
'Seiring waktu berlalu,
Segalanya akan terlupakan...
....Termasuk kau dan aku'
Matahari bersinar melewati kaca...
Embun air hujan masih menghiasi Jendela. Ku masih terpejam enggan untuk bangun dari kehangatan, kurasakan setiap sentuhan halus yang membelai rambutku perlahan...
"Ru..."
Suara lembut itu memanggilku, tapi aku masih enggan membuka mata.
"Ru..."
Kali ini aku merasakan berat tubuhnya diatasku, perlahan namun pasti aku membuka mataku.
Hal pertama dipagi hari yang sangat senang ku liat adalah senyum diwajah cantiknya apalagi terkena sinar mentari pagi
"Ru..." Panggilnya lagi. Ku tatap dirinya dalam diam, Senyuman itu seakan menghipnotisku. Ku rasakan tangannya menyentuh kulitku, tangan yang sama yang telah menyelamatkan beratus orang selama hidupnya. Dia sedang duduk diatas perutku layaknya bocah lima tahun yang duduk diatas papanya
"Bagunlah Ru... Aku lapar!" ucapnya lagi namun kali ini dia mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang marah. Di mataku itu bukan hal yang menakutkan justru membuatku semakin gemas untuk menarik pipinya.
Aku tersenyum cukup lama saat memperhatikan reaksinya. Dia bangun lalu mengecup keningku singkat "Morning kiss! Seperti biasanya" sentuhan singkat itu membuat jantungku berdebar. Saat aku hendak menariknya dan memeluknya dia sudah berlari ke luar kamar
Aku memakai bajuku dan turun ke Ruang makan yang ada dibawah, aku berjalan ke arahnya dan mengecup pipinya dengan singkat "Morning kiss for you too" bisik ku ditelinganya. Dia tertawa
Hari hariku bagai mimpi semata saat bersamanya, terkadang aku takut dia akan menghilang apalagi mengingat begitu banyak masalah yang telah aku buat.
"Ru, kata pak Kim kamu mau membuka lapangan terbang dipulau ini?"
Aku ingat hari ini aku ada janji dengan warga sekitar. Ya sebenarnya selain profesi ku sebagai pilot, aku juga di beri kewajiban mengatur pemerintahan diwilayah barat kota. Untunglah selama ini ada pak Kim yang mengurusnya untukku....
Dikerajaan ini atau lebih tepatnya pulau ini, masing masing wilayah dibagi menjadi Barat, tengah, selatan, dan timur. Sudah pasti ibu kota kerjaan ada diwilayah tengah yang langsung dipimpin oleh ayahku. Sedangkan Fang Rui dia memerintah wilayah timur dan selatan yang memiliki banyak penduduk. Ditengah kesibukan ku jadi pilot aku, aku juga menyempatkan diri berbaur dengan warga tapi baru kali ini aku bertasipasi melakukan gotong royong.
Wilayah barat cukup luas tapi penduduknya sedikit jadi butuh banyak tenaga untuk melakukannya
"Ya ntar kita gotong royong sama warga buat bikin lapangan terbangnya" jelasku pada dia, Alin mengangguk sambil mengunyah dia bertanya lagi "Apa di padang rumput yang luas itu tempatnya?"
Aku mengangguk sungguh tanpa dijelaskan pun aku tau Alin sudah mengerti tentang hal ini. Alin tiba tiba berhenti makan dan memainkan poselnya "Apa perlu ku bantu Ru? Aku
punya kenalan yang mungkin bisa membantu mu mengurus ini semua"
__ADS_1
Aku menggeleng dengan Alis terangkat "Aku ingin membuatnya dengan kerja kerasku dan warga ku. Kau tenang saja Al, urusan mesin mesin pesawat dan sebagainya aku sudah bekerja sama dengan beberapa maskapai"
Alin memberi ku dua jempol "Oke kalau begitu aku akan membantu mu dari awal sampai akhir"
"Ntar kamu urusin para wanita ajah didapur" ucapku yang tiba tiba saja membuat wajahnya terlihat kecewa
"Iih tapi aku pengen potong rumput, nebang pohon, angkat beton"
Aku tertawa mendengarnya, jelas aku tak kan memperbolehkannya jika tangannya terluka karena kegiatan seperti itu kan bisa gawat "Emang kamu sanggup angkat beton?! Sudah cukup para pria yang bekerja outdoor, semua wanita bertugas memasak saja"
Alin tertawa "Jangan meremehkan wanita, jangan kan angkat beton kalau wanita marah batangan besi juga bisa bengkok" Ooh tuhan... Aku nggak bisa menang melawan ucapannya.
