupu ku menghancurkan masa depanku, aku disekap di ruangan gelap dan disana dia melakukan hal tidak bermoral. Bukan hanya sekali atau dua kali saat itu aku sudah ngelaporin ke tante tapi beliau justru membantu kakak sepupuku untuk melampiaskan nafsunya, sejak saat itu aku trauma. Saat opah dari medan perang kembali melihatku beliau langsung marah besar lalu dia menghadap raja, raja pun mencebloskan ibu dan anak itu ke penjara"


"Sekarang giliran mu!" ucap Alin dengan dinginnya


Ru tersenyum dan mengacak rambut Alin, dia tau wanita didepannya sedang kesal dengan sikapnya "Sebenarnya aku tak mau menceritakan ini, tapi karena kau akan jadi Patner hidupku. Aku rasa hal ini tak apa"


"Jujur ya Al, diantara semua wanita yang ku kenal kaulah yang paling baik dan jujur sungguh jarang ada wanita yang berani mengatakan hal yang sebenarnya tentang privasinya, terutama masalah keperawanan nya tapi kau mengatakan itu pada calon suamimu seperti itu bukanlah hal yang kau rahasiakan. Apa benar kau wanita?!" Ru menunggu perubahan Ekspresi diwajah Alin namun sayangnya Alin hanya bergumam "Aku Telah terbiasa dengan itu! Aku nggak mau kau menyesal dikemudian hari" dia mengatakannya tanpa mengubah mimik diwajah kesalnya


Ruan Ruo menghela nafasnya "Iya aku akan bercerita tentang diriku sebenarnya aku punya phobia..."


"Ya aku tau itu Hydrophobia."

__ADS_1


Potong alin


"Jangan dipotong dulu napa? Nggak sopan banget"


Alin semakin sewot "Biarin aja, Kau juga sering nggak sopan_-"


"Mau dilanjut nggak nih?!" tanya Ru


Alin tersenyum polos seakan tak ada yang terjadi "Ya silakan lanjutkan"


Ucapnya dengan lembut


"Aku mengidap itu karena pernah tenggelam, suatu hari saat aku masih kecil aku pernah tenggelam dan seseorang menolongku dan kau tau siapa itu? Dia adalah anak kecil berusia 6 tahun padahal dari segi umur dan besar tubuh aku jauh dari dirinya saat itu aku umur 8 tahun. Dan saat itu dia juga merawatku aku jatuh cinta padanya"


Mendengar itu Alin merasa sedikit mual 'Yang benar saja, masih kecil sudah main cinta cintaan!' gumamnya dalam hati


Ru melanjutkan ceritanya, "Dia begitu polos matanya sangat jernih, aku pernah berkata padanya suatu saat jika aku sudah besar nanti aku akan membawanya ke kerajaan dan menjadikannya ratu sekaligus istriku satu satunya. Karena hal itu aku belum pernah merasa kan jatuh cinta lagi, aku emang sering bermain main dengan banyak wanita tapi tak satupun dari mereka dapat mengisi hatiku seperti dirinya"


Masih dengan polosnya Alin bertanya "Jujur Ru, berapa banyak mantanmu?"


Ruan Ruo menghitungnya dengan jari tangan dan dirinya merasa bingung sendiri "Intinya nggak nyampe 50" ucapnya ngasal


Alin tertawa dan bergumam "Makanya cari pacar itu jangan di Club malam"


Ruan Ruo terkekeh sebenarnya yang dikatakan Alin benar, beberapa dari pacarnya dia kenal di tempat hiburan.


"Dan kau sendiri, berapa banyak?"


Tanya Ru dengan nada mengejek


Alin terkekeh "Aku punya 1 dan sampai sekarang aku masih menyayanginya"


Kalau dijawab Jujur Alin akan berteriak TIDAK namun mana mungkin Alin membiarkan Ru mengejek nya "Aku tak tau apa itu cinta, sudah banyak buku yang aku baca tapi aku belum pernah menemukan hal yang nyata" ucap Alin


"Terus pria seperti apa yang kau sayangi itu?"


