The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
2.18 Mendadak


__ADS_3

Hana Mengejek Hanzel, setelah itu dia melepaskan pelukannya dari Rafka namun Rafka tetap memeluk pinggangnya "Hey, Kamu! Lepaskan adikku, jika ingin dipeluk sini aku peluk" ucap Hanzel seraya memeluk Rafka


"Congratulation, selamat ya Rafka. aku dengar Kakek mu sudah menyerahkan semua aset nya, dia sudah menandatangani surat wasiatnya" ucap Hanzel seraya menyeringai. Rafka saja tidak tau kalau kakeknya menandatangani surat wasiat dan bukan hanya aset milik ibunya yang diberikan namun seluruh aset milik keluarga ibunya "Dari mana kamu tau? aku saja baru dengar saat ini" tanya Rafka.


Hana melipat kedua tangannya didepan "Sekarang kamu sudah tau kan seberapa berbahaya nya kembaran ku. jadi walaupun kalian berteman jangan pernah percaya padanya" Jelas Hana dengan nada serius. Hanzel langsung protes "Hey, kamu gak ngaca ya? kamu jauh lebih berbahaya dari padaku"


Rafka mendapat firasat pertengkaran kekanak-kanakan antara 2 bersaudara akan berlangsung lama jadi Rafka berinisiatif. Rafka menarik tangan Hana "Wah... Liat lah jam. sekarang sudah larut malam, kamu tenang saja Hanz aku akan menjaga adikmu, aku pastikan dia selamat sampai depan pintu kamar" tanpa menunggu jawaban dari Hanzel, Rafka sudah membawa Hana pergi


Hanzel menatap ke arah perginya Rafka dan Hana "aku harap besok dia beruntung" gumam Hanzel


sementara itu didepan kamar Hana "Kamu gak mau masuk dulu?" tanya Hana. Rafka menggeleng "Tidak perlu"


"Ya padahal masih ada yang mau ku bahas" ucap Hana. Hanzel menunjukkan tangannya yang masih menggenggam tangan Hana.


"Katakan saja, lagian aku belum mau melepas tanganmu"


Hana menatap langit lalu mulai pembicaraan "Kamu sudah memenuhi keinginan mu. jadi tidak ada alasan lagi untuk mu tetap tinggal disini lagian aku dapat informasi dari Dr.Jerry kalau besok lusa Mr.Beni sudah boleh pulang"


"benarkah? Syukurlah kalau kakek sudah boleh pulang. itu artinya kan kesehatan kakek telah membaik" Rafka merasa lega mendengarnya. Hana senang melihat satu lagi beban terangkat dari pundak Rafka


"setelah ini apa yang akan kamu lakukan?" tanya Hana. Rafka menarik rambutnya ke belakang dengan sebelah tangannya lalu menghela nafas "Ya aku harus segera kembali ke kantor pusat aku yakin saat ini Asistenku dan staf disana pasti sedang menangis mengerjakan pekerjaan yang terbengkalai selama aku pergi"

__ADS_1


"Kalau kamu pergi Bagaimana dengan hubungan kita?" tanya Hana dengan serius menatap mata Rafka. Rafka berpikir sesaat lalu menyeringai "Aku akan menculik mu dan membawamu kemanapun aku pergi"


'Ouch....' pekik Rafka kesakitan setelah mendapat serangan cubitan dari Hana. Hana menatap kasihan ke arah Rafka "Jika kamu benar melakukan itu. papaku tidak akan tinggal diam"


"Canda Hana. aku tidak berniat menculik mu justru secepat mungkin aku akan melamar mu. Bagaimana jika kamu pertemukan aku dengan keluarga mu?" Rafka serius mengatakannya. Hana tertawa bangga seolah olah ada misi yang telah selesai di lakukan nya


"Kalau begitu lakukan lah besok! Sebenarnya keluarga inti ku ingin menemui mu dan aku disuruh membawamu secepatnya" pada Akhirnya Hana mengatakan yang sebenarnya. Rafka tampak syok dengan ulah Hana


"Besok?! Apa kamu serius? gak lagi bercanda kan?" tanya Rafka.


Hana mengeluarkan ponsel lalu menunjukkan bukti chat nya dengan sang papa "Bawa anak itu ke rumah besok!" ucap Rafka seraya membaca isi pesannya. Rafka terlihat pucat setelah membaca bagian chat paling bawah 'Jika dia tidak mau, kamu hanya perlu menyeretnya'


"Apa papamu berniat membunuhku Han? dia sungguh kasar padaku"


"Ssst... Kamu diam saja. aku telah membulatkan tekad ku, besok aku akan melamar mu" bisik Rafka pada Hana seraya menjauhkan ponselnya karena telponnya masih tersambung panggilan.




__ADS_1


keesokan harinya, masih di pagi hari Hana jemput Rafka dikamar nya. tidak seperti biasanya. saat ini hanya sekali ketukan pintu, Rafka langsung membuka kamarnya. dan didalam kamar Hana melihat banyak barang yang dibungkus dengan rapi "Apa ini semua?" tanya Hana.


Rafka mengajaknya masuk "ini hadiah untuk keluarga mu. aku dapat bantuan dari Hanzel mengenai benda apa saja yang mereka suka"


"Tapi ini hal yang berlebihan" Hana hendak mengomel namun dia melihat Mr.Beni didepan pintu "Terima saja ini sudah adat keluarga kami untuk memberikan sesuatu kepada keluarga yang akan menjadi besan" ucap Mr.Beni


"Apa anda akan ikut ke rumah saya Mr.Beni?" Tanya Hana.


"Oh tidak aku tidak akan ikut karena hari ini ada pemeriksaan terakhir. kamu jangan panggil aku Mr.Beni atau Pak Sam, karena kita akan jadi keluarga kamu bisa memanggilku kakek" ucap Mr.Beni. Mr.Beni melangkah pergi tapi sebelum itu dia berkata "Jika dia sudah mendapat restu dari orang tua mu. Aku akan segera mengirim Hantaran lamarannya karena ini adalah adat Indonesia"


setelah Mr.Beni pergi Hana langsung menghubungi jasa pengangkutan barang "barang barang ini tidak bisa ikut bersama kita"


"Tapi kenapa? barang barang ini tidak begitu banyak sehingga satu mobil saja cukup" Rafka sudah keluar dari kamar mandi.


Hana baru menyadari ada yang salah dengan wajah Rafka. jadi Hana menahan wajah Rafka di kedua telapak tangannya "Semalam Kamu tidak tidur ya?"


"Itu tidak penting Hana. Yang penting sekarang Apakah aku terlihat keren?"


"Ya kamu sangat keren"


Hana menarik tangan Rafka untuk keluar kamar. Rafka pikir Hana akan pergi untuk mencari sarapan tapi ternyata Mereka berdua justru mengarah ke pantai "Ada apa ? mengapa kita malah kesi..." Rafka menganga melihatnya

__ADS_1


-Berlanjut-


__ADS_2