
Kalau saja aku bisa melihat masa depan dan bagaimana akhir dari semua ini...
Yakin lah,
apapun itu akan jauh lebih baik daripada sekarang
Cerai...
Kata itu nggak pernah dipikirkan Alin sebelumnya. Bagaimana bisa Ru mengatakan hal itu padahal dia hanya meminta kebebasan 'Dasar otak udang, pikiranmu sedangkal Air peceran' gumam Alin tanpa sadar dalam hatinya. Alin tau ini salah untuk mengatai pria yang masih berstatus suaminya dengan kata kata kasar namun kali ini dia kelewat kesal. Ya walaupun Alin tak mengetahui banyak tentang perceraian setidaknya dia tau bagian dasar hukum perceraian, hanya dengan satu ikrar talak bukan berarti dia dan Ru sudah nggak sah sebagai suami istri. Ini baru dijatuhi talak pertama
"Hey Al.. Fokus!" ucap Arzan seraya mengguncang tubuh Alin. Ya setelah sadar apa yang telah ia ucapkan Ru kembali meminta maaf dan menyeret Alin pulang. Sebagai hukuman Alin dikurung dikamar, Ru sedang keluar jadi Arzan dengan berani masuk kemar Alin bersama Professor.Alpha lewat jendela dibalkon
"Iya Kamu tenang aja" ucap Alin seraya menyesap minuman dingin yang dibawa prof. Alpha. Prof. Alpha yang sedari mengamati hal yang dijelaskan Alin mengenai matanya segera menyimpulkan
"Bisa melihat Cahaya sekilas dan gerakan. Bukan kah itu hal Aneh yang langkah pada umumnya orang buta tak kan bisa melihat apapun selain kegelapan, ada satu kasus dan kalian seorang dokter pasti tau..." ucapan Prof.Alpha dipotong oleh Arzan "Kasus apa aku belum pernah dengar? Yang aku pernah dengar orang buta bisa melihat warna acak yang menari nari didepannya itupun karena dia sudah buta dari lahir jadi bukan kegelapan yang ia lihat"
Alin mencoba mengingat apa yang pernah ia baca di artikel "Apa ini Kasus disosiasi statokinetik? Dimana seorang penderita kebutaan dapat melihat objek bergerak berupa bayangan"
Prof. Alpha mengangguk seperti yang ia harapkan Alin pasti tau ya setidaknya nama kasusnya
"sindrom Riddoch atau dikenal juga sebagai disosiasi statokinetik adalah suatu keadaan di mana seseorang yang buta dapat melihat objek bergerak berupa bayangan jadi yang kamu liat hanya bayangannya saja itupun sekilas. Sindrom Riddoch disebabkan oleh lesi di lobus oksipital, wilayah otak yang bertanggung jawab memproses penglihatan" Jelas Prof.Alpha
Arzan mengangguk mengerti "Itu Artinya bukan kebutaan total" gumam Arzan. Alin menghela nafasnya lagi "Ya begitulah"
Prof.Alpha menepuk pundak gadis kecil didepannya "Tanpa operasi mata mungkin kamu juga bisa melihat. Apa kamu ingat investasi yang kamu lakukan untuk penyandang kebutaan?"
"Ya aku ingat, apa mereka telah berhasil membuat Kacamata nya?" tanya Alin dengan wajah datarnya.
Arzan "Ya mereka berhasil, sebagian besar dari mereka teman ku sudah pasti mereka nggak kan mengecewakan. Kacamatanya juga dilengkapi GPS jadi memudahkan orang buta agar tidak tersesat, Aku harap dengan adanya ini kebutaan bisa dihapuskan"
"Sekarang giliranmu saja... Kamu mau ikut kami dan mencari pendonor mata buat operasi mata kamu, atau kamu mau tetap disini memakai Kaca mata itu selamanya dan jadi burung dalam sangkar mewah bersama Ru"
Sekarang semua tergantung pilihan Alin, dia punya dua pilihan yang
Masing Masing memiliki arti lain yang berkebalikan, Jika Alin memilih yang pertama itu artinya dia harus meninggalkan Ruan Ruo sedangkan jika dia pilih pilihan kedua artinya dia harus menyerah terhadap Impiannya.
"Bukan kah kamu sudah dijatuhkan Talak oleh Ru? Kenapa kamu masih ragu untuk meninggalkan dia..." Arzan menyerahkan sebuah kartu memori ditangan Alin "Aku merekam semuanya, kamu bisa membawa ini ke pengadilan dan mengajukan cerai"
__ADS_1
Wajah Alin berubah suram "Apa yang kamu rekam?!"
Arzan mundur beberapa langkah "Aku merekam detik detik Ru menjatuhkan kamu talak"
"Kamu mengintip?" tanya Alin seraya menyeringai. Arzan menggelengkan kepalanya "Bukan aku tapi orang suruhan ku"
Alin tenggelam dalam pemikirannya beberapa saat setelah itu dia tersenyum ke arah keduanya "Beri aku waktu" pintah Alin.
