
Pernikahan yang bahagia
Dibangun diatas janji dan diuji oleh waktu
Setelah beberapa minggu terakhir ini Alin lebih fokus pada pasien pasiennya dirumah sakit bahkan dia terkadang tidak kembali ke istana, dia lebih memilih untuk tinggal di Villa keluarga angkatnya
Bicara tentang hubungannya dengan Ruan Ruo masih seperti sebelumnya. Sejak Shenna jadi selir, Alin sangat jarang kembali ke istana bahkan untuk sekedar bertemu dengan Ru, dia akan menemui Ruan Ruo dikafe milik Vrela.
Alin melihat panik saat seorang pasien menatapnya, dia tidak seperti dirinya yang selalu tenang. Dia mencoba untuk tak mengenali orang didepannya "Siapa namamu dan apa keluhanmu?" tanya Alin tanpa senyuman sedikit pun diwajahnya. Moodnya benar benar hilang saat melihat pria didepannya "Namaku Graywolton dan aku punya keluhan karena kehilangan nafsu makanku dan kepalaku selalu pening, kamerin aku baru sembuh dari demam" biasanya Alin langsung mengambil denyut nadi dengan memegang tangan pasien nya, namun kali ini dia tak menyentuh pasiennya walaupun pasien itu menawarkan pergelangan tangannya.
"Coba buka matamu lebar-lebar" Alin menyenter pupil matanya dengan senter kecil dipulpen "Kau terkena AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) yaitu gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh akibat infeksi HIV. Aku akan meresepkan obat padamu namun ini obatnya hanya akan mengurangi infeksi agar tidak menyebar dan menular, aku saran kan kau jangan berhubungan seksual"
"Oke makasih dok" ucap Gray pada Alin. Setelah Gray pergi Alin menghela nafas dadanya terasa sesak saat mengingat kejadian yang dulu.
Saat malam tiba di Villa keluarga angkatnya Alin, Ruan Ruo mencari Alin kemanapun tapi sama sekali tak menemukannya dan hujan dilangit semakin menjadi layaknya badai
"Alin kamu dimana?" teriak Ru di Rumah kaca, tempat alin biasanya
melakukan riset
Tak ada satupun jawaban disana dan akhirnya Ruan Ruo berlari keluar sambil membawa payung ditangannya, Ruan ruo coba pergi ke rumah sakit dan hanya menemukan orang yang disuruh mematai matai sekaligus menjaga Alin justru terbaring diruang rawat inap.
Hanya tinggal satu tempat yang belum didatangi Ruan Ruo. Ruan Ruo terus berlari dan melihat Alin meringkuk memeluk batu nisan Mr.Raf. Saat dia melangkah dan memegang tangan gadis itu, diliatnya wajah Alin yang penuh air mata bahkan saat papanya meninggal dulu dia tak pernah terlihat menyedihkan seperti ini. Alin menepis tangan Ru dan tubuhnya bergetar hebat dibawah air hujan "W...who are you?...Hiks.." ucap Alin dengan pelan. Sangat jelas wanita itu ketakutan, Ruan Ruo melihat mata biru Alin yang redup seperti tak ada kehidupan didalamnya "Al, ini aku Ru. Kau tak perlu takut"
Satu kata yang tak pernah dia harapkan keluar dari mulut Alin
"PERGI!" teriak Alin di iringi suara hujan yang semakin deras. 'Apa yang ku lewatkan hingga kau jadi seperti ini Al?' pikir Ru dengan hati yang sakit.
"Hiks...Jangan sentuh aku... Hiks... A..Aku mohon...Hiks...Hiks... Kau penjahat seksual yang tak tau malu...Hiks..." ucap Alin seraya memeluk lututnya.
Ruan Ruo tau pasti saat ini Alin sedang tak sadar "Al aku suami mu sayang, ayo kita pulang!" ucap Ruan ruo lemah lembut seraya mengulurlam tangannya.
