The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
35. Pergi


__ADS_3


 


Karena Hati dan Jiwaku sudah terjatuh semakin dalam,


Semakin gelap,


Semakin jauh....


Ditempat yang tidak seharusnya dan


tidak semestinya


 


"Siapa kamu?" Aura disekitar Alin menjadi dingin dan suram. Gadis kecil berbaju putih itu menggenggam pisau bedahnya dengan sangat kuat


"Kamu tak mengenaliku? Apa harus ku lakukan hal itu baru kamu tau siapa aku"


Setenang mungkin Alin tak menunjukkan rasa takutnya "Jika kamu berani datang menemuiku lagi. Aku pastikan aku sendiri yang akan menghukummu"


"Apa yang bisa dilakukan orang buta seperti mu?! Kamu hanya bisa menangis atau berteriak meminta bantuan. Dulu saat masih kecil aku sudah pernah bilang jangan mengobati pasien tapi sepertinya kamu lupa apa yang telah ku ucapkan"


Alin masih diam tak merespon ucapan pria didepannya, pria itu maju beberapa langkah dan tertawa "Hahaha... Kamu benar benar tak kenal takut. Aku rasa jika kau bertatapan dengan hantu yang ada hantu yang takut padamu"


Alin mundur beberapa langkah dan menggeram kesal "Kamu pikir aku akan menuruti ucapan mu? Semakin kamu melarangku melakukan hal yang ku suka justru dampaknya akan terbalik dan aku akan melakukan hal itu dengan senang hati. Jangan bercanda didepanku kalau kamu tak ingin menyesal"


"Hantu mungkin takut padamu yang berpakaian serba putih seperti ini tapi itu nggak berpengaruh padaku. Aku Graywolton tak takut pada siapapun termasuk rajamu, Ruan Ruo mungkin telah memasukkan ku ke penjara tapi dia juga yang membebaskanku"


"SO WHAT? Kamu pikir aku akan percaya begitu saja padamu tanpa bukti apapun" ejek Alin seraya melemparkan senyum jijik ke arah suaranya


Alin mulai terbiasa menghadapi masa lalunya yang suram, kalau dibiarkan dia nggak akan membuat kemajuan.


"Kamu bodoh, terlalu polos dan sangat mudah percaya pada orang. Asal kamu tau aku tau tempat tinggalmu saat ini juga karena Ruan Ruo yang dengan sendirinya memberitahuku. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri, dia egois Alin ... hahaha... Semua orang di dunia ini punya Ego yang lebih kuat dari pada hati nurani"


"Apa maksudmu?" tanya Alin. Alin membuka matanya dan menatap tajam ke arah suara Gray , ya dia tak melihat apapun hanya sebuah bayangan sekilas yang ia liat.


Gray menepuk tangannya "Wah hebat... walaupun mata itu bukan milikmu tapi kamu bisa mengendalikannya jika itu orang lain mungkin mereka akan mengira kamu tidak buta"


"Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum ni pisau namcap dikeningmu" gumam Alin seraya menyeringai


"Sebenarnya bukan ini tujuanku, aku hanya ingin berterimakasih kamu telah memberi obat untuk penyakitku. Sebab itu aku memperingatkanmu, Dia yang menyuruhmu bersabar akan terus menyuruhmu bersabar hingga kamu tak punya kesempatan kembali"


"Apa maksudmu?" tanya Alin lagi ntah mengapa saat ini dia jadi lamban dalam berpikir. Gray mengusap wajahnya dengan kasar lalu dia menarik dengan kuat kedua pundak Alin, Gadis itu bergidik ngeri hampir saja dia panik dan benar benar akan menamcapkan pisau ditangannya "Kamu bodoh, aku hampir saja membunuh mu karena gerakan mu yang tiba tiba itu" gumam Alin


"Yang bodoh itu kamu, walaupun Ruan Ruo turun tahta dia masih terikat politik kerajaan. Tau kah kamu berapa banyak surat lamaran yang ia terima sejak kamu nggak sadarkan diri sampai sekarang? Masih kah kamu percaya padanya padahal dia telah bertunangan. Dia sudah punya Istri tapi bertunangan dengan gadis lain" Jelas Gray dengan nada yang sangat serius.


