
Dear my Deariest
Ini peluangku, kesempatan ku
Mungkin banyak rintangan dan hambatan
Tapi aku yakin aku pasti bisa
Karena aku ingin bebas
Entah hingga kapan
perahu ini takkan berlabuh
Mungkin...
Menunggu waktu yang tepat
Atau bisa jadi menunggu angin berubah arah
Aku kangen Bunda...
Aku kangen Ayah...
Kangen Abang...
Dan kangen My Lucifeer
Miss you all...
- Alin Craetta -
•
...
"bisa nggak si kau lepasin aku,kau berat tau!"
Alin tersadar dan langsung berdiri namun yang dia anehkan tangan pria itu masih setia memeluk dirinya bukan hanya itu pria itu juga menatapnya
"Yaelah,tadi nyuruhnya lepasin tapi tuh tangan masih nempel. Matanya biasa aja dong nggak usah liatin aku sampaikan segitunya atau jangan-jangan kau lagi Nyari kesempatan dalam kesempitan ya?!"
Pria itu tersadar dan menggelengkan kepalanya "Ya enggak lah"
Alin tak mau kalah begitu saja "Eleh biasa Modus laki-laki kan gitu. Dasar malu-maluin"
"Apa kau bilang aku, modus sama kamu? Ya enggak lah orang kecil gitu curiga kau lagi yang modus" ucap pria itu yang berhasil membuat Alin kesal
"Bilang saja kau itu sama seperti Fans Girl ku yang lain. Aku akan memaafkanmu untuk kali ini Ndut!"
Sebelumnya Alin menahan emosinya namun kali ini tak bisa lagi "Kau pikir dirimu sapa ha?! Muka menyebalkan gitu dibanggain, SORRY ya ngelirik kau saja aku nggak sudi"
Pria itu terlihat kesal sama seperti alin sekarang "Apa kau bilang muka aku menyebalkan?! Oh... HELLO nona mata kamu rabun, picek atau buta muka tampan sedunia gini kau bilang menyebalkan"
Alin tak berbohong dia benar-benar menyebalkan jika saja pria dihadapannya ini memiliki rambut panjang dia akan terlihat seperti pria di air terjun tadi malam
"Maaf ya tuan, tapi seharusnya aku yang bilang kayak gitu tubuh langsing gini kau bilang Ndut"
Pria itu terkekeh dan meremehkan diri alin "Kau liat cermin, pipimu saja sudah seperti mantao"
"Wah...H E B A T! Hebat sekali aku memuji dirimu tuan. matamu berguna untuk orang lain tapi coba kau liat dirimu sendiri kau bahkan lebih Cantik dari banci Thailand"
"Emangnya kau siapa Nona?! Kau tau aku ini raja"
"Kalau kau raja maka aku Ratu"
"Aku pangeran"
"Aku putri"
"Aku mentri"
"Aku duta besar"
"aku seorang Letnan"
"Maka aku seorang komandan"
"Aku seorang pejuang"
"aku pendekar"
"aku seorang bintang"
"Aku model"
...
Ntah mengapa pertengkaran mereka menjadi di luar alur dengan kesal mereka menatap satu sama lain lalu mereka bicara serempak
"Aku seorang Pilot"
"Aku seorang Dokter"
Mereka terdiam setelah itu selang beberapa detik mereka tertawa bersamaan
Pria itu terdiam lalu Suara berat dan seraknya terdengar meremehkan "Bagaimana bisa Nyawa orang bergantung dengan mu Nona, kau bisa mengaku jadi apa saja tapi tidak dengan dokter"
Alin terkekeh suara lembutnya pun keluar dengan nada serius "Aku datang dari negeri Orang, terserah kau percaya atau tidak. Aku bahkan juga tak percaya kau seorang pilot"
Kedua profesi yang sama-sama memikul tanggung jawab yang besar salah-salah nyawa menjadi taruhannya
"Namaku Double R, pasti kau sering mendengarnya kan?!" ucap pria itu
"Maaf tuan aku nggak nanya namamu dan aku nggak peduli tentangmu, Sekarang pergilah aku juga harus pergi!" Gadis Kecil itu melangkahkan kakinya menjauh dari Pria itu
Mengejutkan sekali Pria itu menyusulnya dan menghentikan langkahnya "Namaku Rumireo Radeya, aku dari london"
Alin menatapnya dengan Jengah, dia memilih tidak meladeni orang didepannya itu
"Hey nona bukan kah tak sopan jika meninggalkan pria saat berkenalan!" ucap pria itu saat alin berjalan melewati nya
"Siapa yang meminta dirimu mengenalkan namamu?! Aku tak memaksamu tuan" Gadis kecil itu trus berjalan namun pria itu trus mengikutinya
Pria itu trus saja mengoceh dibelakang Alin ntah apa yang ia ocehkan "Bisakah kau berhenti mengikuti ku T U A N Ru!" ucap Alin seraya berbalik ia tak tahan lagi kupingnya sudah merah karena mendengarkan ocehan tak berguna
__ADS_1
Pria itu terkejut saat menatap wajah dingin Alin yang terlihat seperti ingin mencincang seluruh tubuhnya
"A... Apa, Aku tak sedang mengikuti mu! Aku ingin bertemu nenek ku"
Alin menyeringai dan terkekeh "Kau pikir aku bodoh Tuan Ruan Ruo, sudah jelas sedari tadi kau mengikuti ku. Kau mau ngapain, Mau bertemu Nenekmu itu atau bertemu Omaku!?"
