The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
13. bersikap Adil


__ADS_3

Alin melirik kearah Ruan Ruo "Ada apa?" Kening Ruan Ruo berkedut "Ada apa? Kau tanya ada apa?" alin memutar mata kearahnya "Kalau kau tak ada urusan denganku, sebaiknya kau pergi!" pintah alin dengan wajah tanpa dosa.



"Kau sedari tadi disini dan aku mencarimu kemana-mana"



"Oh ya kau mencariku, aku baru tau. kalau kau mencariku kenapa kau nggak nelfon aja, jangan bilang kau nggak punya ponsel" ucap gadis kecil itu dengan santainya



hal itu tak pernah terpikirkan oleh Ruan Ruo tanpa basa basi dia langsung meraih ponsel alin dan menyimpan nomornya "Itu nomorku awas aja kau pakai untuk hal berbahaya"



berbahaya? 


'kau pikir aku psikopat atau hacker, kurang kerjaan banget aku kalau ngelakuin hal begituan' gumam alin dalam hati



"Bukannya yang seharusnya meminta nomorku itu kamu ya?!" 



"aku sudah menelfon nomorku dengan ponselmu sehingga9 otomatis nomormu tersimpan diponselku" ucap Ruan Ruo



alin menganggukan kepalanya "Ya terserah"



Makin lama Ruan Ruo semakin kesal sendiri "Kau sengaja kan! Kau bernyanyi agar aku ke sini mencarimu" Ruan Ruo menunjuk alin dengan jarinya



Alin memasang wajah polosnya "Bernyanyi, kapan?! Aku nggak pernah bernyanyi karena aku betul betul nggak bisa nyanyi"



"Kau berbohong!" ucap Ruan Ruo



"Kau kira aku makhluk sempurna apa! Biarpun aku bisa menari atau berdansa belum tentu aku bisa bernyanyi"



"Kalau bukan kamu berarti orang lain. Kira-kira siapa ya? " gumam Ruan Ruo



Alin mengendikkan bahunya "Mana ku tau! Aku tadi nggak mendengar suara apapun atau jangan jangan kau ada yang ngikutin"



Ngikutin?


Apa dan siapa yang ngikutin?


Muka Ruan Ruo perlahan menjadi pucat saat imajinasinya itu sudah diluar batas



Alin menepuk pundaknya "aku bercanda, nggak usah dibawa serius kali Ru"



Ruan Ruo kembali ke akal sehatnya dan tersenyum "Sejak kapan kau memanggil ku dengan Ru?"



"Ntahlah kalau tidak salah sebelumnya aku memanggilmu Tuan Ru tapi kau terlihat seumuran denganku, buat aku bersikap formal didepanmu!"



"Kalau begitu aku juga akan memanggilmu Al"



"Ya terserah" ucap alin seraya tersenyum samar



"Al, apa kau yang meminta ayah untuk menjodohkan kita?"



"Nggak tuh"



"Trus kenapa dia keras kepala biarpun aku sudah menolak keinginannya itu?"



Seraya mencabut tanaman didepannya gadis kecil itu berkata "Dia Orang Tuamu, seharusnya kau lebih tau dibandingkan diriku"



Ruan Ruo ikut memetik tanaman seperti yang alin lakukan "Pokoknya kita harus menghentikan pertunangan ini" ucap Ruan Ruo dengan penuh tekad



Alin mengangguk setuju "Ya aku setuju dan aku mendukung mu Tapi jika kau ingin menyuruhku untuk mencari alasan menolak pertunangan ini, aku menyerah!"



"Kenapa? Kau sudah menyelamatkan ibuku karena itu ayah pasti akan mendengarkanmu"



Alin mendengus kesal "Aku sudah coba dan tidak berhasil, ayahmu sama sekali tak mendengar kan aku"


Ucap alin seraya kembali mengingat sikap raja didepannya



Melihat aura disekitar alin menjadi suram, Ruan Ruo tiba-tiba saja langsung berdiri dan menarik tangan kecil gadis itu "Kau nggak perlu bertindak karena alasan yang kau pakai pasti sangat payah, aku punya alasan bagus sehingga pertunangan kita tak akan dilanjutkan"



"Silakan saja kau coba tapi kau harus ingat jangan sampai kelewat batas!" alin memperingatkan ruan ruo dengan menunjuknya



Ruan Ruo terkekeh "Iya aku nggak bakalan kelewatan kok. oh ya btw kamu kok tenang tenang aja gitu, kamu nggak keberatan dengan pertunangan ini?!"



