
Bila saatnya telah tiba
Kau dan aku bertemu lagi
Aku ingin mengulang semua dari awal
Dan menghapus segala kesalahan yang pernah terjadi
Ru mengejar perempuan mirip Alin sangat disayangkan, dia kehilangan jejak wanita itu
"Ya, Allah jika itu emang benar Alin maka pertemukanlah aku dengannya" gumam Ru seraya masih terus mencari disekitar.
Seseorang yang menemukan koper yang ditinggalkan Ru dijalan segera melapor kebagian pusat informasi "Pemberitahuan Kepada tuan Rumireo Radeya untuk segera mengambil kopernya di pusat informasi, Terimakasih"
Ru menyudahi pencariannya setelah mendengar pengunguman yang menyuruhnya datang ke pusat informasi
"Ini tuan kopernya"
"Iya makasih. Oh ya tadi siapa yang menemukan koper saya, bagaimana bisa dia tau ini koper milik saya"
Secercah harapan bahwa Alin yang mengembalikan kopernya ke pusat informasi terlintas dibenak Ru
"Tadi seorang wanita...."
"Wanita? Apa dia tinggi putih berjilbab abu abu?" tanya Ru menyela penjelasan penjaga pusat informasi
"Maaf bukan tuan. Tadi dia wanita berumur 10 tahun bernama Lucy"
Lucy....
Jadi bocah itu yang mengembalikannya "Aku harus berterimakasih saat bertemu dengannya" gumam Ru yang dibalas dua jempol oleh penjaga pusat informasi
Saat menunggu Taxi, Ru melihat Lucy menggandeng dua bocah yang menabrak nya tadi. Samar-samar dia mendengar Lucy berceramah panjang lebar "Lain kali kalian jangan berkeliaran tanpa ibu kalian...."
".... Apa kalian berpikir tampat ini untuk bermain main? Ini bukan tempat buat anak dibawah umur disini sangat berbahaya...."
".... Kalau ada yang menculik kalian, aku pasti akan melihat tante Murka..."
Bocah-bocah limah tahun yang terkena siraman rohani dari Lucy hanya bisa tertunduk dan menjawab 'Of course sister, we are sorry'
Suara menggemaskan mereka berhasil membuat Ru tertawa
Ru melangkah ke arah Lucy, tepat saat didepan bocah itu Ru menunduk dan berkata "Hey... I want to say thank you"
"For what uncle?"
"Karena sudah mengembalikkan koperku"
"Oh.. Sama sama Uncle"
Kebetulan Ru melihat Truk ice cream lewat didepan mereka. Jadi dia mengajak Lucy
"Apa mereka adik kembarmu?"
"Ya mereka sepupuku namanya Hanzel dan Khana"
Dengan malu malu bocah berumur lima tahun mengulurkan tangannya ke arah Ru "Nama saya Hanzel" ucap anak laki laki, Ru balas mengulurkan tangannya "Nama saya Rumireo Radeya"
Tak mau kalah dari kakaknya, anak perempuan umur lima tahun dengan malu malu menarik ujung seragam pilotnya Ru "Nama saya Khana, Salam kenal Uncle"
Ru tak bisa menahan senyumannya dari anak anak menggemaskan didepannya "Okay... Lucy, Hanzel, dan Khana bagaimana kalau kita makan es krim biar om yang neraktir kalian"
Hanzel dan Khana mengangguk setuju sementara Lucy masih berpikir untuk menerima tawaran Ru, seperti tau apa yang dipikirkan Lucy. Ru berkata dengan sangat menyakinkan "Kita bukan orang asing. Kau tau namaku, profesi ku bahkan maskapai tempatku bekerja, kalau aku macam macam kau bisa dengan mudah untuk melapor petugas keamanan"
Akhirnya Ru berhasil membujuk Lucy, sementara mereka pergi membeli Es krim. Seorang wanita muslimah bersama seorang pria tengah berlari mencari sosok mereka bertiga
__ADS_1
"Akh... I'm so tired" ucap wanita berhijab itu. Pria didepannya juga berkeringat setelah cukup lama berlari "me too" gumamnya
"Tapi kita harus mencari anak anak ku, ini semua salahmu dan Arzan membiarkan bocah seperti mereka pergi sendirian" tambah pria itu setelah bergumam. Tak mau kalah wanita itu membalas
"Sekarang salah siapa hah? Siapa yang sibuk tiap hari? Anak anak seperti mereka justru lebih mudah bosan jika terus terusan dirumah sakit"
Wanita itu terdiam dan menutup mulutnya. Matanya sudah merah dan berair tak sanggup menahan bendungan dimatanya wanita itu segera menutupi wajahnya dengan jilbab yang ia pakai. Melihat wanitanya menangis sang pria menghela nafasnya "Sudah menangis tak kan bisa menemukan mereka. Aku minta maaf telah menyalahkanmu"
"Hiks... Bukannya aku mau menangis disini hanya saja air mataku tak mau berhenti mengalir ....Hiks, aku harap Arzan ada disini" jelas wanita itu
Tring....Tring...