Alin melihat uluran tangan Ru dan hendak menggapainya namun saat melihat tangannya sendiri dia tiba tiba menatap Nanar tangannya
"Hiks...aku nggak berguna, aku membunuh papa, aku membunuh opah...Kenapa aku begitu tak berguna?...Hiks.... Tangan ini bisa menyelamatkan orang lain namun tak bisa menyelamatkan orang yang kucintai, apa gunanya aku punya tangan...Hiks" Alin hendak menusuk tangannya sendiri dengan pisau yang selalu dia bawa, namun dihentikan oleh Ru. Ruan Ruo mengambil pisau itu dan membuangnya dikantungnya, "Cara ini mungkin berhasil!" gumam Ruan Ruo seraya menarik Alin ke tubuhnya dan memeluknya dengan kuat "Al, Ingat ini bukan salahmu! Hidup dan mati adalah takdir tuhan"
Mata Alin membelalak saat mendengar Ruan Ruo membisikkan sebuah doa ditelinganya. Tubuhnya tak sanggup lagi hingga akhirnya benar benar jatuh dipelukannya Ruan Ruo.
Alin membuka matanya dan ini adalah kantor papanya "Ada Apa ini?" tanya Alin seraya bangun tiba tiba saja kapalanya sakit hingga dia meringis Ruan Ruo langsung menghempirinya dan membantunya meminum obat "Kanapa kau minum Al?"
Alin masuh tak mengerti maksud pertanyaan Kemal "Minum apa?"
Ruan Ruo langsung menunjuk botol beer yang tergeletak didepan restoran dan juga ada Vrela yang terbaring mabuk.
"Aku nggak minum" ucap Gadis itu pelan. Ruan Ruo menyingkirkan botol botol itu "Kau dilarang untuk minum itu lagi"
Alin hanya bisa menghela nafas pasrah dia sungguh tak minum sedikit pun, emang awalnya dia mengajak Vrela untuk minum dan menghilangkan stress namun ternyata hanya dengan mencium bau minuman itu perut Alin serasa ingin muntah. Alin meminum Cola sebagai ganti nya namun siapa sangka efek obat sakit kepala yang dia minum tadi siang belum habis
"Oke aku janji"
"Oh ya tadi kamu ada bilang penjahat seksual, kamu ngomongin aku?" tanya Ruan Ruo dengan seringai nya. Alin mencoba mengingatnya "Nggak tau... Mungkin iya mungkin juga tidak karena itu semua terjadi diluar kesadaranku"
Ruan ruo tak mengambil hati perkataan Gadis kecil didepannya
"ya udah kau mau pulang atau tetap disini?" mengingat orang itu sudah kembali, Alin lebih memilih untuk bersama Ruan ruo "Aku akan ikut kamu"
.......................
__ADS_1
Setelah di Istana Alin menceritakan semua masa lalu nya "Jadi dia yang mengambil keperawananku. Walaupun Ibunya adalah tanteku beliau sungguh jahat, saat dirumahnya aku tak henti hentinya menunggu opah pulang didepan pintu" kenangan suram itu kembali ke ingatan Alin.
Hari dimana dirinya menjadi pemuas nafsu dan tentenya yang tau perbuatan anaknya justru membiarkannya saat itu umur Alin baru lima tahun dan dia sudah diperbudak oleh keluarganya sendiri. Ruan ruo sangat marah hingga kedua tangannya mengepal "Sekarang dimana keluarga itu?"
"Opah memasukkan mereka dalam penjara dan aku dengar desas desus nya mereka mati dipukuli. Aku nggak tau kenapa si Gray bisa kembali padahal dulu dia juga dipenjarakan"
Ruan ruo memeluk Alin dan mengecup keningnya
"Kau tenang saja, aku akan memastikan dia tidak bisa menyakitimu ataupun menyentuhmu"
Diruang kerja, Ru menyuruh pak Kim mengumpulkan dan mencari tau tautentang Graywolton "Kau tangkap dia, cari juga bukti yang bisa memberatkan hukumannya"
.......
