The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
43. End 1


__ADS_3

_Hanzel-Pov_


Cahaya mentari menembus dedaunan, membuatku terbangun dari tidur siangku bersama Papa Ru dan khana. Angin berhembus melewati kedua telingaku sementara yang lain masih tidur aku pun mengambil roti dibekal piknik,  ya kami sedang piknik dan tidur siang dibawah pohon mumpung Papa Ru lagi liburan yang aku heran papa Ru aja ada libur tapi kenapa bunda nggak ada?


Bunda juga jarang menelfon,  kalau menelfon juga nomor ponselnya tidak tentu. 'Apa bunda baik baik saja disana?' hal ini yang berkali kali aku pikirkan.  Aku tidak berani memikirkan hal buruk tentang bunda misalkan saja bunda sudah tidak menginginkan aku dan Khana sehingga dia membiarkan kami begitu saja... Itu hal yang salah aku percaya bunda nggak bakalan meninggalkan anak anaknya tanpa alasan.


Aku mencium kalung pemberian bunda, setiap pertengahan bulan selalu ada paket yang datang dari bunda,  paket itu selalu disertakan surat.  Aku menulis surat balasan untuk bunda tapi aku tidak bisa mengirimnya aku tidak tau harus dikirim ke mana, lewat email bunda jarang balas, lewat medsos pun sama. Bunda hanya vidcall sekali tiga bulan lalu, bundaku semakin kurus walaupun kecantikannya tetaplah sama. Hal yang membuatku sedih bunda terlihat sangat lelah suaranya pun begitu bahkan ada kantong dibawah matanya persis seperti panda... Terakhir kali dia berpesan agar aku menjaga khana dengan baik.


Sebenarnya apa yang bundaku kerjakan hingga dia menyiksa dirinya seperti sekarang? Bundaku nggak pernah memaksakan tubuhnya bekerja 24 jam penuh,  jika ada kerjaan yang harus seperti itu dia bakal lebih memilih untuk berhenti kerja.


"Aku kangen bunda..." ucapku pelan seraya berjalan disekitar taman. Tiba tiba saja ada seseorang yang menutup mataku dari belakang, dia memelukku lalu mengangkatku dipundak seperti karung beras 'Apa ini penculikan yang sering di bilang bunda?!' pikirku dengan cepat.  Aku meronta ronta dan berteriak namun lari nya penculik itu cukup cepat,  begitu sampai di toilet wanita dia mengunci pintunya


"Bibi, apa yang bibi lakukan?"


Wanita itu menaruhku dibawah dan merenggangkan tubuhnya "Tentu saja menculik mu.  Wah... Kau jadi sangat berat ketika ku tinggal" ucap wanita itu seraya melepas cadarnya


"Bunda!" pekik ku seraya berlari kepelukannya.  Bunda memelukku tak kalah kuatnya "Hey, my baby boy... Are you fine?" tanya nya padaku. Jelas aku menggeleng "No bunda. Semua nggak baik baik saja kami merindukan bunda, bunda sama sekali tidak bisa dihubungi. Disekolah mereka mengejek khana dan mengoloknya kalau bunda sudah membuang anaknya"


Bunda mencium air mataku yang berjatuhan di pipi "Maaf kan bunda sayang. Siapa yang berani mengganggu anak bunda akan mendapat balasannya, lihat saja nanti!" jelas bunda padaku.  Ini lah bundaku, bunda yang sangat ku rindukan, bunda yang pemberani dan juga penyayang...


"Cup,  sekarang dimana adikmu Khana? Jangan bilang kau meninggalkan nya sendiri!" aku menghela nafas bukan aku yang meninggal kannya tapi bunda yang tiba tiba menculikku jika tidak cepat balik papa Ru bakalan khawatir dan menelfon polisi pada akhirnya


"Hana sama Papa Ru, bunda. Kita harus cepat balik ke sana!" ucapku seraya menarik tangan bunda.  Aku bisa melihat senyuman masam diwajahnya "Bunda balik begitu saja? Ini nggak seru.  Bagaimana kalau kita atur strategi?!" bunda berbisik ditelingaku dan aku pun mengangguk mengerti


Saat keluar dari toilet aku melihat papa yang berlari ke arahku "Dari mana saja kamu? Sedari tadi dicariin" ocehnya yang membuatku tertawa. Tidak kah dia sadar aku barusan keluar dari toilet,  toliet wanita lebih tepatnya.


"Ya sudah kita balik kasihan Hana nungguin sendiri kalau kelamaan ntar Hana ngikutan hilang juga..." ucap Papa Ru seraya menggendongku.