"Apa buktinya dia mengkhianatiku? Dia nggak kan bisa melakukan apapun karena banyak orqng yang mengawasinya kedua orang tuanya masih tinggal di Istana bahkan kakak iparku Raveya Ferata juga bekerja di Istana. Ada putri Wei dan juga Fang Rui"


"Hahaha.... Itu sebabnya aku bilang Semua manusia itu Egois. Dia yang lemah nggak akan pernah dianggap, mereka semua tau hal itu tapi mereka menyembunyikannya dari mu, menurutmu selama kamu tinggal disini kenapa Ru selalu pulang larut malam padahal dia telah turun tahta. Itu semua karena dia terikat..."


"Jangan hanya banyak bicara akan lebih bagus jika kamu memberikan bukti nyata padaku" potong Alin. Gray mengangkat Alisnya gadis kecil didepannya telah berubah banyak


"Malam ini Ruan Ruo nggak akan pulang karena dia sedang mengadakan pesta pertunangan di istana. Agar kamu tau aku bohong atau tidak kamu bisa ikut ke istana bersama ku"


"Apa harus aku percaya padamu? Bisa saja kamu menculikku saat ditengah jalan" ucap Alin


"Kamu bisa membawa bibi atau paman mu. Ganti pakaianmu dengan Rapi karena itu acara formal dan aku nggak ingin ditangkap lagi"


............


Gray membawa Alin ke istana tepat saat Alin memasuki ruang Aula suara lantunan musik merdu memasuki telinganya. Hatinya terasa tertusuk saat mendengar orang orang memberi selamat pada Ruan Ruo dan juga tunangannya


"Biar bagaimanapun istri kau sudah cacat. Sudah seharusnya kau mengambil istri baru yang lebih cocok. Semoga yang mulia mencapai kebahagiannya" ucap Salah satu tamu.


Alin berlari tak tentu arahnya hingga ke paviliun, ada beberapa pria yang mengajaknya mengobrol tapi seolah olah tak mendengar apapun Alin hanya diam mematung. Bibi yang ia bawa bersamanya sempat lengah tadi sehingga dia kehilangan Nona nya


Alin berpakaian modern dan simple. Dia memakai Celana kantor serta setelan putih, di malam yang dingin dia bahkan tak memakai jaket ataupun mantel, dia hanya memakai syal merah yang menutupi bagian kepalanya. Biarpun begitu dia tetap terlihat cantik dan tampak elegan beberapa orang mengira dirinya adalah seorang pengusaha yang memiliki bisnis


"Hey... Nona apa kau baik baik saja?"


ucap salah satu pemusik di Paviliun. Alin menggeleng, sedari tadi dia berusaha positif thinking atas apa yang terjadi namun sangat disayang kan Realitanya tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan "Aku tak bisa menemukan keluargaku" gumam Alin


"Apa kau anak kecil yang tak Bisa menemukan keluargamu hahaha.... Maaf aku hanya bercanda tempat ini begitu luas tentu saja wajar jika kau tersesat" ucap pemusik itu. Dari suaranya Alin bisa tau dia seusia kakak iparnya Raveya

__ADS_1


"Sebenarnya ini acara apa?" tanya Alin masih dengan pikiran kosongnya. Alin tak memakai penutup matanya jadi orang orang tidak bisa membedakannya dengan yang lain.