Selang beberapa hari
Alin ditangkap oleh beberapa orang saat dia sedang bertugas di rumah sakit "Hey lepaskan aku..." teriak Alin. Alin mencoba melawan dengan menggigit jari jari mereka namun kulit mereka yang tebal seperti kulit badak dan itu hanya membuat kedua taring Alin terasa ngilu "Lepaskan aku..." Alin terus meronta dan menendang tak karuan arah "Diamlah!" Teriak pria itu dengan kasar. Mereka menutupi hidung Alin dengan sapu tangan yang sudah dibius dan kepala Alin seketika jatuh "Nah begini lebih baik... Kau saja yang bawa dia" ucap seorang pria yang bertubuh kekar "Cih...kenapa nggak kamu saja?" pria itu menggeleng "Kau tak liat tubuhnya kecil begitu, kalau aku yang bawa takutnya dia akan remuk. Ya sudah ayo jalan"
Pria itu mengangkut Alin layaknya mengangkut karung beras namun baru lima langkah
Brakkk....
Tubuh pria itu terpelanting ditanah
"Hidungku sudah kebal bau obat bius. Kalian bodoh" gumam Alin. Alin membanting pria itu lagi ditanah dan dia melihat pria bertubuh kekar berlari ke arahnya dan hendak menangkapnya dengan gerakam cepat Alin menghindar namun sayangnya seseorang memukul kepalanya dari belakang hingga iya hilang kesadaran.
Saat membuka matanya Alin melihat banyak orang dan beberapa orang yang ia ketahui adalah Kakak ipar nya Raveya Feratta, dan para mentri.
Mereka semua menatap ibah ke arah gadis kecil dilantai yang dingin itu, Raveya ingin membantu Alin namun sangat disayangkan dia dihentikan oleh mentri lain
Di atas singgasana Raja ada Shenna lalu Selir Sheng yang kedua matanya ditutupi kain dan ada juga seseorang yang ia kenal, dia adalah Ru dan pak Kim
"Nona Alin Craetta, Apa kau tau kenapa kau dibawa kemari?" teriak selir Sheng dengan marah. Alin meludahkan seteguk darah lalu menatap Selir Sheng yang tampaknya tak bisa melihat "Cih... Aku tak tau apapun" darah segar menetes dari mulut Alin lagi. Pukulan itu sangat keras sehingga membuat pundaknya memar dan dia berdarah.
Alin tertawa saat melihat rekaman itu jelas itu bukan dirinya. Dia kira orang disini nggak akan mengerti bagaimana pengeditan video,Ternyata dia salah "itu Editan!" ucap Ruan Ruo membela istrinya. Alin menatap wajah Ru yang sedih saat melihatnya
'Apa ini sudah waktunya?' pikir Alin.
Shenna bergerak ke arah seseorang dan dia datang didepan Ruan Ruo
"Yang mulia Raja selain melukai anggota keluarga kerajaan, dia juga mengkhianatimu dia sudah tidak perawan sejak kau menikah dengannya kau telah ditipu olehnya. Ini aku bawa buktinya..."
Shenna membawa Gray didepan Ruan Ruo "Aku yang mengambil keperawanannya dan dia kekasih ku" ucap Grey dan Ru pun langsung menghantam wajahnya.
Para mentri mulai bebisik satu sama lain sebelum suara tegas Ru terdengar
"Dia tak akan dihukum. Karena dia juga keluarga kerajaan bahkan dia istriku, siapa diantara kalian yang berani menghukum Ratuku?!"
Semua kepala mentri menunduk dan Raveya merasa lega setidaknya Ru berpihak pada Alin. Selir Sheng menyuruh pelayan nya untuk membawa sebuah kertas dan salah satu mentri membacakannya didepan umum "Ini surat perintah anda yang mulia. Disini tertulis siapa pun yang menyakiti anggota kerajaan akan diberi hukuman mati apapun statusnya. Disini juga ada cap stampel kerajaan dan tanda tanganmu yang mulia" jelas mentri itu.
