The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
2.8 Cemburu


__ADS_3

"Afka..." Hana menegur Rafka karena genggaman nya yang terlalu kuat hingga membuat bekas kemerahan ditangan Hana.


"Apa yang kamu lakukan, kamu melukai lengan Hana?!" ucap Yoga seraya berusaha menarik Hana ke sisinya.


Hana bagaikan tali tarik tambang diantara mereka. Hana menghela nafas dia tidak tau mereka berdua memiliki masalah apa hingga bersikap seperti bocah yang berebut mainan. Hana yang muak ditarik sana sini oleh mereka berdua akhirnya berteriak marah "SHUT UP YOU TWO!"


"fu***ing H*ly *****. jika kalian ada masalah selesaikan sendiri jangan membuatku menderita!" ucap Hana seraya menepis tangan keduanya dan langsung pergi keluar kebun kaca. ditengah perjalanan nya keluar Hana berpapasan dengan dokter Jerry


"Dokter Hani aku perlu..." Jerry menunjukkan dokumen yang perlu Hana tanda tangani. tapi Hana hanya melewati nya dengan muka kesal.


Jerry melihat kedalam kebun kaca didalamnya ada 2 orang pria yang terdiam mematung mereka tampak shock dengan kepergian Hana "biar ku tebak Hana pasti habis berkata kasar didepan mereka. semoga saja mereka berdua tidak berakhir jadi pasien disini!" gumam Jerry sebelum meninggalkan kebun kaca.


Hana duduk diam setelah mengobati pergelangan tangannya ditepi dermaga dan tidak lama setelah itu Rafka dan Yoga menghampirinya secara bersamaan


"Han, maaf kan aku itu semua karena pria ini" ucap Yoga terlebih dahulu mendekati Hana. Rafka yang tak suka hanya bisa berdecak kesal dan diam "apa kalian berdua menyadari kesalahan kalian?"


Rafka masih diam sementara Yoga mengangguk "Dokter Yoga, aku menghormati mu karena kamu teman Hanzel sekaligus dokter yang di rekrut langsung oleh bundaku dan dipekerjakan oleh papaku. Aku tau kita sudah menghabiskan waktu cukup lama bersama sebagai Dokter dan Pasien. kamu menganggap aku seperti temanmu itu gak masalah tapi kamu bertindak jauh kelewatan kali ini? kita belum resmi bertunangan. Aku nggak suka kamu kekang, kamu gak perlu mencampuri dengan siapa aku harus bertemu, berteman, dan lain nya. Afka adalah tamu ku disini apa seperti itu sikapmu padanya saat pertama kali bertemu disini? aku kecewa sama kamu" Hana terus menasihati Yoga seperti emak menceramahi anaknya


Rafka masih berdiri diam diantara mereka dan selesai menasihati Yoga, Hana memelototi Rafka "Aku sudah cukup bicara panjang lebar padamu sebelumnya. aku harap dengan mendengarkan nasihat ku pada yoga kamu bisa merefleksikan dirimu dan menyadari kesalahan yang kamu perbuat jika kamu melakukan kesalahan lagi aku tidak akan membantumu" Hana pergi bersama perawat yang berjaga di pantai.


Yoga pun pergi meninggalkan Rafka sendiri tidak lama seorang perawat menghampiri Rafka "Anda Pak Rafka kan? Saya perawat yang disuruh bu Hana untuk membawa anda ke ruang dokter Jerry"


Rafka mengikuti Perawat itu ke ruangan partner kerjanya Hana. tidak ada seorangpun di ruangan itu dan perawat hanya menyuruh nya untuk mengisi formulir dan menunggu dokter Jerry.


Rafka melihat ruangan kerja dokter Jerry. disitu banyak foto Hana yang meraih penghargaan kedokteran dan banyak sekali foto mereka saat saling bekerjasama menangani pasien


"apa anda sudah puas melihatnya pak?"


Rafka membalikkan badan nya dan disitu sudah ada dokter Jerry. Rafka duduk kembali ketempat semula lalu langsung ke inti pembicaraan "Saya mau jadi pasien disini, untuk biaya nya itu tidak ada masalah bagi saya!"


