
Jari-jarinya panjang, energi buat ngelepasin 1 elektronnya jadi mudah. Semakin hubungannya merenggang semakin mudah berakhir :)
-Rafka Pov
Beberapa minggu setelahnya, aku jadi sering main ke lapangan tapi
Seberapapun sering aku bermain, aku tidak pernah melihat gadis yang bernama 'Hana' itu lagi.
"Dia muncul kayak angin tornado, setelah itu dia menghilang tanpa jejak. Sebenarnya siapa dia? Hantu? Zombi? Atau Psikopat?" aku bergumam dengan bosannya. Salah satu anak buah ku menghampiri "Pak ada berita buruk"
"Apa?" tanyaku dengan malas. disaat santai pasti ada aja masalah muncul
"ayah anda menelfon dan meminta anda segera pulang ke rumah" ucap Dion bawahan ku itu
"Kenapa?" tanyaku lagi. aku merasa aneh karena setelah sekian lama aku menyendiri di negeri orang, baru kali ini ayah mencariku.
"Beliau bilang ibu tiri anda baru saja melahirkan seorang bayi Laki-laki..." Dion mengatakan berita itu dengan hati-hati.
"YA BAGUSLAH! Kini ayah tidak memerlukan ku lagi. Dia sudah dapat yang dia ingin kan aku jadi tidak perlu repot meneruskan bisnisnya yang sudah diujung tanduk" Aku kembali rebahan dibawah pohon dengan wajah yang ditutup topi.
Ternyata Dion masih juga belum pergi
"Pak, ayah anda bilang ibu tiri anda dalam keadaan kritis sebab itu anda disuruh balik!" terungkap sudah alasan dari penyampaian berita itu.
Aku sungguh tidak senang mendengar nya "Kenapa aku harus menengok wanita ****** itu? Aku tidak sudi bertemu dengan nya lagi apalagi setelah dia dengan lantangnya mengatakan kalau dia ibu tiri ku"
Dion masih berdiri lalu dia mengeluarkan sebuah berkas lalu memberinya padaku
"pak tapi anda tetap harus balik ke indo karena ada temu dengan investor hotel HK" ucapnya
"Oh yang di Yogyakarta itu beda lagi masalahnya sama yang ini" Aku beranjak dari tempat rebahanku, Aku tidak peduli jika dibilang nggak punya hati karena nggak mau menengok orang sakit terutama ibu tiriku. karena aku sudah lama sekali tidak balik ke Indonesia jadi dia nggak tau hal apa yang akan aku alami disana
•
•
•
•> 10 September ****
- Yogyakarta, indonesia
Karena belum waktunya pertemuan, Aku beristirahat disalah satu kamar hotel HK yang tidak jauh dari candi borobudur. Sambil menyusun dokumen Aku sarapan bubur khas bandung yang sudah lama tidak ku rasakan. Rasa nikmat memuaskan laparku tentu saja tidak hanya semangkuk bubur yang habis sampai bersih.
"Loh kok ini ada selembar yang kurang?" Aku bangun dari kursi dan mencari kertas itu karena takut keselip, namun usahaku nihil kertas nya sama sekali tidak bisa ditemukan. Aku menelfon seseorang "Din, kamu dimana?"
"Saya di candi borobudur pak" ucap Udin di telfon. udin adalah tangan kananku di Indonesia.
"Loh udin perasaan tadi kamu ada dikamar. kamu kan tadi ngantarin sarapanku" secepat itu kah dia berpindah tempat.
"Lah saya dari tadi subuh udah disini pak, barengan sama salah satu investor HK"
"Oh ya aku lupa muka mu pasaran din. Mungkin yang tadi aku salah ngenalin aja soalnya dia botak kayak kamu" ternyata itu orang lain. ntah mengapa aku merasa senang mengganggu Udin dengan ejekan
"pak kenapa anda menelfon?" dari nadanya udin terlihat sedang kesal dengan diriku
"To the point aja din, salah satu laporan presentasi bagian bagan keuangan kita itu nggak ada sama aku. Jadi aku mau sebelum meeting kamu menyerahkan kertas itu" semoga saja masih sempat karena waktunya cukup mepet
"Pak, bapak kesini aja. Saya nggak enak ninggalin investor HK sendirian disini kalau saya ajak balik kan saya sama dia baru aja nyampai pak" tumben sekali si udin menolak perintahku, ditambah lagi justru aku yang diperintah balik oleh udin 'Ini ni pasti investor nya cewek cantik jadi udin gini!' pikirku.