"Tentu saja ini acara pertunangan Tuan Rumireo Radeya dengan Nona Ghiny anak Seorang mentri. Sudah jelas ada papan Nama yang sangat besar di Gerbang tadi, apa kau tak membacanya?" tanya pemusik itu


Alin tersenyum miris "Maaf tapi aku cacat, aku tak bisa melihat" gumam Alin. Pemusik itu menggigit lidahnya sendiri "Seharusnya aku tak bicara seperti itu maafkan aku nona. Aku tau pesta ini pasti sulit bagimu karena aku juga punya seorang Adik yang buta, dia selalu kesulitan berjalan tapi berkat istri pertama tuan Rumireo radeya dia menggunakan tongkat dan bisa berjalan dengan bebas. Aku sangat berterimakasih padanya"


Alin tak bisa mengingat siapa saja yang jadi pasien nya jadi dia hanya pura pura tidak tau soal itu "Oh ya aku dengar istri tuan Ru cacat sekarang. Apa itu sebab nya tuan Ru mencari penggantinya ?" tanya Alin.


Pemusik itu tertawa lalu mengendikkan bahunya "Ntah lah aku bukan dia jadi aku tak bisa memahami pemikirannya ada yang bilang pertunangan ini terjadi karena politik, menurutku itu benar sebab itu yang mulia Raja terdahulu tidak mau datang ke pesta ini selain itu juga mereka belum bertukar cincin sampai sekarang. Tapi kalau aku jadi Dokter Ling Ling istri pertamanya, aku akan memberi pelajaran padanya" jelas pemusik itu dengan nada sedikit kesal


"Jadi kau ada dipihak siapa?" tanya Alin. Pemusik itu ikut tersenyum melihat senyum Alin yang Alin tutupi dengan syal merah tembus padang


"Tentu saja, dokter Ling Ling. Karena dia yang berjuang disamping Tuan Ru dari nol, dia yang ikut serta membuka lapangan terbang dipulau ini, dia yang berkontribusi dalam perang dan masih banyak lagi. Intinya Dokter Ling ling adalah segalanya"


"Apa kau ingin Dokter Ling Ling mu itu melawan?!" tanya Alin. Alin tak mengira ucapannya bukan hanya didengar pemusik yang dia ajak bicara, ya bukan hanya pemusik itu tapi juga orang disekitar paviliun dan juga pemusik lainnya


"Ya..." ucap pemusik yang diajak Alin bicara. Sedangkan yang lain ikut berkomentar


"Tentu saja dia harus melawan"


"Sudah cukup dia menderita"


"Sebagai sesama wanita aku tau rasanya ditinggalkan itu sangat lah perih, jadi sudah pasti dia harus melawan"


Bahkan ada wanita bangsawan yang ikut berkomentar. Mendengar komentar komentar itu Alin tertawa dan bergumam "Baiklah"


Alin berbisik ke arah sekumpulan pemusik yang ada dipaviliun.


........


Seorang mentri disamping Raveya berbisik ke arah Ru "Ini sudah waktunya mari kita mulai bertukar cincin" ucap mentri itu.


Pak Kim, sekertaris raja yang mengurus segalanya di Istana mengumumkan Ruan ruo dan Ghiny akan bertukar cincin


Tepat saat waktunya bertunangan dengan menukar cicin sebuah suara dari speaker memenuhi satu Aula suara itu dari tempat berkumpulnya pemusik di paviliun "Maaf atas ketidak nyamanan kalian, tapi disini ada Nona yang ingin membari hadiah berupa sebuah lagu sebelum Tuan dan Nona Ghiny bertunangan. Selain itu dia juga berharap bisa menemukan keluarganya ditempat ini dengan lagu itu jadi bagi yang merasa suara ini familier ditelinga, segeralah menuju ke tempat kami berada"


Raveya, putri wei,Fang Rui, dan Mrs.Huan menghela nafas lega, jujur mereka takut Ruan Ruo benar benar akan melakukan hal nekat dengan bertunangan lagi tapi dengan pengumuman ini setidaknya pertunangan itu di tunda. Raveya sudah memperingatkan Adik iparnya agar tidak menyembunyikan hal politik itu dari Alin tapi menurut Ru yang terbaik adalah jika Alin tak mengetahui kebenarannya. Sama dengan Mrs.Huan dan putri Wei, Fang Rui juga tidak bisa membantu adiknya jika dia menolak pertunangan ini maka ekonomi dan pertahanan kerajaan nya akan hancur, hanya dengan syarat Ru bertunangan dengan Ghiny mereka akan bisa terlepas dari semua masalah. Mereka merasa bersalah dengan Alin yang ada dirumah dan tak tau apapun yang terjadi di istana saat ini,