Aku ingat rencana yang sudah diatur bunda 'Apa perlu aku melibatkan khana juga?' ucapku dalam hati. Tapi sepertinya melibatkan hana bukan ide yang bagus pikirku lagi saat melihat Hana menerima uang dari paman asing "Kali ini apa yang sedang dilakukan saudarimu itu?" gumam Papa tak kalah heran denganku.


Turun dari gendongan papa aku langsung menghampiri Hana "Ngapain kamu nerima uang dari orang lain?" tanyaku langsung to the point. Hana cemberut lalu menyembunyikan uang yang dia pegang ke dalam saku "Dia bukan orang lain, dia punya nama.  Namanya dia kak zein"


Aku tidak menanyakan namanya,  ada apa dengan adikku kali ini apa dia salah makan obat? Paman tua begitu di panggil Kak "Balik kan uang itu ke dia!" ucapku dengan nada dingin. Hana menggeleng "Cih.. Ini sudah ditanganku jadi ini milikku dia memberinya padaku sebagai upah" jelas Hana dengan suara kesal khas miliknya sejak kecil


"Tetap balik kan saja ke dia! Sini biar aku ganti uang yang dia berikan,  palingan juga nggak nyampe 5 dolar. Kamu perlu berapa biar aku kasih sekarang ke kamu?!" ucapku seraya merogoh dompet pemberian bunda dari tas. Papa sedari tadi hanya diam berdiri mungkin di matanya saat ini dia sedang menyaksikan dua kucing lagi berkelahi

__ADS_1


"Bukan masalah besar atau kecil nya. Ini kan hasil dari aku memberi makan hewan peliharaan dia, melihat reaksi mu seperti ini aku merasa diriku bakalan lebih senang lagi kalau kamu menghilang lebih lama. Dengan begitu aku bisa menghasilkan lebih banyak uang!" bentak Hana yang sudah bertambah kesal. Matanya sungguh berapi api emang kalau sudah perempuan marah mulutnya


Nggak bisa dijaga, Hatiku sakit saat dia mengatakannya untung saja dia masih anak anak jadi bisa ku maafkan. Tak mau berdebat lebih panjang lagi aku mengambil tasku lalu berjalan melewati nya  sebelum itu aku berbisik ditelinganya* 'Jangan menyesali ucapanmu kali ini! Aku akan segera menyusul bunda!'*


Setelah itu aku melihat Hana mulai menangis dan papa Ru sedang bicara padanya. Aku masuk ke dalam Mobil terlebih dahulu lalu memberi pesan ke bunda diam diam, tadi bunda memberiku nomor ponselnya yang baru


'Malam ini oke bun?'


Bunda membalas pesanku


'Oke sayangku bunda tunggu ya...'





Aku mengajak papa ke sebuah restoran yang sudah direservasi, Awalnya papa menolak karena dulu pernah ada kejadian buruk yang menimpanya didekat restoran ini ntah kejadian apa itu hingga papa pun nggak mau menceritakan kronologisnya.


Aku dan Hana masih marahan bahkan aku tidak menegurnya sama sekali sejak pulang, aku lebih memilih mengurung diri di ruang kerja bunda.   Papa memintaku menegur hana sebab itulah dia mau menuruti permintaanku untuk pergi makan malam direstoran


Aku melihat ke belakangku dan memastikan tak ada yang mengikuti, aku pun berjalan dengan cepat ke arah toilet wanita.


"Bun..." panggilku pelan bunda yang sudah lengkap dengan gaun syar'i nya keluar dari pintu toilet "Hey, sayang..." ucap bunda seraya mencium kedua pipiku. Sungguh kali ini aku ingin tidur di pelukan bunda "Sebagai balasannya malam ini aku mau tidur di peluk sama bun..."


***BRAKK... ***


Pintu Toilet ditendang dari luar membuatku dan bunda sama sama kaget "Astagfirullah..." ucap bundaku. Saat pintu itu dibuka Hana masuk dengan wajah berlinang air mata


"Kak,  Hana minta maaf.  Hana tau Hana salah ngomong gitu, Hana nggak mau kakak pergi... Cukup bunda itu pun sudah sangat berat. Kalau kakak ikut pergi Hana sama siapa kak?! Kakak milih tidur sama kekasih kakak yang kakak temui diam diam disini berarti kakak sudah nggak sayang lagi sama Hana" ucap Hana masih dengan berlinang air mata. Aku tak tau harus merespon apa yang benar saja umurku saja belum sampai 7 tahun tapi aku dikira sudah pacaran,  malah dikira mau tidur bareng lagi terlebih lagi yang mengatakan hal itu adalah adik kembarku sendiri. Aku melihat bunda tertawa cekikikan dibelakang hana, hal ini membuatku bertambah malu "Apa yang kamu katakan, aku tidak mengerti? Kamu terlalu banyak nonton drama di komputer,  mulai besok kamu harus nyalin 1 buku tentang jenis tanaman obat dan manfaatnya biar otakmu tidak dipenuhi hal berbau percintaan!" ucapku dengan nada tak acuh. Hana hendak menangis lagi namun bundaku dari belakang memeluk dan menciumi kedua pipinya "Duhh... Gadis cantik bunda sudah besar tapi masih tetap cengeng, bunda kangen deh!" ucap bundaku. Masih terkejut Hana menatap Bunda tanpa berkedip


