
~ dia tak menangis bukan karena dia tak peduli tapi dia menyadari air matanya tak kan mengubah apapun ~
Saat papanya sadar, Alin menyuruhnya menginap di Rs namun sayang pria paruh baya itu menolak "Jangan ntar kau kerepotan, Papa nggak mau jadi beban nak" gadis kecil dihadapannya memandang dengan lirih "Papa bukan beban buat Ali, pa dengarkan Ali. Selama ini Ali yang buat papa repot dan selalu khawatir, Ali pergi begitu lama hingga Ali nggak tau kondisi papa. Ali bukan anak baik pa karena Ali nggak bisa merawat papa" gadis itu menatap papanya dengan penuh keseriusan "Pa mulai hari ini papa ikut Ali, Papa tinggal sama Ali. Biarkan Ali merawat papa hingga papa sembuh" berbeda dengan kakaknya Ami yang sudah menangis tersedu-sedu walaupun nggak tau penyakit papanya
"Baik tapi ijin kan papa pergi ke restoran saat papa bosan!" Alin mengangguk setuju. Yang dia cemaskan adalah penyakit papanya selama itu tidak menganggu kesehatan papanya Alin akan memperbolehkannya
"Iya papa boleh. kita pulang sekarang ya pa!"
Sesampainya dirumah Alin membaringkan papanya diatas kasur kamar tamu dan menyuruhnya istirahat. Belum sempat Alin mengambil nafas sang bibi datang dan berbisik ditelinganya "Non ada pasien yang menunggu diteras!" alin mengusap wajanya dan kembali tersenyum ya walaupun senyuman itu terlihat sedikit kesal
.... .... ....
Ke esokan harinya saat matahari terbit Alin dan Papanya sudah berada diatas kapal yang sedang berlayar ke london kali ini kapal mereka cukup kecil karena kapal ini yang biasa digunakan Mr. Raf, papanya Alin untuk memancing ikan.
Disisi lain seseorang baru bangun dari mimpi panjangnya dan merasakan kekosongan yang tak bisa ia artikan "Al?!" masih dengan mata tertutup Ru meraba tempat tidur sampingnya.
Seketika matanya terbuka dan melihat selimut kosong yang sudah tersusun rapi disampingnya. Masih dengan celana kolor bahkan belum memakai baju, Ruan Ruo pergi keruang makan dan hanya mendapatkan hidangan sarapan dan secarik kertas bertuliskan "Ru, aku sama papa pergi dulu Wassalamua'laikum ^,^ jangan lupa habisin makananya, itu sudah dimasakin_-"
Ruan Ruo menghela nafasnya dengan gusar "Alin" gumamnya seraya menatap lukisan ditembok
Sementara itu Alin menatap air laut dengan keadaan diam dia teringat mimpinya, dia diam dan tak bersuara sedikit pun hingga sampai di london
"Pa... Ini Rumah sakit yang papa kunjungi"
Mr. Raf mengangguk, dan menggandeng anaknya menuju ruangan sang dokter
kata suster dokternya lagi tak ada pasien dan masih di ruang operasi, "Nona dan Tuan silakan saja tunggu didalam" ucap suster itu dengan ramahnya
Alin dan papanya menunggu didalam, sementara Mr. Raf duduk disofa dengan membaca koran. Alin melihat buku buku disekitarnya ada berbagai macam buku Orthopedi dan tanpa sengaja Alin sudah sampai dimeja kerja dokter. Alin mengerjap beberapa kali saat melihat sesuatu yang tak lazim tercecer dibawah meja sang dokter. Dia menggelengkan kepalanya dan menyunggingkan seringai khasnya