Sepulang Prof. Alpha dan Arzan. Ruan Ruo masuk ke kamar dengan dua bungkus Bubur ayam ditangannya
"Ru apa itu kau?" tanya Alin yang baru keluar dari kamar mandi. Ruan Ruo terdiam menatap kaleng minuman dingin yang tergeletak diatas meja "Ada apa ? Kenapa kau hanya diam?!" Alin meraba dinding dan sampai ditempat Ruan Ruo berdiri
"Ada siapa disini tadi?" tanya Ruan ruo dengan suara dingin. Alin tertawa seolah olah dia nggak tau apa yang sedang dibicarakan Ru "Nggak ada siapa siapa. Bukan kah kau mengunci pintunya"
Ru mendengus "Kau berbohong" gumam Ru seraya menghempaskan tubuhnya disofa. Alin ikut duduk dan menaruh kepala Ruan Ruo dipangkuannya dengan sangat lembut Alin berkata "Ru aku takut padamu" Ru yang baru saja memejamkan mata dan menikmati sentuhan lembut Alin segera mengerutkan Alisnya "Takut kenapa?"
"Aku berbohong karena aku takut kamu akan memberiku hukuman lebih berat dari ini. Jujur aku kesepian selama beberapa hari terkurung, aku sering bermimpi buruk hingga membuat jantungku terasa sakit. Kapan kita bisa pindah dari tempat ini? Bukan kah penurunan tahta telah dilakukan" ucap Alin. Ruan Ruo membuka kain putih dimata Alin dan mencium keduanya "Bersabarlah sebentar lagi. Semuanya tidak semudah yang dibayangkan butuh waktu bagiku untuk menyelasaikannya"Jelas Ru. Alin membuka matanya namun dia nggak melihat apapun, Ruan ruo yang baru pertama kali melihat mata Alin yang terbuka setelah sekian lama tanpa sadar meneteskan Air matanya
'Jelas kamu ada didepanku, kamu masih ceria, hidup dan sama seperti dulu tapi tatapan mu kosong layaknya sudah tak ada kehidupan didalamnya' pikir Ru. Alin menunduk dia tersenyum miris lalu menutup mata orang dipangkuannya seperti tau apa yang Ruan ruo pikirkan Alin segera berkata "Seharusnya kamu tak melihat ini. Nggak ada bagusnya menatap mata orang yang buta"
"Ma...Maaf!" kata itu meluncur begitu saja dari mulut Ruan ruo hingga membuat Alin tertawa "Sst, sudah ku katakan jangan meminta maaf.Seandainya setiap perkataan maaf mu adalah uang mungkin sekarang aku sudah jadi kaya raya"
"Oh ya Ru, bolehkah aku pindah ke rumah bunda? Kau tak perlu mengirim pelayan dan penjaga cukup paman dan bibi yang ada disisiku setidaknya disana aku nggak akan kesepian" tanya Alin dengan nada manja layaknya anak kecil entah mengapa beberapa hari ini moodnya Alin sering berubah dan dia menjadi lebih manja "Akan ku usahakan" balas Ruan ruo dengan senyuman diwajahnya
Alin pergi mengatar Ruan ruo dan Prof.Alpha ke bandara kebetulan ada pekerjaan mendadak jadi keduanya harus kembali bekerja "Apa kamu yakin nggak mau ikut Al?" tanya Arzan. Alin menggeleng dia menggenggam tangan Ruan Ruo disampingnya
Arzan dan Prof.Alpha hanya bisa diam dan merendam protes mereka didalam hati terdalam "Aku akan tetap berusaha mencari pendonor untuk mu Alin sayang" ucap Prof.Apha seraya membelai rambut Alin.tentu saja nggak ada seorang guru yang rela melihat murid yang selama ini dia ajar dengan keringat darah untuk menjadi dokter justru menyerah hanya karena buta yang menjadi penghalang karirnya
Alin mengambil tangan Prof.Alpha dirambutnya lalu menariknya kedalam sebuah pelukan rasanya Alin kembali berada dipelukan papanya
"Terimakasih, Aku akan segera kembali kepada kalian semua. Aku janji aku pasti kembali...Hiks...Hiks..."
Tiba tiba saja Alin menangis sungguh moodnya berubah dalam sekejap
Arzan sudah mengepak semua hasil riset Alin selama dipulau ini dan memasukkan nya dalam pesawat sangkin berharganya riset itu prof. Alpha tidak setuju jika riset itu ditaruh kedalam bagasi
Ruan Ruo menggantikan Prof.Alpha memeluk Alin yang masih menangis "Sudah jangan Nangis. Kasian tuh hidung ingusnya meler kemana mana" ucap Ru seraya membersihkan hidung Alin dengan tisu.
