The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
23. Pertengkaran


__ADS_3


Meskipun suatu hari pemandangan ini kan layu. Aku akan terus memenuhi manik matamu itu dengan luapan perasaan ini


------------


Tubuh Alin lega untunglah semua berjalan dengan lancar. Mr. Raf berhasil melalaui masa kritisnya walaupun tadi pas operasi kondisinya sempat nge drop dan membuat Alin takut setengah mati


Arzan yang melihat Alin mengecek kondisi Mr. Raf segera menghampiri dan meletakkan tangannya dikening gadis itu "Al kau nggak pusing, kau tau kau masih demam" Alin mengangguk dia mengecek tanggal "Iya aku tau aku akan tidur setelah ini"


Alin menghela nafas saat bersandar disofa "Waktunya sudah dekat" ucapnya seraya memandang Arzan. Arzan memeluk tubuh kecilnya sebelum dia terisak "Kau tau apa yang harus kau lakukan sebelum waktunya. Kau harus bertahan sebisa mungkin" Arzan menghelus rambut Alin.





Setelah beberapa minggu pasca operasi dan berobat Mr. Raf telah dinyatakan sembuh dari penyakit nya. Alin bisa kembali melakukan aktivitasnya, kali ini dia tinggal di mansion milik Ru.


Kali ini Alin bangun pagi untuk menyiapkan sarapan buat Ru dan yang lainnya. Saat matahari menembus jendela Alin kembali masuk ke kamar dan membuka jendela "Ru bangunlah ini sudah pagi bukan kah kau mau gotong royong dengan warga lainnya!" Alin duduk ditepi tempat tidur tanpa sadar tangannya membelai lembut rambut Ru.


Argh...


Ru menggeram kesal karena tidurnya terganggu, dia merasakan tangan lembut membelainya dan membuatnya ingin lebih lama lagi terlelap. Wangi mint yang menyegarkan tercium dihidungnya yang sensitif, merasa familiar Ru membuka matanya perlahan. Dia benar yang dia liat pertama kali adalah sebuah senyuman dari seorang gadis yang duduk diatas tubuhnya. Perlahan namun pasti Mulut Ru melengkung ke atas "Selamat pagi,Al" ucapnya. Alin menunduk dan mengecup keningnya "Selamat pagi juga" Alin turun dari tubuhnya dan hendak beranjak dari tempat tidur namun sayang langkahnya terhenti karena Ru memeluknya dari belakang "Morning Kiss?" gumam Ru seraya menyeringai. Alin mengecup pipi Ru cukup lama hingga pria itu merasa puas "Sudah" ucap Alin seraya mencoba melepas tangan yang melilit perutnya. Ru mengecup kening Alin "Wangimu menyegarkan" Alin tampak terkejut mendengar perkataan Ru, padahal dirinya habis memasak cukup lama didapur "Akh... Sudah sana cepat mandi nggak usah banyak alasan, dalam lima menit kalau kau tak turun aku akan membagikan semua sisa makanan ke yang lain" ucap Alin. Ru segera berlari ke kamar mandi seperti anak kecil


Brakk...


Pintu kamar mandi ditutup. Namun sesaat kemudian kepala Ru mengintip di balik pintu "Al, tolong ambilkan handukku!" ucapnya seraya nyengir. Alin membuka lemari besar lalu mengambil handuk serta baju kaus, celana, dan pakaian dalam milik Ru


Alin terkekeh saat melihat pakaian dalam Ru yang tersusun sangat rapi dilemari. Pas pertama kali tinggal dengan Ru dia merasa jengkel karena Ru melatakkan pakaian nya sembarangan


Alin menutup kembali lemari besar itu dan berjalan ke arah Ru "Ru jangan lupa bercukur" ucap Alin seraya menunjuk bagian dagu milik Ru yang mulai ditumbuhi rambut. Sejujurnya dia merasa geli setiap kali Ru mencium keningnya karena rambut kasar itu


Ru menghela nafas "Iya aku akan bercukur"


Selang beberapa menit Alin sudah duduk didepan meja makan, sembari menunggu Ru dia menatap lukisan pernikahannya yang baru tiga hari yang lalu diterimanya dari sang ayah.