Tiba tiba saja ponsel wanita itu berbunyi dengan susah payah wanita itu menahan isakannya
"Halo... Assalamualaikum Aunty"
"Wa'alaikumsalam sayang"
"Aunty nangis"
"Ng..."
"Aunty, Lucy ada dibandara dan Hanzel sama Khana ada sama Lucy disini"
"Bandara mana sayang?"
"di bandara internasional leonardo..."
"Kamu dimana nya sayang tante sudah disini"
"...."
"Sayang?"
"Coba tante liat ke arah jam sembilan dekat truk es krim"
Pria itu hanya diam mematung saat wanita itu berlari melewati dia...
Diliatnya wanita itu memeluk hanzel dan khana
"A...Alin..." ucapnya yang membuat wanita itu menoleh. Ya pria yang membawa es krim itu Ru. Pria yang bersama wanita mirip Alin langsung menyamperin mereka "Hey my boy and my girl, you make me and your mom tired" ucapnya seraya merangkul alin dan mencium dua pipi bocah lima tahun dalam pelukan wanita mirip Alin.
"Aunty, you don't wanna hug me?!" gumam Lucy seraya memeluk wanita itu. Mereka tampak seperti keluarga yang harmonis dimata Ru
"Bunda aku sama Hanzel ditraktir uncle es krim" ucap Khana seraya menunjuk Ru. Wanita berjilbab abu abu itu melepaskan Rangkulan tangan Pria disampingnya dan melangkah mendekati Ru lalu dia mengurulkan tangannya "Hey...I hear you say my name, i think we've met before. May i know your name?"
Iris mata hitam sehitam langit malam dan sedalam jurang tanpa dasar, menatap Ru dengan intens dari atas ke bawah "Your name in name tag is Rumireo Radeya but my hunch said is not your real name. Is that right Ru?"
Tak mampu menahan dirinya lagi, Ru menyambut urulan tangan wanita didepannya dan menariknya ke dalam sebuah pelukan "Ka...Kamu hidup, Alin aku telah mencarimu kemana mana"
Wanita itu mendorong dirinya menjauh dari Ru "Astagfirullah" gumamnya ketakutan. Pria yang bersamanya langsung berdiri dan menarik kerah seragam pilotnya Ru "Ada urusan apa anda sampai memeluk istri saya?! Oh ya kenalkan saya Ganesh suami dari orang yang anda peluk"
Ru melepas tangan Ganesh dari kera bajunya "Dia Alin Craetta istriku, bagaimana dia bisa menjadi istrimu sementara kita berdua belum bercerai secara hukum?"
"Tunggu dulu... Kau pikir dia siapa tadi? Alin Craetta. Hahaha.... Kau salah orang nama dia Alessa Licrant"
Jelas Ganesh yang disetujui dengan anggukan Lucy "Yes uncle, my aunt name is Alessa Licrant but my Father call her Alin"
Dengan malu Ru mundur beberapa langkah, Alin yang dia kenal tidak mungkin mendorongnya menjauh apalagi menikah dengan orang lain disaat mereka belum resmi bercerai
"I'm Sorry. Aku pikir dia Alin yang aku kenal, maaf telah mengganggu"
"It's okay, sir. Bundaku nggak bakal marah hanya karena hal kecil seperti ini, ya kan bunda?" Jelas Khana seraya menarik tangan Alessa.
Alessa tersenyum ramah "Of course I'm not angry. Aku hanya terkejut karena hal itu sangat tiba tiba" Suaranya sama merdunya dengan Alin bukan hanya itu bahkan sikap tenang nya pun sama.
"Are you sure you are not Alin Craetta?" tanya Ru sekali lagi
"If i'm Alin Craetta, What are you doing to me?"
__ADS_1
"I'm not doing anything you have new husband now. I just want to see my Child" Ru berbalik menatap Hanzel dan Khana. Mereka berdua memiliki mata biru yang sama seperti Alin dulu
"Pasti sulit karena ditinggalkan. Sayang berikan pelukan pada uncle!" pintah Alessa pada kedua anaknya.
Keduanya memeluk Ru bahkan mencium pipinya "You don't need to be sad. Uncle pasti bakalan bertemu sama anak dan istri uncle" ucap Hanzel menyemangati Ru. Khana juga begitu "Mereka pasti senang punya ayah seorang pilot"
Setelah selesai berpelukan Ganesh menggendong mereka berdua, Alessa melangkah maju lagi ke arah Ru
"Maaf karena aku bukan Alin yang kamu cari, seperti yang kamu liat mereka anaknya Ganesh coba liat saja mata mereka bertiga yang sama sama berwarna biru"
Ru mengangguk dia baru menyadari mata Ganesh sama birunya dengan dua bocah yang ia peluk "Iya tak apa, tapi aku bingung jika kamu bukan Alin kenapa kau bisa tau nama Rumireo Radeya bukan lah nama asliku"
Alessa menggeleng lalu tertawa terbahak bahak "Astagfirullah, jadi itu yang membuatmu berpikir aku adalah Alin. Jadi gini Mas, aku bukannya tau kalau yang di name tag nya mas tuh bukan nama Aslinya mas, itu hanyalah sebuah firasat..."
