The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
25. Firasat


__ADS_3

 



Bisakah semuanya membaik?


Aku tau tak cukup hanya aku yang berjuang tapi bukankah tak  ada salahnya jika aku mencoba


----------------------------------------------------


Alin dan Ruan Ruo mengunjungi istana saat ini. "Sayang, kenapa kau baru berkunjung!" ucap mrs. Huan.


Alin terkekeh "Maaf bu, Alin baru ada kesempatan sekarang" ucap Alin. Mrs. Huan tau menantunya sibuk dengan bekerja di rumah sakit kata para pengawalnya dia gadis yang sangat ramah saat mengobati pasien "Kalian menginaplah disini beberapa hari" bujuk Mrs. Huan pada Alin. Alin hanya tersenyum kecut dan melimpahkan hal itu pada Ruan Ruo "Bu, aku terserah pada Ru saja. Jika dia mau maka aku bisa menginap!"


Mrs. Huan cemberut lalu menatap suaminya Mr.Lee seolah meminta dirinya untuk membujuk putranya.


"Ru tinggal lah disini beberapa hari!" bujuk Mr. Lee.  Ruan Ruo menggeleng "Tidak ayah, aku tak bisa besok aku harus mulai bekerja lagi sebagai pilot dan Alin harus bekerja di rumah sakit"


Mr. Lee sedikit terkejut atas penolakan anaknya, dulu anak kecil itu bahkan tak berani menentang permintaan dirinya kecuali saat ingin daftar menjadi pilot. Apakah cucunya  Swanetta ini telah berhasil merubahnya?


"Ya sudah, ayah tau kau sibuk tapi untuk Alin selama kau pergi bekerja dia akan tinggal disini sementara" ucap Mr. Lee. Ruan Ruo hendak protes dan menyatakan pendapat nya "Ayah hargailah keputusan ku bukan kah dimata ayah ini pertama kalinya aku sangat berani mengambil keputusan sendiri" ucap Ruan Ro dengan sangat lantang. Alin dan Mrs. Huan hanya memperhatikan keduanya dari jarak yang sedikit berjauhan ada sedikit kepuasan dimata Alin karena Ru telah berani memperjuangkan pendapatnya.


"bu kali ini satu beban telah terangkat dari pundakku" bisik Alin. Mrs. Huan menyeka air mata terharunya, ia senang kini putranya telah dewasa dan mulai mandiri. Seorang putra dalam sebuah keluarga harus bisa mengambil keputusan dengan bijak, dia tak bisa terus terusan bergantung pada keputusan orang lain "Aku percayakan dia padamu nak. Bimbing lah dia agar bisa lebih baik lagi" ucap Mrs. Huan yang dibalas dengan senyum dan anggukan dari Alin "Itu sudah menjadi tugasku bu"


.....


Selama hampir satu bulan Ruan Ruo tak menghubungi Alin. Alin mendesah kesal karena bukan hanya Ru tak menghubungi dirinya, Dirinya sendiri pun tak bisa menghubungi Ru walau dicoba berkali kali. Ruan Ruo sengaja menempatkan dua pengawal sebagai bodyguard untuk menjaga dirinya selama dia pergi hanya saja bagi Alin para pengawal itu hanya mempersempit ruang geraknya untuk melakukan riset. Begitu banyak larangan yang keluar dari mulut Pengawal itu 'Nona anda dilarang tuan untuk pergi ke hutan' , 'Nona tuan melarang anda makan terlalu banyak manisan', 'Nona tuan bilang Anda harus banyak beristirahat jadi anda dilarang untuk mengurung diri dirumah kaca'.... 'Nona... Nona.. Nona...' kepala Alin serasa akan pecah mendengar semua larangan itu.


Hari ini dia memaksa kedua orang itu untuk ikut dengannya ke london "Tak ada lagi larangan!, bersikaplah layaknya orang asing saat berada disekitarku. Aku akan membelikan kalian pakaian modern jadi ntar buanglah pakaian kuno ala victoria yang kalian kenakan itu" ucap Alin dengan tegas lalu Alin kembali membalik halaman buku yang ia baca seraya menikmati terpaan ombak diatas kapal.


Sesampainya dipelabuhan Alin langsung dijemput oleh Profesor Alpha dan mereka pergi ke butik


"Bagaimana hari mu dok?" tanya profesor Alpha. Alin menghela nafas nya "Alhamdulillah aku masih hidup sampai saat ini. Hanya saja mereka berdua disuruh Ru mengikuti kemanapun aku pergi Prof! hingga aku merasa risih"


Profesor Alpha hampir tertawa pasalnya selama ini Alin tak pernah merasa terganggu sebelumnya, hanya karena masalah sepele ini dia tidak nyaman "Kenapa kan mereka orang kepercayaan suamimu?"


Alin mengangkat alisnya "Seriously Prof, I don't like it. You know me very well, Right?!" gumam Alin. Untunglah dua orang yang dibicarakan sibuk dipilihkan baju oleh pelayan tokoh.


