
________________________________
Semuanya akan baik baik saja selama ada kamu disisiku
________________________________
~•Vano Pov
Ketika Arzan menelfonku dan berkata Alin bertemu dengan Ruan Ruo, jantungku serasa berhenti berdetak. Sudah cukup adikku tersiksa olehnya!
Mengingat kejadian Lima tahun lalu hatiku terasa sangat sakit. Dulu saat aku hendak mencapai kapal yang ditumpangi Alin, kapal itu mendatangkan suara ledakan yang sangat besar puing puing nya berhamburan diatas dinginnya laut malam.
Duniaku seakan runtuh saat mencari Alin, aku tak berhasil menemukannya padahal hampir sebagian besar yang selamat ada disekoci pada saat itu ku kira hanya aku yang mencarinya tapi aku juga melihat Ruan Ruo dengan beberapa pengawalnya.
Pria itu menangis jadi aku bisa menebak dia sudah tau keadaan Alin yang lagi hamil
'Cepat cari disekililing reruntuhan Kapal!' pintahnya kala itu. Saat Fajar menyingsing dilangit timur dan terus berubah menjadi rembulan, yang dicari tetap tak ketemu. Aku sudah sangat berputus asa jadi aku hendak kembali dan memberitahu yang lain tantang sebuah kabar buruk...
Jelas bunda dan ayah bakalan syok berat, tapi yang paling kasihan adalah keluarga kandungnya Alin. Mereka baru saja kehilangan Sosok Mr.Raf papanya Alin dan sekarang mereka harus kehilangan Alin, dunia pasti sangat tidak adil untuk mereka...
Ditengah perjalananku kembali 50 Km dari runtuhnya perahu, seseorang dari kepalku berteriak 'Ada kayu yang tersangkut dibagian samping' otomatis aku segera pergi untuk melihatnya. Emang itu benar kayu seukuran papan selancar yang tersangkut tapi aku lihat ada seorang
Wanita yang masih lengkap dengan jilbab hitamnya diatas papan itu 'Apa dia mayat' pikirku saat itu. Aku lihat dia tidak lagi berpegangan dipapan kayu itu, hanya Jilbabnya yang tersangkut itu saja yang menahannya tetap di atas kayu 'Ada orang Cepat bantu aku!' Teriakku pada yang lain kala itu. Sungguh kuasa tuhan ternyata wanita berjilbab itu adalah Alin, tubuhnya yang basah karena air laut menjadi semakin dingin dan terus mendingin seperti batu es didalam kulkas, bibirnya pucat dan pecah pecah karena hawa dingin. 'Cepat, Ambilkan selimut dan pemanas!' untunglah saat itu aku mebawa salah seorang dokter. Aku tak sanggup melihatnya sudah berapa lama dia terombang ambing dilautan lepas dan hanya memakai papan untuk membantunya tetap hidup
Tanpa sadar lagi lagi aku meneteskan air mata mengingat hal itu, Alin Koma
Seminggu dan saat dia terbangun dia berteriak histeris tidak seperti Alin yang biasanya selalu tenang. Aku masih mengingat saat itu penampilannya sangat berantakan matanya membengkak akibat menangis, Rambutnya acak acakan karena setiap kali kesakitan Alin bakalan memegangi kepalanya
'Hiks....Kak aku nggak sanggup, Rasanya sakit kak....' bahkan suara tangisannya masih terbayang dalam pikiranku, saat itu dia juga akan ketakutan saat ada orang yang menyentuhnya. Seandainya saat itu aku bisa menggantikan dirinya menanggung rasa sakit itu maka aku akan sangat bersyukur
Aku juga baru tau kalau Alin sebenarnya lupa akan ingatannya, dia tak mengingat kalau dirinya sudah menikah, bahkan dia tak mengingat siapa Ruan ruo, dia juga nggak ingat apapun tentang kematian Papa kandungnya dan Yang paling miris dia juga nggak tau kenapa bisa jadi buta
Saat itu amarahku sungguh memuncak pada Ruan Ruo jadi aku tak ada niat sedikitpun untuk memberitahunya bahwa Alin masih hidup. Aku bersama Arzan, Professor Alpha dan persetujuan anggota keluarga yang lain telah sepakat untuk menyembunyikan semua fakta tentang Alin. Jadi untuk menyakinkan Ruan Ruo kami melakukan sandiwara namun dengan Sandiwara itu justru Ruan ruo nampak curiga kalau sebenarnya Alin masih hidup.....
