
Ketika Awan mulai menghilang dikegelapan, dinding keegoisan dibangun di antara keduanya....yang terdengar hanyalah sayup sayup...
Birunya melankoli sendu
Tok...Tok...Tok....
Arzan memukul batang bambu yang sudah dibentuk menyerupai kentongan dengan kayu. Mendengar suara itu Alin membalik badannya ke arah suara dan berjalan lurus, arzqn berpindah posisi lagi dan terus memukul kentongannya "Aku begini kayak ngelatih anak anjing tau Al!" gumam Arzan. Alin mendengus kesal, bisa bisanya dia disamain dengan hewan "Kalau aku yang jadi anjing, aku pastiin kamu kena rabies"
Alin lanjut berjalan ke arah suara "Al, Fokus! Bukan ke arah situ!" Arzan terus memukul bambu ditangannya.
Jika bukan karena Prof. Alpha yang menyuruhnya berlatih Alin bakal memilih tidur. Berbeda dengan orang buta lain yang memakai tongkat Alin lebih sering berjalan tanpa alat bantu apalagi semenjak dia sudah bisa bangun dari tempat tidur
"Aku tau kau disitu bisakah kau tunggu aku sampai dulu baru berpindah tempat. Kalau begini namanya kau curang" pekik Alin
Dari kejauhan Ruan Ruo melihat mereka berdua yang asyik latihan sebenarnya dia sudah dijelaskan oleh Prof.Alpha tentang latihan Alin sampai sekarang Alin belum bicara padanya. Saat Arzan melihat Ru yang berdiri, dia berlari kearah Ru dan memukul bambu lalu menyerahkan bambu itu ke Ru dia berbisik ditelinga pria itu "Aku beri kesempatan kau jadi jangan disia siakan" bisik Arzan
Alin makin lama makin mendekat dan Arzan sudah berlari pergi "Hey Tarzan... Tetap diam disitu kau berlari cukup jauh" teriak Alin. Alin mencapai tepat ditempat suara bambu itu dipukul dia menarik baju pria didepannya "Kan sudah ku bilang jangan Lari" ucap Alin seraya mengelap kringatnya dengan tangan.
Ruan Ruo diam mematung. Alin pun mendongak dan mencium aroma pria didepannya 'Ini bukan Arzan tapi Ru' pikirnya. dengan pelan dia membuka Suaranya "Ru..." seketika srbuah pelukan mendarat ditubuh nya
"ma...maaf" hanya satu kata yang keluar dari seorang pria dihadapannya. Alin hanya bisa tersenyum getir, mudah bagi semua orang untuk mengucapkan kata maaf tapi apa semudah itu memaafkan... Alin menghela nafas biar bagaimanapun Ru tetap suaminya adakah seorang istri yang membenci suaminya, jauh didalam hati Alin sebenarnya dia telah memaafkan dan tak memikirkan nya lagi baginya menjadi buta sudah takdir lagian juga ini hanya sementara sampai dia mendapat donor mata
"Iya aku sudah memaafkan mu" ucap Alin seraya tersenyum. Baru dia ingat tentang Shenna "Ru bagaimana kabar Shenna? Apa dia benar benar itu..."
"Itu apa?" ucap Ru seraya berpura pura bodoh. Alin mendengus kesal "Aku tau dia nggak hamil anakmu tapi apa perlu kau menghukum ibu hamil sekejam itu!"
Biar bagaimana pun ada Hak Asasi manusia disetiap negara dan anak yang dikandung Shenna nggak bersalah hanya otak mamanya saja yang bermasalah. Ru berdeham "Ini bukan keputusanku yang menghukumnya adalah ayah. aku hanya mengusirnya dari istana, sisanya adalah hukuman dari ayah"
"Tetap saja itu terlalu kejam" gumam Alin. Ruan Ruo menarik tangan Alin
"Nggak perlu dipikirkan"
Alin mengangguk dan mengalihkan topik pembicaraan "Hmm... Aku penasaran selama aku jadi sleeping beauty, apa saja yang aku lewatkan?"
