The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
2.6 Bertemu dengan nya


__ADS_3

beberapa bulan setelah Hana kembali ke jerman. Rafka semakin sibuk dengan urusan bisnis nya sampai sampai dia menunjuk anak buahnya untuk mengurus restoran di hotel HK.


Walau begitu Rafka tidak lepas tanggung jawab dia tetap mengawasi restoran sebagai mana mestinya ya walaupun itu dilakukan nya sebulan sekali karena dia percaya pada anak buahnya.


kringg...Kringg...


ponsel Rafka bergetar dan sebuah telfon masuk dari sepupu Rafka "Ya ada apa?"


'.....'


"APA ? kok bisa itu kan hasil jerih payah ibuku. bagaimana bisa dia menjadikan nya sebagai give a way?"


'....'


"Tidak mungkin aku biarkan. aku akan menemui kakek sesegera mungkin"


Rafka langsung mematikan ponselnya. keadaan saat ini cukup urgent karena usaha kecil peninggalan ibunya dijadikan hadiah bagi cucu pilihan kakeknya Rafka.


"Kakek punya banyak cucu, persaingan mengambil hati kakek pasti bakalan ketat tapi kandidat yang perlu ku khawatir kan hanya cucu kakek yang telah berkeluarga dan itu ada 2 orang" Rafka kesal karena dia harus berurusan dengan manusia berbisa di keluarga ibunya


Tidak butuh waktu Lama untuk Rafka sampai ke kediaman kakeknya "Dimana kakek?" tanya Rafka pada bibi pembantu. bibi menggeleng "Tuan sedang tidak ada di rumah. dia ada di Lerlin untuk perawatan"


"Lerlin? maksudmu Berlin?"


"Iya itu tuan muda" ucap Bibi. Rafka mengerti sepertinya kondisi kakek nya sedang tidak baik "Sama siapa dia disana?"


"Sama tuan Doni dan anak istrinya"


ucap bibi. Bagi Rafka Doni dan kakak sepupu nya Wilda adalah musuh bebuyutan sejak kecil mereka tidak pernah akur


Rafka berdecak kesal dan keluar dari rumah kakeknya. dia membuka ponsel lalu menelfon sekretarisnya "Cari tiket pesawat secepat mungkin ke berlin!"


Tidak sampai 3 hari Rafka sudah mendarat di bandara yang ada di berlin. dia melihat sekeliling kata sekertaris nya seseorang akan menjemputnya di bandara


"Permisi apa anda pak Rafka?"


"iya itu saya. apa kamu orang yang menjemput saya?"


"betul pak, perkenalkan nama saya Tari. saya sekretaris manajer yang baru bekerja di restoran bapak disini"


"Oh ya udah antar saya ke penginapan"


"Apa setelah menyimpan semua barang bapak akan ke restoran?" tanya Tari dengan penuh antusias. Rafka menggeleng dia sudah cukup lelah dengan perjalanan belum lagi dia harus segera mencari kakek nya "Itu akan saya lakukan nanti bila semua urusan saya sudah selesai. siap siap aja inspeksi dadakan!"


"baik pak, kami akan menunggu kedatangan bapak" ucap Tari.


Sesampainya di penginapan Tari membantu Rafka dengan koper yang di bawa "Eh kamu ngapain?" tanya Rafka menghentikan Tari membuka koper miliknya "Ma...Maaf pak. saya sudah bertindak lancang. saya hanya ingin membantu bapak" Tari berdiri dan menatap ke lantai


"Kamu tidak perlu melakukan itu. tugas mu sudah selesai, pulang lah saya akan memberitahu atasanmu"


"Baik pak tapi sebelum saya pulang apa anda ingin makan sesuatu? saya jago dalam memasak. saya bisa membuatkan makan malam untuk anda"


"Siapa namamu tadi? oh ya Tari. Tari kamu bukan pembantu ku tidak perlu melakukan itu. patuhi aku dan jangan membantah nya aku tadi menyuruhmu pulang bukan? jadi pulanglah!"


"Ta.. Tapi pak..."

__ADS_1


Rafka memasang wajah kesal nya. melihat itu Tari mundur beberapa langkah lalu berpamitan pulang.


setelah memastikan tidak ada yang mengganggunya Rafka menelfon anak nya Doni. untung saja bocah berumur 10 tahun itu selalu menganggap Rafka adalah idolanya


"Vi, apa kamu tau dimana kakek tinggal di berlin?"


