The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
12. Belenggu tak terlihat


__ADS_3


Seminggu setelahnya alin menerima surat dari pangeran pertama ia memintanya datang ke istana.


Awalnya gadis kecil itu ingin mengabaikan selembar kertas itu sayangnya Dr. Gi menyambar kertas itu tanpa permisi dan menyuruh nya pergi


Dengan malas alin menatap keluar pintu kaca didalam istana tubuhnya bersandar diambang pintu


"Pemandangan yang luar biasa" dari arahnya pemandangan istana lama terlihat memukai matahari menyinari sekelilingnya


Ekhemm...


Mendengar suara itu alin segera membalik badannya dan duduk disofa


"Kau sudah datang kenapa lama sekali?" Suara serak Fangzue terdengar kesal, melihat sikap pangeran itu alin hanya bisa mendesah "Apa kau pikir kerjaan ku hanya lontang lantung dijalan? Cutiku untuk bulan ini sudah habis jadi aku nggak bisa seenaknya" alin menjawabnya dengan ketus


Fang zue menaikkan kedua alisnya "Seharusnya kau berterimakasih berkat ku hari ini kau libur"


"Kau hanya mementingkan diri sendiri, kau nggak pernah berpikir bagaimana nasib rakyatmu yang sedang sakit saat ini"


biasanya saat alin bertugas akan ada banyak pasien yang datang selain gratis, obat-obat yang diberikan semuanya terbukti sangat ampuh dan juga alin sangat ramah sehingga semua pasiennya merasa nyaman namun mereka semua menyebut gadis kecil itu dengan sebutan Ling'er. awalnya hanya satu dua orang lama kelamaan semua orang dari kalangan sederhana itu menyebutnya ling'er.


Hanya kalangan bangsawan yang mengenalnya sebagai Alin Craetta cucu dari Tabib Kerajaan Alley Swanetta


"Aku tuh mau memberikan kau sebuah penawaran" ucap Fang zue


Tanpa berpikir alin langsung menjawab "Aku menolaknya"


"Apa?!"


Fang zue terkejut dia belum saja mengatakan apa yang ingin dia tawarkan


Alin mengulang perkataannya


"Aku menolaknya!"


Wajah Fang menjadi hitam dan aura di sekitarnya suram


"Apa kau tak menyesal aku ingin menawarkan kau menjadi dokter istana dengan gaji yang tinggi? Bukan kah kau tergila gila dengan harta"


'Ternyata pemikirannya sempit' ucap alin dalam hati "munafik kalau aku bilang aku nggak tertarik dengan harta hukum Rimba masih berlaku sampai sekarang, siapa kuat dia menang"


"Aku emang gila harta tapi aku masih punya hati aku nggak mau nerima uang haram lagian kan diIstana ini sudah banyak dokternya jadi nggak ada yang bisa dikerjakan"


Fang zue mengangguk setuju emang dokter diistana sudah cukup banyak apalagi yang seorang wanita, sangking banyaknya sampai mereka berkeliaran di setiap penjuru


"Ya sudah kalau kau tak mau tapi aku tetap ingin meminta sesuatu darimu!"


"Apa?"


Fang zue menyeringai "Kau dan keluarga mu belum memberikan hadiah padaku saat ulang tahunku dua minggu yang lalu jadi sekarang aku ingin memintanya, dimana hadiahku?"


Ucapan Fang zue nyaris membuat alin tersedak untunglah air dimulutnya nggak muncrat jadi ini niat sebenarnya dia ngirimin surat dan meminta nya datang ke istana hanya untuk meminta hadiah ulang tahun.


Menyesal...


Satu kata itu terngiang dipikiran alin. Gadis kecil itu tersenyum pahit saat melepaskan jam tangan ditangan kirinya, hanya itu satu satunya benda yang bisa dia berikan saat ini dia nggak mungkin mau memberikan ponselnya sebagai hadiah


"Ini!"