Lukisan besar, berbingkai itu diletakan oleh Ru didepan meja makan.



"Kau sedang menatap apa?" tanya Ru yang seketika ada dibelakang Alin. Alin tersenyum masam "Aku menatap dirimu" dilukisan.


Ru duduk disamping Alin dan mengangkat piringnya "Al, suapin aku!" ucap Ru dengan nada manja kekanak kanakan. Alin menghela nafas dan dengan sabarnya menyuapi Ru dengan cepat


Pada siang hari Ru dan para warga pria sedang sibuk dengan gotong royong di hamparan rumput. Mereka ada yang membuat pagar pembatas dan juga ada yang memotong Rumput yang panjang sementara itu Alin dan warga wanita bekerja didapur membuat makan siang


"Nona ini tepungnya harus saya pindahkan kemana?" tanya seorang warga. Alin tersenyum ramah dan menunjuk meja dekat oven "Tarulah disana" ucapnya. Selama beberapa hari ini sejak Alin pindah warga jadi sangat ramah padanya, apalagi Alin dengan sangat senang hati mendengarkan keluhan warga bahkan dia menyembuhkan beberapa warga yang sakit


Saat alin hendak memotong sayur tiba tiba saja tangannya ditarik "Tak apa kau jangan takut" ucap seoarang wanita tua dengan baju compang camping. Alin memberanikan diri dan mengatur kembali detak jantungnya yang sempat mau berhenti "Ada apa?" tanya Alin. Semua warga menatap Alin, wanita tua itu meraba telapak tanganya suara parau nya gemetaran "Tangan anda indah, sangat indah

__ADS_1


namun sangat boros karena bisa menghabiskan 1 juta dolar dalam sehari. Ada banyak keinginan anda yang masih belum tercapai sebab itu anda selalu melampiaskannya dengan bekerja pagi hingga pagi. Aku tak bisa melihat masa depan anda, semuanya gelap. Satu hal yang ku tau diantara kalian berdua salah satu akan kehilangan bahkan akan sangat menderita" ucap wanita itu. Alin hanya bisa tersenyum masam mendengarnya sementara warga lainnya menatapnya dengan iba.


"Sudah nggak usah bahas itu, sekarang sudah hampir tengah hari mari kita percepat gerakan kita!" ucap Alin seraya mengalihkan topik.


"Nona, untuk minumnya kita akan buat apa?"


"Hmm, bagaimana kalau jus mangga?"


"tapi mangganya harus dipetik dulu didekat padang rumput"


"Ya sudah ayo kita petik dulu" Alin pergi bersama seorang anak perempuan yang menanyai tadi. Sesampainya disana Alin mendongak melihat pohon mangga yang sangat tinggi. Alin melompat beberapa kali hanya untuk menggapai buahnya baru 10 kali lompat dan Alin sudah kelelahan. Alin mengikat tinggi rambutnya dan melompat lagi kepohon namun kali ini dia memanjatnya "Hey kamu tangkap, buah yang ku lempar ini!" ucap Alin pada anak yang ada dibawahnya.


Sangkin keasikan memetik buah, Alin tak memperhatikan Ru dan warga pria lainnya yang tertawa dari jauh


"Nona benar benar unik, saya jarang bertemu dengan wanita seperti nya" ucap salah satu warga.


Ru tertawa melihat Alin yang dengan santainya berjalan dari satu batang pohon ke batang lainnya namun seketika Alin berteriak akh...


Ru merasa seakan jantungnya berhenti berdetak. Dia berlari ke arah Alin yang masih diatas pohon dan melihat Alin yang tengah menjauhkan lebah yang mendekat ke dirinya "menjauhlah!ihh sana pergi!" Alin menghalau lebah itu dengan melempar beberapa daun.


"Al, kau baik baik saja?" teriak Ru dari bawah. Alin menggelengkan kepalanya "Ru, aku alergi sengatan lebah!" Ru tersentak kaget mendengar nya, pasalnya setiap pagi Alin meminum perasan lemon dengan madu. Jadi Ru pikir karena dia suka madu, dia akan tahan dengan lebah. Wajah Alin memucat dia pernah sekali terkena sengatan lebah dan dia koma selama seminggu dirumah sakit karena alerginya.