Saat pintu dibuka Alin sudah duduk tenang kembali disofa "Oh Mr. Raf maaf membuatmu menunggu" ucap seorang pria tampan berjas dokter dibelakangnya. Mr. Raf berdiri dan memeluk dokter itu layaknya seorang teman "Apa kabarmu? Oh ya kenalkan ini Alin Craetta anakku yang kedua dia menemaniku hari ini"
Alin berdiri dan mengulurkan tangan pada pria tampan itu "Saya Ganesh Daffa Wijaya, spesialis Orthopedi sekaligus dokter umum" Alin bisa melihat wajah pria itu memerah hanya ka karena menatapnya dari atas ke bawah
"So dokter Ganesh, bagaimana kalau kau cerita kan semua dan oh ya aku mau melihat riwayat pemeriksaan papaku selama lima tahun ini" ganesh menggelengkan kepalanya dia berpikir untuk apa gadis kecil didepannya meminta riwayat pemeriksaan
"Aku akan memberikannya" Ganesh meminta suster menyiapkan berkasnya sementara dia kembali menatap Alin dan mulai menjelaskan "Mr. Raf sudah menjalani terapi selama 5 tahun namun saya menganjurkan operasi agar penyakit ini sepenuhnya hilang" alin mengangguk mengerti "Kenapa kau baru mengajukannya sekarang? Kenapa nggak dari dulu?" tanya Alin
Ganesh terseyum masam "Saya sudah menyaran kan ini beberapa kali pada Mr. Raf namun nihil dia menolak" Alin melihat papanya yang mengalihkan pandangan ke jendela "Kau tak pintar membujuk pasien" gumam Alin
"Hehehe nona Craetta, kau tau apa soal membujuk pasien apa kau seorang dokter ?" Ganesh tertawa setelah mengejek Alin. Alin menyeringai "Setidaknya aku lebih baik dari dokter yang membawa wanita ke ruangannya" Alin menatap Intens Ganesh yang sempat tertegun "Apa maksudmu?" tanya Ganesh dengan wajah merah padam. Alin menunjuk ke arah bawah meja untungnya papanya tak mendengar percakapan mereka berdua karena papanya menunggu disofa belakang
"Kau jangan katakan apapun mengenai ini" ancam Ganesh seraya membuang benda itu ke tempat sampah "Iya lain kali kalau kau membawa wanita pastikan pakaian dalamnya tak berceceran" ucap Alin seraya tertawa
Saat suster masuk membawa setumpuk lembaran riwayat, Alin mulai mwmbacanya satu persatu. Kurang dari lima mwnit Alin sudah selesai membaca semuanya
Dalam hati Ganesh mengejek Alin, dia tau Alin pasti tak mengerti sebab itu dia hanya membalik halaman kerts itu. Alin membuka ponselnya dan mulai menelfon seseorang saat tersambung dengan santainya dia meletakkan ponselnya di atas meja dan meloudspeaker nya agar Mr. Raf dan juga Ganesh bisa mendengar nya
"Halo di sini massachusetts general hospital" ucap seorang diseberang sana
Gadis itu mengeraskan suara ponselnya "Saya Alin craetta ingin berbicara dengan Prof. Alpha sekarang"
"Baik mohon tunggu sebentar dokter Alin"
Saat suara diseberang sana berganti
__ADS_1
"Dr. Craetta kenapa kau menelfonku?"
Alin dengan santainya berkata "I need your help"
"For what?"
"Prof carikan aku dokter terbaik yang bisa menangani operasi Tbc tulang belakang"
"Tbc tulang belakang. Kapan dan dimana?"
Alin beralih ke papanya dan bertanya "Pa, papa harus sembuh total. Papa mau operasi dimana? Kalau papa nggak mau disini Alin akan membawa papa ke boston besok?" Mr. Raf tau kalau sama putrinya yang satu ini pasti takkan ada pilihan lain untuk menolak.