Jerry mengerti karena Hana sudah menjelaskan padanya sebelum dia bertemu Rafka. lagian jika Hana sudah menyetujui nya Jerry tidak bisa menolak keputusan Hana


"Aku bukan pemilik pusat rehabilitasi ini. aku hanya seorang dokter dan tugasku merawat pasien. ada peraturan dimana pasien yang sehat tidak boleh terus berada disini berapa pun biaya yang mereka keluarkan" dokter Jerry diam sebentar lalu menatap mata Rafka "Kamu tidak terlihat sedang sakit atau punya masalah serius sehingga membutuhkan rehabilitasi. apa alasanmu?"


"Aku stress aku butuh pemulihan dan satu satunya tempat yang aku yakin bisa menyembuhkan aku adalah tempat ini. karena disini memperkerjakan banyak psikiater dan psikolog hebat selain itu kalian juga terkenal dengan kerjasama bersama rumah sakit lain. jadi aku bisa tenang disini" ucap Rafka tanpa ragu. Jerry mengangguk lalu menggeleng "banyak yang berpikir seperti itu tapi yang seperti kamu liat disini sudah cukup ramai. kami tidak bisa menerima pasien yang masih bisa rawat jalan seperti anda. kalau anda mau saya bisa jadi dokter anda disini untuk rawat jalan"


"rawat jalan berapa kali sebulan?"


"2 kali jika masalah nya ringan, dan 4 kali jika masalahnya cukup parah" mendengar penjelasan Jerry, Rafka segera menggeleng karena itu tidak sesuai dengan apa yang dia rencanakan


"Tidak bisa selama itu karena aku seorang pekerja. mungkin hari ini aku kebetulan disini tapi bisa jadi besok aku sudah harus balik ke Indonesia atau italia menurut ku itu tidak efektif jika aku dirawat inap disini proses penyembuhan bisa lebih cepat dan itu mempersingkat waktu pemulihan ku"


Jerry mengerti situasi Rafka sekarang lagian Hana juga sudah menyetujui dan menyuruhnya menerima Rafka ditempat ini "Baiklah kalau begitu aku akan memberimu stempel di kertas registrasi. kamu sungguh beruntung karena pemilik tempat ini juga sudah menyetujui nya"


Rafka memberikan Kertas yang telah dia isi dan Jerry pun memberi stempel dan tanda tangan di kertas itu "Kamu bawa kertas ini ke bagian administrasi. urus biaya nya setelah itu mereka akan memberikan mu kunci kamar dan jangan lupa nanti akan ada perawat yang memberitahumu jika sudah waktunya pemeriksaan kesehatan"


"Baik dokter, terimakasih"


ucap Rafka sebelum keluar ruangan.


didepan Ruangan Jerry seorang wanita menunggu Rafka "Bagaimana? apa sudah dapat stempel nya?"


"Sudah" ucap Rafka seraya memperlihatkan Kertas registrasi miliknya. Hana mengambil tangan Rafka lalu menariknya ke ruangan admistrasi


"Loh dokter Hani kenapa anda kemari?" tanya salah satu staf. Hana membenarkan kerah bajunya lalu melepas tangan Rafka "Aku menunjukkan arah pada pasien baru kita. ini kertas registrasi miliknya"


"Wahh... dia tampan sekali. apa dia pacarmu?" dari satu orang jadi heboh satu ruangan bergosip

__ADS_1


"Jangan mengada ngada. berhentilah bergosip sebelum diberhentikan, jangan membuat pasien kita menunggu lama jadi kembali bekerja!"


ucap Hana dengan Nada tegas.


para Staf akhirnya bubar dan kembali ke meja nya masing masing dan akhirnya Rafka dipanggil untuk mengisi beberapa formulir


setelah membayar biaya awalnya. Rafka diberikan kunci dan Hana langsung mengembalikan kuncinya "Jangan dikamar itu!"


"Ada apa dokter Hani? ini kamar yang cukup bagus"


"Berikan kamar yang letaknya di lorong 4i"


"tapi dokter disitu semua pasiennya pria paruh baya. pasien ini masih muda ntar dia merasa tidak nyaman dan semakin stress jika berada disekitar orang yang jauh lebih tua'


Hana menggeleng lalu menyeringai "Aku seorang psikiater disini hanya saja lagi cuti dan jadi pasien. Tapi aku tetap tau apa yang dibutuhkan pasien ini apalagi dia sedang stress. kamu sudah lama mengenal ku dan tau caraku bekerja, Apa kamu tidak percaya dengan saran ku ini?"