Vani keponakan Rafka memberinya sebuah alamat "Terimakasih Vi, jika bertemu nanti aku akan membawamu beli es krim sepuasnya dan ingat percakapan kita jangan sampai diketahui papa dan mamamu"


Rafka melihat sebuah alamat lalu mencari tempatnya dan ternyata itu adalah pusat rehabilitasi "Kakek sakit apa sampai perlu rehabilitasi?"


.......


keesokan paginya Rafka datang ke pusat rehabilitasi "Ini sih Rumah Sakit Jiwa ya? tapi kok nuansanya kayak hotel"


"ada yang bisa saya bantu pak?" seorang wanita yang baru datang bekerja menyapa Rafka dengan bahasa jerman.


"saya gak ngerti bahasa jerman. apa kamu bisa menggunakan bahasa Inggris saja?" tanya Rafka. wanita itu membungkuk lalu menatap Rafka


"Tentu saja bisa pak. apa ada hal lain yang bisa saya bantu pak?"


"Saya ingin bertemu seseorang mungkin dia pasien disini"


"Baik pak kalau begitu ikutlah saya masuk kedalam" Sambil menunggu di bagian pusat informasi Rafka melihat ke sekeliling. dia kira pusat Rehabilitasi akan ada banyak pasien sakit jiwa berkeliaran nyata nya tempat yang dia datangi sekarang jauh seperti villa dan tidak ada padien yang berkeliaran "Anda tadi mencari Tuan Sam, bukan? dia berada di kamar 57- 4i"


"Apa boleh saya melihatnya langsung?"


"boleh pak. bapak hanya perlu mengisi formulir ini setelah itu bapak boleh masuk"


"baik" Rafka mengisi formulir lalu tiba tiba suara familiar terdengar "dokter Hani. Apa anda akan bekerja hari ini?" tanya seorang perawat.


seorang wanita memakai baju pasien. menggeleng kan kepalanya "Aku pasien yang perlu perawatan. Bagaimana bisa aku bekerja?! berhenti memanggilku dokter aku sedang libur" suara itu penuh dengan nada bercanda.


wanita itu tampak cantik dan tidak ada beban pikiran "Baiklah. aku akan menandatangani nya bawa ke sini yang perlu ku periksa. setelah itu jika ada hal yang perlu lagi minta lah tanda tangan dokter Jerry"


Perawat itu memberi isyarat pada perawat yang menjaga pusat informasi "Permisi pak, karena pekerjaan saya tinggal sebentar jika sudah formulir nya. anda bisa taruh saja dimeja"


Rafka melihat ke mana perawat pergi dan dia melihat para perawat lain mengelilingi seorang wanita yang sedang menandatangani dokumen "Permisi ini saya harus ke arah mana jika ingin ke kamar 57-4i"


"Oh ke arah sana pak! permisi saya sedang terburu buru jika ada pertanyaan silakan tanya perawat lain" ucap perawat itu seraya membawa beberapa dokumen


"Apa apaan? dia kira hanya dia yang terburu buru?" oceh Rafka karena merasa hanya diawal dia dilayani dengan baik.


Rafka pergi ke arah yang ditunjukkan perawat namun dia tidak kunjung sampai di kamar 57-4i padahal dia sudah 30 menit berjalan "Hey kamu, apa kamar 57-4i belum ketemu sampai sekarang?"



-Ilustrasi Rafka


kini Rafka tau suara Familiar siapa itu


"Hana. Bagaimana bisa kamu disini? dan bagaimana kamu tau aku mencari kamar 57-4i!?"


"Aku mendengarnya saat menandatangani dokumen. sejak tadi aku ingin menyapa mu tapi tumpukkan pekerjaan menghampiri ku" ucap Hana.


Hana terlihat pucat dari pada saat dia ada di Indonesia tapi dia disini tidak nampak banyak pikiran "Kamu disini pasien atau dokter?" tanya Rafka sambil menunjuk pakaian Hana dari atas kebawah

__ADS_1


"hehehe Entahlah. seharusnya hari ini aku pasien disini"


"Kamu sakit apa?"


"Aku sudah sembuh hanya lagi tahap pemulihan saat ini" ucap Hana. Rafka tau Hana sedang menghindari pertanyaan nya itu sebab itu dia tidak menyebutkan nama penyakitnya "Kamu masih tidak ingat aku Han?"


