
Begitu keluar dari lemari anak itu pun menangis karena badannya tersangkut "Duh bagaimana ini? apa kamu bisa membantu ku Rafka?!" Hana meminta bantuan. akhirnya mereka berdua bekerjasama untuk mengeluarkan anak itu
"Fuih..." Hana bernafas lega tapi berbeda dengan anak tadi
"Hiks...Sakit..." pekik nya sambil memegangi lututnya yang merah.
Rafka mendudukkan anak itu tepat diatas meja wastafel "Apa kamu terluka?" Rafka bertanya seraya menunjuk ke arah baju anak itu yang berwarna merah. anak itu mengangguk lalu menunjuk kakinya
Berbeda dengan Rafka yang masih bingung apa maksud anak itu, Hana sudah siap dengan kotak P3K ditangannya "Apa yang akan kamu lakukan? bukan kah seharusnya kita membawanya ke rumah sakit dia seperti habis terkena tusukan di dada?!" tanya Rafka sambil menunjuk anak itu
Hana tertawa "Tidak ada bau darah dari baju anak itu saat kita mengeluarkan nya tadi, aku rasa baju nya terkena tumpahan saus" Hana mengangkat tangannya diatas kepala lalu menyuruh anak itu mengikuti gerakannya "mau apa? Hiks.." anak itu bertanya selagi masih terisak. Hana berbisik pelan "tentu saja membersihkan bajumu" Hana menarik baju itu dan benar seperti dugaan nya tidak ada luka di tubuh anak itu. "Bagian mana yang sakit?"
tanya Hana seraya memeriksa kaki anak itu lalu mengobati nya
"Bagaimana kamu bisa sampai disini?" tanya Afka. Anak itu menggeleng "Kata pamanku aku tidak boleh bicara pada orang asing!" gumam anak itu. Hana mengulurkan tangan dan meraih tangan anak itu untuk berjabat tangan. " namaku Khana Rumereo Radeya. bisa panggil aku Hana, karena aku sudah mengobati mu, apa kita sudah boleh berteman?" anak itu mengangguk "Boleh, Nama ku Devy Rodwan. biasa dipanggil Evy"
Hana menyikut Rafka, Rafka pun mengulurkan tangan untuk berjabat tangan "Namaku Rafka Hermawan"
ucap Rafka dengan Kaku. Evy menghela nafas "panggil saja aku Evy, tuan terlihat canggung. Tuan pasti tidak pernah berurusan dengan anak anak seperti ku" ucap Evy seraya berlagak pintar
"wah kamu hebat bisa menyimpulkan hal itu Evy. kamu pasti juara satu dikelas, kamu pandai mengamati sekitarmu" Hana memulai pembicaraan perlahan
"Kak Han benar, aku juara satu dikelas" Ucap Evy dengan bangganya. Hana melanjutkan "Saat kesini apa saja yang kamu amati?"
"Saat makan bersama paman, aku hendak membersihkan tumpahan saus di bajuku. lalu aku liat orang keluar masuk pintu aku pikir jika aku masuk ke situ aku akan bisa membersihkan saus dibajuku. ketika aku masuk aku berdesakan dengan orang orang dewasa jadi ketika pintu itu terbuka aku pun langsung keluar dan aku menebak nebak harus masuk masuk ke pintu mana, ini semua kayak teka teki labirin yang sering ku mainkan di handphone" jelas Evy. Evy mau lanjut bicara namun Rafka langsung menyela
"Wahh... jadi karena pintu kamar ini tidak terkunci kamu pun masuk. ya itu tidak jadi masalah, sekarang yang jadi masalah pasti pamanmu sedang mencari mu kemana mana"
"Oh iya aku lupa paman. paman sih ninggalin aku sendiri untuk mengangkat telepon" Evy menepuk jidatnya pertanda kalau dia sedang lupa
"Evy bagaimana jika kamu mengganti bajumu dulu, aku rasa pamanmu akan kaget jika melihat bajumu kotor seperti ini" Hana menghela nafas lalu berbisik pada Rafka "Kamu pergilah mencari pamannya Evy sementara itu aku akan mengganti pakaiannya. karena bisa bisa kita yang terkena masalah jika pamannya mengira noda saus itu adalah darah"
Rafka mengangguk dan langsung pergi. sementara itu Hana mencari baju yang cukup untuk dipakai Evy "Baju nya Afka besar semua, kamu pasti akan tenggelam jika memakainya. bagaimana jika memakai pakaianku?" tanya Hana pada Evy yang terus mengikuti nya
"Kalau aku pake pakaian kakak, kakak nanti pake apa?" tanya Evy. Hana menunjuk kemejanya "aku akan memakai kemejaku ini, aku akan meminjam kaos yang kupakai dalam kemejaku karena kalau aku meminjam kan kemeja ku aku yakin akan sangat kebesaran untuk mu"
Hana dan Evy pun berganti pakaian. begitu mereka selesai Rafka, sekuriti hotel dan pamannya Evy langsung masuk ke kamar "Evy... Aku mencari mu sedari tadi kemana saja kamu?"