"Kamu berani nyuruh bossmu?! Ya udah aku ke sana sekarang. Ntah dimana kamu pokok nya aku nggak mau repot naik tangga borobudur. Biar kamu ada dipuncak borobudur aku mau kamu udah dibawah sebelum aku sampai disana"
•> 5 menit kemudian
"Udin mana sih jam 11 meetingnya udah mau dimulai"
Dari kejauhan terlihat orang melambaikan tangan "Haduhh... Pak saya nyariin bapak keliling ternyata bapak ada di bagian samping..." udin masih ngos ngosan tapi aku tidak mau membuang waktuku jadi aku langsung menjulurkan tangan
"mana kertasnya?"
Tanya ku. Udin menggeleng "Saya belum nemu tempat ngeprint pak" astaga udin aku pikir dia menyuruhku datang ke Candi karena dia sudah punya lembar kertasnya.
Aku melihat jam dan waktunya tidak lama lagi, aku mengeluarkan kunci mobil "di mobil ada google maps, kamu pake aja mobilnya sekalian biar nggak bolak balik. Toh kamu nggak ada kuota kan? Kamu cari tempat ngeprint tadi pas ngarah ke sini aku nemu satu tapi lumayan jauh" ya cukup jauh jika dia harus berjalan kaki
Udin mengambil kunci mobilku lalu menggantinya dengan kunci motor miliknya "Pak ini buat jaga jaga jika bapak mau balik ke Hotel"
"Motor butut mu itu Din?!" aku masih ingat motor jaman nenek moyang milik si udin.
"ya iya kan bapak tau saya cuman punya si betty" udin sedikit terkekeh mengatakannya. ya mungkin baginya lucu memberiku kunci motornya
"Ya udah makasih ya" ucapku.
"Sama sama pak"
aku melihat baju udin yang cukup lusuh sebelum pergi, aku menghentikan nya "Oh ya din, ini uang misalkan ntar kurang. Kalau besisa kamu ambil aja buat isi bensin Si betty (Motor butut Udin) atau beli pakaian"
__ADS_1
"Baik pak, saya pergi sekarang"
"Ntar biar kamu nggak cariin saya telfon aja din"
"Iya pak iya"
Setelah udin pergi Aku mencari si Betty (motor udin) di parkiran.
Ngiiikkss...
"Duh kok susah benar nyalanya?!"
Aku mencoba menyalakan nya sekali lagi. padahal ini bukan pertama kalinya aku menyalakan mesin motor, jika aku pakai tenaga bisa bisa nih motornya Udin hancur.
"Kau ngapain?" tanya seseorang secara tiba tiba
"Nggak liat lagi nyalain motor?!" karena tak bisa di stater, jadi nyalain nya harus manual pakai kaki.
Gadis berambut panjang turun dari kerbau yang di naikinya "makasih pak saya stop disini aja, ini upahnya!" ucap Gadis itu. Dari nada suaranya terdengar familiar di telingaku
"Hana?!"
{Hana's Illustration}
Hana menatap aneh diriku dari atas kebawah "iya aku Hana, kamu siapa? kok kamu bisa kenal aku" tanya nya.
