
* Rafka Pov-
aku balik ke Indonesia setelah cutiku selesai dan langsung pergi ke ruang kerjanya Hana tapi tidak ada siapapun. Hanzel pun tidak mengangkat telfonnya sebenarnya mereka ke mana?
karena yang ingin ditemui tidak ada jadi aku melakukan tanggung jawab ku di restoran hotel. aku bekerja selayaknya mengurus restoran milikku yang lain walaupun banyak pekerjaan tapi di waktu senggang aku tetap memikirkan Hana "Apa dia sudah sidang skripsi? aku yakin dia pasti lolos kali ini" gumam ku.
3 Hari setelahnya aku melihat Hanzel di ikutin beberapa anak buahnya lewat di taman hotel dengan terburu buru. dari arah mereka tuju ada ruang kerja Hana "Apa mungkin Hana ada diruang kerjanya ya? lebih baik aku menyapa mereka"
begitu masuk ke ruang kerja Hana , aku langsung disapa Hanzel "Hey Rafka apa kabar?"
"aku baik. beberapa hari ini kamu sama kembaran mu dari mana? aku mau report pekerjaan ku tapi tidak ada kalian" jelas ku pada Hanzel.
Ada wajah khawatir di diri Hanzel "Maaf membuatmu menunggu kami. aku dan Hana menghilang secara mendadak beberapa hari ini karena ada urusan di jerman"
"Kalian ada di Jerman pantas nomor kalian tidak bisa dihubungi. oh ya bagaiman dengan Hana apa dia sudah lulus?" ini sudah ada sebulanan lebih kami tidak bertemu
"Ya dia sudah lulus skripsi. hari ini dia balik dari jerman karena ada upacara kelulusan" Hanzel merangkul bahuku lalu membawaku untuk bicara empat mata "setelah upacara dia bakalan balik lagi ke jerman" ucap Hanzel. sebenarnya apa yang terjadi selama masa cuti ku dan ada apa
"Loh kenapa? pekerjaan dia bagaimana?" aku bahkan belum mendapat tandatangan nya untuk berkas penting belakangan ini
"Semua pekerjaan nya akan aku ambil ahli. jika kamu ingin tau apa yang terjadi lebih baik kamu melihat langsung Hana" ucap Hanzel. ntah dari bahasa yang dia pakai aku merasa Hanzel menyembunyikan sesuatu.
"Hana sempat jatuh sakit karena ngurus skripsi nya tapi dia sudah jauh lebih baik hanya saja... Mm, aku bahkan tidak bisa menjelaskan dengan kata kata apa yang terjadi dengannya"
Brakk...
Hana masuk ke ruangan. lalu melihat Hanzel dan aku secara bergantian "Kak Hanz. dimana kamu menyimpan id card ku, aku harus segera balik ke jerman sebelum bunda memarahiku karena pergi terlalu lama!"
"ada diatas mejamu, apa kamu tidak ingin merayakan kelulusan mu dulu. kamu bahkan tidak melirik dekorasi yang aku persiapkan di ruang kerja mu ini. minumlah segelas anggur dulu untuk merayakannya denganku"
__ADS_1
Hana menggeleng lalu menunjuk ke arahku "Kamu minum saja dengan tamu mu. oh ya siapa dia? dia sangat tampan"
Hana tampak nya tidak mengenaliku sama seperti di saat kami bertemu di candi Borobudur "Apa Kamu bercanda Hana? baru sebulan tidak bertemu dan kamu sudah melupakan aku. Ada apa ini Hanz?" Aku mengalihkan pertanyaan ke Hanzel
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? maaf tapi aku tidak mengingat mu. bagaimana kalau kita berkenalan lagi?"
aku sama sekali tidak mengerti tapi aku ikuti saja permintaan nya "Kamu panggil aku Hani saja karena kamu memanggil kakakku Hanz"
"Ya senang bertemu dengan mu Hani. Hani adalah nama yang bagus, tapi aku terbiasa memanggilmu Hana"
"Apa kita dekat satu sama lain? kamu bahkan belum memberitahuku namamu" Hana memasang wajah galak. Aku menghela nafas berusaha sabar "Namaku Rafka Hermawan. aku bekerja di bagian restoran" ini sudah ketiga kalinya aku memperkenalkan diri, jangan sampai ada yang ke empat kali.