"Terakhir kali staf kami tidak mendengar kan mu. kondisi pasien yang stress memburuk, pasien menjadi gila dan dokter magang tidak bisa menanganinya. sekarang tentu saja aku percaya padamu. satu satunya kamar di lorong 4i yang masih kosong adalah kamar 60-4i terletak di ujung lorong menuju taman. ini kuncinya" Staf itu memberi Rafka kunci tersebut dan Rafka pun berterimakasih


"Maaf aku tidak bisa memberimu kamar tepat di samping kamar kakekmu. tapi kamu tenang saja setiap kali mau perawatan dan ke taman kakekmu pasti akan lewat didepan kamarmu"


"Iya ini saja sudah cukup. tanpamu rencana ku tidak akan berhasil sejauh ini" ucap Rafka. Hana menyeringai "Aku akan sering ke kamar mu untuk mengobati tanganmu dan jika tanganmu sudah sembuh aku akan ke kamarmu setiap kali aku mau makan"


"Hana kamarku bukan restoran. tapi jika kamu mau kesana boleh saja"


Hana mengantar Rafka sampai di kendaraannya karena Rafka harus kembali mengambil beberapa barang yang dia perlukan "kamu bisa mulai menempati kamar itu besok. beristirahat lah hari ini di tempatmu menginap" Jelas Hana.


Rafka naik ke mobil nya "Apa kamu tidak pulang?" tanya Rafka. Hana menggeleng "Aku pasien disini jika aku dokter mungkin aku akan pulang ke rumah setelah pekerjaan ku selesai"


"Jaga dirimu baik baik Han. sampai jumpa besok!" ucap Rafka sebelum menyalakan mobilnya.


"Pak... anda dari mana saja? Saya sudah kemari 3 kali tapi pak Rafka tidak ada ditempat dan juga tidak mengunjungi restoran" ucap Tari dengan nada cemas. Rafka yang sudah begitu lelah malas memberikan penjelasan


"Ada masalah apa sampai kemari 3 kali?" tanya Rafka tanpa basa basi atau mempersilahkan Tari masuk


terlebih dahulu. Tari menjadi gugup dan bingung harus menjawab seperti apa "Sa..Saya.." Tari melihat tangan Rafka


"Pak ada apa dengan tangan anda?"


tanya Tari seraya menaruh tempat makan dilantai dan langsung memeriksa tangan Rafka


Rafka menghela nafas dan mengusap wajahnya "Aku begitu lelah hari ini. aku mau istirahat jadi cepat beritahu aku apa masalahnya?"


"Ada penyambutan besok untuk pak Rafka ini semua memakai uang iuran kami jadi kami harap pak Rafka bersedia datang. saya disuruh pak manajer untuk memastikan anda datang besok" ucap Tari seraya melepaskan tangan Rafka.


Rafka menggeleng. dia memang seorang pemilik restoran tapi dia sudah memperkerjakan orang untuk mengurus restoran nya, mereka yang bekerja keras jadi buat apa dia yang disambut "Aku tidak bisa. kalau itu benar masalah pekerjaan di restoran suruh manajer kamu menghubungiku lewat telfon atau email saja cukup. tidak perlu mendatangi aku seperti ini kecuali benar benar darurat"


"Pak ini hanya sebentar saja. Lagian karyawan sudah menunggu lama dan mempersiapkan banyak hal untuk besok jika pak Rafka tidak datang semua kerja keras kami sia siap"


Rafka berpikir sebentar lalu mengangguk "Oke aku akan datang sebentar. khusus besok restoran boleh tutup" Rafka pikir dengan begitu dia bisa meningkatkan semangat kerja para karyawan nya


"Baik pak terimakasih. oh ya pak ini ada makanan khas Indonesia untuk bapak. jangan lupa dimakan pak karena ini menu terbaru yang akan kami jual di restoran" ucap Tari seraya memberi Rafka apa yang dia bawa "Apa ini juga perintah dari manajer mu?"


"Tidak pak, ini inisiatif saya sendiri" ucap Tari dengan senyum bangga diwajahnya. Rafka mengangguk dia menghargai usaha Tari "Kalau begitu terimakasih. ini sudah malam jadi kamu pulanglah!" ucap Rafka seraya menunjuk Jam.


