
Ru kembali duduk ke kursinya sambil ditahan Alin "Siapa Nama mu?" tanya Alin dengan nada ramah.
disisi lain Rafka terlihat Syok dengan apa yang terjadi padanya. dia hanya duduk melamun disamping Hana "Hana, berikan dia segelas air!" ucap Alin.
Hana banyak berkeringat karena melerai keduanya dan lebih tepatnya dia nahan ayahnya agar tidak memukul Rafka. dengan ngos ngosan Hana pergi mengambil Air dan memberikannya pada Rafka dan juga ayahnya "Apa kamu baik baik saja?" tanya Hana.
setelah meminum segelas air Rafka mengangguk lalu dia berdiri dan membungkuk "Saya Rafka Hermawan . Maaf saya lancang mengajak Hana untuk bertemu ayah saya. ini semua karena ada situasi yang mendesak" ucap Rafka.
Ru ingin membuka mulutnya namun langsung di sela oleh Alin "Tidak perlu sampai membungkuk seperti itu. di keluarga kami sebesar apapun masalahnya tidak ada yang meminta maaf sambil membungkuk jadi Bangunlah"
Rafka baru melihat jelas Alin, bundanya Hana. dia tampak masih di awal umur 30 an dengan Hijab yang melilit di kepalanya tanpa sadar Rafka salah bicara "Terimakasih kak" Hana langsung menyikut perut Rafka dan berbisik "Dia bundaku"
"Dia istriku, jangan panggil dia kak! Dasar bocah tidak sopan!" oceh Ru. Alin menengahi Ru dan Rafka "Ru, aku tadi melihat sekretaris mu di depan pintu aku rasa ada yang perlu kamu lakukan"
"Tidak ada yang lebih penting dari pada putriku" ucap Ru dengan keras kepala. Alin menghela nafas dengan sabar "Masalah ini biar aku yang urus, aku tau kamu lebih menyukai dokter Yoga dan di kepala mu tidak ada yang lebih baik dari dokter Yoga untuk Hana. tapi dokter Yoga belum membuktikan pada ku apa dia pantas untuk Hana jadi anak ini juga masih punya kesempatan. aku akan membuat dokter yoga dan anak ini membuktikan diri seberapa pantas dirinya. kamu nanti bisa menilainya" jelas Alin meyakinkan Ru.
Ru menatap mata Alin dan dari tatapan itu Ru mengerti istrinya tidak ingin mendengar penolakan darinya jika ditolak dia pasti akan marah. Ru akhirnya mengalah "Baiklah. aku percaya kan ini pada mu tapi pastikan dari mereka tidak ada yang berbuat curang karena aku paling benci orang yang curang"
"Iya suamiku sayang. pergilah! jika kamu tidak pergi aku rasa sekertaris mu akan menangis sambil berdiri didepan pintu"
Ru mengangguk dan meninggalkan Ruangan. "Nak Rafka, duduklah santai dulu. aku minta maaf atas sikap suami ku, kamu pasti terkejut karena sikapnya. apa kamu baik baik saja ? jika butuh sesuatu kamu bisa memintanya dari Hana"
"saya baik baik saja nyonya" ucap Rafka. Alin terlihat puas dengan jawaban Rafka "aku suka seseorang yang bisa tahan akan tekanan orang lain. kamu tidak perlu formal dan memanggilku nyonya panggil nama saja nama ku Alin Craetta dan suami nama nya Ruan Ruo" Hana nampak terkejut dengan apa yang dikatakan bundanya
"Bunda, you can't do this! umurnya berbeda jauh dengan bunda dan jika papa tau habis sudah riwayat Afka" ucap Hana.