aku membenarkan pakaianku mungkin dengan begitu dia bisa mengenali diriku
"Aku Rafka. apa kamu tidak ingat kita pernah main basket bareng? Sekarang Aku lagi nyalain si betty"
"betty motor kamu?" tanya Hana mengalihkan pembicaraan. Aku tau aku terlihat lebih keren karena mamakai setelan jas formal sebab itu mungkin dia tidak mengenaliku tapi sekarang aku lagi berusaha menyalakan motor butut yang tingginya bahkan tidak sampai pinggulku jadi dari keren menjadi aneh
"Iya ini motor aku, mumpung ketemu kamu disini gimana kalau ku ajak jalan jalan sekalian traktir makan deh. Karena pas aku kalah basket cuman kamu yang belum sempat ku traktir" Aku beralasan agar bisa berbincang lebih lama dengan gadis didepanku. Hana tertawa lalu menggeleng "Tidak perlu kamu! Kali ini aku yang traktir, aku tau tempat makan yang enak" Hana mengambil ahli motor ditanganku lalu dengan sekuat tenaga menyalakan mesin dengan manual menggunakan kaki hanya dengan sekali coba motor butut didepannya menyala
"Heh kok bisa?" si Betty sama aja kayak Udin. begitu berhadapan dengan cewek cantik saja kerjanya jadi lancar
"enak aja kok nyalain nya, kaki mu aja yang belum terbiasa" gumam Hana seraya naik dibagian depan motor
"Eh kamu punya sim kan?" tanyaku sebelum naik dikursi penumpang. Hana mengangguk pelan tapi tidak mengiyakan pertanyaanku. aku merasa ada yang berbeda dari dirinya sejak terakhir kali bertemu
Vrommm... Vrommm...
Setelah seperkian detik, Hana membawa ku makan di kaki lima jalan "Pak bubur ayam nya 3"
"Kamu nggak malu makan sebanyak itu didepan pria kayak aku?!" Aku pria tampan jadi banyak di incar wanita sehingga aku terbiasa dengan sikap mereka
"Nggak tuh. Kenapa harus malu? Selagi masih bisa menikmati makanan enak, ngapain coba ditahan! Kamu nggak bakalan selama nya bisa makan enak terus, so nikmati selagi bisa" ucap Hana to the point dengan fakta yang ada.
"Nah benar banget, apalagi kalau sudah tua pasti nggak sembarang makanan bisa kita cicipi" aku setuju ucapan Hana dan kami berbincang dengan penuh canda tawa
"Mumpung belum sakit sakitan jadi nggak ada pantangan" ucap Hana. Aku mengecek ponsel dan sisa 15 menit lagi sebelum meeting
"Kamu sejak kapan ada disini?" Aku mencoba menghilangkan rasa penasaran ku karena selama ini aku tidak pernah bertemu dengannya di lapangan
"Hmm, aku nggak ngitung hari nya sih tapi yang aku ingat aku ke sini itu dadakan banget. Kenapa kamu mananyakan itu? apa aku berutang sesuatu padamu" tanya Hana
"Tidak papa. hanya rasa penasaran"
Aku mengelak tapi wajahku merah seperti tomat "Kamu nyariin aku?" tanya Hana to the point ke inti pembicaraan lagi
"Jujur aku sering ke lapangan tapi bukan buat nyariin kamu tapi buat tidur siang" aku terus saja berbohong padahal yang sebenarnya terjadi setiap kali aku pergi kelapangan disana aku akan melihat bayangan Hana yang lagi bermain basket sambil tertawa bahkan tak jarang aku salah mengira orang sebagai Hana
"Apa kau menyukai ku?" tanya Hana dengan nada sedikit mengejek. Aku menggeleng "Suka sebagai teman iya"
"if you fall in love with me at first sight, bilang saja tidak perlu malu dan jangan ditahan!" Hana seperti alat pendeteksi kebohongan, dia tau aku berbohong.
"Believe me? I say the truth" Aku mencoba menyakinkan Hana sambil membawa perbincangan kami ke topik yang lebih santai
"jadi sampai kapan di indo?" tanya Hana padaku, Aku menggeleng karena aku sendiri belum tau kapan dia balik lagi ke Roma "Semua tergantung keadaaan. Kalau kau sendiri gimana?"
Hana nyengir seraya mengeluarkan setumpuk kertas dari tas nya "Sampai Selesai skripsi. Ntah itu kapan selesainya"
Aku menggeleng kan kepalanya melihat betapa banyak nya tinta merah yang melingkar di kertas "Hmm, ternyata kamu masih kuliah? Itu artinya kita nggak seumuran dong"
"kan aku udah bilang aku masih remaja" ucap Hana dengan senyum jahil. Aku memberi Hana isyarat agar dia mendekat dan melihat ke kertas,
KTAACH...