Ruan Ruo terdiam dia telah ditipu oleh bibinya, dalam hatinya dia terus merutuki dirinya yang bodoh. Alin yang semula berlutut berdiri dihadapan mereka "Aku belum terbukti bersalah, Kenapa kalian mau menghukum ku hahaha kalian semua lucu sekali" suara tawa Alin membuat sebagian besar orang di ruangan itu merinding karena tawa itu bukanlah tawa yang megeksperesikan kesenangan ataupun kesedihan
"Aku Alin Craetta sudah lama tidak berada di Istana. Boleh aku tau tanggal berapa Selir Sheng mengalami kebutaan karena riset yang kulakukan?" tanya alin. Shenna menjawab tanpa berpikir "Bibi buta sejak kemarin pagi karena risetmu itu"
Alin menghela nafasnya "Ya aku emang punya Riset dan itu bisa melumpuhkan semua saraf kalau tidak berhati hati. Tapi aku nggak pernah membawa risetku ke istana aku hanya melakukannya di istana lama yang tak ada satupun orang disana dan digambar aku menuangkan sesuatu digelas Selir Sheng. Itu semua editan aku tidak pernah melakukannya, kau mau bukti dariku cepat kau panggil Marcell dan Vrela" ucap Alin. Selir Sheng menghentikan pak Kim yang hendak memanggil keduanya
"Untuk Apa? Bukan kah sudah sangat jelas kau yang melakukannya. Ru aku adalah ibu mu juga dan kau adalah raja bertindaklah adil"
Ruan Ruo tenggelam dalam pemikirannya dia mengingat Alin menceritakan tentang mimpinya, dia sadar jika dia berpihak pada Alin dia pasti akan kehilangan kepercayaan mentri mentrinya disisi lain Alin telah membantu perdamain kerajaannya dengan kerajaan utara dengan memberitahu penyebab penyebab pemberontakan rakyat.
Jauh didalam hatinya Alin bisa membaca pikiran Ru layaknya sebuah buku. Dam dia hanya memakluminya
"Lakukanlah yang menurutmu benar!" gumam Alin.
__ADS_1
Mata Ruan Ruo membisikkan berjuta kata maaf pada Alin "Alin adalah anggota kerajaan dan berhak mendapak keadilan juga dan untuk masalah dia mengkhianatiku itu tak pernah terjadi karena aku adalah yang pertama baginya"
"Dia akan mendapatkan keringanan, dia tidak akan dieksekusi...."
Belum Ru melanjutkan Selir sheng langsung menyahut "Nyawa dibayar nyawa maka mata dibayar mata. Itu lebih menguntungkan untukku aku nggak mau selamanya buta, dia wanita yang kejam aku nggak tau bagaimana dia didik dikeluarganya kalau bisa aku juga akan menghukum keluarganya karena pasti dia tak melakukan hal sekejam ini sendirian" ucapnya.
Alin terbelalak kaget "Ini tak adil bagiku, aku bukan wanita bodoh yang hanya akan diam jika dihadapkan dengan situasi ini. ini sungguh tak adil kalian menerima bukti darinya tapi tidak dariku, aku pastikan setelah ini kalian akan menyesal telah terlibat dalam hal ini. Oh ya pak kim kau tak lupa apa yang diberikan Raja dulu padamu kan?!" tanya Alin
Pak Kim mengeluarkan selembar kertas disitu tertulis oleh tangan tuan Lee sendiri "di sini tertulis apapun masalah yang dihadapi nona Alin Craetta dilarang disebarkan kepublik dan juga masalah itu tak ada sangkut pautnya dengan Semua keluarga nya. Siapa yang melanggar atau bahkan ada gosip tentang masalah itu yang bersangkutan akan dikenai sanksi oleh raja sendiri"
Alin dibawa oleh prajurit keluar dari ruang sidang. Dia tak menangis sehingga membuat geram Shenna dan juga selir Sheng "Besok adalah operasinya" gumam Alin didalam kamar putri Wei, wajah putri Wei merah dan basah karena air mata dia tau jelas kemarin pagi Alin terus bersamanya dia bahkan menunjukkan keajaiban gelas berisi teh yang awalnya berwarna biru di beri perasan lemon dan warnanya berubah jadi merah muda. Putri Wei benar benar tak terima dengan keputusan sidang itu namun dia tak bisa melakukan apapun setelah mendengar penjelasan Alin
