
Jika yang terbaik adalah berpisah, maka biar aku saja yang pergi.
'I Still Love you'
Biar Rahasia kecilku ini sampai ditelingamu....
"Cepat cari ke seluruh bagian kapal, periksa setiap kamar dan ruangan yang ada!"
Ruan Ruo berada diatas kapal Kapten Samy "Apa yang kau cari dikapalku ini tuan?" ucap Kapten Samy dengan sopan, saat ini dia sedang mabuk jadi dia bersikap baik walaupun sedang emosi
"Aku mencari istriku. Dia pasti salah satu penumpangmu, hanya kau yang bisa membantunya keluar dari pulau ini Ya kan kapten?!" Kapten Samy menggeleng "Istrimu yang mana, yang kau maksud. Aku sudah mendengar semua tentang dokter Alin Craetta dari berbagai orang setelah dia menikah denganmu, sebab itu aku minum untuk melampiaskan kesedihanku. Kau telah berani menyakiti Gadis kecil ku aku akan membunuhmu saat ini juga hehehe..." Kapten Samy terhuyung huyung dengan wajah merah dan bau Alkohol diseluruh tubuhnya.
Ruan Ruo mengabaikannya dan berbalik ke arah pengawalnya
"Lapor tuan, kami tak menemukannya dimanapun!"
"Cari lagi! dia itu wanita yang pintar, jangan berfokus pada wanita cacat atau buta karena kalian bisa terkecoh" jelas Ruan Ruo, jantungnya saat ini tidak berhenti berdebar, dia sudah kesana kemari mencari separuh nyawanya namun tak kunjung ia temukan
Dia diberitahu dokter yang tadi merawat Alin, kalau Alin tidak bisa kelelahan karena itu bisa mempengaruhi kesehatan janinnya.
Dia baru tau kalau Alin ternyata HAMIL, jujur dia sangat senang namun saat Alin menghilang begini perasaannya jadi campur aduk
"Kau membuat penumpangku ketakutan dalam empat jam lagi kami berangkat. Aku nggak mau pelayaranku tertunda karena waktu adalah uang dimataku"
Karena tak ada hasil apapun diatas kapal Kapten Samy, Ruan Ruo menyuruh pengawalnya memeriksa kapal lain yang masih berlabuh
Disisi lain saat ini Alin sedang duduk manis, diantara ibu ibu pedanggang Arab yang sedang melantunkan Sholawat layaknya bernyanyi.
'Ini takkan membosankan' pikir Alin. Untuk berjaga jaga dia memakai Softlens berwarna biru agar bisa mengelabui pengawalnya Ru, setidaknya dengan pakaian hitam, jilbab Syar'i dan cadar yang sama seperti ibu ibu lainnya dia pikir tak kan ada yang mengetahui identitasnya. Tepat saat Alin memikirkan tak kan ada yang tau identitasnya seorang pria arab membawa masuk para pengawal Ru
"Kalian periksalah sendiri! Kami hanya punya waktu 20 menit sebelum berangkat" ucap pria Arab itu pada para pengawal
Alin menghela nafasnya untunglah ibu ibu pedagang Arab itu dengan berbaik hati selalu menggenggam tangannya, alin telah memberitahu mereka kalau dia buta jadi tak bisa melihat apapun dan mereka mau membantunya untuk saat ini Alin hanya bisa mendengarkan
"wahai Ikhwan sebagian dari kami adalah wanita yang telah bersuami. Kami tak bisa menunjukkan wajah kami pada orang yang bukan mahram" ucap salah satu ibu ibu
Para pengawal itu bingung dengan apa yang harus mereka lakukan, disatu sisi mereka menghormati Adat istiadat Islam dan disisi lainnya mereka memikul tanggung jawab untuk menjalankan perintah tuan mereka.
