The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
9. Pesta dansa di istana


__ADS_3

Note : Scan this for watch the ilustrasion scene, enjoy your reading.



"Oma untuk apa semua ini?"


Alin menatap dirinya di kaca,omanya memakaikan masker wajah padanya bahkan rambutnya digulung memakai penggulung rambut


"Diamlah Ling'er nanti masker diwajahmu luntur" ucap Omanya


Alin nggak tau mengapa omanya tiba-tiba melakukan ini Semua Dia bahkan datang ke rumah sakit untuk membawa nya pulang, awalnya alin hendak protes karena masih banyak kerjaan yang belum dia selesai kan namun semua keluhan tertahan ditenggorokkannya sampai saat ini


"Ling'er sekarang kau buka pakaianmu dan pakai pakaian yang ada didalam sana!" pintah Omanya


Alin mengerutkan keningnya dan menatap curiga ke arah omanya


"Cepatlah Alin ntar omamu juga bakal terlambat, mama akan bantu kamu berpakaian" ibunya alin mendorong tubuh anaknya itu


...


"Akh... Duh ma kekencangan!"


Setetes demi setetes air mengalir dikening gadis kecil itu, tangannya mencengkram kuat pinggiran meja wajahnya nampak begitu ke sakitan


"Alin Tarik Nafasmu kamu pasti bisa, ini tinggal sedikit lagi" ibunya mengencangkan tali ditangannya dengan lebih kuat, dalam hati alin mengeluarkan sumpah serapah ke orang - orang yg membuatnya harus merasakan kekejaman dari ibu dan omanya


Srekkk...


Ibunya alin berhasil mengikat tali dipunggung anaknya itu. Alin berdiri kaku lalu mengambil tisu untuk mengelap keringatnya, nafasnya begitu sesak setiap bernafas


"Ma... Alin nggak mau pakai beginian!"


"Alin pakai saja nak, itu pakaian terbagus milik mama. kamu kan nggak mau pakai gaun milik kakakmu" Alin memutar bola matanya dengan malas . bagaimana dia nggak mau memakainya ?! Orang melihat gaun kakaknya itu saja sudah membuatnya bergidik ngeri semua terlalu berkilau dengan pernak pernik yang menyakiti mata


"Oma alin mohon biarkan lah Alin mengganti korset ini dengan bra. Lama lama alin bisa mati sesak nafas karena korset sialan ini!" Alin menatap omanya layaknya anak kucing yang meminta susu


Omanya mendengus "Kau harus terbiasa semua orang yang akan mengahadiri acara diistana juga memakai pakaian yang sama"


Alin tersenyum masam, ternyata ini semua karena acara diistana yang pernah omanya sebutkan itu


"Alin sekarang mama akan menghiasmu tenang saja Skill merias mama nggak kalah sama kakakmu!"


Ibunya alin melepaskan penggulung rambut dirambutnya dan hendak merias wajahnya "Eeh... Tunggu dulu ma, Alin bisa sendiri!"


Alin meraih alas bedak ditangan mamanya lalu menyuruh keduanya pergi "Mama sama Oma tunggu aja dulu diluar!"





Wajah bersinar dan halus layaknya batu giok dengan mata biru menawan walaupun rambutnya hanya di kepang lalu dikonde alin terlihat sangat cantik dan dewasa warna gaun birunya menonjolkan warna kulitnya yang bagiakan boneka porselen


Saat Alin turun dari kereta bersama omanya semua tatapan berpusat padanya di depan tangga istana kakak dan kakak iparnya menunggu


"Salam Oma" ucap keduanya serempak


"Oma kenapa kau lama sekali?!"


"Ekhmm..."


