The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
2.12


__ADS_3

Rafka berada di kamarnya, dia menatap langit langit yang asing. "Orang pada nginap hotel, nah aku lucu ya malah nginap di pusat rehabilitasi" gumam Rafka sambil tertawa.


keesokan paginya pintu kamar Rafka di gedor "Afka... Bangun!"


"Afka..."


"Afka..."


Setelah menunggu 10 menit akhirnya Rafka membuka pintu kamarnya. masih setengah bermimpi Rafka melihat Hana "Apa?"


"Ini sudah pagi" ucap Hana.


Rafka menguap "Hoam... Trus kenapa kalau sudah pagi?"


Hana melihat banyak orang yang keluar dari kamar mereka dan mau menuju taman. Hana lekas mendorong Rafka masuk ke kamarnya lalu menutup pintu


"Kenapa?" tanya Rafka.


Hana mendorong Rafka ke arah kamar mandi lalu mencuci muka Rafka dengan tangannya, hal itu membuat Rafka sadar dia sedang tidak bermimpi "Hana?"


"Akhirnya kamu bangun juga. Alaram sudah berbunyi dari tadi jadi cepat lah sikat gigimu dan langsung ke taman. kamu bilang mau mendekat kan diri dengan kakek mu sekaranglah saatnya"


"oke kalau gitu tunggulah diluar"


"aku akan menunggumu di taman"


Beberapa menit kemudian "Han... Aku mesti ngapain nih?" tanya Rafka menghampiri Hana.


Hana menunjuk barisan tepat di belakang kakeknya Rafka "Tunggu apa lagi? Baris bentar lagi kita mulai senam pagi!" Hana memerintah Rafka dan Rafka pun langsung berbaris ditempat yang ditunjuk Hana


"Mr. Beni bagaimana keadaan mu saat ini?" tanya Pria paruh baya seumuran kakek Rafka


"Sudah membaik. disini membuat pikiran ku jadi tenang" ucap Kakek Rafka seraya tersenyum bahagia


"Wah... Benarkah? Anda pasien VIP tentu saja menikmatinya. Bukan kah Pasien VIP bisa memanggil pelatih senam ke kamarnya?"


"iya tentu saja. tapi aku suka jika ramai seperti ini rasanya lebih bersemangat" ucap Kakek Rafka seraya menirukan gerakan senam dari pelatih.


Tatapan Rafka terus berfokus pada kakek nya yang tepat ada didepannya.


dia juga mengikuti gerakan senam.


sementara itu Hana yang sedang menyiapkan sarapan pagi memperhatikan mereka dari kejauhan


"Wah... Kakek sama Cucu benar benar sama"


Ketika gerakan maju mundur tanpa sengaja kakek Rafka tersandung dan Rafka langsung menangkap kakek nya "Kakek tidak apa apa?" Tanya Rafka. Kakek Rafka menatap tak suka pada dirinya "Aku tidak perlu bantuanmu" ucap kakek Rafka pelan dengan nada galak

__ADS_1


"Mr.Beni apa kamu baik baik saja?" tanya pria paruh baya yang tadi mengajak ngobrol kakek nya Rafka.


kakeknya Rafka tersenyum lalu menggeleng "Kaki ku sudah tua karena bersemangat aku melupakan umurku. aku akan beristirahat"


Rafka melihat kakek nya pergi merasa sedih namun tidak banyak yang bisa dia lakukan karena kini Dokter Jerry memperhatikan dirinya


Hana mengambil beberapa perlengkapan dari dapur "Loh Mr.Beni ada apa? apa kamu merasa kurang sehat? saya akan panggilkan dokter Jerry" tanya Hana


Mr.Beni menggeleng "Aku tidak papa dokter hanya suasana hatiku yang tidak baik"


Hana berhenti melakukan pekerjaan nya lalu duduk disamping Mr.Beni "Saya bukan dokter saya memakai pakaian yang sama seperti anda"


"Biarpun kamu pasien tapi kamu tetaplah seorang dokter. identitas itu tidak akan terganti hanya karena saat ini anda sedang sakit" Jelas Mr.Beni


Hana menghela nafas lalu mengangguk "Anda benar. biarpun saya sedang sakit saya tidak bisa mengabaikan orang lain yang lagi sakit. hidup itu cukup melelahkan tapi itu hal yang bagus"


"bagus?" tanya Mr.Beni


Hana mengangguk "Ya itu bagus, karena suatu saat kita pasti akan mengingat momen yang membuat kita lelah. kita akan merasa puas dengan hasilnya. apakah anda pernah mengingat momen seperti itu Mr.Beni?"


Mr. Beni mengangguk "Belakangan ini aku sering mengingatnya. Aku punya seorang cucu yang di tinggalkan oleh ibunya, aku merawatnya dengan cara ku hahaha.... itu sangat melelahkan di satu sisi aku harus bekerja disisi lain aku harus merawatnya tapi setiap kali dia memanggil ku kakek sambil tertawa rasa lelah itu seakan dibayar"


Mr.Beni mengingat masa lalunya.