Seraya menarik nafas mr. Raf menjawab putrinya dengan mantap "Papa mau disini"
Alin mengangguk dan beralih ke ponselnya lagi "Aku butuh secepatnya karena kita harus mendiskusikan kondisi pasien terlebih dahulu"
Prof. Alpha tau keseriusan gadis itu "Sore ini juga aku akan menyuruh temanku diBerlin untuk datang memeriksanya. Namanya Professor Jayden bersikaplah sedikit ramah padanya karena dia ahli Orthopedi terbaik yang aku kenal"
"Aku di london bisakah kau mengirimnya ke sini"
"Tentu saja"
Mendengar nama itu Ganesh sangat terkejut karena Prof. Jayden Idola yang dia idamkan sejak dulu,
Prof. Jayden adalah salah seorang lagenda di spesialis Arthopedi. Ganesh menatap Alin dengan ngeri siapa sebenarnya gadis kecil itu kenapa dia bisa mengenal orang penting
Alin mematikan ponselnya "Besok semua harus siap" ucapnya. Alin tau itu semua akan mengeluarkan biaya yang sangat banyak namun dia tidak menyesal karena nyawa lebih beharga dibandingkan uang
"Kau siapa?" tanya Ganesh
Ganesh mengecek kondisi Mr. Raf dan berkata akan lebih baik jika dirinya dirawat untuk sementara waktu
Setelah mendiskusikan semuanya Alin pergi keluar dari ruang inap papanya dan membeli sebuah kopi dia begitu mengantuk kepalanya sangat pusing seakan dunia berputar
Saat tubuh kecilnya lunglai sebuah tangan kekar menangkapnya dari belakang
~•bunga tidak akan tumbuh dan beraroma tanpa sinar matahari, begitu juga seorang lelaki tidak akan hidup tanpa cinta.sebab itu aku memberimu kesempatan mencintai orang yang kamu sayangi" - Alin Craetta
Alin membuka matanya saat mimpi buruk itu muncul lagi tak terasa air mata berlinang dari mata cantik nya
Arzan yang menemani Alin disofa ikut terbangun "kamu nggak papa lin?" tanya Arzan yang masih setengah sadar. Alin menghapus dengan cepat air matanya, ia lupa Arzan ada disini.
Tadi sore saat Alin lemas Arzan tiba tiba menangkapnya ntah muncul dari mana dia. "Zan aku mau sholat!" ucap Alin seraya mengguncang tubuh Arzan, sebenarnya dia bisa sendiri namun tangannya masih di Infus berkat kejadian itu. Arzan melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 3 pagi "Al, kalau kamu mau sholat yuk aku temanin sekalian kita sholat bareng" Alin menggelengkan kepalanya saat melihat wajah mengantuk Arzan "Biar aku aja yang sholat malam! Kamu tolong jagain papaku bentar ya" ucap Alin seraya melemparkan selimutnya ke Arzan yang ada disofa, Alin mencabut infusannya dengan hati-hati dan langsung beranjak pergi. Arzan mengangguk dan kembali berbaring diatas sofa
Selesai sholat Alin tidak langsung kembali ke kamar, dia pergi berjalan sejauh mungkin dari Rumah Sakit. Tak ada yang sesegar udara pagi untuk menjernihkan pikirannya
Tak lupa dia memakai hoodie dan masker. Dia tau pasti keadaan kota besar itu saat dipagi hari ada banyak orang mabuk digang gang sempit bahkan sering ada balapan motor.
Kakinya terus melangkah dan berhenti disebuah dermaga. Di ujung dermaga itu dia melepaskan maskernya, Gadis itu duduk diam diatas bongkahan kayu sembari menatap langit yang masih gelap
Alin merasakan tangannya mulai gemetar, nafasnya mulai sesak dan pandangan nya menjadi buram. Dia segera mengambil obatnya dan menenggelamkan wajah diantara kedua lututnya.
"Hiks..." suara tangis mulai terdengar dari pelan lama lama menjadi keras untunglah ombak menenggelamkan suaranya.
Setelah matahari terbit Alin mulai membuka matanya hal yang dia lihat pertama kali adalah seorang pria berjas pilot berlari ke arahnya.