"Aku berhenti jadi pilot" ucap Ruan Ruo
Alin terdiam masih mencerna perkataan Ruan Ruo "W...WHAT?" Tubuh Alin limbung ke belakang seolah olah dia bakal pingsan ditempat sekarang "But why?" tanya Alin. Ruan Ruo menggenggam erat tangan Alin takut dia benar benar tak sadarkan diri
"Saat itu aku memilih berada disampingmu dan menjalankan tugasku sebagai pemimpin kerajaan" jelas Ruan Ruo. Alin tersenyum sebenarnya ada rasa kecewa dihatinya saat ini, bukan kah itu impian yang diperjuangkan sejak dulu kenapa dia menyerah begitu saja?
"Kau tau bakal susah jika kau mau daftar lagi jadi pilot. Bukan kah kau bakal turun tahta itu artinya kau bakalan pengangguran. Tapi aku bisa menawarkan pekerjaan padamu bagaimana kalau jadi model? Dengan tubuh dan wajahmu kau akan cepat terkenal" Alin menyeringai walaupun matanya tertutup kain putih, itu bukan berarti mulutnya akan tertutup juga. Ruan ruo menggeleng "Seharusnya kau yang mengkhawatirkan dirimu sendiri"
Alin tertawa "Aku berencana jadi model juga, kebetulan aku punya kakak yang memerlukan model buta buat majalahnya. Dengan keadaanku seperti ini aku bisa membunuh pasien ditempat kalau jadi dokter"
"Kau menyerah untuk jadi dokter?"
Tanya Ruan Ruo tak percaya. Alin menggeleng "Aku tidak menyerah karena itu impian yang sudah ku perjuangkan. Aku akan kembali setelah mataku sembuh"
Arzan yang dari jauh mendengar ucapan Alin segera menggelengkan kepalanya. Sejak dulu Alin paling nggak suka jadi model baginya menjadi model sama halnya dengan jadi boneka, semua orang bisa jadi model biarpun dia buta. Sangat mudah bagi Alin saat ini jika dia ingin jadi model, dia hanya perlu mengikuti instruksi juru kamera
"Kau tak perlu bekerja, biar aku saja Al!" ucap Ruan Ruo. "Jadi apa yang mau kau lakukan?" tanya Alin
__ADS_1
"Aku bakal kembali jadi pilot karena itu impianku" Alin tersenyum puas jadi dia nggak sia sia membuka mulut jujur dia hanya berkata seperti itu untuk menyakinkan Ru.
............
Brakkk....
Lagi dan lagi Alin terjatuh dari tangga. Ini sudah untuk yang keberapa kalinya, Alin emang bisa menghidari apa yang ada didepannya dan mulai hapal yang ada di istana tapi untuk tangga adalah hal yang tersulit baginya
"Kalau begini terus aku bisa patah tulang" gumam Alin seraya bangun.
"Ouch..." kaki Alin terkilir Iya ini akibat baginya yang terus melarikan dari pengawal Ruan Ruo. Alin tipe orang yang nggak suka dijaga sudah beberapa kali Ru menyuruhnya untuk berdiam diri dikamar.
"Kalau aku keluar istana dan pergi ke kota mungkin aku bisa refreshing sejenak" dengan langkah Terpincang pincang Alin meraba tembok sangat diuntungkan tembok diistana memiliki ukiran yang berbeda disetiap tempatnya
"Ini didekat kandang kuda" gumam Alin tak percaya dia sudah jalan sejauh itu.
Tiba tiba sebuah suara yang familier mengganggunya "Dr.Ling Ling itukah kau?" tanya seorang gadis kecil. Alin menengok kearah suara dan tersenyum "Iya ini aku. Kau siapa?"
tanya Alin. Gadis kecil itu menggenggam tangan Alin "Dokter Ling ling tak bisa melihatku, tapi kenapa bisa tau asal suaraku?"
Alin tersenyum "Itu karena aku berlatih. Mataku sedang sakit jadi aku tak bisa melihat" alin menunduk dan dirinya bisa merasakan gadis itu meraba matanya yang tertutup kain putih
"Aku Nisha adiknya kak Marcell yang lumpuh. Berkat bantuan anda dokter kini aku bisa berjalan lagi" Alin emang membantu Nisha menjalani beberapa terapi dulu.