Ruan Ruo masuk ke rangan dikapal itu "Ada apa, Kenapa kalian tak memeriksanya?" Tanya Ru. Saat melihat wanita bercadar yang berkerumun, Ru langsung mengerti
"Begini saja cari dia, kalian berbaris dan majuu satu persatu lalu katakanlah benda apa yang ditunjuk pengawal saya"
Cerdas....
Itu yang dipikirkan Alin saat ini, hingga dirinya tanpa sadar menyeringai 'Cerdas tapi itu saja tidak cukup jika ingin menangkapku, hehehe'
Berbaris Alin berada ditengah ibu ibu, satu persatu dari mereka maju ibu ibu yang dibelakang berbisik ditelinga Alin "Tenang saja Nak, kau hanya perlu berjalan maju dan menebak yang mereka tunjuk. tunggu saya, saya akan menuntunmu duduk kembali setelah kamu selesai menebak
"Ya berikutnya!"
Kali ini giliran Alin, Alin menghadap ke suara "Assalamualaikum" ucap Alin sebelum menebak. Belum pria itu menunjuk Alin menunduk untuk mengambil sesuatu yang bahkan pengawal itupun tidak sadar telah terjatuh dari sakunya "asif ya sayidi , walakun saqatat 'iibrat bik" (Maaf tuan, tapi jarum anda terjatuh). Pengawal itu mengambil jarum dari tangan Alin "Can you speak english?" tanya Ru pada Alin setelah melihat kejadian yang membuat Antrian terhenti, Alin menggeleng ''ana mjrd fatat ghabiat" (Saya hanya gadis bodoh) ucap Alin seraya tersenyum dibalik cadarnya.
"Ya sudah, sana pergi. Kau menghalangi Antrian" ucap Ruan Ruo dengan dinginnya. Alin membalas ucapan dingin Ru dengan suara pelan "'iidha kan al'amr kdhlk , sa'uqul wadaeaan , Wassalamualaikum" (*Jika demikian, saya ucapkan selamat tinggal. Wassalamua'alaikum) Alin dituntun ibu ibu yang lain kembali duduk. Seperti yang ia duga Ruan ruo tidak mengenali suaranya yang terhalang cadar
"Maaf Tuan Tuan tapi ini sudah waktunya kami berangkat"ucap salah satu orang arab. Ru menyuruh para pengawalnya untuk kembali, sebelum pergi dia menatap sekumpulan ibu ibu tadi dengan wajah sedih.
"Kalau kalian melihat istriku, ini fotonya. Tolong hubungi nomor ini" ucap Ru sebelum pergi.
"Semoga kau selalu dilimpahi kebahagiaan, dan Allah mempertemukanmu lagi dengannya" ucap salah satu ibu yang mengirim doanya ke Ru.
Selepas Ru pergi, kapalpun berlayar. Lagi lagi suara deburan ombak yang Alin dengar untuk sekian kalinya. Matahari berganti bulan, dan bulanpun berganti matahari untuk sampai ke london kali ini dia perlu waktu satu minggu karena kapal pedagang Arab yang ia tumpangi perlu mampir ke pulau lain. Saat berlabuh Alin dengan takut takut menyalakan ponselnya untuk orang buta seperti dia, kalau mau menghubungi seseorang dia hanya perlu menekan aplikasi Google yang muncul dibagian Awal layar "Telepon Abang Vano" hanya dengan tiga kata itu google telah melakukan apa yang Alin suruh
"Halo, Assalamualaikum Kak"
"Wa'alaikumsalam dek, Ya ampun dek Alin apa kabar?"
Yang mengangkat telpon Alin kali ini Kakak ipar perempuannya "Kak, ada Kak Vano nggak?"
"Oh ada" Ucap Vano langsung ditelfon
__ADS_1
"Kenapa nggak Vidcall aja dek?"
"Susah tau. Kak bisa jemput Alin nggak?"
"Tumben kamu minta jemput. Emangnya ada apa? Kamu kok tau aja Abangmu ini lagi di UK"
"Alin mau balik sendiri tapi takut nyasar"
"Lah kamu jadi anak kecil lagi apa? Pake nyasar segala itu mata napa nggak dipake"
"Akh... Tau ah, ribet ngomong sama kamu kak" gumam Alin dengan kesal.