Alin merajut alisnya lalu tersenyum "Aku nggak keberatan. Kau tau apapun keputusan yang telah ku ambil aku tidak akan menyesalinya"



"Tapi kenapa? Kan hidup kita berdua sudah pasti akan hancur akibat pertunangan ini"



"Dari mana kau tau hancur atau tidaknya? Kamu itu manusia bukan tuhan. terkadang untuk mengambil keputusan yang sulit kita harus berpikir layaknya seorang bocah"



"Berpikir layaknya seorang bocah, apa maksud perkataanmu itu?"



Percuma jika dia hanya menjelaskannya dengan kata-kata jadi dia menarik tangan Ruan Ruo ke tepi


"Kau liat ada apa dibawah?"



Ruan Ruo melirik ke bawah "Ada kolam"

__ADS_1



Alin menyeringai "Apa yang biasa dilakukan bocah dikolam?"



"Berenang, mungkin?" jawab Ruan Ruo dengan ragu



Alin semakin menarik Ruan Ruo ke tepi bersamanya "Kali ini kita akan jadi bocah, cobalah berpikir layaknya anak kecil dan kita akan melompat bersama"



Wajah Ruan Ruo yang awalnya putih menjadi hijau, lalu kembali keputih pucat dia mundur beberapa langkah "Kau Gila, ini lantai 2 kau liat jarak antara kita dengan kolam itu cukup jauh bisa bisa kita jatuhnya ke lantai dan bukan ke kolam"



Alin menghela nafasnya dan mencoba tetap tersenyum dengan sabar "Ayolah, aku ada disini kalau kita berdua terluka aku akan segera menyembuhkan nya. Berpikirlah seperti anak Kecil Ru!"



Ruan Ruo hendak protes lagi namun sayangnya saat dia tidak siap alin sudah menarik tangannya dan berlari



1



2



3



Kyaa!


BYURRR...


Keduanya jatuh ke dalam air, Alin tidak melepaskan tangan Ruan Ruo


sedetikpun. Seraya menyisir rambut basahnya ke belakang alin melirik Ruan Ruo "Hahaha, Bagaimana? Tak terjadi apapun kan?"



Ntah mengapa perasaan Ruan Ruo menjadi lega dan pikirannya Rileks setelah melakukan hal bodoh itu "Kau butuh Psikiater al!" gumam Ruan Ruo seraya terkekeh. badan Ruan Ruo cukup tinggi sehingga dia pun hanya tenggelam sedadahnya aja sedangkan alin dia masih berenang karena kakinya tak mencapai dasar kolam.



"Sudah ku bilang semua akan baik-baik saja, kau tidak perlu memikirkan hal hingga sejauh itu"



Ruan Ruo kini mengerti maksud tindakan alin ini. Biarpun dia memilih keputusan yang salah dan sangat beresiko, Resiko itu masih bisa diolah. semua hal memiliki resiko bahkan tidur pun punya resiko tersendiri, tidak ada yang tau apa yang akan terjadi kedepannya. Sebab itu alin bilang dia tidak menyesal dengan keputusan yang telah dia ambil.





.........



Kedua keluarga berkumpul di ruang kerja raja "Jadi keputusan aku sudah bulat, aku nggak mau menikah" ucap Ruan Ruo seraya menatap semuanya tak terkecuali alin



Sang raja berdeham cukup keras "Ekhm...  Apa kau berniat menentang keputusan yang telah aku k


Buat, anakku?!" sang raja menekan kata anakku dengan sangat jelas.



Awalnya Ruan Ruo sedikit takut namun suara alin yang sebelumnya terdengar kembali dipikirannya 'Apapun keputusan yang ku ambil, aku tidak akan menyesal!' Ruan Ruo sudah menguatkan hatinya walaupun dia harus melawan ayahnya sendiri dia akan tetap dengan keputusan nya.