Alin meletakkan jam tangan itu diatas meja ada sedikit rasa tak ikhlas saat jam itu diambil pria didepannya "Lumayan Bagus!" gumam Fang Zue seraya mencobanya


"Ya Gimana nggak bagus itu jam Tangan original Rolex yang brand terbaru, sangat bagus! Kalau saja saat ini kau ada dihutan atau diujung tebing akan kupastikan aku memberimu hadiah tambahan karena Meminta jam itu!"


"Hadiah tambahan apa itu?" Fang zue tekekeh melihat wajah alin yang tak rela kehilangan jam tangannya


"Oh kamu mau ayo kita pergi sekarang ke sana, hadiahnya aku akan membuatmu terbang ke surga sehingga nggak bisa kembali" amarah bercampur kesal sudah memenuhi otak gadis kecil itu


"Jadi kau nggak rela ni menghadiahkannya?"


Alin tersenyum masam "Aku bisa Ikhlas asalkan kau menghargai pemberianku ini. Kau nggak tau perjuangan ku untuk mendapatkan benda itu" sebenarnya cukup mudah untuk alin mendapatkan nya dia hanya perlu memasang puppy eyes didepan profesor Alpha dan minta apa yang dia inginkan

__ADS_1


Setelah itu alin beranjak berdiri dan hendak pergi "Sudahkan sekarang aku mau balik"


"Eeh nggak secepatnya itu, Sejujurnya ayahku yang meminta kau datang. Kan lebih baik kalau kau menemuinya sebelum pulang" Fang memaksa Gadis Kecil itu mengikuti nya ke ruang kerja raja


Disana sudah ada ibu ratu dengan mata berbinar melihat alin selain itu juga ada beberapa pelayan dan mentri


"Salam Hormat dari ku ayah, ibu" ucap Fang zue seraya sedikit membungkuk


Para pelayan dan mentri menatap alin karena sedari tadi dia hanya diam tanpa memberi hormat apapun melihat isyarat mata Fang zue yang menyuruhnya memberikan hormat alin mendengus kesal


Sambil menatap raja dan ratu alin mengucapkan salam "Salam dari saya untuk Raja dan Semuanya" gadis kecil itu tak membungkuk sama sekali sehingga sang raja terkekeh melihatnya


"Anakku Alin akhirnya kita bisa bertemu lagi!" ucap Sang Raja dengan bangganya. Alin manautkan alisnya


'Sejak kapan aku jadi anaknya?!' gumam alin dalam hati


"Alin Craetta cucu teman karibku Swanetta, apa kau tau kenapa aku memintamu datang ke sini?" tanya Raja


Alin menggelengkan kepalanya "Kalau itu untuk menawarkan aku sebagai dokter istana seperti yang pangeran lakukan, aku mohon maaf karena aku akan tetap menolaknya"


Sang Raja tertawa "Aku hanya ingin berterimakasih karena kau menyelamatkan keluargaku, pertama istriku lalu penerusku kau seperti malaikat pelindung. Sebagai tanda terimakasihku aku akan memberikan kamu izin untuk bebas pergi keluar masuk istana siapapun yang menghalangimu akan berurusan langsung denganku"


Semua orang tercengang mendengarnya terkecuali sang Ratu yang sudah tau keputusan raja sebelumnya "Terimakasih atas kebaikan mu raja" ucap alin tentu dia gembira karena sudah beberapa hari ini dia memikirkan cara untuk bisa masuk ke Istana Lama yang penuh akan tanaman


"Dan aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu. Aku Raja sekaligus ayah dari putra putra ku, ingin melamar kau sebagai menantu keduaku pernikahan mu akan dilakukan setelah Fang Zue menikah. Apa kau keberatan?!" ucap sang Raja dengan sinar agung dimatanya


Dalam sekejap semua kebahagiaan Gadis Kecil itu hilang tanpa jejak. Senyumannya berubah menjadi senyuman miris dan aura sekitarnya menjadi Suram, sang Ratu yang sensitif dengan perubahan sikap alin langsung turun dari singgasana sang Raja dan segera memeluk gadis itu


"Tenanglah sayang, yang dimaksud raja bukan Fang zue tapi Ruan Ruo atau yang lebih dikenal Rumireo Radeya" ucap sang Ratu seraya menghelus kepala alin dengan sayang. Wajah Fang Zue tak kalah suram dengan Alin ntah mengapa hatinya terasa sakit sehingga dia tak bisa mengatakan apapun, dia baru saja melihat ada gadis yang menarik dimatanya namun sekarang gadis itu akan diberikan pada adiknya


Semua yang diucapkan ratu sama sekali tak membantu tak ada perubahan sikap suram nya alin. Melihat itu sang Raja kembali bertanya "Apa kau keberatan?"


