The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
32. Koma


__ADS_3


Dengan mata tertutup


sekali pun,


aku tau kau selalu ada disisiku, jangan tinggalkan aku


my Lovely Lady



Matahari terbit dan terbenam begitu cepat, setiap malam Ru dihantui rasa bersalah. Berkat Alin emang dia telah mendapatkan kepercayaan para mentri dan rakyatnya  dia sekarang telah dikenal sebagai raja yang bijaksana dan rendah hati


Dia begitu ramah pada setiap orang, sehingga banyak dari mereka yang mencintai sosoknya sebagai Raja namun jauh didalam hatinya dia merasa kesepian "I miss you my Lady" gumam Ru seraya menatap langit malam yang penuh dengan bintang.


Ini malam yang sangat spesial jadi dia datang ke dermaga tempat Alin sering melampiaskan amarahnya. Lampion lampion mulai dinyalakan dan berterbangan tak tentu arah dilangit. Dikota sedang diadakan festival akhir tahun dan disini orang percaya yang menulis harapan dilampion dan menerbangkannya, harapan itu akan terkabul.


Perlahan Ru juga menulis harapannya "Aku harap kau ada disini" gumam Ru seraya menatap lampion ditangannya, Ruan ruo hendak menerbangkan lampion dengan lilin itu namun dia melihat bayangan Alin yang memegang sisi lain lampion ditangannya


'I hope your Hapinesss and your dream come true' Alin dengan gaun putih lebih putih dari salju tersenyum ke arahnya. Suaranya masih lembut walaupun sangat samar didengar


Ruan Ruo sadar itu hanya ilusi bawah sadarnya jadi dia tersenyu getir "Aku harap kau ada disini bersamaku Al" ucap Ru seraya menerbangkan lampionnya.


Sementara Ruan Ruo pergi lampion itu terus terbang  ke langit yang tinggi.


Ruan Ruo melangkahkan kakinya hendak memasuki sebuah kamar namun ditahan oleh penjaga "Maaf Yang mulia Raja, Tuan Lee telah memberi perintah agar tidak seorangpun yang boleh memasuki ruangan"


Ru menghela nafasnya dengan kesal


"Aku suaminya kenapa aku tak boleh melihatnya?"


Para penjaga menunduk tak berdaya


"Tuan didalam sedang ada tamu dan yang mulia Fang'er telah kembali setelah waktu yang lama jadi dia  tidak mau diganggu"


Ruan Ruo mengepal tangannya dengan kuat, kemana saja kakak nya itu, kenapa baru muncul sekarang kalau saja lebih cepat mungkin Alin nya nggak akan menderita. Dengan menahan emosinya Ruan Ruo masuk ke kamar sampingnya, disitu kamarnya dengan Alin jadi ruan ruo menatap sisi tempat tidur yang kosong tiba tiba pintu dibuka dan suara menggoda wanita datang


"Ruan ruo adikku kau dipanggil oleh Fang'er" itu adalah selir sheng.


Mata birunya menatap Ruan Ruo "Bibi sudah berapa kali ku katakan aku bukan adikmu dan takkan pernah sudi menjadi adikmu" ucap Ruan Ruo.


Ini sudah beberapa bulan sejak Shenna benar benar diusir dari kerajaan karena ketahuan bayi didalam rahimnya bukan anak dari Ruan Ruo kalau saja bukan karena Selir sheng dia akan dijatuhi hukuman mati karena berbohong dan mengfitnah anggota kerajaan bahwa dia mengandung pewaris.


Sejak hukuman Alin, Putri Wei lebih banyak diam. Dia telah menceritakan segalanya pada ayah dan ibu mertuanya, saat itu Tuan Lee benar  marah besar dan segera kembali kekerajaan 'Apa yang telah kalian perbuat pada ling'er ku akan ku pastikan kalian mendapat karma nya' kata demi kata yang diucapkan Tuan Lee kembali di ingat Ruan Ruo. Cukup sakit saat harus kehilangan Alin namun sekarang ayahnya pun masih marah padanya

__ADS_1


Bugh...bugh...bugh...


Sebuah pukulan mendarat tepat dipipi Ru. Ruan Ruo melihat Fang zue yang terus memukulinya tanpa ampun hingga sebuah pekikan keras dari ibunya menghentikan dia


"CUKUP!" pekik nyonya Huan. Nyonya Huan membantu anak bungsunya berdiri, dia tau Ruan Ruo salah tapi apa dengan berkelahi masalah akan selesai jawabannya tidak mereka harus lebih dewasa untuk menyelesaikan masalah ini.