Karena sudah menduga kalau hal ini cepat atau lambat bakalan terjadi, aku telah menyiapkan rencana yang telah kususun dengan matang 'Kenapa emangnya kalau mereka sudah bertemu? Alin bahkan tak mengingatnya. Itu juga bukan berarti Alin akan kembali pada dirinya' ucap batinku. Aku berencana akan mengirim Alin, Hanzel, Khana dan Lucy untuk pergi ke Instanbul selama Ruan ruo masih ada di Italia sana dengan begitu mereka berdua akan sangat jarang bertemu... Lebih baik Alinku bertemu dengan keluarga kandungnya dibandingkan dengan Ruan Ruo
"Hallo Pak Arjuna, Tolong pesankan tiket untuk empat orang dari italia ke instanbul untuk minggu depan dan kirim tiketnya segera ke Nyonya Alin Craetta" ucapku ditelfon. Setelah selasai bercakap soal pekerjaan aku menelfon Alin dan sangat kebetulan yang mengangkatnya adalah anakku Lucy "Wa'alaikumsalam Ayah!" ucap Lucy. Dari nada suaranya aku tau dia masih kesal karena ku tinggal dinas keluar kota bersama ibunya
"Mana aunty mu?"
"Sibuk kerja. Ayah sempat menelfon dan menanyakan kabar Aunty tapi tidak denganku, Lucy nggak mau tau Yah pokoknya Lucy minta Uang ganti rugi" ucapnya dengan nada naik satu oktaf. Sungguh sifatnya menurun dari ibunya, perkataannya juga terkadang lebih dingin dariku.
"Ganti Rugi apa? Bilang aja sayang kalau kamu butuh sangu lagian juga kamu kabur kerumah Aunty mu, biaya pesawat dan perjalanan semua pakai uang sangumu jadi ayah tau isi atm mu 0 rupiah" aku tertawa mendengar Lucy teriak memanggil ayah dengan nada Kesal.
"Sebenarnya Lucy nggak perlu uang karena Aunty memberi credit card nya. Tapi...." Lucy berhenti sebentar ditelfon sebelum melanjutkan
"Karena ayah berniat mengirim kami berempat ke Instanbul. Lucy perlu biaya untuk hidup, credit card yang aunty berikan hanya berlaku di sini bukan disana"
__ADS_1
"Berapa yang kamu mau?" ucapku langsung to the point. Lucy tertawa
"Aneh sekali ayah, tumben sekali ayah menanyakan berapa yang aku mau hehehe. Ini pasti ayah ada maunya?! Biar ku tebak ...." aku hanya menyeringai menunggu lanjutan dari Lucy "Ayah memberiku apa yang aku mau karena sebagai gantinya aku harus memastikan Aunty pergi ke instanbul ya kan?!" Ucap Lucy ditelfon. Aku tak bisa menahan tawaku sungguh dia gadis yang cerdas seperti Alin "Ya begitulah dan..." belum aku selesai berbicara Lucy langsung menyeletup
"Ayah nggak mau Aunty, bertemu dengan Uncle Ru ya kan? Sebab itu ayah mengirim kami ke instanbul secara mendadak"
BENAR...
Dia sungguh anak ku, ya beginilah cara kami berinteraksi. Dia selalu menebak dengan benar apa yang sedang ku lakukan. "Hmm, dari mana kamu tau soal itu?"