Ru segera mengambil obor dan ikut naik ke pohon. Kini dua orang itu saling melindungi, Ru melindungi dari lebah Sedangkan Alin melindungi Ru agar tidak terjatuh dari pohon.


Ru membakar lebah itu hingga hangus. Alin menghela nafas lega dan bersandar dibatang pohon, dia teringat anak yang dibawahnya tadi "Nona kau tak apa?" tanya Anak itu dengan cemas. Alin menggelengkan kepalanya dari atas "Aku tak apa. kau kembalilah lalu kupas mangga itu, aku rasa segitu sudah cukup. Nanti aku akan menyusulmu!" teriak alin dari atas, Anak itu mengangguk dan berlari menjauh.


Ru duduk disamping Alin. Ya mereka berdua masih diatas pohon "Kau berkeringat!" ucap Alin seraya melemparkan sarung tangannya ke Ru. Ru mematikan obornya dan melemparkan nya ke bawah "Kau bodoh" dua kata itu keluar dari mulut Ru seraya menyeka keringatnya dengan sapu tangan Ru memandangi Alin yang masih pucat "Kalau takut lebah jangan manjat pohon!" Alin mencebikkan wajahnya kesal "Aku nggak takut aku hanya elergi" bantah Alin. Ru tertawa dan memandang ke arah depan dimana hamparan rumput luas terbentang "Al, pemandangan nya bagus juga" Alin mengangguk setuju "Kau benar, sebab itu aku suka berada diatas pohon selain sejuk pemandangannya juga bagus. Namun sayang pasti suatu saat pemandangan ini kan berubah" gumam Alin. Ru beralih memegang tangan Alin dan ia tersenyum "Biarpun berubah, kenangan tentang pamandangan ini selalu ada kan. Jadi nggak perlu bersedih" ucap Ru yang hanya dijawab Alin dengan sebuah senyuman tipis.


.....


Iya pada akhirnya tinggal satu lagi persiapan yang perlu dilaksanakan yaitu adalah memasang beberapa mesin pemantau.


Semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing begitu pula dengan Alin yang ada dirumah sakit "Alin kau begitu sibuk, setiap hari pasienmu selalu ada. Kenapa kau tak membuka rumah sakit dirumah dan mengambil keuntungan yang lebih banyak?" tanya jin an. Alin menggelengkan kepalanya, dia masih menatap laptop baru yang diberikan Vano sebagai hadiah pernikahannya "Aku sibuk dan tak sempat lagian prioritas aku juga bukan hanya menyembuhkan pasien, aku masih perlu melakukan beberapa riset obat untuk ....." Alin jadi mengoceh dan jing an dengan terpaksa mendengarkannya. Beberapa hari ini Alin lembur dan bahkan dia tak sempat pulang ke mansion milik Ru, sudah hampir satu minggu dia menginap di rumah sakit karena pasien yang tiada habisnya. Ya rumah sakit kota sekarang jadi rumah sakit yang terkenal dikalangan rakyat selain pengobatan nya yang ampuh disini juga tak dipungut biaya, Setiap dokter akan menerima gaji dari pajak kesehatan.


Sebenarnya ada begitu banyak dokter dipulau ini namun mereka kebanyakan bekerja di Istana dan membuka praktek sendiri. Menurut mereka bekerja dirumah sakit hanyalah menguras keringat sedangkan gaji yang didapatkan hanya sedikit.


Alin menghela nafasnya dalam sehari Ru menelfonnya sebanyak 49 kali namun tak satupun Alin angkat. Sekali dia angkat, Ru mengomel tiada henti


"A L I N. kau bodoh!..."





Alin menghela nafas lega akhirnya dia sudah bisa pulang, langkah nya sangat bersemangat mengingat tempat tidur empuk yang menunggunya dirumah, ya walaupun bukan hanya tempat tidur yang menunggunya malainkan ada seseorang juga "Pasti kena sembur" gumam Alin dengan pasrah saat mengingat gimana Ru mengoceh saat ditelfon.