"Itu percuma kak. Aku kekurangan bukti yang menunjukkan aku tak bersalah jika aku membawamu, Vrela dan juga Marcell bahkan jika itu Ru. Mereka juga tak akan percaya karena kalian orang terdekatku, mereka pasti mikir bahwa kalian membuat pernyataan semata mata hanya untuk membatuku. Aku perlu bukti kuat seperti video, rekaman atau apapun itu... Kak misalkan besok aku buta, mati, atau terjadi sesuatu padaku. Aku mohon kakak tetap bantu aku untuk cari bukti, agar aku bisa membersihkan namaku lagi!" jelas Alin yang diangguki dengan penuh tekad oleh putri Wei "Percayalah tidak akan terjadi sesuatu padamu!" ucap putri Wei menenangkan gadis didepannya
Malam itu Alin menelfon Arzan berulang kali namun sama sekali tak ada jawaban sehingga dia memutuskan untuk mengirim pesan suara "Arzan mungkin ini sudah waktunya, Aku mengaku kalah walaupun aku sudah berusaha menghadapi takdir dan merubahnya.
Aku seolah olah dikejar oleh takdir itu, terima kasih kau telah mambantuku hingga sejauh ini" ucap Alin ditelfon
Malam ini Alin menghabiskan waktunya dikamar dan merekam presentasinya tentang riset dia mengirim video itu ke email professor alpha "Ini yang terakhir. Mission complete" gumam Alin entah dia harus bahagia atau sedih untuk hari ini.
"Al, maafkan aku!" ucap Ruan ruo seraya memasuki kamar lewat jendela. Alin tersenyum "Tak apa, aku tau kau telah ditipu dan masuk kedalam jebakan mereka. Anggap lah ini terakhir kali aku membantumu untuk mendapatkan kepercayaan mentri mentri itu dan rakyatmu mulai sekarang jadilah raja yang bijak, jangan terlalu jujur kalau kau tak mau dimanfaat kan lagi. Aku selalu mencintai mu sayangku" ucap Alin dengan nada yang sangat tenang.
Diatas tempat tidur Ruan ruo membaringkan kepalanya diatas pangkuan Alin "Awalnya aku kira keputusanku diatas surat yang diminta selir sheng itu sudahlah benar. karena ego ku untuk selalu melindungimu bukannya melindungi itu malah berbalik menyakitimu aku minta maaf Al" ucap Ruan ruo seraya memejamkan matanya yang basah dengan air mata.
Alin menghapus Air mata pria dipangkuannya "Menangislah jangan ditahan luangkan semua kesedihan mu hari ini dan janji padaku kau tak kan menangis lagi untuk kesalahan yang sama. Aku sudah pernah katakan padamu jangan mengambil keputusan berdasarkan ego bukan? Salahmu sendiri tak mau mendengarkan, cukup sekali dan jangan dilakukan lagi" ucap Alin dengan sangat lembut.
Ruan Ruo menatap mata biru didepannya, mata itu tetap sama walaupun terluka dia tak pernah kehilangan kilaunya, mata itu bagai cermin perasaan nya Alin. Pernah sekali dan dia tak mau melakukannya cukup malam itu "Besok akan menjadi terakhir kali aku melihat mata ini. Al ayo ikut aku ke dermaga kita pergi dari sini dan memulai semuanya dari awal!" ucap ru seraya menarik tangan Alin
"Tidak semudah itu tuan Rumireo Radeya. Apa kau tak memikirkan rakyatmu? Kau baru saja berdamai dengan kerajaan utara dan kembali memenangkan hati rakyat. Kau mau perjuangan prajurit yang rela mati itu terbuang sia sia!" jelas Alin. Alin melanjutkan "Dengarkan aku Ru. Selain itu Kau jangan lupakan mimpimu sebagai pilot, bukan kah ada kesamaan menjalankan pesawat terbang dan juga menjalankan pemerintahan keduanya memegang beban yang sama berat dan butuh konsenterasi tinggi jika kau lengah kau akan jatuh. Firasatku mengatakan Mulai sekarang hidupmu akan jauh lebih berat jadi jangan putus semangat, ingat juga setiap masalah pasti akan ada solusi nya"
.............