"Alasan, Alasan apa yang cukup kuat sehingga kau berani menentang kepetusan yang telah kubuat?!" wajah sang raja merah padam



Ruan Ruo berpikir sejenak "Kita berdua berbeda kepercayaan!" dia nggak tau tentang alin bahkan agamanya pun dia nggak tau



Sang Raja menatap Ruan Ruo dengan penuh selidik "Sejak kapan kau berubah kepercayaan dan apa agamamu sekarang?!" nada bicara sang raja sangat tinggi saat ini



Dengan Jujur dan berani Ruan Ruo berkata "Sejak aku mulai menjadi Pilot, Islam menjadi agamaku!"



Alin tak bisa menyingkir kan rasa terkejutnya, dia mengusap wajahnya dengan gusar 'Gagal sudah!' gumam alin tanpa didengar siapapun



Ruan Ruo berdiri ditengah tengah keluarga dengan bangga nya. "Kita berbeda jadi kita tak bisa bersama" ucapnya lagi seraya menegaskan keputusan nya



Ruan ruo tidak memperhatikan raut wajah alin yang sudah terlihat putus asa, semua orang hanya diam tak berani berbicara hanya sang Raja yang tertawa dengan keras "Hohoho, itu artinya kalian berdua emang ditakdirkan untuk bersama, semoga tuhan kalian melimpahkan semua kebahagiaan"



Ruan Ruo menjadi bingung dengan perkataan raja, akhirnya dia melirik alin diujung sofa dan memberinya bahasa isyarat



'Ada apa ini?'



Alin yang menangkap maksud Ruan ruo langsung menatapnya tajam


'Berakhir sudah, semuanya kacau!'



Wajah Ruan Ruo sempat menjadi pucat 'Apa maksudmu? Aku salah bicara'



Alin mengangguk 'Ya, makanya mikir dulu kalau mau ngomong'



Ruan Ruo mengusap hidungnya lalu melirik tajam alin dengan kedua matanya 'Ckck... Itu semua karena Kau tidak memberitahuku!'



Alin menggigit bibir nya lalu melotot kearah Ruan Ruo 'Itu karena kau tak bertanya'



Ekhmm...


Keduanya langsung mengalihkan pandangan ka arah lain yang berbeda



"Ckck, kalian berdua ini belum menikah saja sudah memakai bahasa hati" ucap Ms. Ruo (neneknya Ruan Ruo).



Ruan Ruo mendengus "Biarpun aku memiliki kepercayaan yang sama tetap saja aku tak sepemikiran dengannya, gadis kampungan sepertinya mana bisa dibandingkan denganku yang telah berkelana ke barbagai tempat lewat udara" ucap Ruan Ruo yang membuat alin memutar mata ke arahnya


__ADS_1


'Pria bodoh! kenapa tidak sekalian aja kamu bilang, kalau kamu makan besi sedangkan aku makan nasi' gumam alin dalam pikirannya



Sang raja kembali tertawa "Kau ini, kalau buat alasan cari tau dulu fakta yang ada. Kau belum tau kalau alin juga seseorang yang belajar dilondon, dia bahkan lebih hebat darimu karena dia bisa mendapat biaya siswa penuh sampai dia lulus"



Kali ini Ruan Ruo yang menganga karena terkejut 'Dia betulan dari london?' gumam Ruan Ruo



Kepercayaan diri Ruan Ruo mulai menurun namun seketika seseorang menepuk pundaknya. Ya dia alin yang ikut berdiri disampingnya, alin tersenyum samar kearahnya lalu mulai serius dengan raja "Yang mulia, bukan kah hamba sudah bilang agar anda menjelaskan perihal ini kepada putra anda dengan sejelas jelasnya! Aku tidak mau jika Ruan Ruo harus terpaksa menerimanya" ucap alin diiringi dengan senyuman yang dapat mempesona setiap orang.



Disela sela senyumnya Alin berbisik ditelinga Ruan ruo 'Cobalah sesuatu yang anti mainstream'



Ruan Ruo seketika mengingat lalu dia menarik tangan alin bersamanya "Ayah aku bukanlah pria yang baik bagi alin, hatiku telah menjadi milik seseorang dan aku ingin menikahinya"



Kemarahan sang raja tak bisa lagi dibendung dia memukul membanting meja didepannya



Brakkk...


Dengan suara seraknya dia berkata


"Siapa Wanita itu?"