Saat pertama kali kita datang ke bagian wilayah barat yang kosong, Mata Alin berbinar melihat hamparan rumput tak berujung, dia begitu senang hingga banyak bertanya 'Wah...indahnya. kenapa ini tak dibiarkan saja? Sangat disayangkan jika tempat ini dijadikan lapangan terbang' disaat seperti itu aku juga hanya bisa tertawa mendengarnya pada awalnya dia yang menyarankan agar dipulau ini Memiliki Pesawat untuk Transportasi biarpun itu hanya pesawat ukuran kecil.
Pada siang hari semua warga berkumpul didepan hamparan rumput "Ayo.... Semuanya semangat! Dengan ini kita bisa lebih mudah berpergian dan juga bantuan dari negara lain akan lebih mudah sampai saat kita berada dalam krisis" ucap alin yang disambut ramah oleh warga sekitar, aku juga menambahkan beberapa kata dan dengan itu kita semua mulai bersama.
Senyuman manis itu masih ada walaupun setelah banyak hal yang ia lalui, yang pertama dia kehilangan Papa kandungnya dan kedua Shenna masih berusaha menjatuhkan harga dirinya.
Pada saat jam makan siang Aku memergoki Alin berbicara dengan seorang wanita tua ntah siapa itu namun samar samar aku mendengar 'Diantara dua orang yang memikul banyak nyawa, salah satu dari kalian akan menghilang. Dia yang menyelamatkan banyak nyawa yang akan menghilang' tentu saja itu sulit diprediksi aku dan Alin sama sama memikul nyawa orang lain. Aku sebagai seorang pilot selalu memprioritaskan keselamatan penumpang begitu pula Alin yang memperioritaskan pasien nya.
"Ru.... Bangun!"
"Ru....."
"Rumireo Radeya bangunlah? Sampai kapan kamu mau tidur"
"Sudah aku bilang beberapa kali Ru? Kamu harusnya ikhlas atas apa yang terjadi pada Alin 5 tahun yang lalu. Habis ini kau ada penerbangan ke Italia" ucap Allen yang mengingatkan ku bahwa aku harus kembali terbang.
"Alin belum meninggal jadi buat apa aku mengikhlaskannya" setidaknya itu yang aku yakini. Aku kembali menjadi seorang pilot seperti yang diharapkan Alin, ya walaupun sangat sulit karena aku harus memulai dari awal lagi.
Menghilang....
Aku tak bisa menemukan dirinya bahkan jasadnya sekalipun. Saat kejadian kapal terbakar itu sebenarnya aku menyaksikannya, tapi aku terlambat tepat aku hendak mendekat ke kapal itu. Kapal itu sudah ambruk ke laut
Jantungku sakit saat menyaksikan itu, aku mencari Alin diantara para korban yang selamat namun dia tak ada. Aku tak ingin percaya jika dia telah tiada duniaku benar benar hancur, aku yang idiot karena dengan bodoh menjatuhkan talak kepada wanita sebaik dirinya.
Bahkan dihari pemakaman nya pun aku tak bisa percaya bahwa dia benar benar pergi dari dunia ini. Sedih tentu saja karena aku kehilangan dua orang sekaligus, Alin dan juga anakku.