"Wah anda pasti beruntung punya cucu seperti nya, saya yakin kakek dan Nenek saya tidak seberuntung anda"


"Ada banyak Drama sewaktu saya kecil, disaat anak seusia kami tertawa sambil bermain. saya dan saudara saya justru memikirkan cara menghasilkan uang. kami tidak peduli dengan orang-orang disekitar termasuk kakek dan Nenek padahal dulu mereka lah yang paling sering merawat kami. yahh... seiring berjalannya waktu saya mulai mengubah pola pikirku dan sampai lah saya jadi seperti ini"


"kamu cucu yang baik"


"Saya yakin cucu anda juga orang yang baik"


"Iya dia baik hanya saja belum dewasa"


"Semua pasti akan bersikap dewasa pada waktunya. Apa ada hal terkait cucu anda yang membebani anda Mr.Beni? taman kaca saya terbuka untuk konsultasi antara ya... Pasien dengan Pasien" Hana tersenyum saat mengatakan pasien dengan pasien karena betul saat ini dia hanyalah pasien bukan dokter


"Terimakasih tawaranmu. aku yakin masih bisa mengatasinya"


"Baiklah kalau begitu saya hanya akan memberikan 2 saran yang siapa tau akan berguna untuk anda kedepannya jika seseorang membuat anda terus kepikiran :



Jangan Membenci orang, dengan kata lain memaafkan dengan ikhlas


Beri Orang kesempatan kalau dirinya telah berubah.


Ya itu saja" jelas Hana

__ADS_1



Hana melihat kearah jam tangannya


"Ini sudah waktunya sarapan. mari kita pergi ke tenda"


Hana kembali melakukan yang sebelumnya dia lakukan, sementara Mr.Beni berkumpul bersama temannya


Rafka mendekati Hana "Dia terus menghindar. Bagaimana ini Han?" tanya Hana. Hana memakaikan Appron pada Rafka lalu dia menaruh tangannya Rafka diatas tangannya dan diperlihatkan didepan wajah "Kamu harus melakukan nya dengan tulus jika tidak semuanya akan sia-sia" Jelas Hana.


"Bantu aku untuk membagikan sarapan!" Hana meminta Rafka membagikan sarapan. dan lagi lagi kali Rafka berhadapan dengan Mr.Beni yaitu Kakek Rafka. Rafka kira dia bakalan dijauhi lagi ternyata tidak


Mr.Beni terlihat biasa saja "Aku minta sambalnya lagi sedikit"


Rafka menggeleng "Kakek biasa tidak bisa makan sambal lebih dari ini. jika lebih banyak perut kakek bisa sakit sebagai gantinya aku akan menambahkan tempe balado nya karena ini hanya pedas dimulut" jelas Rafka. Mr.Beni mengangguk "Kalau gitu berikanlah"


Rafka tersenyum senang dan dia bertambah semangat melayani pasien lainnya. tanpa disadari Rafka Mr.Beni sesekali memperhatikan nya.


"Terimakasih semua" ucap Hana pada pasien pasien yang mau jadi sukarelawan membagikan sarapan pagi. Hana menghampiri Rafka yang lagi memperhatikan kakeknya dari jauh "Hey...Ini buatmu!" ucap Hana sekalian duduk disampingnya. Rafka mengangguk "Terimakasih"


"Ya terimakasih kembali karena kamu sudah mau membantu" ucap Hana seraya tersenyum. Hana merasakan suasana Hati Rafka lebih baik dari yang sebelumnya


"Sudah mulai terlihat kemajuannya kan?" tanya Hana. Sambil makan Rafka mengangguk "Walaupun kemajuannya tidak banyak tapi aku bersyukur kini kakek tidak menjauhiku" Jelas Rafka


"Syukurlah!" Hana ikut senang mendengar nya. Hana lalu teringat sesuatu "Afka untuk yang sebelumnya saat bersama papaku. aku sungguh minta maaf seharusnya aku tidak melibatkan mu"


"Tidak apa-apa Hana. awalnya aku terkejut tapi ketika mengikuti alur aku jadi tau maksudmu memperkenalkan ku pada papamu agar kamu tidak langsung dinikahkan dengan pilihan papamu"


Hana mengangguk "Sebenarnya dokter Yoga adalah tipe suami idaman wanita tapi ya saat ini aku tidak ada niatan menikah ataupun menjalin suatu hubungan, aku sangat berterima kasih berkatmu aku bisa terbebas sementara"


Rafka mengangguk "Ya aku sebenarnya telah berutang banyak padamu jadi tidak perlu berterimakasih karena disini kita berdua saling membantu. Syarat yang


diberikan bunda mu aku..."


Hana memotong nya "Kamu tidak perlu memaksa kan dirimu. Tujuan utama mu disini adalah kakek mu, fokus saja pada itu"


Rafka menyeringai lalu sedikit tertawa "Aku tetap akan melakukannya, bukankah ini seperti pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sapa tau justru jika aku melakukannya itu bisa jadi peluang bagi ku untuk mendekatkan diri sama kakek"


Hana tetap tersenyum walaupun dia tidak mengerti tentang pepatah apa yang di bicarakan Rafka, mungkin saja Rafka lupa kalau Hana bukan berasal dari negara Indonesia jadi dia tidak mengerti pepatah Indonesia


Hana berdiri sambil memegang piring di satu tangan dia bicara


"Kalau itu keputusan mu, maka aku akan mendukung mu. ayo kita mempersiapkannya bersama!" Hana mengulurkan sebelah tangan nya sebagai tanda ajakan. Rafka pun tanpa ragu memegang tangan Hana


"Ayo!"


-Berlanjut-

__ADS_1


__ADS_2