"ini semua karena paman sibuk teleponan. aku hanya mencari air untuk menghilangkan saus di pakaianku" ucap Evy seraya menunjukkan bajunya yang kotor.
__ADS_1
Evy menunjuk Hana "Untungnya ada kak Hana dan Tuan Rafka yang menolongku"
Hana terdiam membatu ketika namanya di sebut Evy dan pamannya melihat ke Hana "saya sepertinya mengenal anda?" Hana refleks menutupi wajahnya dengan bersembunyi dibelakang Rafka begitu di tatap Pamannya Evy "Dia adalah tunangan ku. kami baru pertama kalinya menginap di hotel ini" ucap Rafka seraya merangkul pundak Hana.
"Anda Khana Rumereo Radeya. kan? apa anda lupa siapa saya? saya Kristoper Rodwan. saya telah mencari anda begitu lama!" ucap paman Evy yang tak kalah tampan dengan Rafka
-Kris Ilustrasi
Hana berbisik ditelinga Rafka "Visualnya terlalu sempurna untuk dilupakan tapi jika kamu yang visual nya lebih baik darinya saja aku sering lupa apalagi dia. aku sama sekali tidak ingat, bisa kamu bantu aku?" bisik Hana. dari merangkul bahu, tangan Rafka turun ke pinggang Hana sehingga Hana pun sedikit terkejut dengan tindakan agresif Rafka
"Iya dia memang Khana Rumereo Radeya. ada perlu apa anda mencari tunangan saya?"
"Apa dokter Hana tidak punya mulut sehingga harus anda yang bicara tuan Rafka? saya memang berterimakasih pada anda karena telah menemukan ponakan saya tapi bukan kah tindakan anda tidak sopan? saya sedang bicara dengan dokter Hana lagian sebelum menjadi tunangan anda dia adalah dokter pribadi saya yang menghilang tanpa kabar" walaupun Kris berkata Hana adalah dokter pribadi nya dari ekspresi nya mengatakan kalau Hana lebih dari sekedar dokter pribadi
"Hana kesayangan saya memiliki mulut tapi saya melarangnya untuk bicara pada pria lain. karena suara nya yang merdu itu terlalu berharga sehingga bisa membuat pria lain jatuh hati" ucap Rafka, Hana bergidik geli mendengarnya dalam hatinya hana berteriak "itu terlalu berlebihan!"
Hana mencubit pinggang Rafka tanpa terlihat kris. Hana memberi isyarat pada Rafka agar dia diam sebentar "Saya betul seorang dokter tapi saya cuti ntah sampai kapan. Saya tidak pernah melayani pasien secara pribadi. Jika saja pernah maka itu pasti dalam keadaan darurat dan saya pasti akan membuat lembar kontrak. apa anda punya bukti berupa kontrak itu tuan kris?" tanya Hana. dengan nada profesional nya.