"Di... Dia... Pramugari di maskapai penerbangan yang sama denganku"


Ucap Ruan Ruo gelagapan



Alin ingin tertawa mendengar nya 'Alasan Cinlok tidak buruk juga' pikir alin



"Kau bersama pramugari, yang bertubuh seksi itu. Kau tau mereka tidak ada bedanya dengan pelacur dirumah bordil"



"Kalau kau tidak menikah dengan alin, jangan harap kau bisa kembali terbang" sang Raja duduk kembali disinggasananya



Ruan Ruo marah dengan sikap keras kepala raja "Ayah kau tidak bisa menahan ku. kalau perlu aku akan meninggalkan kalian semua sekarang juga dan tidak akan kembali lagi" Ruan Ruo menunjuk raja dengan tangannya lalu mengepalkan tangannya sehingga membentuk sebuah tinjuan



Ms. Ruo sebagai yang paling tua, akhirnya membuka suara "Jangan kayak gitu nak, apa kau tak kasian pada nenekmu ini?! Nenek sudah tua dan hampir berumur seabad kalau kau meninggalkan nenek, nenek akan hanya punya moment buruk untuk dikenang"



Ruan Ruo melirik neneknya dengan miris "Nenek aku sayang nenek, tapi keputusanku tetap bulat kalau kalian tak menerima ini aku akan pergi"



Akkh...


Ms. Ruo terjatuh kelantai tiba-tiba dan dia memegangi dadanya. Ruan Ruo sempat menangkap tubuh neneknya itu dia sangat cemas sehingga menggigit bibir dan tak bisa bersuara, Ms. Ruo terlihat sesak nafas san tubuhnya kejang-kejang



Alin segera memeriksa denyut Ms. Ruo lalu mulai mendiagnosis penyakitnya "Ini... Serangan Jantung!"


Semua orang tersentak kaget terutama Ruan Ruo. Kini Ruan Ruo merasa sangat bersalah, alin dengan cepat mengeluarkan sebuah obat dari jas dokternya yang selalu dia bawa kemanapun



"Obat ini akan meredakan nya" ucap alin seraya memasukkan obat itu kemulut Ms. Ruo



Setelah tidak kejang ms. Ruo menatap Ruan Ruo dengan sedih "Nak ini permintaan nenekmu. Sebelumnya kau tidak pernah begini....Uhukk... Uhukkk" Ms. Ruo berbicara dengan pelan dan perlahan



Alin dengan cepat menarik tangan Ruan Ruo saat Ms. Ruo dipapah sang raja untuk kembali kekamar



"Kau kelewatan batas Ru, kan aku sudah bilang jangan berlebihan"



"Aku tidak bermaksud al, sungguh. Aku tadi hanya terbawa emosi dan mengeluarkan semua pikiran yang menggangguku"



"Terus sekarang kayak apa?!"


Tanya alin seraya menatap Ruan Ruo dengan tatapan penuh intimidasi



"Al demi nenek aku rasa aku akan melakukan hal itu"



Ntah datang dari mana tiba tiba Fangzue ikut berbicara "Kau tak perlu melakukan hal itu, Aku yang akan berbicara pada ayah dan soal nenek jangan kau anggap serius omongannya bukan kah sudah berapa kali kita berdua tertipu"



"Hal itu apa?" alin merajut alisnya



Fangzue menyeringai "Aku akan menjadikanmu selir ku kau bisa dengan bebas menjalankan hidupmu dan Ru juga bisa tidak terlibat"


Ruan Ruo mendengus lalu meletakkan kepalanya dipundak alin, dia mengabaikan tatapan menusuk dari kakaknya



"5 menit aja Al, ku mohon!" Sungguh Ruan Ruo kali ini berpikir dengan keras 'Bukan kah tak adil bagi Alin jika hanya aku yang bebas sementara dia harus menjadi selir'



"jawab dulu apa pilihanmu?" tanya Fangzue dengan suara dinginnya



"Alin Craetta aku akan menikahimu!"


Ucap Ruan Ruo dengan lirih.



Dalam diam Ruan Ruo bersandar dipundak alin walaupun dia harus tunduk tapi tetap saja pundak itu terasa nyaman



"Terima kasih kak atas tawarannya, tapi aku memilih bertahan bersama Alin dalam hubungan ini"



"Aku tidak setuju"






__ADS_1



~•


__ADS_2