"Ouch, it's hurt. Why you hurting me?" protes Hana karena dahinya disentil dengan keras. Masih dengan tangan yang terus mengusap Dahi Hana menggembungkan pipi dan cemberut
"Aku nggak bakal percaya sebelum liat ktp mu. Dari yang aku liat saat ini kamu persis kayak anak dibawah umur bukan remaja kuliah" Aku tertawa aku sengaja mengejeknya karena tau kalau sejak tadi dia hanya bercanda
"I don't have ktp" ucap Hana dengan nada datar dan muka cemberut nya
"Tapi tadi kamu bilang punya Sim, itu artinya kamu punya Ktp" dia pasti sedang bercanda lagi. Dia punya sim bagaimana bisa tidak punya ktp
__ADS_1
"Apa itu SIM?" tanya Hana dengan wajah polos. aku nyengir "hahaha, jadi tadi kita naik motor dengan santainya lewatin post polisi tanpa bawa sim" walaupun dengan nada bercanda jauh didalam diri ku sendiri ingin menyentil dahi Hana sekali lagi.
"Aku kira tadi yang kamu maksud dengan SIM itu adalah kartu kredit. Kalau kartu kredit aku ada banyak ditas dan semua belum tepakai"
KTAACH...
Aku tidak bisa menahan diriku untuk menyentil dahi Hana dengan gemas untuk kedua kalinya "Aku nggak pernah nanya kartu kreditmu"
"Gimana caranya kamu daftar kuliah disini kalau kamu nggak punya ktp?"
"Kampusku Swasta terlebih lagi itu punya suaminya kak Lucy." kali ini Hana menjaga dahinya dengan sebelah tangan takut jika aku melakukan hal yang sama untuk yang ketiga kalinya
"Oh kampus keluarga pantes aja kamu bisa lolos" Aku memaklumi bule nyasar didepanku ini.
"Aku nggak pintar tapi aku juga nggak bodoh. Aku cuma nggak punya waktu masuk kuliah, ngerjain skripsi, dan ngumpul bareng teman" oceh Hana lagi
"Emangnya kamu sibuk apa?" tanyaku dengan mata yang meremehkan. Hana memberi Isyarat agar dia mendekatkan wajahnya "Sst... sini ku bisikin!"
'Aku sibuk mengurus diriku Sendiri'
Setelah berbisik Hana tertawa geli karena melihat wajah ku yang makin kesal karena tingkahnya. aku tadi sudah niat serius mendengar bisikan Hana, aku tidak tau kalau pada akhirnya bisikan itu berisi candaan
"Mau aku bantu?" tawarku tapi kali ini dengan wajah serius. Hana berhenti tertawa lalu menatap diriku dengan kedua mata biru nya sambil tersenyum "kau bisa apa? Apa yang bisa kau lakukan untuk membantu ku"
"Aku bisa membantu mu ngerjain skripsi lagian yang salah dengan skripsi mu hanyalah susunan kalimat nya saja" aku berniat membantu tapi Hana justru mengatakan "Apa yang kau mau sebagai gantinya?"
aku tertawa karena merasa Hana bisa membaca jauh kedalam pikiranku
Selain niat membantu sebenarnya aku memang punya niat terselubung lain nya "Aku mau Kamu! ..."