Keduanya menoleh ke alin secara bersamaan


"Kau terlihat cantik sekali adik ipar"


"Iya kau cantik walaupun tanpa make up"


bukannya senang dengan sanjungannya Alin merasa diremehkan oleh kakaknya itu. Namun Alin begitu malas untuk berdebat kalau saja bukan karena korset dibalik gaunnya yang begitu menyesakkan Alin bakalan senang hati meladeni kakaknya yang ber make up tebal itu


"Sudah sudah ayoo kita masuk sekarang" seru oma


Alin berjalan disamping omanya diikuti kakak dan kakak iparnya dibelakang


Seingatnya ini adalah yang pertama kalinya dia melihat isi istana itu, arsitektur cina begitu menawan di dinding yang menjulang tinggi hingga 100 meter, bahkan di langit-langit nya terdapat lukisan naga emas yang menari


Ingin sekali rasanya gadis kecil itu untuk mengeluarkan ponsel dari dompetnya


Semakin berjalan ke dalam suara alunan musik merdu terdengar,

__ADS_1


Banyak berbagai macam gaun dan pakaian ala Aristrokat jaman victoria ada juga yang memakai hangfu dengan corak rumit


Bisa dibilang ini bagaikan pesta dinegeri fantasi


Setiap orang yang datang pertama-tama harus menghadap ke singgasana untuk memberi hormat pada keluarga kerajaan


Para pengawal akan membacakan nama-nama orang yang ada diundangan


"Tuan Perdana Mentri, Raveya Ferata dengan Istrinya terkasih nyonya Amy Ferata"


Kakak Ipar dan kakaknya amy membungkuk memberi hormat pada raja dan keluarga kerajaan


"Hormat kepada Raja dan Ratu Semoga Panjang Umur dan Sehat selalu, hormat pada pangeran dan tuan putri semoga selalu bahagia dunia dan akhirat" ucap Mereka bersamaan


Itu cuman salam kenapa begitu panjang, alin mengerutkan keningnya semua orang yang memberikan salam hormat semuanya menggunakan kalimat yang sama sungguh...


membosankan!


Oma menarik lengan Alin ke depan


"Selanjutnya Tabib Kerajaan yang dihormati , Nyonya Alley Swaneta dan Nona kedua keluarga Swan, Nona Alin Craetta"


Semua pandangan mengarah ke duanya, diantara yang lain Gadis Kecil itu yang begitu menarik perhatian pada awalnya mereka semua menertawakan nya karena mereka pikir dia hanya pembantu nyonya Alley karena hanya memakai make-up tipis...


Ya walaupun make up tipis itu tidak mengurangi kecantikannya tapi tetap saja semua orang tau semakin tebal dan menonjol berarti semakin berkuasa


Oma alin menunduk dan memberikan hormat sama seperti semua orang, namun alin tidak menunduk atau mengatakan apapun dia hanya menatap bingung omanya


Sang nenek menyiku pinggangnya sehingga dia sedikit menunduk, mengerti maksud omanya itu alin mengangkat sedikit gaunnya dan membuka mulutnya


"Salam Sejahtera untuk Raja dan semua keluarga kerajaan"


Alin menatap Orang didepannya dengan perasaan kesal dia masih kesal dan mengingat sumpah serapah nya saat tadi dirumah. Sang Raja menatap Alin dengan senyuman menawan Gadis kecil itu begitu berani menatapnya bahkan dia mengucap kan hormat dengan singkat


Menarik!


"Gadis Kecil kau nona kedua keluarga Swan itu berarti kau Adik Iparnya Tuan Perdana Mentri, Kau seharusnya tau Sopan Santun disini kenapa kau tidak memberi salam pada istri dan kedua putraku?!" seringai nakal muncul diwajah sang raja, aslinya Sang Raja dan Kakeknya itu telah berkawan begitu lama 'Kalau betul dia cucu Komandan Besar yang terhormat itu pasti dia bisa mengatasi hal ini'


Alin menegakkan tubuhnya dan tersenyum lembut mata birunya menatap sekeliling dia begitu tenang dan dingin bagaikan Air Sungai dimalam hari rasa kesalnya dia pendam "Maaf Tuan Raja tapi aku tak melakukan kesalahan aku belum ada sebulan disini jadi belum tau banyak tentang budaya disini, tadi aku sudah memberi salam hormat kepada mereka"


"Kapan itu?"