Suara lembut bergema di speaker ,"It's for you... Cause Every girl  is an angel for her father, her husband, and her family. i will sing a broken angel with Zalman" Suara itu begitu lembut seakan akan akan menghilang begitu saja. Begitu lagu dimain kan dan Gadis dengan Syal merah yang menutupi kepalanya bernyanyi semua orang berkumpul di paviliun sehingga tak ada akses sedikitpun menuju ke gadis itu


"I'm so lonely broken angel


Deg...


Saat degar suara itu mrs.Huan seketika pingsan dan ditangkap oleh Fang rui sementara itu Raveya sudah berlari ke arah paviliun. Ruan Ruo juga berlari ke arah yang sama dengan Raveya setelah sadar apa yang telah terjadi...



*(lagu Broken Angel versi Inggris)


Karena jarak dalam aula dan Paviliun cukup jauh keduanya sampai hanya saat lagu itu hendak selesai


"i'm so lonely, broken angel


I'm so lonely, listen to my heart


One and only, broken angel


Come and save me before I fall apart..."


Tepat lagu itu berhenti Raveya sudah memeluk Alin. Didalam pelukannya Alin tidak membendung Air mata, ya dia menangis dibalik Syal merah nya. Raveya membisikkan dengan jelas semua hal yang telah terjadi ditelinganya


Ruan Ruo yang masih terengah engah diantara kerumunan melihat air mata gadis didepannya jatuh, dunianya seakan runtuh. Dia merebut Alin dari Raveya ke pelukannya namun Alin justru mendorongnya menjauh... Dengan mata merah yang menunduk Alin tak bicara satu kata pun.


Ayah Ghiny mentri Ekonomi angkat bicara saat sampai didepan kerumunan "Wah... Bukankah itu nyonya Alin Craetta. Habat sekali siapa yang membawamu kesini? Kau tak diundang disini" ucapnya. Ru hendak melawan Ayah Ghiny namun dihentikan oleh tangan Alin


Alin menyeka air matanya kini matanya memerah dengan mata perih Alin tidak bisa melihat bayangan apapun "A....Apa aku tak bisa berada disini? Bukan kah ini rumahku juga. yang seharusnya aku tanya adalah kamu, kamu dan putrimu yang tak pantas berdiri disini! Apa seorang Koruptor masih berhak menjabat sebagai mentri dikerajaan ini?! Wah hebat aku salut dengan konspirasi yang telah kalian susun"


Ghiny maju dan melawan ucapan Alin "Apa maksudmu? Ayahku bukan seorang koruptor!" Alin menyeringai ke arah suara di sini tak ada yang berani bersuara selain mereka "Hay... Gadis manis, aku belum berkenalan dengan formal padamu. Di mana etika ku? Oh ya aku rasa aku meninggalkannya dirumah tadi karena terburu-buru. Namaku Alin Craetta, disini biasa dipangil Ling Ling kau pasti sudah tau dari ayahmu aku istri sahnya Ruan ruo. Apa nggak ada yang ingin kau katakan padaku?"


Alin berbicara dengan sangat lancar layaknya profesional


Ghiny menggertakkan giginya. Gadis didepannya lebih cantik darinya padahal dia tak memakai banyak riasan selain itu gadis didepannya berani menghina ayah nya.


"Kau tak berhak menghentiakan pertunangan ini karena kau telah dibayar untuk menjadi istri Ruan Ruo"

__ADS_1


Alin menyeringai "Kau harusnya jaga mulut, manis. Kau tak tau apa apa tapi jika kamu tetap memaksa aku akan menjadi iblis yang bukan hanya bisa menghentikan Pernikahnmu dengan Ru, tapi juga membuatmu tak bisa menikah dengan siapapun"


"Apa yang bisa dilakukan oleh orang cacat sepertimu?" tanya Ayahnya Ghiny seraya tertawa lalu Ghiny menambahkan "Dia hanya Tong kosong berbunyi nyaring ayah!" ejek Ghiny.