"Keep Calm my girl, it's oke for me. lagian ini sudah jaman modern yang tidak lagi membedakan orang berdasarkan umur" Alin berbicara dengan santainya
Hana berbisik pada Rafka "Afka lakukan sesuatu, bunda ku itu tipe orangnya open minded tapi papaku kebalikannya"
"Hey Hana... walaupun kamu berbisik bunda bisa membaca pemikiran mu seperti membalik kertas. bunda tidak bermaksud membebani nak Rafka dengan Hal sepele seperti ini. jika nak Rafka tidak nyaman dia bisa memanggilku dengan apapun yang menurutnya pantas asalkan jangan memanggilku dengan nama Binatang apalagi kata kata kasar tapi aku yakin nak Rafka dia tidak seperti itu karena kebanyakan orang Indonesia itu dari kecil sudah ditanamkan nilai moral didalam dirinya" Jelas Alin. Hana menghela nafas lega dan Rafka mengangguk membenarkan perkataan bundanya Hana "Saya sudah memutus kan untuk memanggil anda dengan Tante dan tante memintaku untuk tidak formal jadi dari awal aku mengerti maksud tante adalah hal yang baik dan tante benar soal nilai moral yang ditanam kan sejak kecil. aku bersyukur tante adalah orang yang ramah"
"Ya aku adalah orang yang ramah tapi aku juga orang yang peka" gumam Alin seraya menyeringai lalu dia melanjutkan "Kapan kalian mau berkata jujur padaku?"
Rafka mengerti kalau mereka ketahuan, baru Rafka mau membuka mulut Hana langsung menyela "Bunda kan sudah tau. jadi aku rasa tidak perlu dijelaskan lagi kan"
__ADS_1
"Hey... emang bunda cenayang? yang bisa tau apa yang terjadi tanpa harus diberitahu. tenang saja bunda tidak akan melaporkan ini pada papamu" ucap Alin.
"Ini semua berawal pas aku lagi skripsi an di indo terus aku bertemu Rafka dan untuk selanjutnya lebih baik bunda mendengar langsung dari Afka" Hana menunjuk Rafka karena hanya dirinya lah yang berhak menjelaskan situasi dirinya, Hana tidak ingin dia malah keterusan bicara dan akhirnya menceritakan hal yang tidak ingin Rafka beritahu pada yang lain.
Rafka pun menjelaskan secara detail "..."
..........
Hana terkejut karena Rafka bahkan menjelaskan sampai Rencana yang akan dia lakukan kedepannya dan bunda Hana selain mendengar kan dia juga ikut memberi saran dan solusi permasalahan. Hana pergi mengambil minuman lagi dan saat dia menuangkan air dia bergumam "Bunda terlihat seperti sedang berbicara bersama anak laki laki nya. aku sampai iri"
"Iri sama siapa?" tanya seseorang di belakangnya. dia adalah dokter Jerry
"Hey, Jerry. apa kamu sudah selesai kerja?" tanya Hana dengan santai dan senyum tanpa rasa bersalah
"terimakasih untuk seseorang yang karena nya di malam hari pun aku harus lembur" ucap Jerry seraya meminum segelas air.
Hana tersenyum "Gaji mu juga ditambah jadi tidak perlu mengeluh karena semua yang ada di disekitar kita punya hubungan timbal balik"
"Kapan kamu sembuh?" tanya Jerry dengan nada mengeluh. Hana tertawa dan bercanda "Apa menurut mu aku masih sakit? jika aku saja tidak sakit bagaimana bisa aku sembuh. bekerja lah dengan rajin mana tau kedepannya nanti aku memberimu tempat ini"
Yoga datang membawa berkas ditangannya lalu menyuruh Hana dan Jerry masuk ke ruang rapat bersama nya "Jadi ada apa pak dokter? aku pasien anda tidak berhak menyuruh pasien bekerja"
"Aku tidak meminta mu. aku hanya membutuhkan tanda tanganmu untuk ini"
Hana membaca berkas yang diberikan Yoga "ini adalah proposal pembuatan teater. Tujuan nya menarik sekali, apa ini dilakukan karena tingkat stress pasien pasien bertambah?"