Alin melangkah untuk membuka pintu "Assalamualaikum" ucapnya pelan. Tak ada seorang pun, mungkin Ru sedang kerja dengan teman temannya pikir Alin. Alin menutup pintu dan berjalan ke arah kamarnya "Oh my god!" pekiknya saat melihat semuanya berantakan mulai dari buku, berkas, pakaian, dasi, dll.


Alin mencoba memendam emosinya "Tenang, Al. Sabar!" ucapnya seraya menenangkan dirinya sendiri. Dia mengikat rambutnya menjadi sebuah gulungan "Oke Al, Let's Clean it!" Alin mulai memungut satu persatu pakaian kotor dan dasi kedalam keranjang cucian. Tak lupa dia merapikan buku dan berkas yang berserakan, dia mengganti semua seprai, sarung bantal dan gorden yang ada diruangan itu. Dia bahkan menyapu, ngepel dan melap kaca layaknya seorang pembantu. "sekarang tinggal nyuci!" ucap Alin.

__ADS_1


Saat memasukkan pakaian ke mesin cuci. Alin mendapat sebuah kertas jatuh dari saku kemeja suaminya. Kertas itu adalah bill, bukti pembayaran dari sebuah toko permata dikota "10.000 tael Emas" Alin sedikit menganga melihat harga gelang permata yang dibeli pria itu. Selama bekerja disini Alin bahkan belum menghasilkan uang tael sebanyak itu "dia mah holkay jadi bebas!" ucap Alin seraya tertawa miris. 


....


Selesai mecuci Alin hendak tidur, namun dia terganggu dengan suara Ru dan seorang wanita. Tampa melihatpun Alin tau siapa wanita itu 'pergi liat nggak ya? Akh, bodo amat aku sudah lelah' ucap Alin dalam hati seraya terlelap dan membiarkan Ru melakukan apa yang dia suka.


Setelah tidur cukup lama Alin melakukan aktivitas nya.  Didapur Alin melihat Shenna dan Ru yang asyik mengobrol, Alin pergi melewati mereka berdua dan mengambil segelas air "Kau dari mana saja?" Suara berat itu mengagetkan Alin yang sedang minum


Uhukkk.... Uhukkk...


Alin menatap Ru dengan tak percaya. Dia melihat kanan kiri bahkan belakangnya tapi tak ada orang "Yang kau maksud aku?!" tanya Alin. Ru menghela nafas dan mengangguk "Ya kau dari mana saja beberapa hari ini?" tanya Ru dengan nada kasar. Alin menghela nafas lalu mengambil pisau dan mulai mengupas buah. Ru hanya menunggu jawaban keluar dari mulut gadis itu tapi dia malah memakan buah yang dia kupas dengan santainya "Al?"


"Hmm..., menurutmu apa?"


Alin menaikkan sebelah Alisnya dan masih sibuk dengan pisau yang membuka buah. Shenna datang menghampiri keduanya dan menggandeng tangan Ru "apa?" tanya Ru masih dengan nada yang sama kasar ke Alin. Alin tertawa "Perhatikan baik baik apa yang ku lakukan" Alin membelah buah dari tengah hingga ke bawah kemudian jus keluar dari buah itu, Ru mengerti bahwa artinya selama ini Alin memegang pisau dan membedah pasien "Ini yang aku lakukan. Kau mau minta bukti?! Nih liat tangan dan mataku" ujung jari dan mata Alin masih merah bahkan Alin yang biasanya terlihat sempurna kini memeliki kantung mata.


"Aku nggak suka dikekang Ru. Aku aja biarin kau bebas bersama dia! Seharusnya kau Adil dan apa tadi dikamar huh?" Alin mulai terbawa emosinya dan menunjuk wanita yang masih setia menggandeng tangan Ru.