"Itu saat aku menyebutkan Semua keluarga kerajaan, biar bagaimanapun disini banyak para bangsawan dan rakyat yang tinggal didalam kerajaan bukan kah anda menganggap mereka juga sebagai keluarga tanpa rakyat dan orang-orang yang mendukung kerajaan tidaklah berarti apapun. Setiap Orang layak dihormati baik dari kalangan apapun bukan kah itu aneh jika aku hanya menyapa keluarga inti anda saja Tuan Raja?!" alin menyeringai dan menatap tajam pria tua itu


Sang Raja tertegun dia bagaikan melihat kawannya itu yang mengucapkannya mereka begitu mirip baik sikap tegas maupun matanya yang biru dan tajam seperti elang


Sang Raja Tertawa terbahak-bahak membuat semua orang menjadi takut dan merinding "Kau Benar-Benar Cucunya. Tak terasa sudah cukup lama sekali..."


Alin tersenyum masam ke arahnya sudah tentu dia cucu kakeknya. Dikeluarga hanya dia dan kakeknya itu yang memiliki mata biru yang identik


"Aku akan senang jika bisa berbicara denganmu lagi nanti"


Tanpa terlihat alin memutar kan bola matanya "Kalau begitu aku akan Pamit"


Alin pergi menjauh dari kerumunan bersama sang oma yang mengikutikanya


"Raja bukankah Gadis itu begitu menawan dia masih kecil saat sudah besar kecantikkannya pasti bisa menghancurkan sebuah negara" mata sang Ratu berbinar saat membicarakkannya


Raja mengganguk setuju "Dia akan Penuh Kejutan Istriku" gumam sang Raja.


Sang Ratu bergeliat didada sang Raja "Raja akan baik jika dia jadi menantu kita. aku mau punya cucu kecil sepertinya" Ratu tersenyum membayangkan bayi mungil bermata biru digendongannya


"Aku tau kau sangat menyukainya Permaisuriku terutama Mata birunya yang langkah itu. bisa dihitung hanya beberapa gadis yang memiliki mata biru karena dia keterunan murni dari pulau ini"sang Ratu mengangguk "karena Fang'er sudah bertunangan, aku harap dia menjadi Calon Ru'er dimasa depan aku takkan menjodohkan mereka bila mereka berdua tak saling mencintai karena Cinta..." Sang Ratu terdiam sebentar dan Raja langsung melanjuti perkataannya "Tidak tumbuh dengan Terpaksa!"


....


Alin tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya dia hanya berdiri di depan meja pajang yang memiliki begitu banyak makanan lezat dia sudah cukup lelah mengikuti omanya dan berkenalan dengan begitu banyak orang


Semua orang sibuk menontong pertunjukan ditengah aula sementara itu mulut kecil gadis itu tak berhenti mengunyah didepan meja


Ekhm...


Sontak Alin mengalihkan pandangannya ke asal suara


"Uhukkk... Uhukk... Uhukkk... "


Pria tampan itu berdiri dengan sombong di depan alin, pakaiannya layaknya pangeran kalau saja dia tak memakai lensa biru alin pasti nggak akan terkejut.


Melihat alin terbatuk pria itu menyerahkan segelas air padanya "Minumlah!"

__ADS_1


Alin langsung merampas gelas itu darinya "Terima kasih"


Canggung


Karena mereka terdiam selama beberapa menit akhirnya Ruan Ruo membuka mulutnya


"Kau ngapain disini?!"


Alin mengangkat alisnya "makan apa itu salah"


"Nggak tapi kan yang lain lagi pada disana"


"Aku lelah dan lapar ya jadinya aku makan. Kamu sendiri kenapa nggak disana bukan kah kau seorang pangeran"


"Dari mana kau tau aku seorang pangeran?"