"Rumireo Radeya, aku tak tau kau begitu ceroboh dengan kekuasaan yang ada ditanganmu. Kau mudah terpengaruh..." ucap fang zue\ dengan nada penuh kekecewaan


Profesor Alpha selaku atasannya Alin kini angkat bicara karena beliau juga ada diruangan yang sama "Sudah lama Alin koma dan sekarang dia harus bangun! Aku akan membawanya kembali ke A.S agar bisa dapat perawatan lebih intesif" jelas professor Alpha. Ru kaget dengan kehadiran professor Alpha dan Arzan, selama ini dia menutupi keberadaanya Alin dari segala rekan kerjanya karena dia tau mereka pasti akan mencoba menjauhkan Alin dari dirinya


"Aku menolak" ucap Ru dengan tegas. Fang zue ingin memukulnya lagi namun ditahan oleh putri Wei "Kalau Alin harus pergi maka aku harus ikut" lanjut Ru


Tuan Lee akhirnya ikut bicara juga "Kalau kau mau ikut mereka maka kau harus melepas tahta mu sebagai raja dan itu baru bisa dilakukan setelah seminggu proses pemindahan kekuasaan. Apa kau yakin memilih Alin dibanding Rakyatmu?" tanya Tuan Lee.


Ruan Ruo berpikir sejenak dan mengangguk setuju "Aku yakin memilih Alin, menurutku rakyat dan kekuasaan harus ada ditangan orang yang baik. Aku sadar aku bukan orang yang cukup bijaksana walaupum disayangi dan dihormati Rakyat, aku akan mengembalikan semuanya pada kakak"


Tuan Lee mengangguk setuju "Tapi sebelum itu, kau harus membersihkan nama Alin. Karena dia tak bersalah ayah sudah punya bukti bahwa Selir Sheng dengan sengaja membutakan matanya sendiri untuk membingkai Alin"


Selir Sheng hendak protes namun pedang para penjaga kini sudah ada dilehernya.


Tuan Lee memutar sebuah rekaman cctv, semua orang terkaget dengan apa yang mereka liat kecuali Arzan.


"Ya kalau begitu segera hukum dia dan mata Alin bisa kembali lagi tanpa harus ke A.S" ucap Fang Rui


Arzan angkat bicara "Tidak bisa, dia masih koma dan sangat beresiko apalagi kurangnya perlengkapan medis dan dokter. Aku sudah memeriksanya ada luka yang ditimbulkan berakibat fatal saat operasi sebelumnya hingga dia koma, jika dalam tiga hari dia masih koma itu bisa membuat otaknya lumpuh"


Semua orang tau kelumpuhan otak berarti bom waktu, hanya menunggu berapa hari tidak berapa hari hanya beberapa jam nyawa sudah bisa melayang


Mrs.Huan pingsan ditempat saat itu juga, sedangkan putri wei menjadi lemas yang lain wajahnya terlihat pucat dengan pemikiran yang sulit dibaca.


"Seegois apapun aku, nyawa Ling'er sangat beharga aku tak bisa membiarkannya meninggal. Aku akan menelfon maskapai ku biar mereka bisa mengirim helikopter emergency secepatnya" ucap Ruan Ruo setelah berpikir dengan cukup matang.


........


Keesokan harinya Ruan Ruo membuka pintu kamar Alin. Dia mendengar lantunan ayat al-qur'an bergema diseluruh ruangan. Seorang laki laki duduk disamping ranjang Alin dengan al-qur'an ditangannya dan memakai baju muslim.


Arzan menutup kitab yang ada ditangannya "Ada apa kau kesini?" tanya Arzan.


Ruan ruo mengangkat Alisnya "Bukankah yang harus bertanya disini aku. Ngapain kamu dan sejak kapan kau disini?"


"hey, hey, kau lupa karena aku berpakaian seperti ini. Biarpun aku nggak pakai jas putihku aku tetap seorang dokter lagian aku kesini nya sehabis sholat subuh. Kau tenang saja aku nggak tidur di sini" jelas Arzan dengan santai


Ruan Ruo menunjuk kitab yang tadi diletakkan Arzan dimeja samping ranjang Alin "Kamu tadi baca apa?" tanya Ruan Ruo dengan pelan


"Kau nggak tau bukan kah islam agamamu"

__ADS_1


"Aku tau itu kitab Al-qur'an"