Aku sanggup menghadiri pemakamannya, namun aku tak sanggup melihat wajahnya untuk yang terakhir kali dihidupku.
Semua keluarganya benar benar terpukul saat itu bahkan Kak Vano, abang angkatnya Alin pun tak bisa menahan isakannya. Dia sama sepertiku yang datang untuk menjemput Alin namun tuhan berkata lain... Kata Prof. Alpha Tuhanku Allah lebih menyanyangi Alin dibanding kami berdua, jadi beliau lebih dahulu menjemputnya...
Aku tak percaya Alin sudah meninggal, bahkan sampai sekarang. Karena pada saat pemakaman ada hal yang terus mengganjal dihatiku. Semua hal yang didepan mataku saat itu terasa seperti sandiwara
Aku tau jika memang tuhanku yang membuat garis takdirku bersama Alin. Beliau juga yang akan mempertemukanku dengannya lagi.
Aku menjadi pilot lagi dengan harapan bisa bertemu dengannya disuatu tempat...
__ADS_1
Aku pernah mengutarakan pemikiranku bahwa jasad yang dimakam kan saat itu bukanlah Alin namun tak ada diantara mereka yang percaya dengan omonganku.
Saat menarik koperku, tanpa sengaja aku menabrak bocah berumur 10 tahun didepan mataku "Eh... Kamu tak apa? Maafkan om karena menabrakmu, apa kamu terluka?" tanyaku seraya membantunya membereskan barangnya dilantai
"Aku tak apa Uncle. Apa Uncle seorang pilot?"
Bocah itu menatapku dari atas kebawah.
"Ya aku pilot dan aku ada penerbangan ke Italia"
"Italia Itu berarti kamu satu pesawat denganku"
"Kamu sendirian?" tanyaku bagaimana bisa orang tua membiarkan anaknya berkeliaran sendirian. Apalagi sebentar lagi pesawat yang ia tumpangi akan terbang
"Yaps... Aku sendirian Uncle, jangan meremehkan aku walaupun Aku anak perempuan yang masih dibawah umur, aku lebih berpengalaman dalam hal berpergian" ucap Anak itu. Ntah mengapa logat sombongnya terdengar Familier ditelingaku.
"Kau mengingatkan ku pada seseorang. Apa boleh aku tau namamu?"
"Kata Tante jangan bicara pada orang asing, terutama menyebutkan nama dan nomor telfon"
Ngeselin ya....
Tapi betul juga
"Ya udah biar dianggap orang Asing, kenalin nama Om Rumireo Radeya dan om bekerja sebagai pilot di maskapai yang itu" ucapku seraya menunjuk loket check in
Bocah itu mengangguk lalu dia menyeringai "Aku tau kok om, kan di baju om ada Name tag nya dan simbol maskapainya" ucap nya seraya tertawa. Terus ngapain masih nganggap aku orang asing, nih bocah ngeselin ya "Ya... Sudah sana pergi check in ntar malah ketinggalan pesawat"
"Oke... Oh ya Om aku Lucy, aku seorang pelajar. Om hati hati dijalan ya!" ucapnya seraya berlari pergi.
Aku membalas iya dan lanjut menarik koperku
...................
Sesampainya di italia lagi lagi aku bertemu bocah, namun kali ini mereka yang menabrakku bukan aku yang nabrak. mereka berdua terlihat sama dimataku saat mengucapkan kata maaf
"We are sorry sir" ucap bocah laki laki yang memegangi tangan bocah perempuan yang masih tertunduk malu "Brother ... we must find Sister Ucy, be faster Alright!" bisiknya yang dapat ku dengar.
"It's okay. You can go but becareful, okay"
"Yes, sir"
Untuk sesaat aku sepertinya melihat Alin berlari dari kejauhan. Aku segera berlari mengejar wanita itu dan tidak mempedulikan koper yang aku tinggalkan begitu saja "Dia tadi lewat sini, kenapa menghilang?!" gumam ku pada diri sendiri.
~•TBC
__ADS_1