Hana sempat terdiam setelah mendengar namaku tapi dia kembali tersenyum "Rafka, oke aku akan mengingatmu. aku panggil kamu Afka ya"
"Berjanjilah kamu tidak akan melupakan namaku lagi" aku menyuruhnya berjanji semoga saja dia tidak melupakan ku lagi, hana sempat ragu namun dia tetap mengangguk dengan senyum dipaksa diwajahnya
ucap Hana seraya menjauhkan botol anggur yang dibawa Hanzel ke arahnya.
begitu di tolak Hanzel menarik pundak ku dan dengan bahasa isyarat dia menyuruhku membujuk Hana tapi aku tau betapa keras kepalanya Hana. aku menghela nafas "Hana kalau tidak mau minum tidak papa tapi sebelum pergi makanlah dulu di restoran" ucapku. Hanzel mencubit pinggangku aku tau yang aku sampaikan bukan maksud dari isyarat Hanzel
Hanzel mendorong Hana ke pintu "Iya pergilah dulu Hana. setelah selesai menandatangani berkas aku akan menyusul mu dan mengantarkan mu ke bandara" ucap Hanzel sebelum menutup pintu dan menguncinya
kini di ruangan hanya ada aku dan Hanzel seperti nya dia ingin berbicara empat mata. Hanzel duduk dan menandatangani berkas seperti yang dia katakan lalu aku memecahkan keheningan "Jadi ini kah yang ingin kamu jelaskan tapi tidak bisa?" tanyaku pada Hanzel
Hanzel mengangguk "Iya. duduk lah dulu" aku duduk di kursi depannya lalu melanjutkan pembicaraan kami "lalu bagaimana dengan pekerjaan Hana disini? bukan kah tujuan dia menyelesaikan skripsi untuk bekerja di hotel ini?" tanyaku pada Hanzel. karena Hanzel seorang dokter pasti dia paling tau keadaan kembarannya.
aku tidak perlu cemas soal penyakitnya karena Hana berasal dari keluarga berkecukupan atau bisa di bilang kaya 7 turunan jika diliat dari hotel milik mereka. Hanzel menyelesaikan tanda tangannya "Ya tidak ada yang perlu di cemaskan baik itu pekerjaan Hana ataupun kondisi nya saat ini. ketika sembuh nanti Hana akan kembali ke posisinya di hotel ini untuk sementara pekerjaannya akan di lakukan suruhan nya dan aku. kuliah untuk Hana sebenarnya hanya sebuah formalitas untuk menyakinkan para pemilik saham bukan hanya hana tapi untuk ku juga"
"Bagaimana bisa kamu bilang itu hanya sebuah Formalitas? apa pekerjaan ini tidak penting untuk nya sehingga pendidikan yang dia tempuh hanya sebuah formalitas?" aku mengeluarkan pertanyaan yang ada didalam kepalaku lalu hanzel menggeleng "Kondisi Hana saat ini tidak memungkinkan dia untuk bekerja seperti sebelumnya Rafka. bunda kami menyuruhnya untuk pemulihan kamu liat sendiri kan tadi dia bahkan tidak mengenalimu. menurut hasil pemeriksaan dokter dia menderita Amnesia Lakunar atau lupa ingatan kejadian acak tapi kami belum melakukan pemeriksaan lebih mendalam. Bagi Hana hotel ini penting karena namanya juga nama hotel ini, Hotel HK singkatan dari hotel Hanzel & Khana. saat kondisi nya tidak 100 % sehat Hana memilih menjauh dari pekerjaan hotel karena hasil kerjanya pasti tidak sesuai dengan ekspetasi yang ia harapkan. Hana berbeda dengan ku Rafka dalam pekerjaan dia orang yang lebih pemilih, berhati-hati,dan memiliki standard yang sangat tinggi. jarang ada orang bisa memenuhi ekspetasinya kecuali dirinya sendiri. dan oh ya ,mungkin dia belum memberitahumu?" Hanzel ingat sesuatu yang penting tapi belum dia katakan padaku "Apa?" tanyaku.