Vano dan keluarga angkatnya Emang belum tau kalau Alin saat ini buta "Iih jangan ngambek? Sudah kayak bocah umur lima tahun aja pake ngambek. Kakak Vidcall kamu nih ya"
Vano menutup telfon satu arah dan setelah poselnya bergetar Alin pun menjawabnya untunglah Alin hapal setiap letak tombol diponselnya
"Ya Hallo, Assalamu'alaikum" ucap Alin pelan. Untuk beberapa saat tak ada respon dari ponselnya "Ka...Kakak?!"
"ASTAGFIRULLAH...." pekik orang dilayar telfon yang nyaris membuat Alin hampir menjatuhkan ponselnya
"Kak jangan bilang Ayah sama Bunda ya!" ucap Alin, Vano dan Vina Istrinya segera menggeleng bersamaan dilayar "itu kamu dek?" tanya Vano. Alin mengangguk "Iya kak ini aku. Sekarang aku but..."belum sempat Alin menyelesaikan Kalimatnya Kakak Ipar dan Kakaknya memotong ucapannya
"Alhamdulullah dek, kamu sudah berjilbab. Ini mah harus dikasih tau Ayah sama bunda, mereka pasti senang" ucap Vina, Vano menambahkan "Dek sudah jangan dilepas lagi ya jilbabnya, gitu aja kamu tambah cantik" Alin mengernyitkan keningnya, sekarang bukan tentang masalah penampilannya yang terpenting. "Kak, sekarang Alin buta"
"hahaha... Kamu bercanda!" ucap Vano. Vina menegur Vano "Mas, kayaknya dia nggak bohong tau. coba kamu perhatikan dari tadi dia ngomong sama kita tapi matanya nggak kelayar" ucap Vina.
Alin Geram mendengar mereka berdebat "Ekhm..." Alin dengan sengaja melakukannya. "Emang benaran ya dek kamu buta. Coba liat kelayar, terus sebutin angka berapa tangan kakak?"
Alin mendekatkan ponselnya ke wajah agar bayangan cahaya nya bisa ia liat "Satu" ucap Alin dengan Asal
"wah... Ini angka 10 kenapa bisa jadi satu dek?" gumam Vina. Ya mana bisa orang buta ngeliat
"Kamu Buta karena apa? Sekarang suami mu itu mana?" tanya Vano. Walaupun datar Alin bisa mersakan tanda berbahaya dari nada Kakaknya itu.
"Ish... Dia mah Sibuk. Aku jatoh dan tiba tiba nggak bisa melihat ini sebab nya aku mau pergi ke prof. Alpha"
"BOHONG!" gumam Vano yang membuat Alin tanpa sadar menutup mulutnya.
Dari ponsel Alin bisa mendengar suara Meja yang dipukul kuat. Kali ini Vina yang mengambil ponsel dari tangan Vano "Dek, Kakak Vano mu marah!"
"Jadi sekarang gimana?" tanya Vina. Alin tersenyum "Kak bilangin ke kak Vano, Alin minta maaf sudah ngerepotin dia lagi. Setelah dua hari Alin akan tiba di pelabuhan St. Katharine, terserah deh Kakak atau Kak Vano yang ngejemputin Alin. Supir juga boleh kok hehehe" jelas Alin
"Ya udah ntar Kakak aja yang ngejemputin kamu. Btw dek kamu lagi ada masalah sama suami kamu? Terus kenapa mata kamu bisa buta mendadak?"
"ini bukan buta mendadak, Kak. Ceritanya panjang ntar Alin jelasin kalau sudah nyampai"
Tiba Tiba suara diponsel berganti dengan suara berat Vano "Dek, Abang jemput kamu sekarang!"