Malam berganti pagi dan pagi berganti siang, Alin sudah berbaring diatas meja operasi di situ ada beberapa dokter kerajaan dan dr. Gi
"Dok, aku rasa aku akan mati" bisik Alin ditelinga dokter Gi. Dokter Gi mengangguk "ini sangat jarang, aku dengar mereka belum pernah melakukan operasi namun sekarang mereka melakukan operasi mata. Coba liat dari cara dia memegang pisau bedah ditangannya..." Alin bergidik ngeri "Kenapa bukan kau saja yang memimpin operasi ini? Jika terjadi sesuatu pada wajahku aku akan menyalahkan mu juga"
Dr. Gi kembali berbisik "Itu karena dokter ini dipilih oleh para mentri"
Alin menghela nafasnya "Sebelum aku mati dimeja operasi dok, aku mau minta maaf maaf untuk segalanya. Maaf aku sering ijin absen" drama yang dilakukan Alin dan dr. Gi menarik perhatian sejumlah perawat
"Aku akan merindukanmu saat mati"
Ruan ruo, shenna, selir sheng, pak Kim dan juga putri wei melihat dari atas. Ruan ruo melarang para mentri untuk ikut hanya Raveya sebagai kakak iparnya yang diperbolehkan.
Dokter itu sudah lengkap dengan pisau ditangannya "perkenalkan nama saya Yan tuo, saya merasa terhormat bisa mengoperasimu saat ini. Ayo kita mulai operasinya" Pria itu hendak membuka bagian pelipis Alin namun dihentikan "Apa apaan kamu ini? Aku masih sadar dan pasti merasa sakit, kenapa kau tak memberi annesti padaku.Kau amatiran ya?! Sekali kau melakukan kesalahan nyawaku bisa hilang" tanya Alin penuh dengan emosi. Putri wei sedikit tertawa 'Baru kali ini aku melihat Alin jadi cerewet' gumam putri wei
Alin mengajari Dr.gi Annesti dan dilakukan lah Annesti total (pembiusan total), pada awalnya semuanya berjalan lacar namun tiba tiba denyut jantung Alin tak stabil dan tekanan darahnya menurun
"Ini bukan lancar namanya! Akan ku bunuh kau jika terjadi sesuatu pada istriku" ucap Ruan ruo dan hendak masuk ke ruang operasi.
Pak kim menenangkan Ruan Ruo "Tuan tenang saja. Alin tadi menjelaskan kalau dia bisa saja koma setelah ini, namun dia akan segera sadar kembali pastinya" mungkin iya dan mungkin tidak.
Sebenarnya Annesti nya tidak seberapa berpengaruh pada Alin, karena tadi dia sempat melihat disela operasi Alin sempat mencengkram tangannya sendiri dengan kuat...
Dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah yang tak bisa diartikan
"Maaf tuan kami sudah berusaha sebaik mungkin..."
Ruan Ruo tak percaya apa yang dia dengar "Dia nggak mungkin meninggal, Alin ku nggak mungkin pergi..." Dr. gi membantu pak Kim untuk menompang Ruan Ruo yang sudah terkulai lemas di lantai. Ya mereka semua nggak ada yang menyaksikan operasi Alin hingga habis karena keributan yang dibuat Ruan Ruo "Tolong ikhlaskan apa yang terjadi ini..." ucap dokter Gi seraya menepuk pundak ruan ruo.
Sementara yang lain berduka,ada dua orang yang nampak senang "Jadi kapan saya bisa mulai operasinya dok?" tanya Selir Sheng yang di bantu Shenna berjalan dengan tongkat.
~•Tbc
__ADS_1