"Te...tentu saja bertemu Nenekku"
"Kalau begitu kau mengambil jalan yang salah Tuan, jalan ini ke arah kamar pasien yang tengah ditangani Oma ku. Ms. Ruo yang kau cari tadi ada di Ruang Tamu dari sini kau ke arah sana lalu belok Kiri"
"Ya aku mengerti"
Pria itu berbalik dan melangkah pergi namun selang beberapa detik dia berbalik lagi "Eeh...nona Siapa namamu?!"
Alin menyeringai suaranya terdengar mengejek "Kenapa? Apa kau akan pergi setelah tau namaku"
"Iya cepatlah aku tak punya banyak waktu"
"Namaku Dokter Alin Craetta, kau puas sekarang?! Pergilah!"
Pria itu pergi dan berlari dari jauh Alin dapat mendengar teriakannya
"Aku akan memberitahu nenek seberapa menyebalkan dirimu!"
Alin mengusap wajahnya dengan kesal "Dasar Pria Gila!"
...
Alin merebahkan dirinya di kasur penginapan
"Eh kau ini anak Gadis, kenapa kau tidur sebelum mandi!"
Oma Alin mengguncang tubuh cucunya itu
"Hmm... Oma ku mohon 5 menit saja aku sangat lelah" ucap Alin seraya memejamkan matanya
"Ray cepat angkat kakakmu ini ke bak mandi cemplungkan saja dirinya disana" pintah Oma kepada Ray yang sedari tadi hanya duduk di sofa
Ray enggan melakukannya karena sudah pasti kakaknya itu takkan tinggal diam "Tunggu 5 menit saja oma, oma mending istirahat atau cari makanan diluar dulu aku bakal bangunin kakak nanti!"
"Iya aku akan cari makanan, pastikan kakakmu itu menyeka badannya sebelum tidur!"
Rayden terlihat senang kini dirinya aman "SIAP Komandan! Btw oma Ray titip 1 kaleng bir ya"
"Bocah Sialan kau sama kakakmu sama saja memerasku!" cibir Wanita tua itu
10 menit kemudian
"Kak ayolah bangun! Ntar kalau oma datang bisa tamat riwayat ku!" Ray mengguncang bahu alin
Alin hanya menggeliat sedikit "5 menit lagi" gumamnya
"Kak ini sudah lewat 10 menit bentar lagi oma akan balik. Dari tadi 5 menit mulu"
Alin melirik sebentar adiknya itu "Akh... Kau ganggu kalau gitu tunggu aku 4 menit 30 detik lagi" gumam Alin dengan marah
Brakkk....
Alin terjatuh dari atas kasur dan merintih kesakitan "Akh... Kau bocah ingusan beraninya kau menjatuhkan kakakmu ini" pekik alin seraya memegang punggungnya yang serasa remuk
Alin bangkit dan menendang sang Adik untung saja Ray selalu sigap sehingga dia dapat menghindari tendangan maut kakaknya itu
"Ampun kak!" pekik Ray yang sudah menjauh dari alin
"Sini kau, sedari tadi kayaknya kau trus-trus saja mencari masalah dengan ku"
Alin mulai mengejar adiknya itu dan... Ya Ray ketangkep alin menarik Telinga remaja pria itu hingga berubah warna menjadi merah
"Kak maaf, lepasin kak aku janji akan lakuin apapun?!"
