The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
2.7 sebuah Rencana


__ADS_3

suara marah pak Sam menggelegar di koridor "Kakek ini aku Rafka" Rafka mencoba menenangkan pak Sam dengan menyentuhnya. tapi pak Sam langsung menepis tangan Rafka


"Aku tidak buta, aku tau itu kamu Rafka. buat apa anak yang sudah pergi kembali menemui ku? aku tidak kenal kamu jadi pulanglah!" pak Sam hendak menutup pintu didepan Rafka namun Rafka menahannya hanya dengan satu tangan


"Kakek ini aku. Aku minta maaf karena sudah pergi dan jarang mengabari kakek" ucap Rafka. pak Sam masih mencoba menutup pintu kamarnya namun Rafka masih menahannya dengan satu tangan


"pergi, aku tidak punya cucu seperti mu!" pak Sam mengamuk dan mengucapkan kata kata yang menyakiti perasaan Rafka. padahal dia disini hanya dengan niat meluruskan masalah perihal usaha ibunya, dia sama sekali tidak menyangka akan mendengar perkataan seperti itu dari orang yang cukup dia sayangi selain ibunya.


"Kakek usaha ibu kenapa kamu menjadikan nya sebagai hadiah? itu satu satunya hasil kerja keras ibu selama dia hidup" sedikit terdiam Rafka melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan


pak Sam makin marah mendengar ual itu "Jadi Apa? apa kamu mau menyuruhku mengelola usaha itu di umurku yang segini? tidak butuh waktu lama untuk tubuh ini kembali ke tanah" ucap Pak Sam dari dalam kamar


Rafka berhenti menahan pintu dan langsung berlutut didepan kamar "Maafkan aku kakek. tapi aku tidak bisa diam melihat usaha ibu jadi milik orang lain selain kakek" Rafka meletakkan tangan dan wajahnya dilantai bersujud didepan kamar kakeknya


"PULANGLAH!"


Brakkk...


kakek membanting pintu cukup kuat sehingga mengenai jari tangan Rafka yang masih dilantai. Rafka meringis tanpa bersuara walaupun sakit dia tetap tidak punya niat menyerah seperti kata Hana harapan baru akan muncul. "Kakek aku akan kembali!" ucap Rafka seraya berdiri dan membungkuk sesaat


setelah bertanya pada perawat Rafka pun tiba ke Kebun Kaca yang disebutkan Hana. didalam kebun di liat nya Hana berdiri di ujung kebun menyiram tanaman "Hana" sapa Rafka. wajah Hana sudah tidak pucat seperti sebelumnya


"Bagaimana? apa semuanya berjalan lancar?" tanya Hana pada Rafka. mereka berdua duduk di bangku yang biasa digunakan Hana saat beristirahat


Rafka menggeleng seraya mengangkat kedua tangannya yang masih memerah "Kakek masih tidak mau bicara padaku dan beginilah hasil yang kudapatkan"


Hana tersenyum sedih melihat raut wajah Rafka yang menyembunyikan kesedihannya. Hana berdiri lalu pergi dan saat kembali dia membawa kotak P3K dan minuman "Pasti sakit kan?" ucap Hana saat memeriksa tangan Rafka. Rafka menggeleng lalu berkata tanpa ragu "Ini sama sekali tidak sakit. Tanganku sudah biasa... Ooouh ****" Hana menekan tangan Rafka tepat di bagian yang paling merah "shut up Afka! untung saja jari mu tidak ada yang patah"


"kenapa kamu marah?"


tanya Rafka. Hana yang sedang memberi salep setelah membersihkan tangan Rafka dengan alkohol menggeleng "Aku tidak marah. hanya kesal karena kamu menganggap enteng luka ditanganmu"


"Aku bukan anak kecil Hana. Luka seperti ini sudah biasa dimiliki pemilik restoran" jelas Rafka. Hana memelototi Rafka dengan tatapan tak suka "Oke sekarang aku marah! hanya dalam waktu 5 detik kamu telah berhasil membuatku marah"


"Apalagi kesalahan ku kali ini?" Rafka menepuk jidatnya dengan sebelah tangan nya. dia tidak mengerti kenapa mood hana bisa berubah ubah dengan cepat. Hana mengencangkan perban ditangan Rafka lalu dia mulai bicara langsung tanpa basa basi "Kamu tidak akan bisa memasak bubur ayam dengan tanganmu yang terluka seperti ini!"