"Oh ya sekarang kau terlihat sehat" dari suara gadis kecil itu Alin bisa tau kalau dia Hyperactive. "Dokter mau kemana?"
"Aku mau ke kota tapi aku butuh gerobak petani yang sering ada disini"
"Oh gerobak itu, sebentar lagi akan datang. Apa aku boleh ikut dengan mu dokter?!" tanya Gadis didepannya. Alin menghela nafas "Ya boleh saja. Asal kau mau jadi mata untukku, bagaimana?" tanya Alin seraya menyeringai. Seketika Alin merasa aura dingin dari belakangnya dan segera berbalik "Kakak!" ucap Nisha.
Alin mundur beberapa langkah namun pria itu menangkap pergelangan kakinya "Kakimu terkilir Ling'e r. Kenapa kau berjalan dengan kondisi kaki seperti ini?" Marcell terus mengoceh seraya memijat kaki Alin. "Aku bosan jadi aku mau ke kota"
Alin berhasil lolos dari pengawasan penjaga gerbang dengan bersembunyi ditumpukan jerami
Sesampainya dikota Alin dituntun Nisha berkeliling, Nisha benar benar menjadi mata Alin "Ini tempat penjual herbal"
Alin meraba biji bijian di bawahnya, dia mengambil segenggam dan mehirup aromanya "Ini biji zaitun" gumam Alin. Marcell benar benar terkejut karena yang dibilang Alin benar yang dipegangnya saat ini buah zaitun.
"Hey bukankah gadis itu buta? Sayang cantik tapi buta" ejek salah seorang pemuda. Marcell ingin mengejar pria itu namun ditahan oleh Nisha yang mengikuti perintah Alin
"Hmm... Bisakah kalian membawaku ke air terjun?" tanya Alin. Nisha menjawab dengan penuh antusias "Tentu saja bisa, aku akan membeli beberapa makanan jadi kita bisa piknik disana"
Sementara Alin bersenang senang, keadaan di istana jadi sangat kacau
"Kak apa kau tak liat Alin?" tanya Ru pada putri Wei. Putri wei menggeleng "Aku tak melihatnya"
Seluruh anggota keluarga mencari Alin. Ru pergi ke istana lama tempat Alin biasanya berada namun dia hanya melihat Arzan yang tengah bersantai dibawah rimbunnya pohon
"Hey, Apa kau tak melihat Alin?" Wajah Ru tampak kelelahan, keringat membasahi sebagian besar tubuhnya. Arzan membuka mata sebentar lalu kembali tidur "Aku melihatnya tadi pagi dan dia yang menyuruhku bersantai disini sambil minum teh" gumam Arzan, Ru menarik kerah baju Arzan hingga Arzan pun mau tak mau menatap matanya "Kau pasti tau dimana dia, cepat katakan!"
Arzan mendengus dengan malas "Haa... Kau menganggu tidurku padahal tadi aku barusan bermimpi indah. Emosimu berlebihan Kenapa Alin mau menikah denganmu padahal enakan nikah denganku" oceh Arzan. Melihat tatapan marah Ruan ruo Arzan bergidik ngeri "Aku Jujur tak tau dia dimana, dia itu bukan tipe burung disangkar. Biarpun kamu memberinya sangkar emas sekalipun dia bakal tetap milih terbang"
"Bertanya padamu tak membantuku"
Ucap Ru seraya melepaskan kera baju Arzan
Saat Ru hendak pergi Arzan bergumam dengan keras "Aku tak tau dia dimana tapi mimpiku tau. Sekarang dia berada ditempat yang tinggi, dingin, dan sejuk, aku rasa kau perlu ke hutan"
__ADS_1
Ru melambaikan tangannya sebagai ucapan terimakasih dan berlari ke hutan tempat Alin biasanya mencari tanaman obat
Alin menguap saat kedua kikinya terendam dinginnya Air terjun "Ling Ling jangan terlalu pinggir ntar kamu jatuh" teriak Marcell. Alin tak menghiraukan ucapan Marcell dan terus bermain dengan air yang dibawahnya, Walaupun dia tidak bisa melihat namun dia bisa merasakan arus yang membawa air ini hal yang luar biasa dia rasakan dulu sat menikmati hal ini dia telah mengabaikan hal hal kecil namun sekarang didalam kegelapan walaupun tidak melihatnya Alin bisa membayangkan apa yang dia rasakan. Suara gemercik Air di padu nyanyian burung ditambah udara yang segar dengan aroma bunga, dia bahkan mampu mendengar suara daun yang saling bergesekan.