"Kau tau sangat susah untuk menghubungimu disana, ingin rasanya aku memanggilmu kembali untuk jadi partnerku!" ucap Profesor Alpha dengan sedikit nada gurouan. Alin tersenyum masam "Menurut anda Prof, karena siapa saya harus dipindahkan kesana untuk riset! Semuanya ku lakukan untuk kebaikan kita dan itu karena anda yang menyuruhku. Aku masih menghargai diri anda sebagai guru sekaligus rekan kerja jadi Mari kita berpartner lagi selama tiga hari didepan media" ucap Alin. Ya... Alin, kembali ke london karena Profesor itu memanggilnya selain itu dia juga dapat undangan resmi atas nama dirinya ke acara pembukaan berlayarnya kapal pesiar terbaru selama tiga hari diatas kapal.


Saat malam itu tiba Alin turun dari mobil bersama profesor Alpha. Baru satu langkah sudah banyak awak media yang menghalangi jalannya berbagai kilatan kamera mengarah ke dirinya dan profesor Alpha. Alin hanya tersenyum ramah ke semuanya seperti biasa ini bukan pertama kalinya dia bersama profesor Alpha pergi ke undangan formal berkelas.

__ADS_1


Alin melangkahkan kakinya masuk diikuti oleh dua pengawalnya yang sudah berganti pakaian. Alin mengikuti profesor Alpha langsung pergi menemui pemilik acara ya itu Drs.Adam Lein "Hi... Prof and doc. Welcome to my party" ucap Adam seraya melebarkan tangannya Profesor Alpha maju untuk memeluknya sementara Alin mundur beberapa langkah


"Hi, Nice to meet you again" ucap Alin dengan Ramah saat profesor Alpha masih berpelukan dengan Adam. Adam tertawa "Seperti nya dari dulu hingga sekarang nggak ada kesempatan untukku. Ayolah Alin peluk aku sekali saja!" pintah Adam seraya melebarkan tangan untuk menggapai gadis cantik didepannya.


Masih dengan senyuman Alin sengaja memutar tubuhnya kesamping agar pria itu dapat melihat apa yang ada dibalik kantong bajunya, melihat itu Adam semakin tertawa "Kau masih membawa pisau itu. Wah... Oke.. Oke... Aku nggak akan ganggu kamu" ucap Adam. Adam mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan Alin menyambut uluran tangannya


"Selamat atas jadinya kapal pesiar ini Mr. Adam lein!"


"Kau sangat berbaik hati sekali Mrs. Alin Craetta. Ya sudah ayo mari pilih tempat duduk dan nikmati hidangan laut yang kami sajikan" ucap Adam dengan tak kalah ramah dari nada bicara Alin.


Selama duduk dimeja Alin menyuruh pengawalnya juga untuk duduk satu meja bersama mereka "You two can Relax in here!" ucap Alin seraya menaruh makanan didepan keduanya


Alin selalu baik kepada mereka walaupun terkadang dia merasa risih.


Menurut Alin mereka nggak salah karena hanya menjalankan tugas yang menjadi pekerjaannya "Thank you miss" ucap mereka serempak.


Alin dan profesor Alpha lanjut menyambut beberapa orang penting, saat malam tiba Alin ambruk diatas kasur "Masih dua hari lagi!" gumamnya. Ya dia masih di atas kapal kedua pengawalnya di kamar sebelah kanannya dan profesor Alpha dikamar sebelah kirinya, Alin mulai membersihkan dirinya dengan berendam di air hangat dan setelah itu memakai piyama yang ia bawa.


Baru duduk ditepi ranjang, Alin merasa ada seseorang yang memperhatikan nya. Mata alin dengan tajam melirik kesosok bayangan seorang pria yang duduk disofa "Kenapa kau ada disini? Bukankah kau seharusnya bekerja dan tak memiliki waktu untuk berpesta" ucap Alin dengan nada setenang mungkin. Pria itu melangkah mendekatkan dirinya dengan Alin diranjang


"Tak ada alasan untuk suami menemui istrinya, nona Alin Craetta!"


......


Saat subuh Alin sudah bangun dan membersihkan dirinya, sudah menjadi kebiasaannya untuk membangunkan Ru "Ru pergilah mandi terus kita sholat" tidak seperti biasanya kali ini Ruan Ruo langsung bangun saat mendengar suara Alin memanggilnya.


"Ok,  aku bangun tunggu sebentar ntar kita sholat bareng" ujar Ru dengan bersemangat, Alin tersenyum


dia lega kini Ru mulai berubah. setelah sholat dan beraktivitas pagi, Alin keluar dan menyapa beberapa orang yang ia kenal "Pagi prof!" ucap Alin yang sedang menikmati sarapannya.


Profesor Alpha sedikit terkejut saat melihat seorang pria disamping Alin. Dia mengulurkan tangan untuk menyapanya "Pagi Mr. Ru, apa kabar? kita lama tak berjumpa" ucap profesor Alpha dengan canggung. Ruan Ruo membalas uluran tangan sang profesor "Aku baik baik saja kebetulan aku juga ada dikapal dan dipesta yang sama dengan istriku. Mari duduk dan sarapanlah bersama kami" ucap Ruan dengan ramah.