Langkah Kaki yang keras mengarah ke kerumunan itu dan Mr.Lee sampai didepan kerumunan


"Ling'er maaf Ayah mertuamu ini terlambat" gumam Mr.Lee. Ruan Ruo menatap ayahnya "Ayah apa benar kau membayar Alin untuk menikahiku?"


"Ya kamu benar aku membayarnya tapi dengan syarat dia harus bisa mengubah mu. Bukan kah ini sudah satu tahun pernikahan kalian, Pada awalnya Alin memang sudah berhasil mengubahmu tapi kau kembali terjerumus saat ini"


"APA?!" Ruan Ruo merasa kecewa karena sebuah fakta yang ia tak ketahui selama ini. Alin menghela nafasnya "Maafkan aku Tuan Lee, aku tak bisa mengubah anak mu. Dia masih egois dengan berpikir aku akan baik baik saja jika tak mengetahui masalah yang ia hadapi"


"Kau benar benar dibayar tapi kau tak memberitahuku? Berapa banyak ayahku memberimu? Apa satu miliar dollar, atau seratus miliar?aku bisa memberinya tanpa kau minta" gumam Ruan Ruo yang nampak kesal.


"Aku belum mengambil bayaran ku dan oh ya aku tak perlu uang dari keluargamu. Cukup Selama ini aku mengabdikan diri pada riset dan itu sudah memberiku uang lebih dari cukup. Ini untuk yang terakhir kalinya aku membantumu keluar dari masalah setelah ini terserah kau mau berubah atau tetap seperti ini" ucap Alin, seraya menaruh selembar kertas dikantung Ruan Ruo.


Tak berhenti disitu Ruan ruo mencengkram tangan Alin "Kau pikir kau bisa bebas begitu saja dariku?" bisik Ruan Ruo. Alin menghela nafas lalu mencium pipi Ruan Ruo dengan pelan "Aku akan pergi tapi sebelum itu mari bertarung... Jika aku kalah maka kau boleh menahan ku lebih lama lagi tapi jika aku menang maka kau harus membebaskan ku dengan cara yang sama seperti yang pertama kali"


Alin memanggil Raveya dan mengambil pedang dari pinggangnya "Hadapi aku!" ucap Alin seraya menyodorkan pedang ke arah Ruan Ruo. Semuanya mundur dan bahkan ada yang berlari ke luar dari aula, suara pedang memenuhi Seluruh Ruangan, Mr.Lee hendak melerai keduanya namun Gagal karena keduanya tidak ada yang mendengarkan ucapannya.


Clang...Clang....


Alin menangkis semua serangan Ruan Ruo. Dia berhasil melihat bayangan gerakan Ru Namun Alin terpojok diantara pedang Ru dan juga pagar "Hebat..." gumam Alin. Alin menjatuhkan pedang ditangannya dan Ru menjadi lengah namun sangat tidak diharap kan Alin justru memegang pedang Ruan Ruo dan membuangnya ke luar pagar. Darah segar mengalir dan mengotori baju putih Alin. Dengan cepat Alin mengelurkan pedang Kecil yang selalu ia bawa ke arah leher Ruan Ruo "Sudah Cukup kalian berdua" ucap Fang Rui.


Alin melepas Ruan Ruo "Sekarang, bebaskan aku Ru..." Mata Alin memerah, air mata nya menggenang di kedua pelupuk mata


"Alin maafkan aku karena...."


Belum sempat Ruan Ruo melanjutkan perkataannya Alin pingsan ditempat.


Ruan ruo menangkap tubuh kecil itu dipelukannya "Cepat panggil dokter!" teriak Mr.Lee. yang ikut memapah Alin.