"yang tadi aku lakukan itu namanya mengaji. Saat Alin pertama kali masuk islam dia sangat antusias mengaji dan menghafal al-qur'an, bahkan saat dulu dia praktek dirumah sakit diwaktu senggang nya dia akan membaca al-qur'an. Dulu aku pernah bertanya padanya kenapa dia sangat antusias sampai sampai memintaku mengajarinya" Arzan menghela nafas "Dia menjawab karena agama bukan hanya sekedar status buat ngisi dokumen"


Ruan ruo tercenggang ternyata banyak yang ia tak tau tentang gadis kecilnya "Mau kah kau ajari aku membaca al-qur'an aku bisa membacanya tapi tidak terlalu fasih? Dulu aku bisa tapi sekarang mungkin banyak salahnya"


Arzan tertawa "Iya nggak papa tapi kau harus panggil aku master, Bagaimana?" Ruan Ruo berpikir sejenak lalu mengangguk.


Tanpa terasa hari pun berganti malam. Setelah mengajari Ruan Ruo Arzan kembali ke kamarnya sedangkan Ru masih dikamar Alin


"Al sekarang kau makin pandai bersembunyi. Sudah jelas kau ada disampingku tapi aku tak bisa menemukanmu, aku mohon Al sudah cukup kau bersembunyi aku janji sama kamu aku bakal turuti keinginanmu" Ruan Ruo membenamkan wajahnya diranjang Alin.


Sebuah usapan lembut membuatnya tersentak kaget "Al!" pekiknya yang menyadari Alin sudah sadar. Ruan Ruo memanggil professor Alpha dan Arzan.


Selesai mengecek kondisi Alin, lagi lagi semua orang berkumpul. Alin masih diam sampai sekarang hingga Mrs.Huan memeluknya dengan sangat erat "Nak, kau sudah pulih. Syukurlah!" Awalnya alin kaget karena dia tak tau siapa yang memeluknya namun setelah mendengar suara yang familier Alin segera menghelus punggung wanita paru baya didepannya "Maaf sudah membuat ibu dan kalian semua khawatir" ucap Alin dengan pelan.


Alin menutup matanya dengan kain putih yang terbuat dari sutra "Al izinkan Kami melihat matamu?!" ucap Putri Wei. Alin menggeleng "Akan lebih baik kalau kalian tak melihatnya"


Professor Alpha dan Arzan mengecek kembali kondisi Alin setelah semuanya disuruh kembali


"Jadi ini kah yang disebut buta?"


"Iya sekarang kau puas?!" tanya professor Alpha dengan nada kesal.


"Eh kenapa kau marah padaku prof ? Aku juga buta bukan karena keinginanku"


"Kau tau ini akan terjadi tapi kau tak menghidarinya. Aku sangat prihatin melihatmu Al" ucap Arzan


Tanpa Alin bicara professor alpha menjelaskan "Kalian masih melakukan hal seperti itu? Aku sudah mengingatkan pada kalian biarpun kalian menghidari takdir saat ini itu bukan berarti takdir lainnya nggak akan ada. Kalau orang sudah ditakdirkan mati nih dia tau akan mati trus dia menghidar pada akhirnya apa? Dia tetap mati dijam yang sama dengan penyebab yang sama hanya saja situasi dan tempatnya berbeda"


Alin mengangguk "Aku tau itu Prof. sebab itu aku tak menghidar"


Arzan mencoba mengalihkan topik agar tidak kena marah oleh proffesor Alpha "Selama koma apa yang kau impikan Al?"


Alin tertawa "Aku menjelajah keseluruh bagian dunia bersama papa dan opah naik kapal besar seandainya saat itu aku nggak penasaran dengan cahaya putih dipintu mungkin sekarang aku nggak bakal sadar"


"Kau tau Al, selama operasi ada kerusakan yang terjadi pada matamu. Jadi akan sulit untuk kamu bisa mendapat donor mata disini" jelas Arzan


"Walau sudah diberi Anesti tetap saja sakit saat operasi itu. Btw zan sekarang iris mataku berwarna apa?"


"hitam. Aku rasa itu matanya pelayan yang ditaruh dimatamu, apa kau mau matamu yang dulu kembali?" tanya Arzan. Alin menggeleng "Aku takkan memakai barang bekasnya. Lagian mataku yang dulu tak tahan cahaya matahari, itu hanya akan menyusahkan pemakainya. Aku mau kamu tolong carikan aku mata mirip boneka Hehehe"


"Prof.Alpha, aku rasa Alin perlu psikolog" gumam Arzan. Yang mendapat jitakan dari Alin "Kalau ngomong tuh jangan asal ceplos"


"Kau itu benar benar buta ya? Kok bisa orang buta ngejitak kepala orang dengan tepat sasaran"

__ADS_1


..................


~•Tbc


__ADS_2