__ADS_1
Hanzel mengeluarkan sebuah surat "Ini dia titipkan padaku sebelum dia jatuh pingsan di kampusnya dan lupa ingatan. maaf aku sudah membacanya sepertinya bagi Hana keberadaanmu cukup berarti. disurat itu Hana memberitahumu pekerjaan aslinya selain bekerja dihotel ini" aku membaca surat yang diberikan Hanzel sebagian besar Hana menceritakan keadannya saat aku di italia, dia juga menulis pekerjaannya kalau dia sebenarnya adalah seorang psikiater "seorang psikiater mengalami lupa ingatan. bukan kah itu kejadian yang sangat langkah?" gumamku dengan nada bercanda
Hanzel ikut tertawa "Hahaha iya betul itu langkah. tapi walaupun kami seorang dokter tetap kami juga bisa sakit".
.................
-Author Pov/Flashback-
"Han!"
Hana membuka matanya dan melihat Hanzel dengan wajah khawatir nya. Hana tidak berkata apapun tapi wajahnya seolah-olah dia telah biasa mengalami hal yang serupa "apa aku kali ini melakukan nya dengan berlebihan lagi Hanz?" setelah memastikan tidak ada cidera luar dikepalanya Hana bertanya pada Hanzel.
Hanzel mengangguk "Ya. karena skripsi beberapa minggu ini kamu gila belajar dan bekerja"
"Skripsi?" Hana tampak bingung lalu setelah melihat sebuah buku di atas meja dia baru lah mengerti "Oh iya skripsi ditolak" gumam Hana dengan nada sedikit sedih
"Loh Han. Sidang mu minggu ini apa kamu lupa?"
"Lupa tentang sidang? Bagaimana bisa aku tidak ingat hal sepenting itu Hanz. Kamu pasti bercanda denganku kan!" Hana mengambil buku skripsi nya. dan mengecek bagian yang dicoret dan tandai dosen dengan tinta merah "kok gak ada. lalu skripsi siapa ini? kok bahasanya beda dengan yang aku buat sebelumnya tapi dicover nya ada namaku" Hana tampak bingung. melihat adiknya kebingungan Hanzel mengambil skripsi yang ada di tangannya "Berbaring lah Han. karena kamu adalah pasien" Hanzel membaringkan Hana ditempat tidur
"Hanz, ada apa ini? bisa kamu jelaskan padaku" tanya Hana yang berbaring. Hanzel memegangi buku ditangannya "Apa kamu tidak merasa telah membuat isi skripsi ini Hana? dan apa kamu tidak ingat dimana kamu pingsan sebelum dibawa kesini?" Hanzel bertanya dan Hana pun mengangguk.
Hanzel menyuruh Hana minum air lalu menyuruhnya tetap tenang "Tenanglah dan coba perlahan untuk mengingat kembali. aku akan menemui dokter yang menangani dirimu jadi tunggulah aku disini!"
Hana menunggu Hanzel sambil mencoba memahami situasi saat ini. dia sekarang berada di ruangan yang ada ranjang pasiennya dan Hanzel menyuruhnya mengingat suatu hal. Hana orang yang berhati hati jadi dia telah mempersiapkan segalanya jika terjadi sesuatu seperti sekarang "Aku tidak mengingat suatu hal itu artinya kepalaku mengalami cidera cukup serius dan aku mengalami Amnesia. tapi yang jadi pertanyaan Amnesia jenis apa yang aku alami? Aku harus tau dulu kejadian apa saja yang aku lupakan"
Hana mendiagnosis dirinya sendiri untunglah Buku diary selalu dia bawa kemana pun jadi dia bisa membaca ulang apa yang telah dia alami "Siapa Afka? kenapa dibuku ini tertulis kalau dia adalah temanku"
Hana tidak mengingatnya. jadi dirinya menyimpulkan sendiri penyakit yang dia derita "Amnesia Lakunar!" dua kata itu muncul dikepala .
__ADS_1