__ADS_1


Otak Rafka masih loading dan dia kini ingat dia ada janji untuk membuat bubur ayam saat menjenguk Hana "Apa karena itu kamu marah?"


Hana mengangguk sambil mengobati tangan Rafka yang satu nya, dia memberi pengertian pada Rafka "anggaplah aku seorang atasan dan kamu koki utama direstoranku. tanganmu terluka saat membuat hidangan untuk satu pelanggan dari sekian banyak nya pelanggan yang mengantri. kamu menganggap luka itu hal yang biasa sehingga kamu terus bekerja lalu melukai tangan mu lagi dan lagi hingga pada akhirnya kamu tidak sanggup bekerja karena tanganmu yang sakit. pelanggan masih mengantri didepan restoran dan kamu tidak bisa membuat makanan untuk mereka bukan hanya itu kamu juga membuat mereka menunggu lama hingga lukamu sembuh. jelas aku sebagai atasan marah dan menganggap kamu lalai dalam tugas karena tidak berhati hati. Semakin besar lukanya semakin lama waktu yang diperlukan untuk pulih jadi aku mohon jangan menganggap enteng luka sekecil apapun!"


Hana selesai memperban kedua tangan Rafka. lalu dia melihat Rafka menggangguk "Ya aku salah. maaf kan aku" ucap Rafka


"Tidak perlu meminta maaf padaku. minta maaf lah pada diri mu sendiri karena yang merasakan sakit dirimu sendiri bukan aku" Hana menuangkan kopi kalengan di gelas depan Rafka. lalu mereka menyantap makanan dan minuman sambil memandangi tanaman yang ada disekitar mereka


"Apa kamu biasa disini Hana?" tanya Rafka sambil melirik tanaman yang tadi disiram Hana. Hana mengangguk sambil menyesap kopinya dia mengingat kembali masa lalu "Dulu setelah sebuah kecelakaan yang dialami papa, bundaku pergi meninggalkan aku dan Hanz. kami dijaga oleh Papa, bunda sama sekali tidak memberi kabar pada kami hanya ada selembar surat dan kado setiap 6 bulan sekali sebagian besar hariku ku habiskan disini sementara Hanz mengurung diri dikamar. aku disini karena tanaman yang ada disini aku tanam bersama bunda jadi mereka bagaikan saudara untuk kami. aku merawat mereka menggantikan bunda ketika bunda pergi sehari sebelumnya kami ada menanam sebuah bibit bunga bersama. saat dia pergi aku terus berharap bunga itu mekar dan bundaku pulang ke rumah kalau dipikir secara logika sebenarnya itu sama sekali tidak ada hubungan nya bunga mekar dengan kepulangan bunda ku. sebuah keajaiban terjadi saat bundaku pulang saat itu juga bunga yang kami tanam mekar jadi sejak saat itu aku menyimpulkan harapan ada jika kita yakin terhadap suatu hal"


Hana bertanya pada Rafka "bunda mu orang yang seperti apa?"


Rafka mengingat masa lalu "Dia wanita yang cantik, pantang menyerah, dan dia seorang ibu yang hebat dimataku. kondisi ibuku emang mudah sakit tapi dikondisi nya seperti itu dia tetap mengurus ayahku, diriku, dan usaha yang dia rintis sejak muda. ibuku menginvestasikan sebagian besar kekayaaan nya agar usaha yang dia miliki terus berkembang dulu dia pernah bilang padaku agar suatu saat nanti aku yang harus meneruskan usaha nya. ibu tidak menyerah walaupun usaha nya mengalami krisis dan dia harus menjual perhiasan nya. di usaha tersebut ada anak buahnya yang mesti dia gaji setiap bulan, mereka bergantung pada usaha milik ibu jika usaha milik ibuku bangkrut mereka akan kesulitan mencari makan. katika ibu meninggal, usaha itu diambil ahli oleh kakek karena aku belum cukup umur tapi siapa yang menyangka disaat aku harus nya mewarisi usaha ibuku aku justru kabur dari rumah tanpa kabar sebab itu kakek marah padaku"


Hana memperhatikan setiap raut wajah yang dibuat Rafka. bagi Hana hanya mata dan kebiasaan yang tidak pernah berbohong "Kakekmu masih marah karena hal itu?" tanya Hana.