Selepas kepulangan mereka, Alin dan Ruan Ruo kembali ke rumah bunda atau lebih tepatnya villa keluarga angkat Alin. Alin sering menelfon ke keluarganya baik yang angkat maupun Keluarga Aslinya yang berada jauh di negara Turki, Walaupun tak melakukan apapun Alin lebih sering menghabiskan waktunya dirumah kaca.
Pernah terpikir olehnya ingin menyusul keluarganya di kota Istanbul, negara Turki. Ray berkuliah Sekolah teknologi disana, awalnya Alin sempat ingin memasukkan Ray ke Fakultas medis namun ditolak mentah mentah oleh Ray.
__ADS_1
Kebetulan disana Alin punya rumah yang bisa ditempati ya walaupun nggak besar setidaknya cukup untuk membuka toko dibagian bawah dan tinggal dibagian atasnya
Sebuah ketukan mengganggu lamunan Gadis kecil berbaju putih yang sedang menyiram tanaman "Maaf Nona, ada pasien yang mencarimu" ucap bibi
"Huh?" Alin bingung padahal dia sudah bilang ke bibi dia nggak mampu mengobati siapapun dengan keadaan mata seperti ini
Diruangan Pasien suara tangis seorang ibu memasuki telinga Alin
"Ada apa ini?!" tanya Alin. Ibu itu segera menangkap tangan Alin "Dokter Ling Ling tolong selamatkan anak saya. Saya akan membayar berapapun harganya"
Alin sedikit gelagapan dengan situasi didepannya biasanya dia hanya akan tenang menunjukkan senyum professionalnya sebagai dokter. Situasi kali ini berbeda dia buta nggak bisa melihat jika dia mengobati pasien itu menyalahi aturan kedokteran, surat izin prakteknya bakalan dicabut jika ketahuan
"Tapi bu saya buta. walaupun saya berjalan lurus tapi saya nggak bisa melihat apapun" jelas Alin
Sang ibu menangis tak karuan "Aku mohon dok. Aku percaya dokter bisa menyelamatkan dia" Alin menghela nafas, dia tak punya pilihan selain membantu ibu dan anak itu
"Bi, tolong bantu saya!" kebetulan sekali bibi sudah terbiasa membantu Alin jadi dia terbiasa dengan perlatan medis dan obat obat. Didepan anak itu Alin berbicara dengan lembut "Sayang apanya yang sakit?" tanya Alin
"Maaf dok, saya lupa bilang anak saya ini bisu. tapi sedari tadi dia menekan perutnya dan wajahnya pucat dan berkeringat" mendengar hal itu Alin hanya bisa berharap kalau anak didepannya tidak menderita usus buntu akut.
"Bi, tolong ambil termometer di laci kedua lemari"
"Iya non"
"jika merasa sakit saat ditekan tolong pegang tangan saya!" ucap Alin pada pasien. Hanya ini satu satunya cara dia bisa berkomunikasi dengan pasien yang bisu selain menggunakan bahasa isyarat
Merasa tangannya dipegang saat menekan bagian bawah lambung Alin sedikit lega "Bu apa dia sering sakit perut dan bolak balik ke kamar kecil?"
"Iya dia juga sempat muntah muntah" jelas ibu pasien. Bibi membawa termometer dan menyerahkannya pada Alin, "Buka mulutmu sayang!" dengan perlahan Alin meletakkan termometer itu kedalam mulut pasien
Setelah beberapa detik dia menyuruh bibi membaca berapa suhu yang tertera ditermometer itu.
"Bi, saya akan menulis obatnya tolong beri saya buku resep dan pulpen, setelah itu tolong siapkan handuk dan air hangat untuk mengompresnya"
Alin menjelaskan situasi pasien pada ibu pasien "Anak anda mengalami asam lambung dan demam, kebetulan Asam lambung sakitnya itu ada dua macam satu dibagian bawah lambung yang membuatnya berulang kali buang Air besar dan ada didekat bulu hati yang membuatnya sering muntah. Rasa sakit dari Asam lambung ini memicu demam tinggi ditubuhnya"
Ketika bibi sudah menyediakan resep yang diberi Alin. Ibu dan anak itu pulang setelah demamnya turun
Saat malam tiba Alin tersenyum puas dia tak menyangka walaupun buta dia masih bisa menolong seseorang. Kini dia berpikir lebih baik dia meluangkan waktunya untuk berlatih lagi, Alin mencoba memegang pisau bedah ditangannya namun beberapa kali jatuh dan gagal "Aku pikir aku masih belum siap tanganku kaku dan masih bergetar" gumamnya. Sebuah suara barington berat memanggil namanya membuat Alin mematung ditempat "Alin Craetta, apa yang telah kau lakukan?! Bukan kah aku sudah bilang untuk berhenti mengobati pasien..."
~•TBC
__ADS_1
mohon maaf typo masih bertebaran