__ADS_1
Alin terkekeh sebelum tersenyum dia tau pasti akan terkena omelan dari pria itu "ALIN CRAETTA" Teriak pria itu dengan Geram saat melihat Alin yang masih bisa tersenyum melihatnya
Alin yang masih lemas memaksa tubuhnya untuk berdiri dihadapannya "Kapan kau datang?" ucapnya seraya menetralkan suaranya
"Aku baru datang sekitar jam 6 tadi dan melihatmu ada disini" Ru hendak memuncratkan amarahnya Pada gadis itu namun belum sempat dia melakukannya Alin menarik kerah bajunya dan mulai membenarkan dasinya "Aku minta maaf karena meninggal kan mu kemarin" ucap Alin. Ntah mengapa menatap mata Alin hatinya jadi melunak "Iya tak apa aku juga tau kau sibuk dan tak mungkin mengurusi dua pria sekaligus apalagi aku yang..." Alin mengecup kedua pipinya, ya dia berhasil membuat Ru terdiam dengan kecupan singkat itu
"Aku senang kau ada disini. jangan menganggap dirimu sebuah beban, karena nanti kau akan memikul nyawa semua penumpangmu dengan tangan ini dan itu sudah merupakan beban yang sangat berat, jadi jangan kau menambah beban mu" Alin mengecup kedua telapak tangan Ru "Apa yang kau lakukan?" tanya Ru dengan wajah memerah
Alin terkekeh "Aku menghapus semua bebanmu" Ru meletakkan tangan kanannya di kening Gadis itu "Kau mabuk atau demam?!" Alin menepis tangan Ru "Aku rasa aku kelamaan disini"
"Aku tau aku mengirim pesan padamu, aku akan segera tiba disini tapi kau tak perlu sampai menungguku ditempat ini" ucap Ru seraya memperlihatkan pesan diponselnya yang dikirim tadi malam. Alin benar benar tak ada membuka pesan itu dia bahkan tak tau kalau ada pesan masuk karena ponselnya masih mati saat di charger "Ya tak apa, Aku pikir phobiamu akan kambuh jadi aku buru buru datang ke sini" ucap Alin dengan nada mengejek.
Saat berbalik Alin melihat wanita cantik memakai pakaian sopan yang berjalan ke arah mereka berdua "Ru" ucapnya dengan lemah gemulai saat sampai didepan Ruan Ruo dengan Alin
Melihat tatapan Ruan Ruo ke arah gadis itu. Alin jadi mengerti siapa dirinya, Alin mencoba tersenyum dan menjulurkan tangannya "Hay kau pasti Shenna Anatasya, aku Alin Craetta. Ru banyak cerita tentangmu"
"Ru aku sedikit pusing udara disini begitu dingin" ucap wanita itu seraya memeluk dirinya sendiri
tangan Alin menggantung diudara melihat gadis itu memandangnya dengan jijik dan mengabaikan tangannya. Alin dengan segera mengambil tangannya dan menyembunnyikannya di kantong jaketnya. Dia tersenyum ke arah gadis yang disukai Ru itu "Ya diSINI begitu dingin, kalau begitu mari kita pergi sarapan direstoran" ucap Alin seraya berjalan lebih dulu.
Alin menatap dirinya di cermin toilet restoran "Pantas saja dia memandangku seperti itu" gumam Alin saat melihat cermin. wajah pucat, bibir pecah pecah, dan bahkan rambutpun berantakan orang lain pasti mengira dia seorang pengemis.
Alin mencuci mukanya dan tiba tiba saja wanita yang disukai Ru itu ada dibalik cermin "Ada apa Shenna? Apa kau mencariku?" tanya Alin
Shenna menatap Alin dan wanita itu hanya diam, tatapan jijik itu masih dilayangkan ke wajah Alin. Ntah mengapa dia tak menyukai Alin.
"Kau Istrinya Ru?" Alin sedikit terkejut mendengarnya, apa Ru sudah cerita tentang hubungan mereka ke Shenna. Alin menggapai tangan Shenna dan meletakkan didepannya "Iya aku masih Istrinya..." untuk sekarang ini, mata Alin begitu tenang seperti tak ada hal yang salah
Shenna menepis tangannya "Kapan kau menceraikannya?" ucapnya langsung to the point
"Kenapa kau perlu bertanya?" ucap Alin seraya berpura pura tak tau.
