
--------------------------------------
Saat mata ini terbuka akankah semuanya kembali seperti semula.
Jika mereka bertanya padaku apakah aku menyesal, jawabanku adalah tidak. Berhasil ataupun gagal, aku bangga hidup di atas keputusanku sendiri.
--------------------------------------------------------
Untuk beberapa detik Alin merasa seakan melihat surga 'Akan kah aku mati seperti ini? Mati karena jatuh dari pohon. Apa ini sudah waktunya?' pikir Alin yang tak mampu berteriak karena syok.
Semuanya Gelap, Alin bisa merasakan air memenuhi paru parunya. 'Sesak' satu kata ini yang mengambarkan kondisi Alin saat ini.
Alin meronta keluar dari air dengan segenap kekuatannya, dia meraih papan yang mengambang diatasnya 'Hah... Syukurlah' Alin mengatur napasnya dia bahkan memukul punggungnya hingga batuk air, Tubuhnya lemas seperti akan remuk seketika. masih ditengah danau, Alin akhirnya memutuskan berenang ke pinggir. Dia mengistirahatkan tubuhnya yang basah kuyup dibawah pohon dan menutup matanya karena pandangannya mulai buram
Al... Alin... Jawab aku Al....
Teriak Ru yang masih mengelilingi danau. Dia tak bisa berpikir jernih dan berpikir Alin tenggelam ditengah danau, dia membuka bajunya dan berjalan ketengah danau seraya memanggil manggil nama Alin. Tepat disaat dirinya mencapai bagian terdalam kakinya terpeleset "Akh..., TOLONG aku nggak bisa berenang! Tolong" semakin Ru mencoba berenang kepinggir tubuhnya justru semakin jauh ke tengah danau
Alin membuka matanya saat mendengar seseorang memanggil namanya, dia melihat Ru namun karena lemas Alin tak sanggup berteriak memanggil dirinya. Alin bahkan melihat Ru yang dengan bodohnya masuk ke air padahal dirinya memiliki phobia dan itu belum sembuh 'Dasar pria gila! Kalau dia semakin ketengah dia akan...' belum sempat Alin mengumpat, pria yang dia lihat terpeleset dan berteriak minta tolong. Alin menepuk jidatnya dan dengan langkah yang tertatih dia masuk lagi kedalam Air
Ru mulai kehilangan kesadarannya pandangannya menjadi buram hingga sebuah tangan kecil meraihnya persis saat dia berumur 8 tahun dengan samar dia mendengar lantunan lagu
There is a lady all in white
Holds me and sings a lullaby
__ADS_1
She's nice to see and she's soft to touch
She says I love you very much
I know a place where no ones lost
I know a place where no one cries
Crying at all is not allowed
Not in my castle on a cloud
Bayangan-bayangan gadis kecil itu mulai terputar diotaknya, mulai dari senyumnya, fitur wajahnya, sikap nya yang selalu periang dan satu hal lagi yang ia tak bisa ia lupakan Mata biru yang berkilau bagai kristal ditengah laut.
'Mungkin kah dia menjemputku!' gumam Ru yang kini benar benar kehilangan kesadarannya. Alin menarik Ru kepinggir, pria satu ini cukup berat hingga rasanya semua tulangnya yang sudah remuk tadi jadi hancur dan dia tak bisa menggerakkan nya.
Alin melakukan CPR. dia menekan dada bidang Ru beberapa kali, lalu mulai mendekatkan bibir dengan bibir. Dia menempelkan bibirnya di bibir Ru dan mulai memberi nafas buatan 'Bertahanlah!' saat pria dibawahnya sudah terbatuk dan memuntahkan Air, Alin merasa lega dan segera ikut berbaring disampingnya. Rasa perih dibagian kening Alin membuat Alin merintih saat masuk ke air tadi 'Lukaku benar benar parah kali ini, Aku tak bisa membopong Ru. Aku harus cari bantuan!' Alin bangun dan berjalan dengan tertatih tatih jas putihnya sudah tak karuan karena basah dan bercampur tanah, Alin melangkah keluar dari hutan dan memanggil seseorang yang ia kenal pernah jadi pasien "PAK!" teriak Alin dari pinggir hutan. Bapak bapak itu awalnya takut namun setelah melihat jas putih yang ia kenakan dia tau itu Dr. Alin "Dokter kenapa bisa ada disini?" tanya bapak bapak itu. Alin tersenyum tipis "Pak saya minta tolong!" sang bapak mengangguk "Pak tolong di air terjun, ada pria pingsan. Tolong bawa dia ke Villa saya" ucap Alin seraya menunjuk ke dalam hutan.
Setelah sang bapak pergi membantu Ru, Alin menyempatkan dirinya kembali ke jurang yang tadi untuk mengambil peralatannya. Dia mengambil keranjang dan memasukkan bunga yang ia petik lalu dia mengambil peralatan lainnya seperti pedang yang tertinggal dibawah pohon.