Lucy terkikik geli ditelfon "Tentu saja dengan membuka mata Ayah. Uncle Ru berkata pada aunty kalau istrinya adalah Alin Craetta yang merupakan seorang dokter kalau aunty mungkin ragu untuk mengakui kalau dirinya memang betul Alin Craetta tapi untukku yang tau masa lalu Aunty dari Ibu aku nggak ragu hehehe... Apalagi saat pertama kali Uncle Ru memeluk aunty dibandara dan memanggil aunty dengan sebutan Alin dari situ aku sudah bisa menebak" jelas Lucy dia betul betul bisa diancungkan dua jempol. Tapi dia bilang apa tadi 'memeluk Aunty', Ru berani memeluk Alin! Liat aja nanti...
.........
~• Author Pov •~
Disisi lain Alessa atau Alin baru kembali dari kelasnya dia gak menyangka seseorang menunggunya dikantor "Hmm...Assalamualaikum" salam Alin. Pria tinggi dikursi berdiri jika saja dia dicukur bersih Alin pasti akan mengira kalau dia salah satu murid yang dia ajar dikampus.
"Wa'alaikumsalam" balas pria itu dengan senyuman tipis diwajahnya.
Alin duduk disofa yang bersebrangan darinya "Ada apa kamu ke sini? Apa mau bermain dengan anak anak ku lagi?!"
Ruan Ruo hanya tertawa namun mendadak wajah sedihnya terlihat "Ya sayangnya mereka nggak ada disini, pasti mereka sibuk dengan Daddy baru mereka"
'Huh? Daddy baru apa yang dia maksud Arzan si cerewet' pikir Alin. Alin hanya mengangguk "Ya menjelang pernikahan dia sibuk mengurus semuanya sendirian jadi Hanzel dan Khana bersi keras ingin ikut membantu"
Ruan Ruo mengangguk dan hanya bisa menujukkan senyum mirisnya
"Kenapa kamu sedih?" tanya Alin dengan tatapan mengerti. Segera Alin merubah topik secepat membalikkan telapak tangan saat seorang anak kecil membuka pintu kantornya "Hmm... Ayoo ikut aku! kebetulan anak anak sudah pulang" ucap Alin seraya menarik lengan baju Ru.
Beberapa jam kemudiam mereka berempat sudah berada di Venice yang merupakan kota di Italia yang memiliki sejumlah tempat wisata indah dan layak untuk dikunjungi saat liburan.
"Bagaimana Sayang sayangku?" tanya Alin pada mereka bertiga. Ruan Ruo masih bingung kenapa tiba tiba mereka berada di kota romantis ini
, Khana menarik tangan bundanya "Wah... Jam Big Bang nya, Keren bunda!" ucap Khana seraya menunjuk menunjuk menara tinggi didepan mereka. Awalnya Alin terkejut mana ada Big Bang di Italia "Sayang itu bukan Big Bang yang namanya Big Bang jauh lebih besar dari menara jam ini" setelah menjelaskan pada anak anaknya, Alin beralih pada Ruan Ruo "Bagaimana apa kamu suka? Maaf membawa mu jauh jauh pergi ke sini" ucap Alin
Ru hanya bisa tersenyum canggung untuk sekilas tadi dia mencium aroma samar parfum milik Alin yang membuatnya teringat masa masa indah milik mereka. 'Seandainya kau masih milikku ingin ku genggam kau dengan sekuat tenaga. untuk memilikimu lagi apa perlu ku patahkan kedua sayapmu?' ucap Batin milik Ru.
"Yah tak apa aku senang bisa bermain lebih lama dengan anak anak. Lagian aku juga belum punya jadwal penerbangan untuk minggu ini"
Alin tersenyum ceria "Baguslah kalau begitu mari ikut kita akan bersenang senang" Ucap Alin dengan Nada penuh Antusias.
Alin menarik tangan Hanzel dan Khana, lalu mereka berdua juga menggandeng tangan Ru "Ayoo... Uncle kita ikut bunda!" ucap Khana.