"Janji?!"
"Ya aku janji"
Alin melepaskan tangannya dari anak nakal itu "Kalau begitu kau pergi belikan aku Pakaian dan sekalian pakaian dalamnya. Kau tau aku tak membawa apapun kesini dan oh... Ya mampirlah ke restoran Vrela dan pergi ambil keranjang bungaku disana!"
Ray melongo mendengar perintah kakaknya "Kak aku ini pria?! Ya kali kau menyuruhku membeli pakaian dalam wanita" harga dirinya bisa terluka kalau-kalau saat membeli itu ada salah satu temannya yang melihat
"He kau masih bocah dimataku, Apa sulitnya si? Kan tinggal bilang ke penjaga toko nya beli satu set pakaian dalam dan satu set luaran wanita dan juga jangan lupa minta mereka membungkusnya dengan kertas atau kantong plastik"
Ray memijat pelipisnya percuma saja berdebat dengan kakaknya itu berbeda dengan Kak Amy yang bisa dibodohi, kak Alin nya itu keras kepala dan sulit dipahami "Iya akan ku belikan mana uangnya?!"
Alin terkekeh melihat wajah cemberut adiknya itu "Ya pake uangmu lah kan kamu sudah janji bakalan ngelakuin apa aja masa kakak bisa belikan kamu baju dilondon dan kamu nggak bisa beliin kakak baju murahan disini"
"Ta.. Tapi kak..."
"Nggak ada tapi-tapian kan kau sudah kerja jadi Prajurit pasti sudah dapat gajikan, percuma uangmu kalau cuman disimpen di dompet harta nggak dibawa mati Ray!"
"Iyain dah"
Ray langsung keluar dari kamar meninggalkan Alin sendiri
•
•
•
"Ray dimana Rumah sakit disini?"
"Satu-satunya Rumah sakit ada di kota pusat kak"
Ray Asik dengan sarapannya sendiri
Alin melirik omanya "Oma mungkin beberapa bulan ini aku nggak akan bisa tinggal dirumah"
"Kenapa?"
"Aku diminta bunda untuk nempatin villa Ayah di daerah nggak jauh dari kota pusat"
__ADS_1
Gadis kecil itu mengingat percakapannya dengan bunda di telfon
"Trus kau akan pergi sendiri?"
Wanita tua itu menatap alin dengan tatapan sangat serius
"Kalau Ray mau dia juga bisa ikut bersamaku kan katanya Ray bekerja di kota pusat juga"
Ray menyahut Alin dengan bersemangat "Aku pasti ikut ! Akan ku bawa kan semua barangmu kak jadi kau tenang saja"
"Tapi Alin kau harus berjanji pada oma"
"Janji apa oma?"
"Kan nggak lama lagi ada festival panen bertepatan dengan hari lahir raja, aku mau kau ikut denganku ke istana"
"Eeh kenapa harus aku oma?! Kan masih ada papa, mama, Ray, kak Amy, dan juga kakak ipar" alin mengerucut kan bibirnya
Gadis kecil itu terlihat cukup menggemaskan saat mulutnya penuh dan ia mengurucutkan bibirnya. Oma alin sempat tak fokus karena tingkah cucunya itu "Aku mendapatkan undangan sebagai tabib kerajaan dan juga mengingat jasa kakekmu sebagai komandan besar, kerajaan mengirim undangan atas nama keluarga besar kita"
"Dan kau tau Si bungsu keluarga kita saat itu harus bekerja, mama mu menjaga Restoran dan papa mu tak bisa berpergian jauh sedangkan Kakak iparmu dia memiliki undangan sendiri atas namanya sebagai mentri Sosial dan budaya, trus ngarepin kakak mu?! Nggak banget deh paling dipesta nanti dia gantolan trus sama suaminya kemanapun ia pergi"
Alin tak berminat sama sekali dengan ajakan omanya itu "Lain kali saja oma! Kan Alin harus ngurus surat pindah ke RS kota"
"heh kan nggak lama acaranya!"