"ingat aku ingat kamu. Rafka Hermawan satu satunya pria yang berjanji akan membuatkan bubur ayam untuk ku saat bertemu. itu betul kamu kan?"


Rafka mendengus kesal tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyum nya "Han, Han giliran soal makanan aja kamu ingat"


"Sehabis bantuin kamu ke kamar 57-4i. kamu buat kan aku bubur ayam ya Afka, jangan langsung balik ke Indonesia" Hana menarik tangan Rafka dan berjalan menyusuri lorong.


para perawat yang melewati Hana menyapa Hana dengan sebutan dokter Hani


"Kamu psikiater sejak tahun kapan?"


"Sejak aku lulus kuliah kedokteran"


"iya itu sih aku juga tau han"


Rafka masih menggenggam tangan Hana seakan akan itu adalah hal yang biasa "Siapa yang ingin kamu temui?"


tanya Hana.


Rafka tidak langsung menjawab tapi dia pada akhirnya tetap bilang "Dia adalah kakek ku"


"Kakek mu? maksudmu Tuan Sam?"


tanya Hana tidak menduga kalau pasien baru yang kaya raya itu ternyata kakek nya Rafka.


Rafka mengangguk "Sebenarnya walaupun aku bertemu dengan nya sekarang. itu tidak akan mengubah apapun tidak ada harapan untuk ku sejak ibuku meninggal dunia. Kakek lebih menyayangi cicit dari pada cucu nya sebab itu kakak kakak sepupuku yang sudah menikah memanfaatkan kesempatan itu untuk merebut usaha hasil kerja keras ibuku selama hidupnya"


"usaha ibumu bukankah seharusnya kamu yang mewarisinya?" Hana seperti membaca apa isi kepalanya Rafka. Rafka menunjukkan senyum sedih di wajahnya "waktu ibuku meninggal aku masih belum cukup umur untuk mewarisi usaha nya jadi kakek lah yang mengambil ahli dan aku tidak menduganya kakek akan memberikan nya sebagai hadiah bagi orang yang sudah memenangkan hatinya"


Hana mengusap wajah Rafka dengan tangan nya yang dingin "Semuanya akan baik baik saja. Aku yakin kamu akan mendapatkan hak mu sebagai putra tunggal ibumu. warisan nya, hasil kerja keras nya aku yakin ibumu ingin kamu yang merasakannya. walaupun satu harapan sirna, harapan baru pasti datang"


Rafka tertawa mendengar perkataan Hana kini dia terdengar seperti seorang psikiater yang menyakinkan pasien nya. Rafka menggenggam tangan Hana yang masih berada diwajahnya "Kamu tidak perlu khawatir tentangku. Yang perlu kamu khawatir kan sekarang adalah kesehatan mu. wajahmu semakin pucat, apa kamu mau ku gendong ke kamarmu?" Rafka menawarkan diri.


"Gendong?" gumam Hana tidak yakin. Hana menarik tangan nya dan wajahnya memerah karena malu "Tidak usah repot. di depan ada kamar kakek mu? kamu jauh jauh datang dari Indonesia untuk bertemu dia kan. Temui dia dulu aku akan beristirahat sambil menunggumu" Hana menunjuk sebuah kamar lalu dia berjalan menjauh "Hana... ke mana kamu akan pergi?" tanya Rafka.


Hana membalik kan badan nya lalu tersenyum ke arah Rafka "Kebun Kaca. Temui aku disana"


Setelah Hana tidak terlihat wajah Rafka memerah sampai ke telinga "Apa ini? Apa yang telah aku lakukan? Sejak kapan aku sama Hana jadi sedekat ini? Hana benar benar memperlakukan ku seperti pacarnya. Apa sebenarnya dia menyukaiku?" Jantung Rafka masih berdebar tak karuan. Rafka mencoba menenangkan dirinya tapi dia teringat kembali senyuman Hana "Ahh... aku pasti sudah gila!" Rafka mengusap wajahnya dan berusaha mengembalikan akal sehatnya


Rafka ada didepan pintu kamar kakek nya


TOKKK...TOKKK...TOKKK...


Rafka mengetuk pintu beberapa kali lalu seorang pria tua membukanya


"APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI?!"


.....


...

__ADS_1


..


.Berlanjut...


__ADS_2