"Kakak, Dokter Ling Ling makanan nya sudah siap!" ucap Nisha seraya berlari ke arah Alin. Untuk sekilas Alin melihat pergerakannya 'Tunggu, apa ini mungkin?' pikir Alin dengan ragu. Bohong jika Alin hanya melihat kegelapan, awalnya iya namun karena sering keluar dia merasa masih ada cahaya yang masuk ke matanya dan pegerakan tadi dia melihat bayangannya.
"Ling Ling" Marcell menggucang bahu Alin sedikit. Alin baru sadar saat tubuhnya sudah diangkat oleh Marcell "E...Eh, apa yang kau lakukan? Turunkan aku"
Alin memberintak dan Marcell menurun kan Alin tepat didepan makanan yang disiapkan Nisha
"Hmm... Baunya lezat!" gumam Alin
"Iya ini bubur Ayam, biar aku suapi kamu dokter" ucap Nisha
Wajah putih Alin dipadu dengan kain putih yang menutupi bagian mata nya sudah menjadi pemandangan indah dimata siapapun, apalagi saat ini Alin sedang tersenyum senang "Benarkah itu bubur ayam? Kalau begitu kau perlu menyiapkan lebih dari satu mangkok untukku, kau tak perlu menyuapiku cukup tuangkan bubur itu ke mangkuk dan aku akan memakannya sendiri" Jelas Alin dengan nada ke kanak kanakan
Nisha mengangguk dengan semangat
"Mari kita balapan makan, siapa cepat dia bisa bersantai dan tak perlu mencuci piring" Sangkin senangnya Nisha membuat tantangan seperti itu.
Lima menit kemudian "Hiks...kalian penjahat yang menipuku" ucap Nisha yang kesal, walaupun mengoceh Nisha tetap membilas piring piring dengan air. Alin sudah menawarkan diri untuk membantu Nisha namun Nisha menolaknya "Dokter nggak perlu melakukan ini, yang seharusnya melakukan ini itu adalah kakak" ucap Nisha seraya memandang tajam ke arah Marcell yang sedang bermalas malasan dibawah pohon.
Alin menghela nafas "Bagaimana kalau aku menyanyi?" Alin berusaha menghibur Nisha yang masih kesal "Boleh dok"
......
Dihutan Ru digiring ke tempat Alin berada oleh suara nyanyian lembut sepanjang jalan dia mengingat suara yang sama seperti dimasa kecilnya
Saat melihat Alin duduk ditepi batu besar sendirian dengan kedua mata tertutup, mata Ru benar benar terbuka wanita berpakaian putih itu adalah wanita yang sama. Dulu Dia telah menyelamatkan hidupnya saat hampir tenggelam didanau dekat Istana lama 'Apakah ini takdir?' pikir Ruan Ruo.
Alin menghela nafas nya lalu memanggil Ruan Ruo "Sampai kapan kau akan memperhatikan ku dari sana?" Ya alin tau cepat atau lambat Ru akan menemukannya. Awalnya Marcell sedang pergi mengambil buah namun mendengar suara beberapa orang yang memanggil nama Alin dengan sebutan nona, dia segera memberitahu Alin ada yang sedang mencarinya. Alin menyuruh mereka berdua meninggalkan dirinya sendiri
karena kalau ketahuan Ruan Ruo mereka berdua bisa terlibat dalam masalah.
Ru duduk disebelah Alin "Al, aku ingin bertanya padamu tolong dijawab jujur!"
"Apa itu?" tanya Alin singkat
Ru menyiapkan mentalnya terlebih dahulu "Apa benar kau gadis yang menyelamatkanku saat masih kecil?"