Ganesh memotong ucapan Alin dan ikut menjelaskan "Sejak kecil dia punya firasat yang kuat"
Ru menghela nafasnya, sangat disayangkan dia bukanlah Alin
"Alessa boleh aku bermain dengan anak anakmu selagi aku masih disini"
Ucap Ru ntah mengapa hatinya terasa nyaman saat berada disekitar anak anak
Alessa lagi lagi tersenyum lalu dia menyerahkan selembar kartu nama ke tangan Ru "Of course you can. Selama itu bisa membuatmu melupakan kesedihanmu kenapa nggak? Kamu bisa datang kapan pun ketempat ini jika ingin bermain bersama Hanzel, Khana, atau Lucy bahkan disana ada lebih banyak anak anak lagi" Ganesh menambahkan penjelasan Alessa "Tapi akan lebih baik jika kau datangnya sore hari, jangan Malam atau pagi hari dan jangan lupa menghubungi salah satu dari kami dulu jika ingin membawa mereka bermain"
Alessa menghela nafas karena begitu banyak peraturan yang diberikan Ganesh pada Ru "Ya sudah, kalau begitu kami semua pamit, Wassalamualaikum"
..............
Allen yang baru saja sampai di italia setelah dua hari langsung pergi ke apartemen tempat temannya
"Ru apa kamu baik baik saja?"
"Ya aku baik" ucap Ru singkat.
Ru hanya diam sambil meminum segelas anggur ditangannya "Bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak minum lagi Ru"
Allen menarik gelas anggur dari tangan Ru dan membuangnya ke westafel "Aku rasa kamu perlu dibawa ke pak Ustadz. Yuk ikut aku tapi sebelum itu mandi dan ganti pakaian mu" ujar Allen seraya menarik tangan Ru ke arah kamarnya
Selang beberapa saat kini mereka berada di masjid Roma, setelah melakukan ibadah mereka akhirnya duduk dikafe terdekat "Jadi apa masalahmu?"
"Apa benar didunia ini ada orang yang persis sama seperti diri kita tapi dia tidak memiliki hubungan darah dengan kita?"
Menghadapi pertanyaan Ru yang tiba tiba Allen terdiam dan memikirkan jawaban yang terbaik "Kun Fayakun, apapun didunia ini jika Allah menghendaki maka terjadilah. Apa kau tak menyimak apa yang dikatakan pak ustadz tadi?!"
"Ya aku menyimaknya" gumam Ru
"Ada teori ntah ini mitos atau fakta jika seorang bertemu kembarannya yang tidak sedarah dengannya didunia ini maka dia akan ditimpah kemalangan. Apa jawaban dari pertanyaan itu membantu masalahmu Ru? " tanya Allen lagi.
Tiba tiba saja seorang bocah lima tahun melemparkan dirinya ke pangkuan Ru "Uncle we meet again!" ucap Hanzel dengan wajah yang sangat senang.
Allen menatap Ru tak percaya "Kamu punya Anak Ru?! Dan sudah sebesar ini"
Tiba tiba saja seorang wanita berjilbab menghampiri mereka "Hanzel sudah beberapa kali bunda bilang jangan lari" ucap Alessa seraya menarik Khana di tangan kanannya.
Allen menganga saat melihat Alessa didepan matanya "Ja...Jadi ini masalahmu Ru? Mereka persis pepatah bagai pinang dibelah dua"
Alessa tersenyum canggung saat ditatap seperti sebuah barang oleh Allen "Sudah cukup zina matanya" ucap Ru seraya menarik lengan baju Alessa kebelakang dirinya.
"Oh maaf karena saya tidak sopan, kenalkan saya Allen dan bisakah kamu beritahu saya siapa namamu?"
Allen mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Alessa "Saya Alessa Licrant"
Allen berbisik ditelinga Ru 'Boleh yang ini aku miliki?' Ru tertawa mendengarnya dia balas berbisik ditelinga Allen 'Dia punya suami plus dua anak kembar' mendengar itu Allen tiba tiba saja mendengus
"Jadi kenapa kalian kesini?" tanya Alessa seraya ikut duduk dibangku samping bersama khana dipangkuannya
Satu pertanyaan keluar dari mulut Allen dengan spontan "Apa kau benar bukan Alin Craetta?"
~•TBC
__ADS_1