Diruangan dokter mengatakan "Tak ada yang serius dengan keadaan nona. Dia hanya kelelahan dan kekurangan darah, selain itu saya ingin mengucapkan selamat pada tuan Ruan ruo...." ucapan Dokter dipotong Ruan Ruo "Cukup aku nggak mau denger soal pertunangan lagi"


Raveya tertawa "Apa kau sudah sadar, Ckck.... tenanglah aku akan mengurus semuanya berkat Adikku pertunangan mu hari ini batal, berkat dia kau tidak perlu menikahi Ghiny hanya untuk formalitas. Aku sudah menemukan bukti konspirasi yang dilakukan ayah Ghiny dan mentri pertahanan  tapi aku masih perlu sesuatu yang lebih kuat agar mereka tidak bisa berkutik sedikitpun lagi"


Fang rui yang jelih akan keadaan segera menunjuk saku Ruan Ruo "Bukankah Alin memberimu selembar kertas saat berkata dia akan membantumu untuk terakhir kali, coba kau buka kertas itu mungkin kita bisa menemukan petunjuk!" Fang Rui hanya tau selama diistana Alin menutup mata nya dari konflik konflik politik, namun sekarang dia penasaran bagaimana Alin bisa menyelesaikan masalah politik itu


Ruan Ruo membuka kertas itu dan menatap dengan terkejut "Apa isinya?" tanya Raveya bersamaan dengan Fang rui. Ruan Ruo memperlihatkan tulisan tangan Alin "Apa ada yang bisa baca tulisan tangan dokter?" ucap Ru seraya menghela nafasnya.


Putri Wei maju paling depan "Biar aku baca!" ucap Sang putri seraya merampas kertas dari tangan Fang rui suaminya


"Disini tertulis 'https://www.Gmail.com/X\-I2aaZb/search?q\=chrome..69i57.5943j0j4&client\=ms\-android\-&sourceid\=chrome\-mobile&ie\=UTF\-8.' Bukan kah ini sebuah Link?!" ucap putri Wei.


"Hey, bisakah kalian mendiskusikan soal politik dan pekerjaan dikantor saja. Disini masih ada orang yang nggak sadarkan diri!" tegur Mrs.Huan pada semuanya


Akhirnya Ruan Ruo, Fang Rui, dan Raveya diungsikan ke kantor. Sementara itu dikamar tempat Alin masih belum sadarkan diri Mrs. Huan dan Mr.lee memperhatikan dokter istana yang bekerja dengan lihainya "Kapan dia sadar dok?" tanya tuan Lee selaku ayah mertuanya. Dokter istana tersenyum ramah "Sebentar lagi dia sadar. Alhamdulillah kondisi tubuh dan janin didalamnya semuanya masih sehat" ucap sang dokter. Nyonya Huan dan Tuan Lee mengangguk mengerti lalu mereka baru saja sadar yang diucapkan dokter dikalimat terakhirnya "Apa dok, Dia hamil?" ucap Tuan Lee dengan kaget.


Nyonya Huan tersenyum bahagia "Dokter seriusan? Sudah berapa bulan dok?" tanya nya secara beruntun. Dengan sabar Sang dokter menjelaskan bahwa janin Alin baru berusia empat minggu, Awalnya dokter itu berpikir keluarganya sudah tau karena tadi saat ingin mengucapkan selamat dirinya dihentikan begitu saja.


"Kita harus beritahu ini pada Ruo'er, dia pasti akan senang mendengarnya!" ucap Nyonya Huan yang hendak berlari ke arah pintu namun dihentikan Tuan Lee "Apa kau nggak ingat Ling'er masih marah pada Ruo'er ? Biar saja Ling'er sendiri yang memutuskan dia harus memberitahu Ru atau tidak!" Perintah Tuan Lee begitu tegas jadi Nyonya Huan hanya bisa bergumam dengan pelan "Pantas saja Ling'er begitu sensitif hari ini, sangkin sensitifnya dia membiarkan emosinya yang mengambil ahli.dia pasti nggak benar benar marah, karena hormon ibu hamil itu bawaanya mau marah melulu"