"Kakak gimana mau jemputnya? Sebentar lagi kapal Alin mau berangkat" tanya Alin dengan ragu
"Aku jemput kamu naik Heli kesukaan mu waktu kecul. Kalau kamu nggak mau ntar Lucifer Kakak Sita"
Mendengar nama motor kesayangannya ikut dibawa bawa Alin menggertakkan giginya "Ckck...Kakak berani nyentuh sedikit aja Lucifer, aku pastikan saat aku tiba Kakak melayang di langit ketujuh" gumam Alin dengan Kesal.
"Yang ada ntar suami mu yang bakalan ku kirim terbang kalau aku ngeliat dia. Aku sudah menelfon Arzan dan dia menceritakan dengan singkat kronologis mu saat buta" jelss Vano. Seperti yang Alin duga bahwa Arzan tidak bisa diharapkan untuk menyimpan Rahasia terutama dari Vano dan keluarga Angkatnya Alin
"Nggak usah berlebihan Kak. Nggak mungkin juga Helikopternya mendarat diatas kapal" jelas Alin seraya memutar tubuhnya agar bagian kapal terlihat dibelakang dirinya
"Kan bisa pake tangga. Abisnya sih kamu berani banget ngambil resiko pergi sendiri" ucap Vano dilayar
"Tangga? Maksud Kakak Tangga yang melayang layang di udara itu? nggak mau ah sudah kayak difilm aja pake yang gituan. Kalau aku nggak berani kak, aku kapan majunya?" gumam Alin. Vano tertawa "ya udah Pake Speed Boat aja biar cepat. Ya walaupun paling cepat juga nyampe ke kapalmu 12 jam"
"Terserah aja. Nih GPS ponselku nggak ku matiin kak, jadi kakak bisa lacak" ucap Alin.
"Nah gitu. Sudah dulu ya Kakak mau ke Pelabuhan sekarang"
..........
Dimalam harinya Alin duduk dipinggir kapal seperti yang biasa dia lakukan. Rasa kantuknya sudah hilang terbawa Angin malam
Tiba tiba saja ponselnya bergetar dan berbunyi 'Siapa malam malam nelfon?!, apa kak Vano sudah nyampai' pikir Alin. Tanpa Ragu Alin mengangkatnya dan ternyata itu bukan sekedar telfon suara
"Assalamualaikum" ucap Alin ditelfon. Suara diponselnya hanya diam "Kakak sudah nyampai?" tanya Alin.
"Maaf" ucap suara ditelfon
__ADS_1
"Ru, Apa ini kau?"
"Ya..."
"Jadi kau tak berhasil menemukanku?"
"Ya..."
"Kenapa kau belum tidur ini sudah malam?"
"Kau sendiri kenapa belum tidur? Apa kau merasa bersalah telah meninggalkan aku"
Alin menggeleng "Tentu saja nggak"
"Kenapa kau jahat padaku Alin? Kau tau kau tidak boleh kelelahan karena sekarang kau sedang mengandung"
"Maksud Kau aku hamil?"
"Iya..."
"Ooh..."
Respon Alin sungguh diluar harapan Ruan Ruo.
"Apa kau tak sedih atau Senang dengan kabar ini?"
"Tentu saja aku senang. Aku janji ke kamu aku akan merawatnya sebaik mungkin"
"Sendirian?" tanya Ruan ruo
"Menurutmu?"
Pertanyaan Alin menambah kegaduhan dihati Ruan Ruo
"Jadi apa rencanamu? Jika kau mengajukan Surat cerai, pengadilan takkan menerimanya karena kau dalam kondisi hamil. Al... Berhenti keras kepala dan kembalilah padaku"
Alin tertawa miris "Apa pantas kau mengatakan itu padaku disaat semua sudah terlambat Ru?"
"Maaf aku egois. Tapi aku jujur Al, aku sulit hidup tanpamu" Suara Ru berubah jadi sebuah isakan terpendam
"Sudah jangan nangis" bagaikan tau apa terjadi ke suaminya Alin berkata seperti itu. Alin segera tersenyum "Untuk berdiri disampingmu Ru, kau butuh orang yang kuat" ucapnya. Alin melanjutkan dalam hatinya 'Jika aku ingin terus berada disisimu. Aku harus sembuh agar tidak ada lagi yang bisa merebutmu...'