Ru menepis tangan Alin "Itu sudah kewajibanmu sebagai Istri dan kenapa kau bawa bawa Shenna dalam masalah ini?" ucap Ru dengan lantang. Alin tersenyum masam coba liat wanita itu selalu dimanja dan diperlakukan baik bahkan dilengan kanannya dia dengan sengaja menunjukkan gelang pemberian Ru "Ru biarlah bukankah Alin tak senang dengan hubungan kita? mungkin dia cemburu" ucap Shenna dengan nada yang dibuat manja seperti anak anak.


"Cih..." Alin memalingkan wajahnya lalu menatap Ru dengan cara yang sama kasarnya dan sangat tajam "ckck, kau lupa membersihkan kamarmu yang sudah kayak kandang kuda itu. Selama kau ku tinggal sendiri, Apa saja yang Kau Lakukan


T u a n Rumireo Radeya? Hmm apa kau sangat sibuk bahkan sampai tak sempat memasukkan pakaian kotor mu ke keranjang" Alin sengaja menekan kan namanya agar dia sadar diri. Ruan Ruo sedikit termenung "Jangan kau pikir aku tak tau. apa yang terjadi disini selama aku pergi..." gumam Alin seraya beranjak pergi.


Masih dengan pakaian tidurnya Alin mengambil dompet dan pergi keluar, dia tak peduli dengan teriakan Ru yang memanggilnya "Al, kau mau kemana? Ini sudah malam" Alin masih diam dan pergi mencari kereta kuda yang bisa ditumpanginya. Ru hendak menyusulnya namun dicegah oleh Shenna, perempuan dengan balutan gaun panjang itu berdiri didepan Ru dan berpura pura jatuh. Alin tau dia hanya pura pura saat sekali meliriknya. Moodnya berubah drastis sekarang 'Apa tadi yang dibilang wanita itu huh? Aku cemburu ckck yang benar saja. Aku emang tipe matrealis tapi aku nggak cemburu hanya dengan sebuah gelang seharga 10.000 Tael emas.  apa dia meremehkan ku hanya karena aku memakai celana kemanapun aku pergi dan terlihat seperti seorang pria. Aku tau dia memenangkan hati ru? Aku ingin memakai jilbab dan gaun panjang tapi aku sadar diri, ilmu agamaku masih kurang dan aku belum siap. Aku nggak mau nantinya sudah pakai jilbab, tapi kelakuanku masih seperti anak laki laki' ucap Alin dalam hatinya. sesampainya didepan Restoran Alin turun dari kereta dan membayar kusirnya.


Dia langsung masuk kedalam restoran "Assalamualaikum" ucap Alin dengan pelan. Alin meletakkan dompetnya diatas meja dan melesat untuk mengambil pay kukus buatan ibunya. Yang ada direstoran hanya diam dan tak berani menganggu wanita itu terlihat sekali kesuraman diwajah Alin.


Seorang wanita paruh bayah mendekati Gadis yang masih sibuk dengan pay nya "Ada masalah apa?" tanya Mrs. Sofia. Alin hanya menggelengkan kepalanya "Tak ada Ma. Alin kesini cuman mau mengecek kondisi papa" sebagai seorang ibu mrs. Sofia tau sifat anaknya yang selalu memendam masalah "Nak, mama tau kau lagi bermasalah dengan Ru. Tapi mama sarankan kau mengabarinya kalau kau ada disini, jangan buat dia khawatir" Alin menghela nafasnya dia mengambil ponsel didompetnya dan mulai mengetikkan sebuah pesan 'Ru aku tau kau masih bersama dia, kau tak perlu khawatir padaku karena aku direstoran papa. Apapun yang kau lakukan saat ini jangan lupa Sholat karena aku tau kau belum sholat sampai sekarang dan oh ya cepat kirim gadis itu pulang , dia sudah bermalam terlalu lama. Kalau kau mau menemuinya masih ada banyak waktu lain-_-'  Alin hendak mematikan ponselnya namun seseorang mengirimnya pesan 'Dear Alin ini aku Arzan. Kau disuruh prof. Alpha mencari bunga Jade Vine dan menelitinya. Tetap semangat Fighting*,*'


Alin menghela nafas padahal besok libur dia berencana untuk seharian tidur, Tapi ada lagi tugas. Jade Vine nama lain nya Strongylodon Macrobotrys tanaman itu langkah tapi masih bisa ditemukan. "Aku harap bisa menemukannya" gumam Alin.