Dengan Sadar Alin menatap tajam orang yang duduk disinggasana, siapa dia yang berhak menentukan pernikahannya dia bukan keluarganya dan juga bukan seorang Tuhan dimatanya "Aku punya banyak syarat Raja, aku tidak bisa langsung memutuskan akan menerima lamaran itu begitu saja"


Seperti yang diduga raja, Gadis kecil didepannya emang akan sulit diraih


"Apa Syaratnya?"


"Pernikahan itu syakral aku ingin hanya menikah 1 kali dalam hidupku dan aku juga ingin suami masa depanku juga seperti itu"


"Apa Ru sudah tau tentang hal ini?!"


Alin yakin pasti raja dan ratu tak memberi tahu Ruan Ruo tentang keputusan mereka


Sang Raja bangkit dari singgasananya dan menyuruh semua Mentri dan para pelayan untuk pergi hingga tinggalah mereka berempat dalam ruangan itu


Sang Raja tak lagi duduk disinggasananya kini dia berada didepan gadis kecil itu dan memegang kedua pundaknya


"Aku akan memberitahunya nak, setuju atau tidak ini tetap keputusanku"


Aura disekeliling gadis kecil itu semakin suram dia memikirkan berbagai macam cara untuk menghentikan keputusan raja


"Tapi Raja kau harus tau aku. Aku bukanlah orang baik lagian aku dan Ru berbeda kepercayaan"


Sang Raja terkekeh "Aku tau semuanya"


Alin menggertakkan gigi giginya "Raja kau harus tau aku bukanlah perawan dan aku punya Trauma masa lalu" suara alin sangat lirih saat mengatakan itu. Untung saja para mentri telah keluar dari ruangan jadi takkan ada yang mencemoh dirinya. Sebagai seorang gadis keperawanan adalah hal yang harus dijaga layaknya sebuah harta namun sangkin berharganya harta itu, banyak mata nakal yang berniat mencurinya


Raja dan Ratu ikut merasakan kesedihan gadis kecil dihadapannya. Sang Raja juga masih mengingat saat saat kelam itu dia merasa telah gagal dan sampai sekarang dia masih merasa bersalah "Semua yang terjadi dimasa lalu itu bukanlah kesalahanmu nak!" gumam sang Raja


Mereka bertiga hanyut dalam pembicaraan sehingga mengabaikan Fang zue yang masih setia mendengarkan sedari tadi 'Jadi Alin bukan Gadis Perawan' ada sedikit kekecewaan dimata Fang zue


"Sudahlah nak lupakan saja masa lalu, jangan diingat-ingat kembali karena itu hanya akan membuka luka dihatimu" Sang Ratu berurai air mata saat menghelus rambut alin dan memeluknya.


Alin mundur beberapa langkah dari mereka berdua jujur sebenarnya ini hal yang biasa bagi alin dan hanya kakeknya yang tau kondisinya. orang tua gadis kecil itu bahkan belum tau "Kalian berdua tak perlu merasa bersalah atau mengasihaniku. Aku sudah bahagia dengan hidup bebas seperti apa yang aku mau, aku bahagia jadi kalian jangan mencoba membelenggu kakiku"


Sang Raja menghela nafas "Sebenarnya aku yang ingin minta tolong kepadamu nak! Sekali aja aku mohon bantu aku" Alin merajut alisnya pria tua dihadapannya sungguh keras kepala "Nak kau seorang dokter kau tau hidupku nggak lama lagi" suara sang Ratu keluar bagaikan kilat disiang bolong, Fang zue langsung menghapadap ke ibunya itu