"Bagaimana kau bisa melakukan semua ini sendiri Al? Kau sungguh berani melakukanya"
"Jadi kau sudah melihat link yang aku kasih? Aku pikir kau nggak kan bisa membaca tulisan tanganku hehehe..."
"Berkat kamu kerajaan kita menjadi bagian PBB. Aku bisa membungkam konspirasi yang terjadi didalam istana dengan itu"
"Alhamdulillah, akhirnya masalahmu selesai. Itu terakhir kalinya Ru, kau ingat itukan Mulai sekarang itu kerajaan mu bukan kita. Awalnya aku melakukan hal itu hanya untuk berjaga jaga jika krisis terjadi, tetap saja aku tak menyangka itu terjadi secepat ini"
"Al aku akan menjemput mu! Kapalmu sudah terlihat didepan mataku"
Alin mengernyitkan Alisnya dan pikirannya jadi jernih 'Oh, astagfirullah aku sudah sungguh meremehkannya' Ruan Ruo melacak ponsel Alin selama ini.
"Ru....Aku minta maaf kalau punya banyak salah padamu, aku mau tidur. Aku Sudah lelah, Wassalamu'alaikum"
BOOMM.....
Belum sempat Alin mematikan panggilan suara diponselnya sebuah ledakan dari bagian depan kapal terdengar. Alin berdiri dan banyak dari mereka yang berlarian sambil berteriak 'Kebakaran, Selamatkan diri kalian' untuk yang pertama kali nya Alin bingung harus melakukan apa. Dia ingat ibu ibu yang membantunya masih tertidur dan letak ruangannya cukup jauh dari yang lain bisa dibilang dibagian deoan kapal juga "PAK, Kebakarannya?" Alin bertanya pada orang yang berlari melewatinya
"Nona sebaiknya anda naik ke sampan sekarang. Semua bagian depan kapal dilahap Api dan tidak banyak perempuan tersisa"
Yang pertama Alin lakukan meraba sekelilingnya dan dia menemukan selimut besar dan tali. Dia tak menghiraukan teriakan pria yang menyuruhnya lekas naik ke sampan, dia hanya berfokus mengikat selimut ke tali dan membuangnya ke laut
"Apa yang kau lakukan disini Nona, Apa Kau mau mati?" walaupun pria disampingnya terus mengoceh dia tetap membantu Alin menarik tali ditangannya. Setelah mendapat Selimutnya basah oleh air laut, Alin bergegas ke ruangan dimana tadi dia pergi dari ruangan itu untungkah jalannya masih sama dan tak berubuah
Uhukkkk...Uhuk....
Alin menutup hidungnya dengan selimut "Eima!!!"(*Bibi!) teriak Alin.
Para wanita yang dalam keadaan panik diruangan itu segera berteriak saat ada yang membuka pintu "Kami disini Nona, Jalan disini terhalang api!" teriak para wanita itu bersamaan. Alin hendak pergi ke asal suara itu namun langkahnya terhalang panasnya api didepannya. Alin melemparkan selimut basah yang ia bawa ke arah panas yang ia rasakan "Cepat keluar sekarang!" teriak Alin.tapi belum sempat Alin beranjak sebuah bongkahan kayu besar dan panas mengenai bagian belakang kapalanya
Brukkk....
Alin Ambruk bersamaan kayu itu 'Inikah Akhirnya? Apa ini sungguh akhir, seharusnya aku mendengarkan kata wanita tua di mansionnya Ru. Dia pernah berkata Salah satu dari yang telah menyelamatkan nyawa, dia akan menghilang. Aku menyesal terlalu gegabah, tapi aku tidak menyesal keputusanku untuk berlari kesini'
__ADS_1
~•TBC