Kris mengangguk "Tentu saja ada, dan kontrak itu berada di tangan pengacara saya" ucap kris seraya menyuruh sekertaris nya yang berjaga didepan pintu untuk segera menghubungi pengacara tersebut
"ini bukan masalah uang, dikontrak kita jelas tertulis jika penyakit saya tidak sembuh dokter Hana tidak bisa lepas tangan begitu saja" ucap Kris dengan seringai di wajahnya
"saya tidak bisa percaya pada omongan anda, kirim kan kontrak itu ke pengacara saya dan dengan cepat saya akan menyelesaikan masalah ini" ucap Hana seraya memanggil sekretarisnya Kris dan memberikan instruksi.
mendadak kris mendapat telfon darurat "Saya pasti akan menemukan mu lagi Dokter Hana, tunggu saja!" ucap nya sebelum pergi.
Hana dan Rafka menghela nafas setelah kepergian kris dan ajudannya. Hana baru sadar tangan Rafka masih menempel di pinggang nya, dan Hana pun tidak membiarkan itu lolos begitu saja "Apa kita resmi pacaran?" tanya Hana seraya menaruh tangannya diatas tangan Rafka yang masih memeluk pinggang nya
Rafka menyeringai mendengarnya
"Tentu saja resmi.Bukan kah kita sudah bilang pacaran di depan ayah ku?"
"Itu kan hal yang berbeda! sama sekali tidak romantis" protes Hana.
"Aku pikir kamu lupa" karena Hana lupa namanya setelah dia keluar dari rumah sakit jadi Rafka pikir dia akan melupakan segalanya
"Ya, emang benar aku tidak ingat persis tapi buku harianku telah membantuku mengingatnya" jelas Hana.
__ADS_1
"Sudah lah... bukan kah kamu perlu berkemas dan pindah? masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan"
ucap Hana seraya mengalihkan topik.
•
•
•
Sesampainya di pusat rehabilitasi.
Hana dibuat terkejut dengan kehadiran ayahnya di meja resepsionis "Papa!" pekik Hana kaget.
Rafka yang baru selesai memarkir mobil bingung dengan keheningan yang terjadi "Kalian berdua ikut saya ke ruangan!" ucap Ayahnya Hana yaitu Ruan Ruo.
dengan setelan kemeja yang 2 kancingnya dibuka. bukan hanya terlihat muda ayah Hana juga terlihat mengintimidasi Rafka dan Hana
"Jadi dia pria yang selama ini bersamamu? dia hebat bisa membawa pasien seenaknya keluar dari sini" tanya Ru seraya memandang Rafka dari atas kebawah.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Ru.Hana hendak protes kearah ayahnya tapi Rafka justru menghalangi nya. Rafka membungkuk lalu menyerahkan kartu namanya "Saya Rafka Hermawan. Asal dari Indonesia, saya hanya seorang pebisnis bidang makanan dan saya adalah pacarnya Hana"
"Pacar?" tanya Ru. Hana memegang tangan Rafka lalu mencium nya di hadapan Ru "Iya Pa. dia adalah pacar Hana"
Ru menghela nafas melihat tingkah putrinya "Kamu tidak perlu berakting di depanku. biar bagaimanapun kamu adalah putri pertama ku. apa kamu tidak mau menceritakan yang sebenarnya pada papa mu yang sudah tua ini?"
Rafka menggenggam erat tangan Hana "Kami tidak sedang berakting. kami benar benar saling mencintai dan kami serius dengan hubungan kami"
Ru menatap keduanya dengan tatapan yang menyelidik "Sudah sejauh mana serius nya?"
Hana mengatakan dengan nada santai "Sudah sampai bertemu calon ayah mertua"
"APA!"
BRAKK...
Ru memukul meja lalu menarik kera baju Rafka. melihat itu Hana tidak tinggal diam dan berusaha melerai keduanya "Papa, tenang lah! Apa ada yang salah dengan hal itu?" tanya Alin bundanya Hana yang ntah kenapa muncul dari balik jendela.
Ru masih menarik kerah leher baju Rafka jadi Alin pun berusaha menenangkan nya "Sudah lah Sayang, tenangkan dirimu. biar bagaimana pun dia seusia dengan anak kita. dan ini adalah kehidupan Hana dia yang akan memutuskan hidup nya lagian Hana sudah usia mencari cinta di hidupnya"
__ADS_1
-berlanjut...-