Alin menyeringai dan dengan bangganya dia mengungkapkan segalanya "Dia begitu tampan dan mengkilat. Dia juga begitu gesit dan cepat selain itu dia tidak pernah mengecewakan, dia selalu mengantarkanku kemanapun aku pergi"


Ru yang tak mau kalah juga mengungkapkan ciri-ciri kekasihnya


"Kau tau kesayanganku tak bisa dibandingkan dengan mu namanya Venus, dia putih bersih, cepat, empuk dan halus selain itu dia juga limited edition"


Alin tak terima kesayangan dianggap remeh "My Lucifer tak kan pernah bisa dibandingkan dengan Venusmu, lucifer ku jauh lebih baik berkali lipat dari venusmu" ucap Alin tanpa menahan emosinya. Alin tidak tau jika Venus adalah mobil kesayangannya Ru sementara Ru juga tidak tau kalau Lucifer itu motor balap kesayangan Alin, keduanya saling kesal tanpa tau kebenaran yang ada


"Oh aku dapat ide gimana kalau kita buat Perjanjian?!" ucap Ruan ruo


"Perjanjian" ntah mengapa itu menarik minat Alin untuk saat ini


"Perjanjian seperti apa?" tanya Alin menginginkan detail lebih jelas lagi


"Jadi gini kita kan saling memiliki kekasih kesayangan. Nah agar tidak membuat suatu penyesalan dikemudian hari setelah pernikahan nanti. kita membuat perjanjian yang tak merugikan diri kita masing-masing contohnya, aku menuliskan dikertas yang akan kau tandatangani 'Aku Ruan Ruo (Rumireo Radeya),jika aku mengalami tindakan kekerasan maka aku berhak mengajukkan gugatan cerai' nah seperti itu!" jelas Ru


Alin mengangguk setuju "Ya boleh saja, agar lebih banyak bukti kuat setelah kita tulis dikertas kau membancakan yang kau tanda tangani dan begitu pula aku,  apa kau sepakat?" ucapnya seraya mengulurkan tangan


Ruan Ruo mengulurkan tangannya juga diatas tangan alin "Aku Sepakat!"


Alin mulai menuliskan persyaratan nya begitu pula Ruan Ruo. Alin tanpa banyak bertanya setelah melihat persyaratan yang Ruan Ruo tulis dia langsung menandatanganinya


"Nah sekarang mari kita rekam. Setelah ini aku akan mengirimkan ini semua ke pengadilan london jadi jika kita melakukan kesalahan kita bisa mengurusnya dengan mudah tanpa takut bertindak tidak adil!" ucap Alin


Ruan Ruo mengangguk setuju syarat tang diajukan alin tidaklah berat untuknya "Baiklah kalau begitu aku duluan yang mulai!" ucap Ruan Ruo

__ADS_1


Ruan Ruo sudah siap didepan kamera dengan secarik kertas yang ia tanda tangani "Saya Ruan Ruo atau yang lebih dikenal Rumireo Radeya dengan ini menyetujui Prenuptial Agreement yang diajukan oleh Alin Craetta selaku calon pendamping saya,  yang


1


Selama masih dalam pernikahan saya tidak akan bertindak semena-mena seperti memukul, menyiksa, atau mengambil hak dirinya sebagai istri saya


2


Saya akan menghargai segala tindakan yang telah ia lakukan untuk saya dengan tidak akan meminta dirinya untuk berhenti bekerja ataupun merebut haknya untuk bekerja


3


Saya akan menceraikan dirinya dan membiarkan dia bebas jika saya ingin menikahi wanita lain yang saya cintai.


Persyaratan tersebut saya setujui dengan menunjukkan bukti secarik kertas ditangan saya ini, yang sudah tertera lengkap dan sudah saya tanda tangani sekian dari saya."


Alin menjeda rekamannya, kali ini dia yang harus membacakan persyaratan tersebut dengan caranya


"Hey... Salam semua kali ini saya Alin Craetta akan membacakan Prenuptial Agreement yang di ajukan oleh Ru atau lebih dikenal Ruan Ruo atau Rumireo Radeya, dengan ini saya menyutujui semuanya, yang


1


Saya sebagai istri tidak akan ikut campur mengenai apapun untuk urusan pekerjaannya


2


Saya tidak akan mengambil haknya untuk hidup bebas, dan membiarkan


Dia bebas mencitai siapapun asalkan masih dibatas  kewajaran


3


Saya tidak akan menyiksanya


4


Saya tidak akan merebut haknya sebagai suami


5


Saya akan belajar menyayanginya dan mengurusnya layaknya suami pada umumnya


Selembar kertas ini saya tanda tangani dengan jelas walaupun begitu banyak saya akan berusaha melakukan yang terbaik, sekian dari saya"


Alin tersenyum puas "Satu lagi janji yang harus kita buat bersama!" ucap Alin


Ruan Ruo bingung "Apa itu?"


Alin menyeringai "Siapa pun diantara kita yang tidak datang dihari pernikahan itu, harus menundukkan kepalanya dan meminta maaf pada semua orang!"


Ruan Ruo sedikit terkejut "Kenapa begitu?"


Alin terkekeh "Aku hanya nggak ingin mempermalukan kedua pihak keluarga" ucapnya dengan lantang


"Ya aku setuju"




~•

__ADS_1


__ADS_2