Saat fajar tiba Alin sudah sibuk menebas tanaman yang menganggu jalannya. "Aish, kalau mama tau pasti mama bakalan ngoceh kayak gini nih 'Kamu tuh anak perempuan kok masih pagi mainnya sudah dihutan!' hedeh untung cuman izin ke papa" gumam Alin.


Disisi lain saat pagi Ru menjemput Alin dia sadar telah kasar pada gadis itu. Jujur setelah dia menerima pesan tadi malam dia menjadi lega. Dia pergi ke restoran "Pagi ma, pa!" ucap Ru seraya bersalaman "Eh ada nak Ru. Yuk duduk dulu mama buat kau kopi" ucap Mrs. Sofia. Kebetulan sekali Ru sudah jarang minum kopi biasa nya kalau ada Alin di rumah sarapan nya pasti teh lemon plus nasi atau roti. Mr. Raf menyesap teh nya lalu berkata to the point pada pria itu "Kau kesini menjemput Alin kan? Alin sudah pergi sejak tadi"


Ru mengerutkan keningnya 'Dia sudah pergi sepagi ini, kemana dia?' pikir Ru. Ru mencoba bersabar dan langsung menyesap kopi yang dibuat Mrs. Sofia kebetulan Mrs. Sofia sibuk dengan pelanggan lain "Alin pergi kemana pa? Apa ke rumah sakit" tanya Ru. Mr Raf menggeleng "dia bangun pagi dan langsung mengambil pedang. Katanya dia akan berburu dihutan" ucap mr. Raf. Ru semakin bingung "Berburu?" menurut kepribadian Alin, saat libur pasti dia bakal molor ditempat tidur. Mrs. Raf dengan santainya menepuk bahu Ruan Ruo "Bawalah pedang dan susul dia,  dia sedang berburu tanaman obat jadi kau pasti bisa menemukannya!"


....


"Wah pohonnya gede amat! Malah sejuk lagi" Alin sudah menemukannya. Nah sekarang yang jadi permasalahan bagaimana dia mengambil tanaman itu, dia melihat sekelilingnya namun tak ada benda yang bisa ia gunakan "Sudah lah nanti saja. Lagian tanaman itu nggak bakal kemana! Mending aku melatih seni anggarku lalu tidur sebentar" ditepi jurang dekat air terjun Alin melatih anggarnya dia menembas beberapa tanaman dan batang pohong dengan gerakannya. Sampai seluruh bajunya penuh keringat "Hah, emang cara terbaikku buat menghilang kan beban dengan bermain pedang...Hosh...Hosh..." Alin sempat memejamkan matanya selama beberapa menit sebelum memanjang pohon ditepi jurang itu, sialnya tanaman itu ada diujung batang pohon yang tepat diatas jurang "Oh my god, kalau aku jatuh bisa kelar hidupku!" untunglah batang pohon itu terlihat kuat dan begitu besar sehingga Alin dengan berani berjalan diatasnya. Hingga hampir di ujung pohon Alin akhirnya mulai merangkak untuk mengambil tanaman yang tergantung dibawah batang pohon itu. Jantung Alin berdebar tak karuan saat melihat ke bawah 'Please Fokus Al, Your life in your hands!' ucap Alin seraya meyakinkan dirinya.


Saat sudah berhasil mengambil tanaman itu Alin melemparkan nya ke arah keranjang dia takut kalau dia berjalan dengan tanaman itu dia bisa kehilangan keseimbangannya dan jatuh.


Alin....


Suara itu membuat Alin bergerak refleks dan membuat batang pohon bergetar dengan hebat dan sialnya dia yang sudah berdiri terpeleset.


Seketika jantung Ru berhenti berdetak saat melihat Alin jatuh dari pohon kedalam jurang ya walaupun dibawah jurang itu ada sebuah danau tatap saja ada kemungkinan 100% gadis itu nggak akan selamat "No, Alin" teriak Ru histeris.


__ADS_1



~•


__ADS_2