"Ya dia persis sama seperti mu saat Hamil Ru kecil dulu" lanjut Tuan Lee. Sinar bahagia terpancar lagi dari mata nyonya Huan "Walaupun kita sudah tak bisa memiliki Anak tapi kita akan memiliki cucu yang pertama dari Wei'er dan yang kedua pasti bermata biru seperti Ling'er. Aku jadi nggak sabar" Tuan lee menyeringai ke arah istrinya "Siapa bilang kita tak bisa memiliki anak lagi?! Kau masih sehat kita bisa kapanpun membuat anak" bisik Tuan Lee yang mendapat pukulan pelan dari Nyonya Huan, keduanya tertawa bersamaan.


.....................


Saat kembali Ruan Ruo tak melihat Alin dikamarnya "Kemana dia?" gumam Ru. Seraya memanggil pengawal Ruan Ruo menggeledah setiap kamar yang ada di istana "Cepat cari Alin!"


Mendengar suara tegas Mrs.Huan dan Mr.lee yang baru masuk ke kamar mereka, pergi keluar dan bertanya "Ada apa? Bukan kah Ling'er ada dikamarnya?" tanya Nyonya Huan dengan tatapan khawatir ke anaknya. "Dia nggak ada dikamar bu, dia pasti berniat pergi sebab itu tadi dia meminta cerai"


Tuan Lee menatap kaget anaknya " Tadi dia nggak ada meminta cerai dia hanya memintamu memberinya kebebasan seperti...." Tuan lee menutup mulutnya dan tiba tiba saja aura disekitarnya jadi suram  "Jadi yang dimaksud Alin terkhir kali adalah CERAI. Kau menjatuhi talak istrimu sebelumnya dan tak memberitahu kami, apa kau sudah nggak menganggap kami ini keluargamu Ru?!" suara berat Tuan Lee yang khas dengan posisinya sebagai Raja dahulu keluar begitu saja.


Jejak kekecewaan dari seorang ibu terpancar dari nyonya Huan "Aku tau ini bukan Inisiatif Alin. Sebagai perempuan, ibu mertua, dan juga seorang istri Aku tau perasaanya. seorang wanita pasti nggak pernah terpikir kata cerai kalau suaminya tak memulainya, pasti suami yang telah mengucapkan hal itu..." Nyonya Huan menutup mulutnya dan tidak melanjutkan kata katanya. Jika Alin kembali ke london dan mengajukan surat gugatan cerai maka semua impiannya memiliki cucu bermata biru akan hancur seketika.


Raveya datang ke Ru dengan baju yang basah karena keringat "Aku tadi melihat orang yang mencurigakan saat perjalanan kembali ke sini!" ucapnya terengah engah. Ru langsung sigap menyikapi ucapan Raveya "dimana dia?"


"Dijalan arah ke kota"


Arah kota itu artinya Alin kembali ke Villa keluarga angkatnya, kalau tak dihentikan secepatnya Alin mungkin saja pergi lagi. Dan kemungkinan yang terburuk Alin bakalan ngirim surat gugatan cerai bersama dengan Kontrak pernikahan yang telah ia langgar.


Di Villa Alin mengemas barang nya dengan cepat lalu berpamitan dengan bibi dan paman didermaga.seperti biasa ada kapal Kaoten Samy yang sedang berlabuh dan beberapa kapal pedagang lainnya "Bibi, Paman sesekali jangan lupa hubungi aku"


"Apa nona yakin ingin pergi sendiri? Biarkan saya ikut nona jadi nona nggak akan kerepotan" ucap bibi


Alin menggeleng "Nggak perlu bi, kalau Alin tak cepat maka peluang Alin untuk sembuh akan berakhir mengingat sudah pasti Ru akan segera mengirim pengawalnya ke sini jadi kalian berdua lebih baik pergi" Alin tersenyum ke arah mereka sebelum dituntun oleh pedagang wanita yang merupakan turunan Arab untuk naik ke kapal

__ADS_1


"Selamat tinggal !"


~•TBC


__ADS_2