Mereka berempat naik Taxi dan destinasi pertama mereka adalah Museum. Kebetulan Alin sengaja tak membawa mobilnya karena perjalanannya cukup jauh jadi lebih aman naik kereta saat ke sini. Sesampainya dimuseum mereka berfoto foto "Ru bisakah kamu fotokan kami bertiga di depan patung itu" ucap Alin seraya menyerahkan kameranya. Ru mengangguk "Senyum ya satu, dua, tiga!" ucap Ru memberi instruksi. Alin melambaikan tangannya pada orang yang lewat "Excuse Me Miss..." setelah itu Alin membisikkan sesuatu ditelinga orang yang lewat itu, wanita itu mengangguk "Ayo Ru kita foto berempat ntar hasilnya ku kasih kamu juga"
Alin menarik tangan Ru. Kali ini Ru menggendong Hanzel dan Alin menggendong Khana "Say Money All!"
__ADS_1
"MONEY" ucap mereka barengan.
CRACKK....CRACKK...CRACKK...
Hasil nya sungguh bagus dan Alin sangat berterimakasih pada wanita itu. "Thanks you very much Miss" ucap Alin
Destinasi selanjutnya mereka adalah mall Nave de Vero, karena mereka semua tak ada yang membuat persipan sebelumnya jadi mereka membeli beberapa persiapan, Alin memilihkan baju untuk dirinya, khana, dan Hanzel dia bahkan tak lupa memilihkannya Untuk Ru. Setelah itu Hanzel dan Khana berlarian ketempat olahraga "Loh, kenapa mereka masuk kedalam?" tanya Ru pada Alin. Alin hanya menggelengkan kepalanya "Mungkin mereka mau olahraga"
Beberapa menit kemudian mereka semua berpakaian khusus untuk orang bermain anggar sebelum memulai Alin memberi Instruksi pada anak anaknya "Still remember what Momy Said if you hold a sword?" tanya nya pada anak anak. Hanzel dan khana mengangguk "Yes Bunda" ucap mereka serempak.Ru berdiri dan berbisik ditelinga Alin "Apa nggak bahaya olahraga ginian?"
Senyum Alin memudar digantikan wajah serius dia balik berbisik "Mereka berdua sudah Pro. Pertama kali mereka belajar saat umur tiga tahun ketika melihatku bermain anggar bersama Ganesh. Kamu akan liat sendiri nanti hehehe..."
Alin berbalik ke arah anak anaknya "Ingat pedang yang kalian pakai bukan untuk melukai lawan tapi untuk meruntuhkan pertahanan lawan dan menjatuhkan senjata mereka" Hanzel dan Khana mengangguk dan mengambil pedang mereka. Khusus untuk anak anak pedang yang digunakan terbuat dari kayu biasa jadi takkan berbahaya sedikit pun
"Uncle jadi Partner Khana yukkk, biar bunda sama Hanzel" ucap Khana seraya menarik baju Ruan Ruo. Ruan Ruo mengangguk "Biar papa pakai yang kayu juga jadi kita sama" ucap Ru tanpa sadar. Khana hanya mengangguk senang lalu tertawa "Ok papa"
Setelah Matahari terbenam mereka semua berada dihotel terdekat kebetulan Kamar mereka sebelahan. Ruan Ruo membaringkan tubuhnya yang lelah "Mereka Hebat sama seperti ibunya" gumam nya sendiri mengingat Khana yang menghindari setiap serangannya saja sudah membuat hatinya senang ditambah lagi sekarang Khana memanggilnya dengan sebutan Papa, Alin juga terlihat tak masalah saat Khana memanggilnya Papa.
Hanya Hanzel yang masih canggung dan memanggil dirinya Uncle. Setelah terbang ke langit rasa jatuh ke bumi tak bisa ter elakkan oleh Ruan Ruo, dia ingat tentang undangan dikantornya Alin "Dia akan menikah dengan Arzan dan ini semua hanya kesenangan sementara" gumamnya seraya mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terbang terlalu tinggi lagi.
Batin nya saling berdebat disatu sisi dia mau Alin bahagia dan disisi lain dia tak rela Alin menjadi milik pria lain. Bahkan dia sempat berpikir kotor untuk mematahkan sayap sayap milik Alin agar dia tetap menjadi miliknya namun Akal sehatnya kembali setelah itu, dia nggak mungkin tega untuk menyakiti Gadis kecilnya lagi setelah apa yang dia lakukan selama ini.