"Iyain aja kak" ujar Ray yang mulai jengah dengan sikap neneknya yang terus saja membujuk kakak kesayangan nya itu
"Hmm... Iya terserah lah btw Ray perasaan kakak dulu sudah beliin kamu sama papa ponsel Kenapa nggak ada yang aktif"
Ray menggaruk kepalanya yang tak gatal "Punya Ray sudah dibuka tapi nggak ngerti cara makainya, ngeliat itu ayah jadi nggak ngebuka punyanya juga. kata ayah enakan pakai telfon rumah tinggal angkat gagang telfon"
Seingat alin 3 tahun yang lalu dia membeli ponsel itu pakai uang tabungan nya mengingat harga ponsel itu tak murah "Percuma saja aku belikan yang mahal" cibir Gadis kecil itu
~•Keesokan Harinya
Di Villa ayah
"Selamat datang non!"
"Eeh... Iya"
"perkenalkan non nama saya Surti pembantu dirumah ini"
Alin tersenyum ramah "Bibi lupa sama Alin ya,kok pake perkenalan segala"
Wanita paruh baya itu menatap Alin dari atas sampai bawah "I...ini non Alin kecil itu?! Oh God... jadi beneran nona Al?, nona Al sudah besar dulu mah masih sebahunya bibi tapi sekarang bibi yang sebahunya"
"hehehe... Bibi bisa aja"
Alin melihat seluruh penjuru Villa 'Villa Modern yang satu ini nggak berubah'
Ada taman, Gazebo, dan sungai kecil di depan Villa yang lebih menguntungkan lagi Villa ini memiliki Rumah Kaca di halaman belakang
"Nona, kemarin nyonya nelfon ke sini dan bilang nona bakal tinggal disini dia menyuruh saya memberikan kunci ini"
"Ini kunci apa bi?!"
"Ooh itu kunci rumah kaca biasanya di pegang sama tuan, diantara semua tempat divilla ini tuan lebih sering menghabiskan waktu disana"
Alin teringat kembali kejadian pertama kali dia bertemu ayah dan ibu Angkatnya dia tersenyum mengingat setiap momen itu
"Makasih ya bi"
"Sama-sama non..."
Tiba-tiba Ray datang dari dalam rumah "Kak barangnya semua sudah dipindahin! Kakak nggak mau ikut aku ke kota pusat?!"
"Iya sabar ntar aku ikut, aku mau ganti baju dulu"
20 menit kemudian di Rs. Kota
"Pak, saya Dr. Alin Craetta ingin melamar untuk bekerja disini. Ini surat ijin pindah dan lisensi kerja saya sebagai dokter"
"Kau yakin ingin bekerja di Sini?!"
Pria tua itu menatap Alim dalam-dalam
"Tentu Saja"
"Kau belajar kedokteran dimana?!"
"Umm... Di Harvard medical School"
"Aku lulusan London, Dr. Alin Craetta dan aku belum pernah mendengar nama sekolah tinggi itu!"
Alin menunjukkan Map yang berisi penjelasan disana "Saya dari Boston Amerika Serikat" alin menjelaskan semuanya secara terperinci
"Ada satu hal yang ingin saya tanyakan padamu!"
"Apa itu pak?!"
"Kenapa kau memilih Rs. Kecil Dipulau ini bukankah dengan Prestasimu kau bisa bekerja Di Rs besar seperti di NYC atau London?! Banyak dokter muda disini yang tidak menyia-nyiakan bakatnya dan lebih memilih bekerja dilondon atau membuka Praktik sendiri seperti datang ke rumah pasien saat dipanggil"
"Kan seperti yang saya jelaskan sebelumnya pak, Saya dipindahkan kesini untuk membantu Kinerja medis yang kurang dan untuk melakukan penelitian obat. Ini bukan hanya keputusan saya tapi juga keputusan para Professor saya ya jadi walaupun Gaji saya tidak besar disini saya akan tetap mendapatkan Gaji dari mereka disana karena melakukan penelitian saya dipercaya mereka dan saya tidak akan mengecewakannya"
Pria paruh baya Terkekeh "Kau sangat mapan Gadis kecil, cara bicaramu sangat bijaksana dan jujur kalau begitu kau ku terima disini, namaku Dr. Ginbert lafaute biasa dipanggil
Dr. Gi jadi dengan ini Rs kita memiliki 3 dokter"
Alin bersalaman dengannya seyuman tak hilang dari wajahnya "Senang bisa bekerja sama denganmu"
Alin menghela nafas lega untuk saat ini karena semua berjalan lancar tapi dia selalu ingat kalau Ini baru permulaan dari awal perjalanan nya entah apa yang akan ia lewati di masa yang akan datang...
•
•
~•
__ADS_1