Hana diam sambil menunggu kalimat selanjut nya "Aku mau kau selalu dekat denganku. Karena selama aku disini pasti akan ada orang yang terus mengawasi ku"
"Benarkah?" Hana melirik tepat ke arah orang yang aku pikirkan. aku tersenyum puas ternyata Seperti ekpektasi ku Hana sudah tau ada orang yang mengikuti kami "Jadi kamu sudah sadar sedari tadi kita di ikuti"
"Ya aku sadar tapi aku tidak mau membuat keributan" ucap Hana dengan santai. Hana melipat tangannya lalu melihat ke jam "Jadi apa ini masalah internal keluarga atau eksternal berhubungan dengan bisnis, sebelum aku setuju aku perlu tau?" Hana menghentikan aku yang terlihat ragu untuk menjawab
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Pikirkan lah selagi masih ada waktu, aku sudah dijemput!... Sampai jumpa lain waktu" Hana mengambil barangnya lalu segera bergegas masuk ke mobil yang menjemput nya
Aku lupa bilang aku memerlukan nomor ponselnya untuk kabar lebih lanjut "Ahh sudahlah aku harus fokus ke meeting siang ini. Ukhh Udin mana sih? Kok belum balik" tepat setelah ocehan panjang itu Udin pun muncul dengan mobilku
Setelah lewat beberapa Hari
aku tidak lagi melihat Hana rasanya waktu begitu cepat berlalu. aku pergi ketaman di balkon hotel "Eh kau anak baru itu kan?" sapa seorang pria dengan ramahnya
aku menjabat tangan pria itu "Betul sekali pak, saya tidak menyangka anda akan menawarkan saya opsi yang cukup menguntungkan" Pria itu merangkul bahuku lalu berbisik "Aku tidak suka keputusan investor tua seperti mereka. Aku lebih menyukai yang fresh dan lebih fleksibel jangan bersikap formal didepanku"
"Jadi aku harus memanggilmu apa? Bro atau mas? Atau kau lebih suka dipanggil dengan nama?" ucap ku. Pria itu berpikir sejenak "Aku Hanzel Rumereo Radeya. Panggil saja Hanz"
"Aku Rafka Hermawan jadi panggil aku Raf. Senang bisa berteman dengan mu Hanz"
"Senang bisa Berteman denganmu juga Raf"
"Kau disini sendirian?" tanyaku. Hanzel menggeleng "Aku ikut diseret ke sini karena adikku jadi untuk sementara aku tinggal di hotel ini bersamanya"
"adikmu?"
"iya namanya Khana Rumereo Radeya. Kamu tidak tau? Padahal di rapat tadi dia yang paling menonjol" ucap Hanzel mengingat dimana adiknya memerintah dengan santai sambil meminum teh hangat
"Oh yang tadi membuat keputusan hingga investor senior terdiam" aku kini ingat. Walaupun duduknya berjauhan dengan Khana aku bisa lihat betapa berpengaruh dirinya
"Ya itu dia, dia bukan sembarang orang jadi jika bertemu dengan nya lebih baik kau diam pura pura nggak liat aja"
"Kenapa? Dia kan cuman orang biasa sama seperti kita lagian yang aku tau dia juga sama sama makan nasi"
Hanz diam lalu menatap diriku dengan sedih "Setidak nya aku sudah memperingatkan mu!"
Klottak... Klotook...
Langkah kaki berisik terdengar dari dalam ruangan. dari jauh tercium aroma bunga mawar tapi anehnya bau itu tidak menyengat seperti kebanyakan parfum "Hmm, perlu kau tau ini adalah bau bunga kematian. Sebaiknya kita pergi dari sini sebelum..."
"Sebelum apa?!"
Seorang wanita dengan anggun nya berjalan ke balkon. Saat dia diluar matanya hanya terfokus pada Hanzel.
"Aku tanya tadi kau ngomong sebelum apa? Apa kau berniat kabur dari pekerjaan mu lagi?"
"Se... Sebelum disini panas" Hanzel membuat Alasan seraya berpura pura kalau ditaman cuacanya panas. Wanita itu melepas sepatunya "Lepas sepatu mu, aku mau pinjam!"
"Adikku sayang, kenalkan ini Rafka Hermawan" Hanzel dengan cepat mengganti topik pembicaraan. Wanita itu menatap diriku dari atas kebawah lalu menyiringai "Aku tau dia"
"loh kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Hanzel. Aku bingung karena dia baru pertama kali melihat adiknya Hanzel dari jarak yang cukup dekat "Aku rasa tidak" gumamku pelan. Wanita itu melepas kacamata hitam yang ia pakai "iya Aku tau..."
•
•
•
__ADS_1
-Berlanjut....