"Tidak ini dilakukan karena di sini pasien dikategorikan jadi tiga yaitu hijau, kuning, dan merah. pasien hijau artinya tingkat kesehatan nya diatas 80 % jadi bisa keluar dari sini dan bisa di rawat jalan saja sementara pasien kuning dibawah 80% diatas 40 % mereka hanya bisa keluar dari sini jika ada surat izin dari dokter terkait sementara pasien merah dibawah. 40% sama sekali tidak boleh keluar. karena terus stuck di sini mereka tidak melihat dunia luar. ya mungkin hijau dan kuning bisa tapi bagaimana yang merah? ini tindakan untuk menyamaratakan dan ini bagus untuk meningkatkan kesehatan mental pasien. kegiatan ini juga dapat respon bagus dari masyarakat sehingga ada beberapa sponsor yang masuk" jelas Yoga. Jerry menambahkan "Ya ini bagus bahkan jika ini diketahui pemerintah mereka juga akan turut membantu"
"tapi teater? siapa yang akan jadi aktor dan aktris nya? Apa sudah dipilih?" tanya Hana mengkritisi bagian yang kurang dalam proposal
"tentu saja belum tapi ada beberapa orang dibenak ku yang cocok" ucap Yoga
"aku setuju tapi menurut ku teater kurang lengkap tanpa ada kedai makanan. aku mau nanti ada makanan khas dari beberapa daerah."
"Ya itu bisa saja ditambah kan" ucap Jerry setuju.
__ADS_1
ketika mereka sudah selesai Rapat Hana kembali ke ruangannya dan sudah tidak ada orang disana "Eh bunda kemana?"
"Bunda disini" ucap Alin seraya keluar dari pintu toilet. ketika mereka berhadapan Hana memeluk erat bundanya "Aku kira bunda sudah pergi, padahal Alin masih kangen sama bunda"
Alin membalas pelukan putrinya "Aku selalu merindukanmu sayangku. ketika aku kembali gadis kecil bunda dengan berani nya membawa pacar di hadapan papa nya pada awalnya bunda mengira gadis kecil bunda bukan lah gadis kecil lagi melainkan gadis dewasa yang akan segera menikah. bunda sempat merasa kehilangan"
"Eish... dewasa seperti apapun diriku faktanya aku tetap gadis kecil bunda karena hanya pada bunda lah aku bisa bersikap seperti ini"
"iya deh iya, bagaimana kabar saudara kembar mu Hanz?"
"Dia lagi berjuang cari jodoh di Indonesia"
"Benarkah? kali ini Indonesia. ya semoga dia serius" percakapan ibu dan anak terus berlanjut di antara keduanya
"Bunda tidak lama disini akan diadakan teater? apa bunda dan papa akan datang"
"Wah tentu saja karena itu adalah hal yang jarang terjadi kalau bisa bunda akan mengumpulkan keluarga inti kita"
"Ya nantinya akan ada banyak makanan dari berbagai daerah juga."
"Kebetulan sekali Hana. ini cocok untuk membantu nak Rafka dengan syarat yang bunda berikan untuk ditunjukan pada papamu"
"Bunda memberi dia syarat apa?"
"Dia harus membuktikan dia bisa memulai bisnis dari nol. nak Rafka bergerak dalam bidang makanan jadi dengan adanya kegiatan yang kamu sebutkan itu bisa membantu nya" Jelas Alin. Hana mengangguk lalu dia teringat sesuatu "Kalau Yoga bunda beri syarat apa untuk membuktikan diri nya didepan papa?"
"Oh itu mudah, bunda hanya memberi syarat agar dia menjagamu dan menyembuhkan penyakitmu. jika dia berhasil maka dia juga akan mendapat julukan dokter profesional" Jelas Alin.
"Tapi bunda mereka memenuhi persyaratan atau tidak. aku tidak ingin menikah dalam waktu dekat, biarkan kak Hanz aja yang duluan menikah"
"Bunda tidak menyuruh mu menikah sayangku. ini dilakukan agar papamu itu bisa merasa tenang karena pria yang sekeliling putrinya terbukti mampu jadi suatu saat ketika kamu dalam masalah mereka bisa membantu mu"
Hana menghela nafas karena begitu banyak yang perlu dilakukan dalam satu waktu. jelas yang utama adalah membantu Kakek Rafka berbaikan dengan Rafka.
"Yah... aku pasti bisa melakukan nya!"
__ADS_1
-Berlanjut-