Alin menggeleng "Aku nggak ingat" dengan tiga kata itu Ruan Ruo merasa kecewa karena Alin tak jujur padanya sudah jelas gadis kecil itu adalah dirinya namun sekarang dia ingin menyangkalnya "Aku kecewa pada mu Al. Aku sudah jujur padamu dan memperlihatkan sifat asliku padamu. Aku bahkan tidak menyimpan rahasia darimu namun mengapa kau berbohong? Kalau kamu jujur aku nggak bakalan dekat sama Shenna dan Salah aku juga sih percaya padamu, seharusnya dulu aku cari tau dulu tentang masa lalumu" ucap Ru dengan kesal karena geram Ruan Ruo mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih
Alin merasa bersalah "Maaf tapi aku sudah jujur aku nggak ingat kamu karena kejadian itu sudah sangat lama. Aku ingat kejadian itu tapi aku lupa namamu bahkan jika saat pertama kali kita bertemu aku mengenali kamu dan aku berkata aku yang telah membantumu takdir kita akan tetap sama, kau akan tetap bertemu dengan Shenna dan..."
"CUKUP! aku nggak peduli hal begituan. Pasti selama ini aku terlihat layaknya orang bodoh dimatamu, ya kan Al?!" ucap Ru seraya menyembunyikan wajah marahnya kearah lain. Alin tak tau bagaiamana ekspresi Ru saat ini karena dia tak bisa melihat. Ruan Ruo menjauhkan dirinya dari Alin saat Alin hendak menyentuhnya "Kau marah padaku Ru?" tanya Alin dengan sedih
Ruan Ruo menghela nafasnya karena melihat kain dimata Alin sudah basah karena air mata, Ru yang tahan melihatnya pun memeluk tubuh kecil
Alin "Aku nggak marah hanya saja Aku kecewa, aku sadar aku nggak cukup baik selama ini hingga kau pun hanya diam karena dirimu aku dapat pelajaran yang berharga. Aku mohon Al, lain kali jangan diam saja. aku janji aku akan berubah jadi yang lebih baik"
Bukannya makin tenang, Alin justru semakin merasa bersalah. Alin tersenyum seraya menghapus air matanya "Aku jahatkan Ru, Aku sadar diri kok sejak awal aku hanya seorang penipu. Aku telah menipu banyak orang termasuk orang yang aku sayang dan diri aku sendiri, walaupun aku minta maaf aku nggak pantas untuk dimaafkan" Alin teringat awal dia bertemu dengan Ru dan sepakat menikah dengan syarat diatas kertas, dia bahkan telah membuat kesepakatan dengan Tuan Lee sebelum itu.
Dia telah menipu banyak orang tentang pernikahannya yang terlihat bahagia, tak cukup itu dia menipu dirinya sendiri dengan berkata dia sudah melakukan yang terbaik. "... Jadi Ru apa yang akan kau lakukan? Kan kau telah mengetahui kebenaran tentangku!" tanya Alin
"karena aku berhutang padamu, aku akan menebusnya sebutkan satu hal yang kau inginkan dan aku akan mengabulkannya" Jelas Ruan Ruo yang masih berusaha meredam Amarahnya. Alin berpikir sejenak lalu berkata "Aku mau kau bebaskan aku sudah cukup Ru, aku lelah..."
Ruan Ruo langsung berdiri tak percaya apa yang didengarnya "Hahaha... Kau bercanda Al, sangat disayangkan hal itu nggak lucu. Kau baru saja menggoreskan luka padaku dan sekarang kau ingin menabur garam diatasnya, Hebat sungguh hebat aku kasih kamu dua jempol..."
__ADS_1
Tak ada yang bisa membaca pikiran Alin saat ini "Aku sungguh serius Ru. I just need a Freedom" tanpa bertanya pada Alin tentang kebebasan apa yang dia mau Ru yang sedang emosional pun mengambil kesimpulan sendiri "Oh Ok, jika ini yang kamu mau Alin Craetta aku Ruan Ruo atau yang dikenal dengan Rumireo Radeya menjatuhkan talak padamu dengan ini kau bebas dari ikatan yang disebut pernikahan"
~•TBC