"Bu apa maksudmu? Jangan menakuti Fang'er bu, ibunya fang'er kuat dan akan hidup 1 abad lagi!" suara Fang zue bergetar


Alin lagi-lagi mendesah kenapa hidupnya harus seperti cerita di novel. Rasanya ia ingin kembali ke masa kanak kanaknya dimana ia nggak tau apapun tentang kerajaan yang dia tau hanya bermain pedang, berlari, tertawa, dan memanjat pohon. Dia nggak perlu mengambil keputusan ataupun memilih, sangat disayangkan kehidupan itu bagai roda yang terus berputar kadang diatas dan kadang dibawah tidak ada yang tau pasti apa yang akan terjadi besok

__ADS_1


Yang dia tau apapun yang dia pilih dia harus bisa mengelola resikonya.


"Apa Keinginan kalian?"


"Menikahlah dengannya dan rubah kebiasaan buruknya"


Alin menyeringai "Trus keuntungan apa yang ku dapat dari pernikahan ini?!"


"Kami akan Membayarmu!"


..................


Dekrit raja hari itu juga telah dikeluarkan dalam seminggu akan ada pernikahan pangeran pertama dan seminggu setelahnya pernikahannya dengan Alin akan segera dilakukan "AKH Shit, sial kemana perginya tuh bocah beraninya dia meminta ayah untuk menjodohkannya denganku!" Gumam Ruan Ruo seraya melemparkan barang kesekitarnya kekesalan memuncak di otak Ruan Ruo tatapanya seperti orang yang sudah kerasukan


Awalnya dia menemuinya di rumah sakit namun alin mengabaikannya seperti sebuah angin, dia hanya tersenyum dan bersikap ramah didepan pasiennya


Bayangan wajah alin kemarin terus membayanginya dia tersenyum seakan tak ada masalah dia terus tersenyum dan mengatakan hal yang sama pada pasien 'Apa Masih Sakit? Hal ini pasti sulit untukmu tapi tenanglah aku ada disini' kata kata itu menyihir semua pasien termasuk dirinya yang bukan seorang pasien


"Apa yang Kupikirkan? Ru bodoh wanita gila itu mencoba menjebak mu kenapa kau tertarik dengan nya?!" Gumam Ruan Ruo seraya mengacak rambutnya


Ia keluar dan berjalan ke arah labirin kakinya tak berhenti melangkah hingga tiba dibagian tengah, labirin itu tidak jauh dari istana dan istana lama. disisi awal labirin ada istana baru sedangkan dibagian akhirnya ada istana lama


"Disini Cukup Tenang!" gumam Ruan Ruo seraya memandang sekelilingnya


hhmm... When tomorrow comes


I'll be on my own


Feeling frightened of


The things that I don't know


Suara lembut terdengar dari arah istana lama ntah ada sedikit jejak kesedihan dinadanya. Tanpa sadar kaki Ruan Ruo melangkah semakin dekat kat kearahnya


When tomorrow comes


Tomorrow comes


Tomorrow comes...


Semakin cepat langkahnya pada akhirnya Ruan Ruo berlari ke dalam istana itu dia penasaran akan suara lembut dan merdu yang seakan akan menariknya mendekat


And though the road is long


I look up to the sky


And in the dark I found,


I lost hope that I won't fly


And I sing along, I sing along


And I sing along...


Dia tau lagu itu emang sudah ada sejak lama namun dia belum pernah mendengar nada semerdu ini


Saat dia memasuki istana itu sekilas dia melihat sosok putih dilantai atas


Nyanyian itu berhenti dan berganti suara tawa bocah


"khehehe..."


Ruan Ruo langsung berlari mengejar sosok putih dia beberapa kali berbelok dikoridor istana itu


Suara tawa masih terdengar dan makin lama sosok putih itu terlihat jelas. sosok putih itu duduk dilantai yang sudah berumput sambil memegang buku dia masih tertawa


"Ternyata Kau!"



__ADS_1



~•


__ADS_2