Alin memutar matanya sudah jelas dia berdiri disamping raja dan ratu tadi, hanya orang bodoh yang setelah melihat itu semua masih tak tau siapa dirinya


"Aku punya mata dan aku nggak bodoh! Jelas aku tau, tapi kenapa kau tak bersama kakakmu? Semua wanita mengelilinginya"


Ruan Ruo mengusap wajahnya bagaimana dia bilang kalau dia tadi beralasan mau ke kamar kecil


"Ya ada banyak wanita menunggu ku tapi mereka semua nggak ada yang bagus, hidungku serasa gatal karena bau make up mereka yang tebal"


"Ekhm... Aku juga wanita lo"


Alin menatap kesal pria dihadapannya


"Oh ya kau Wanita?! Aku baru tau coba buktikan!" Suara seraknya nampak mengejek alin yang sedang kesal


Alin tau kalau dia tak melakukan sesuatu dia pasti akan terus diejek


Tiba-tiba ide jahil muncul dibenaknya.


Saat tak ada seorang pun melihat


Dia menarik Dasi Ruan Ruo lalu memepetkan tubuhnya lengan putihnya dia kalungkan dipundak pria itu dengan nada menggoda suara lembutnya menyapu telinga pria itu "Apa kau tak merasakan nya?"


-Blush-


Melihat kebawah tempat Alin memepetkan tubuhnya, Ruan Ruo tak bisa bergerak pikirannya begitu kacau wajahnya memerah seperti tomat suara lembut alin menyapu telinganya lagi "Bagaimana?"


"A... A.. Aku.. "


Suara seraknya tertahan ditenggorakan Alin menjauhkan dirinya lalu tersenyum jahil "Bagaimana Apa sudah benar?"


Benar?


Ruan Ruo terkejut "Apanya yang benar?"


Alin menunjuk pundaknya "Itu selempang kerajaan mu tadi bagian belakangnya tergulung apa kau tak merasakannya? tadi sudah ku benarin seharus nya kau berterimakasih padaku"


Alin tertawa sementara Ruan Ruo masih tercenggang dengan ucapannya. setelah kesadarannya kembali dia ikut tertawa bersama alin gadis gila ini benar-benar membodohiku


Alunan musik mardu bergema di seluruh aula. Raja dan Ratu mulai berdansa diikuti oleh pangeran pertama dan beberapa bangsawan lainnya


"Jadi... "


"Apa kau bisa berdansa? Kau pasti telah terbiasa di club malam" ejek Alin


Ruan Ruo menyeringai "Aku sudah banyak berdansa dengan wanita, sudah pasti aku akan sangat profesional"


"Oh ya? Lebih baik kau ajak saja seorang wanita berdansa aku ingin melihat kau menari didepanku"


Alin pikir Ruan Ruo bodoh tapi kenyataan dia tau pasti maksud jahil dibalik perkataan nya tadi. jika seoarang pria menari khusus untuk seoarang wanita bukankah itu sama saja dirinya adalah penari jalanan


"Kau Ikut denganku berdansa jadi kita berdua akan sama sama menilai siapa yang lebih baik!" tanpa mendengarkan jawaban Alin Ruan Ruo menarik tangannya ke tengah aula tempat berdansa


Keduanya menari dengan begitu lembut, alin tak mau kalah dengan pria dihadapannya jadi dia terus saja menatap pria itu


Alunan lagu telah berubah-ubah dari lambat ke cepat lalu perlahan melambat lagi sang Raja dan Ratu berhenti menari begitu pula para bangsawan mereka semua menatap heran ke pasangan serasi ditengah aula yang tak ada lelahnya menari bagaikan dunia hanya milik mereka berdua


Bisa dibilang tarian mereka lebih seperti balet modern begitu lembut dan lentur


"Raja mereka berdua sangat Cocok, aku jadi tak sabar" gumam sang ratu dengan mata berbinar, sang raja tau pasti perasaan istrinya itu "Ya sangat cocok tapi kau masih harus menunggu! Fang'er saja belum menikah, hari ini kita akan mengumumkan pertunangannya dengan tuan putri Wein'er"


"Ya Raja ini akan menjadi perayaan ganda, Ulang tahun dirinya sekaligus pertunangan nya" ucap Sang Ratu dengan senyum memenuhi wajahnya


__ADS_1



~•


__ADS_2