Sebelum dia melirik ke arahku seolah olah bertanya apa dia sedang bermimpi saat ini, aku hanya membuat sebuah gelengan kecil "Yang ku tumui disini itu bukan kekasih ku tapi itu bunda" ujarku pada Hana. Hana langsung berhenti menangis dan memeluk bunda dengan sangat kuat "I miss you bunda" ucap Hana seraya mencium pipi bunda.


15 menit sudah berlalu tapi Hana belum mau turun dari gendongan bunda, padahal bunda sendiri sudah mengeluh lehernya sakit serasa mau patah "Ayolah Hana,  turun! Kita buat kejutan untuk Papa" bujukku pada Hana.  Hana menggeleng dan tak mengatakan apapun hingga bunda pun membisikkan sesuatu yang tidak bisa ku dengar, begitu Hana turun dia langsung mencuci mukanya dan menarikku keluar dari toilet wanita

__ADS_1


Sesampainya di meja aku melihat papa sedang memperhatikan bunga yang dirangkai di vas "Itu namanya bunga apa?" tanyaku seraya ikut duduk.  Papa mengambil bunga itu dan memberikannya padaku dan Hana "Papa sendiri tidak tau namanya, tapi orang biasa menyebutnya Wild Flower. Bunga ini tumbuh dimana saja"


"Ooh gitu. Pa coba liat deh ke panggung tertutup tirai itu katanya ada orang yang mau bernyanyi dibalik tirai itu... " betul saja setelah Hana mengucapkannya Suara lantunan lagu terdengar sangat enak


'Baby, take my hand...'


'I want you to be my husband'


'Cause you're my Iron Man'


'And I love you 3000'


.....


"Happy birthday Ru!" ucap Bunda seraya memberikan kue untuk ditiup oleh papa. dari lagu romantis ke lagu ulang tahun versi anak-anak. wajah papa masih tak percaya namun tetap saja senyuman terus mengembang diwajahnya.


setelah meniup lilin papa langsung memeluk bunda, aku menutup mata hana takut akan ada adegan yang merusak otaknya. "Sst... disini banyak orang!" ucap bunda seraya tertawa bahagia. "Kamu dari mana saja tanpa kabar ? selama ini..." tanya papa to the point. bunda menggeleng "Aku tak pergi kemanapun... selama ini aku masih bersama kalian, ada hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata kata" ucapan bunda sulit ku mengerti aku rasa bila waktunya telah tiba aku akan mengerti dengan sendirinya.


..............


hari ini aku dan Hana memakai pakaian yang bagus, kata ayah Arzan hari ini papa dan bunda akan menikah lagi. "Yah, bukankah sebelum menikah papa dan bunda sudah menikah? trus buat apa menikah lagi tak bisakah kita langsung menjadi keluarga yang bahagia" tanyaku pada ayah Arzan. terlihat wajah bingung di ayah Arzan mungkin nggak seharusnya anak seumuranku menanyakan hal ini tapi benar aku sunguh penasaran akan hal ini "Nikah itu sesuatu yang syakral sekali seumur hidup, tapi dalam kisah perjalanan hidup bundamu itu berbeda. dalam pernikahan ada janji yang di ikrarkan pada tuhan dan hari ini mereka memperbarui janji mereka itu agar lebih kuat dan tidak terlupakan, mungkin saat ini kamu masih kecil dan belum mengerti tapi pada waktunya kamu akan mengerti dengan sendirinya" apa yang dijelaskan ayah Arzan ku rekam baik baik di ingatanku* 'saat besar nanti aku akan berusaha mengerti persoalan ini!' *yakin ku pada diri sendiri


selesai acara kami berfoto bersama walaupun ada beberapa orang yang memasang wajah tak senang, tapi kami berempat tetap memasang wajah bahagia karena dengan hal ini kita bisa bersama sama lagi, dan pada akhirnya kisah mereka berdua berakhir dengan bahagia...


...........


Selama kamu mau berusaha


disitulah ada jalan...


kisah yang sudah seharusnya berakhir sedih,


bisa kamu ubah, karena ini hidupmu dan kamulah yang menjalaninya...


dan kamu yang menentukan akhir dari kisahmu.

__ADS_1


..............


_End_


__ADS_2