"Akh... Tau ah, Gelap. Lebih baik aku tidur" gumamnya seraya menutup mata
.........
Keesokan Paginya Hanzel dan Khana merengek ingin naik perahu jadi mereka semua pergi ke Gondola, Sementara anak anak sudah naik. Alin masih diam mematung "Ada apa?" tanya Ru sedikut khawatir. Alin tersenyum dan menggelengkan kepalanya "Aku akan menunggu kalian ditempat terakhir, tolong jaga mereka berdua aku akan kembali setelah membeli sarapan" ucap Alin seraya beranjak pergi. Pemilik Gondala tersenyum mengerti kenapa Alin tak mau naik perahunya, bukan tak mau tapi dia takut. Pemilik Gondala itu bisa membaca semuanya dari gerak gerik wanita didepannya "Miss, it's okay. You don't need to wory" ucap pemilik perahu yang merupakan pria setengah baya.
Ru menarik tangan Alin dan Alin jatuh ke pelukannya tepat didalam perahu . Fokus Ru berganti saat melihat cincin yang ada dikalung Alin terlihat "Ini Cincinmu?" tanya Ru. Alin membenarkan posisinya dan menyembunyikan Kalungnya dibalik Jilbab "Ini kenang kenangan dari seorang dimasa lalu" gumanya dengan suara pelan. Mereka semua duduk rapi sementara pria pemilik Gondala mengarahkan perahunya melewati sungai sungai kecil yang diapit bangunan kuno , lantunan lagu romantis menggema dari suara pemilik Gondala itu. Setelah satu lagu Hanzel dan Khana meminta lagu yang mereka tau liriknya "There is an Castle on a Cloud..." pemilik Gondala memulai lagu dan disambung oleh hanzel bergantian dengan khana
"I like to go there in my sleep...." ucap Hanzel. Khana melanjutkan "Aren't any floors for me to sweep
Not in my castle on a Cloud..." lagu masib berlanjut sampai akhir perjalanan setelah turun dikapal Ru baru sadar kalau mata Alin membengkak layaknya seseorang yang baru saja menangis "kamu nggak papa Al?"
Alin hanya menggelengkan kepalanya "Mataku hanya kelilipan Hehehe..."
Tiba tiba saja sebuah tangan menarik Alin menjauh darinya "Alessa, kanapa nggak bilang kamu disini bersama dia? Kalau tau aku akan datang lebih awal" ucap Ganesh. Alin melihat Ke arah belakang Ganesh disitu sudah ada Lucy dengan kepala tertunduk "Kamu mengancam keponakanku buat ngasih tau lokasi ku ya kan?" Alin sudah menyilangkan kedua tangannya. Seharusnya Lucy berada bersama teman temannya liburan dihotel
Ganesh hanya menggeleng "Aku hanya tau dari postingan Instagram milik Khana dan Hanzel" ucapnya. Alin tertawa miris "Kau Stalker huh?! Kau tau Hanzel dan Khana saja tidak ada memegang ponsel mereka bagaimana bisa memposting foto. Sudah lah aku tau... Kau pasti bertanya pada Lucy, dan Lucy menolak menjawab jadi kau membawanya kesini"
"Coba buktikan! Aku bahkan tak menghubungi Lucy, dia sendiri yang datang kepadaku" ucap Ganesh yang tampak sedikit ragu ragu dengan ucapannya sendiri. Alin menyeringai
Ada kilatan tajam dimatanya "Coba sini berikan ponselmu!"
Tidak lama setelah itu, Alin menyeringai "Kamu pintar telah menghapus catatan panggilannya. Tapi coba liat ini aku masih bisa merestore semuanya" ucap Alin. Lucy akhirnya mengangguk "Uncle Ganesh yang membawaku kesini Aunty, tapi sudahlah tak apa.... Nggak usah diperdebatkan lagi"
Alin mengangguk mengerti lalu Alin berbisik ditelinga Lucy "Lain kali sayang kalau ada yang mengancammu segera kasih tau Aunty..."
__ADS_1
~• TBC