Saat kembali ke Villa keluarganya, dia segera mandi dan menyeka darah dikeningnya. Tetesan air itu membuat seluruh tubuh kecil itu bergetar
Ada sedikit rintihan keluar dari mulutnya untunglah Ru, shenna dan bapak tadi berada diruang pemeriksaan pasien
Alin mengambil hangfu yang dibelikan Vrella sebagai hadiah. Alasan kenapa Alin lebih memilih hangfu karena dia lebih mudah memakainya saat ini. Tubuhnya terasa kebas, ingin rasanya dia tidur diatas ranjang hanya saja sebuah pintu diketuk lagi
__ADS_1
Alin membuka pintu dan melihat bibi yang terburu buru "Ada apa bi?". Sang bibi menundukkan kepalanya "Non, kau dicari tuan!" Alin menghela nafasnya padahal baru saja dia menemuinya tadi
"iya bi ntar saya kesana. Oh ya bi aku bisa minta tolong cucikan jas putihku nggak?" tanya Alin. Sang bibi mengangguk cepat dan penuh antusias "Siap non, akan bibi kerjakan sekarang!"
Sesampainya dibawah Alin berpamitan kepada sang bapak yang hendak pulang setelah mengantar Ru, Alin berterimakasih padanya. Lalu segera masuk ke ruang pasien tempat Ru dan Shenna berada. Alin tetap tenang saat melihat pemandangan mesra didepannya 'Ok Al, you can do this!' ucapnya dalam hati. Alin tersenyum ramah kepada keduanya dan langsung memeriksa selang infus ditangan Ru, Ruan Ruo yang sedang makan disuapi Shenna tidak terganggu dengan kehadiran Alin. Setelah mengecek infus Alin tak langsung pergi dia mengambil obat untuk dirinya dan juga untuk Ruan Ruo dari dalam lemari. Dia mengambil Air ditangan Shenna lalu menelan obat obat itu layaknya sebuah permen dia tak peduli akan wajah cemberut Shenna sedari tadi.
"Itu apa?" tanya Ru dengan penasaran. Alin menyeringai "Ini permen harian ku. Dengan baik hati kali ini aku membaginya denganmu!"
Alin menaruh obat obat milik Ru diatas nampan "Kalau kau merasa pusing, bilang saja! Dan oh ya Ru, karena ini villa keluargaku aku tak membiarkan orang lain menginap, biarpun itu satu malam jadi kalau kau dengan dia ingin berdua lebih lama lagi. Kau bisa kembali ke mansion milikmu!" ucap Alin dengan tegas saat menatap keduanya. Alin terkekeh lalu mengambil buah milik Ru yang sudah dikupas oleh Shenna "Terimakasih. Buahnya enak, lanjutkan mengupasnya. Ini sangat baik untuk kesehatan!" gumam Alin ke shenna seraya membawa pergi satu piring buah yang sudah dikupas Shenna.
Alin tak kembali kekamarnya, dia lebih memilih mengurung dirinya di Rumah kaca. Semua pintu dia pastikan terkunci dan dia mengampar sebuah matras diatas meja besar, dia merebahkan tubuhnya diatas matras itu lalu mulai memejamkan matanya.
Dia ingat kejadian saat Ru pulang ke villa tadi. Ruan Ruo memeluknya sangat kuat "Aku kira kau mati, dasar wanita bodoh!" Alin hanya bergumam dalam hati 'cih, Menurutmu karena apa aku bisa terpeleset dari pohon huh? Ckck' Alin masih diam dipelukan Ru dan dia menghelus kepala Ru dengan lembut seakan menenangkan seoarang Anak kecil "Aku baik baik saja, semuanya sudah berlalu jadi tak perlu dibahas" ucap Alin seraya melepaskan pelukannya. Ruan Ruo masih menggenggam tangannya "Mulai sekarang Al, berjanjilah padaku. Kau tak kan kemana mana tanpa seizin ku, besok aku akan menyuruh bodyguard menjagamu selama kau berpergian" ucap Ru. Alin tertawa miris mendengarnya bukan kah kalau dia terus dijaga itu artinya dia tidak akan bisa bebas "Kenapa tidak Shenna saja yang kau jaga? Kalau kau benar benar mencintainya jaga dia Ru bukan aku!" ucap Alin. Bagai dicucuk sebuah jarum ada rasa nyeri saat Alin membahas wanita itu dihati Ru yang terdalam 'Karena kau istriku saat ini Al, kau istriku bukan Shenna. Ya walaupun aku mencintai Shenna, aku tetap tidak akan melepaskanmu' pikir Ru. Alin berdecak kesal karena Ru tak membiarkan dia tau alasannya, Apakah Ru mencoba memasukkan seekor Elang kedalam kandang Emas?
Alin tak suka itu, dia masih sayang hidupnya yang dulu, menjadi wanita bangsawan yang hanya menunggu suaminya pulang dirumah 'That not my style!' gumam Alin. Kalau dia terus dijaga dia akan kesulitan merawat pasien, dan dia takkan bisa melanjutkan research nya.
Alin begitu pusing saat mengingat hal itu, dia tak bisa melarang Ru karena Ru adalah suaminya. Dia ingat agamanya mengajarkan surga istri ada dibawah telapak kaki suami dan surga suami ada dibawah telapak kaki ibu, kalau dia menentang Ru bukankah dia menjauhkan surga dari dirinya sendiri. Dia tak sebodoh itu hingga mau melakukannya.
"Aku harap semuanya jadi lebih baik!"
•~Tbc~•
__ADS_1