Rafka tersenyum dan menghela nafas walaupun bibirnya tersenyum tanpa berkata kata Hana bisa melihat kesedihan terlintas dimatanya "Kamu sudah meminta maaf kan?"


"Sudah tapi maaf saja tidak cukup"


Rafka ingat Hana seorang psikiater "Jika aku adalah pasienmu. hal apa yang kamu saranku untuk ku lakukan?"


Hana berpikir sesaat "Dalam kasus mu, aku rasa kalian perlu waktu lebih lama untuk bersama. dengan begitu komunikasi akan kembali terjalin dan kemungkinan besar kesalahpahaman terselesaikan"


Rafka mengangguk persis seperti yang ingin dia dengar dari Hana "Apa aku bisa menginap disini?"


"Disini? maksudmu di Pusat Rehabilitasi ini atau dikebun kaca ini?" tanya Hana. Rafka tersenyum penuh semangat "Kalau bisa tolong beri aku kamar disamping kamar nya kakek dengan begitu kami akan selalu bertemu"


"itu ide yang bagus Afka. tapi apa kamu yakin ingin bermalam disini?"


"Ya aku sangat yakin"


"Hanya pasien yang tinggal disini Afka!"


"kalau begitu aku akan mendaftarkan diri jadi pasien" melihat keinginan yang begitu besar dimata Afka Hana merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan "Ya itu bukanlah hal yang tidak mungkin. aku bisa membantumu mengambil formulir registrasi untuk pasien. tapi..."

__ADS_1


"Apakah ada syarat nya Hana?"


"kamu perlu stampel dari dokter Jerry karena saat ini aku cuti dan aku tidak bisa menjamin ruangan mana yang akan kamu tempati nantinya" Hana mengeluarkan ponsel nya lalu menunjukkan foto dokter jerry pada Rafka. dokter Jerry terlihat seumuran dengan Rafka dan penampilan nya 11.12 dengan Hanzel


"dia dokter mudakan? kalau itu masih bisa aku tangani"


"Dokter Jerry orangnya cukup keras kepala Rafka. dia pasti akan menolak membantumu karena dia pikir itu hanya akan mengganggu kesehatan kakekmu yang merupakan pasien VIP yang dia miliki" Hana memberi Rafka peringatan agar dia berhati hati dan tidak bertindak ceroboh didepan dokter Jerry


"dokter Jerry pasti akan membantumu Hana. karena kalian berdua sama sama seorang dokter jadi aku mohon bantu akan hana"


"Aku akan membantumu Afka. tapi seperti yang ku katakan sebelumnya aku tidak bisa menjamin semua nya 100% berhasil" ucap Hana. Rafka menggangguk "Ya setidaknya aku sudah berusaha untuk hasilnya belakangan"


"Kalian berdua ngapain?" tiba tiba seorang pria berjas putih masuk ke kebun kaca dan langsung bertanya


"Oh dokterer Yoga. kenalkan dia Rafka tamu aku hari ini" ucap Hana dengan sopan. Rafka ingat dia pernah bertemu pria itu dipasar Malam


"Kamu pria malam itu kan?"


Tanya Rafka untuk memastikan. pria itu menyeringai "Ya aku pria yang bersama Hana saat pasar malam"


"Kamu bagaimana bisa bekerja ditempat ini dari sekian banyaknya rumah sakit?"


Yoga merangkul pundak Hana lalu tersenyum "Takdir yang membawaku bertemu Hana lagi"


Hana menepis tangan Yoga tapi masih bersikap sopan "Maaf dokter. tapu anda tidak sopan pada saya"


Rafka menarik tangan Hana untuk menjauh dari Yoga


"Afka..."




•-berlanjut...

__ADS_1


__ADS_2