Tari mengangguk lalu berpamitan. ketika Tari pulang barulah Rafka membuka pintu.


dia istirahat sebentar lalu bergegas mandi. setelah mandi masih hanya menggunakan Bathrobe Rafka duduk di sofa dan dibukanya makanan dari Tari "Wah Nasi Padang" melihat tangannya yang masih diperban seketika Rafka teringat Hana yang menyukai masakan Indonesia "Apa perlu aku VidCall dia ya? tapi nomor dia yang diberi Hanzel tidak pernah aktif saat ku telfon". Rafka merasa tidak ada salahnya untuk mencoba

__ADS_1


Rafka mengVidCall Hana tapi belum ada respon.


Cklekk...


suara pintu terdengar membuat Rafka kaget kini Rafka ingat dia belum mengunci pintu. Rafka mengambil balok dan siap memukul orang yang menerobos masuk ke rumahnya


Kyaaa ...


suara jeritan wanita menggagalkan Rafka memukul orang didepannya


"Tari, apa yang kamu lakukan disini?"


"Ma...Maaf pak. saya kemalaman tidak ada bus jam segini dan hp saya mati, saya juga ke sini membawakan obat untuk tangan bapak"


"ini sudah malam Tari"


"Iya pak saya tau itu"


"panggil Rafka saja. aku tidak terbiasa mendengarkan kata pak malam malam begini"


"Ra..Rafka"


"iya namaku Rafka tapi ingat jangan disebut saat bekerja. aku akan memesankan taksi lewat ponselku, kamu tunggulah" Rafka bergegas masuk dan hendak mengambil ponselnya yang masih memanggil nomor Hana.


"Rafka obatnya belum kamu ambil. Raf....ka" mengikuti Rafka dari belakang Tari terpeleset karena lantai yang habis dipijak Rafka basah. Rafka didorong ke sofa oleh berat badan Tari dan keduanya berakhir jatuh di atas sofa.


Tari berada diatas badan nya Rafka dan wajahnya seketika memerah "maaf pak... eh Rafka" Tari buru buru meminta maaf tapi dia tidak bangun dari atas badannya Rafka.


Rafka sempat kaget dengan kejadian yang begitu cepat. otaknya masih mencerna kejadian barusan setelah beberapa detik dia mendorong Tari "Kamu tidak apa apa kan? maaf aku habis mandi jadi kaki ku masih basah"


"Saya tidak apa apa pak. saya minta maaf karena ceroboh"


"Ya sudah saya pesankan kamu taksi dulu lalu pulang lah dan beristirahat taruh saja obatnya diatas meja" ucap Rafka. ketika melihat ponselnya ternyata Hana mengangkat VidCall yang dilakukan Rafka tadi. Rafka ceroboh karena tidak sempat mematikan panggilan yang dia lakukan


"Hana?!" Rafka kaget melihat wajah Hana di ponselnya terlebih lagi wajah Hana lebih merah dibandingkan biasanya "Hana kamu sudah dari tadi mengangkat nya?" tanya Rafka dengan nada canggung. dia berharap Hana tidak melihat kejadian yang barusan terjadi


dilayar Hana mengelap hidungnya dengan tisu lalu berbicara "Ya Barusan saja aku rasa dan aku melihatnya.mmm...aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk saling VidCall. aku matikan sekarang ya"


"Ehhh Tunggu!" Hana sudah mematikan VidCall nya sebelum Rafka sempat menjelaskan. Rafka menghela nafas dengan frustasi "Rafka? ada apa?" tanya Tari.


Rafka baru sadar lagi masih ada Tari bersamanya. dia dengan cepat memesan Taksi "Aku pesankan Taksi. Kamu bisa menunggu di dekat jalan. itu aku pesan dengan namamu kok dan kamu gak perlu bayar sudah saya bayarkan"


"Oke Rafka. terimakasih dan maaf soal kejadian yang tadi"


"Ya tidak apa apa"


setelah Tari keluar Rafka betul betul mengunci tempat nya. Lalu dengan perasaan gelisah kembali menelfon Hana


'Tuttt....Tuttt... Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi...'


"****, dia pasti salah paham"




•-Berlanjut...

__ADS_1


__ADS_2