Gadis itu berdecak kesal "Cih, wanita murahan seperti mu nggak pantas bersanding dengan Ru. Kau bahkan tak pantas berjalan tiga langkah dibelakangnya" oceh wanita itu seraya menunjuk Alin dari atas ke bawah
Alin menatapnya dengan Intens cukup dia memandangnya dengan jijik seperti itu. Dia sudah cukup menahan kesabaran nya
Gadis kecil itu menarik tangan Shenna untuk kembali duduk di sofa bersama Ru yang sedang memainkan ponselnya
"Kalian sudah selesai?!" tanya Ru. Alin mengangguk tanpa menatap matanya. Saat makan mood Alin sudah terlanjur buruk dia mengiris potongan daging sapi didepannya dengan malas hingga daging itu bahkan tak terpotong. Alin melemparkan pisau itu di atas meja "Pisaunya tumpul" gumamnya. Alin mengeluarkan sesuatu dari sakunya hingga membuat Ru dan Shenna sedikit terkejut "Al biar aku saja yang memotong daging itu!" ucap Ru hendak mengambil piring didepan Alin. Namun Alin memukul tangan Ru dengan sarung Pisau kecilnya "Letakkan, Aku bisa sendiri" Alin mulai mengiris daging nya bahkan dia tak menggunakan garpu dan sendok, dia langsung memasukkan daging yang telah ia tusuk ke dalam mulutnya. Ruan Ruo tau Alin sedang kesal liat saja caranya memotong daging, dia memotong daging seolah olah ingin membunuh seseorang untung saja piring itu kuat dan tak pecah
"Kau kesal karena apa?" tanya Ru dengan lembut. Alin menatap matanya sejenak lalu kembali mengiris daging itu. Shenna menatap horor ke arah Alin jadi selama ini Alin menyimpan pisau disakunya untung saja dia tak terbunuh "Kau tau Ru, apa yang kau lakukan jika pisau tumpul saat kau hendak memakan daging?" tanya Alin. Ruan Ruo menjawab "Aku akan menyuruh pelayan membuangnya dan menggantinya dengan lebih baik" Alin tertawa namun tak terdengar lucu ditelinga Ru dan Shenna "Pisau tumpul karena jarang diasah, namun saat kau terlalu mengasahnya bisa jadi kau sendiri yang akan terluka.begitu pula sebuah hubungan, Kau tak boleh terbutakan oleh cinta. Cinta tanpa Logika nggak akan berjalan dengan baik. Kau bebas mencintai seseorang karena cinta bisa tumbuh kapanpun dan dengan siapa saja jadi tak ada yang melarangmu"
Alin beralih menatap Shenna "Dan KAU..." Shenna terkejut dan ketakutan seketika saat Alin menunjuk nya dengan ujung pisau "Untuk pertanyaan mu ditoilet tadi. Aku akan melakukannya saat dia sendiri yang meminta dan jika dia telah memilih bunga yang tepat. karena bunga bermutu tinggi dan indah dipandang bisa mengeluarkan bau busuk yang menyerang orang sekelilingnya"
Alin meletakkan seiris daging dipisaunya ke piring Shenna, tak lupa dia menyunggingkan sebuah seringai khasnya. Dia manusia normal yang bisa baik seperti malaikat dan bisa jahat seperti iblis.
"Oh ya Ru, aku lupa bilang padamu masalah..." Alin berhenti mengatakannya saat melihat Shenna yang masih ketakutan dia tak ingin masalah keluarganya diketahui orang luar. Ruan Ruo yang mengerti mengangguk "Kau bisa membicarakannya padaku nanti!"
....
Sesampainya di Rumah sakit Alin mendapat Arzan yang sudah bersandar disamping pintu seraya melipat kedua tangannya. Alin ingin berbalik namun kerah bajunya bagian belakang ditarik seseorang "Kau dari mana saja nona?" ucap pria itu dengan lembut bahkan sangat lembut hingga membuat bulu kuduk Alin meremang. "hehehe aku dari membelikanmu dan papa sarapan. Papaku nggak suka makanan rumah sakit" Alin mencari cari alasan jika disuruh mencari Alasan dia bisa saja membuat seribu alasan keluar dari mulut Kecilnya. Arzan membiarkan hal itu berlalu dan bertanya dengan serius "Apa kau siap? Tubuhmu masih lemas untuk berdiri berjam jam diruang operasi" ucap Arzan. Alin tau kondisi tubuhnya saat ini namun biar bagaimanapun papanya membutuhkan dokter Anestesi untuk operasi. "Bukankah masih ada waktu sejam sebelum operasi? Aku mau tidur dulu ntar saat Professor Jayden datang untuk mengecek kondisi ayah. Tolong bangunkan aku!" Alin hendak pergi namun teringat sesuatu yang penting "Dan... Arzan, aku tau kau khawatir padaku tapi aku mohon jangan mencoba menginfusku lagi saat aku sedang tidur" Arzan terkekeh mendengar permintaan gadis itu emang benar dia berencana memasang infus itu lagi padanya untunglah dia meminta nya jika tidak sudah pasti Arzan dengan senang hati menyucuk jarum ke kulit lembut wanita itu
•
•
~•
__ADS_1