Profesor Alpha memilih duduk agak berjauhan dengan Alin karena tatapan Ru yang terus mentapnya dengan penuh kewaspadaan. Keaadannya sangat canggung hingga tak ada sedikitpun suara tiba tiba saja seorang pria berkaus apolo dan bercelana pendek memeluk Alin dan duduk disampingnya


"Pagi say, gimana apa kau menikmati hidangan disini?" ucapnya dengan nada polos. Alin tak terlalu mempermasalahkan pelukan itu dia sudah terbiasa dengan sikap bocah pria disampingnya "Arzan sejak kapan kau ada disini?!" tanya Alin. Arzan dengan polosnya memberi isyarat ke Alin untuk memberinya suapan makanan ditangannya "Iya aku tau"ucap Alin seraya menyuapi pria utu dengan sendok lain. Ruan Ruo masih memperhatikan gerak garik Arzan yang berbisik ditelinga Alin "Aku kesini mau bilang sesuatu padamu"


"Dalam minggu ini...."


Belum sempat Arzan melanjutkan perkataannya Alin sudah ditarik menjauh oleh Ruan Ruo "Al, perutku mulai mual" bisik Ru. Alin mengangkat Alisnya terlihat sekali dia tak percaya


"Ya udah ayoo, maaf prof aku duluan pergi. Oh ya zan tadi kau mau bilang apa?" tanya Alin seraya menahan tarikan tangan Ruan Ruo. Arzan baru sadar ternyata sedari tadi ada Ruan Ruo padahal kata Alin dia hanya berdua dengan prof. Alpha ke sini "Nanti aku kabarin saat kita berdua..." bisik Arzan ditelinga Alin. Ruan Ruo menarik paksa tangan gadis itu hingga kakinya tersandung dan jatuh ke lantai, melihat itu Ruan Ruo segera menunduk dan mengulurkan tangannya pada Alin "Al, maafkan aku. Aku tak sengaja menarikmu begitu kuat"

__ADS_1


Alin hanya terdiam dilantai seraya memijat kakinya yang nyeri untunglah dibagian belakang kapal tak ada seorang pun yang melihatnya ditarik secara paksa "Al, kau tak apa?" tanya Ru seraya hendak menggendong gadis didepannya. Alin menahan tangan Ru "Stop...diam disitu, aku bisa sendiri" ucap Alin seraya perlahan berdiri dan melangkahkan kakinya untuk duduk dibangku


Alin duduk dengan tatapan menghadap kelaut. Entah firasatnya mengatakan akan ada badai "Al, aku minta maaf" ucap Ru seraya memeluknya dari belakang. Alin menepuk bangku disampingnya "Duduklah disini Ru!" bukannya duduk Ru justru memijat Kaki Alin sehingga wanita itu merintih kesakitan "Tuh kan kakimu terkilir, aku sudah duga itu" awalnya Ruan Ruo memijatnya pelan namun lama kelamaan


"Ouch!" pekik wanita itu, tanpa sadar. karena sakitnya Alin sampai mengeluarkan air mata "Kau nangis hanya karena hal ini Al?!" ejek Ru. Alin menghapus air matanya "Aku tak menangis, ini tuh karena sakit banget tadi pas kamu tarik tiba tiba saat urut" Jelas Alin. Ruan Ruo hanya mengangguk "Kau akan baikan!" ntah mengapa sepertinya Alin pernah melalui situasi yang seperti ini.


kring... kring... kring....


Alin membuka ponselnya dan disitu sudah ada Ray dan papanya "Hai kak, akhirnya aku bisa makai benda ini untuk Vidcall. Oh ya kak, papa mau bicara padamu!" Gambar diponsel sudah berganti dengan pria paruh baya.


Dilayar Mr. Raf melihat Alin dan menantunya bersama "Bagaimana kabar kalian Disana?" tanya nya.  Alin mengangguk "Alhamdulillah baik pa. Tapi papa disana nggak papakan, wajah papa terlihat pucat. Apa papa sudah minum obat dengan teratur? Apa perlu Alin mengirimkan Vitamin?" Alin sangat khawatir pasalnya feelingnya kali ini nggak enak.


"Papa baik aja kok lagian kan sudah minum obat, makasih kemarin lusa kau sudah mau nemenin papa mancing. Pulang cepat ya nak, disini papa sedang mengadakan syukuran alhamdulillah papa, mama, dan juga Ray masuk ke Agama Islam sekarang"


Alin tersenyum lembut "Papa masuk Islam, Alhamdulillah!" ucap Ru dan Alin serempak. "Pa semoga kita semua diberi yang terbaik oleh tuhan yang maha esa" tambah Ru lagi.  Alin dan mr. Raf mengaminin ucapan Ru itu "Pa nanti saat pulang Alin akan membawakan oleh oleh kesukaan papa, papa tunggu Alin ya!"


Mr. Raf terdiam lalu tersenyum lemah "Cukup kalian berdua pulang ke sini dengan selamat, itu aja sudah buat papa senang. Inget pesan papa ya nak kalian berdua itu harus saling menjaga nanti kalau kami sebagai orang tua sudah nggak ada kalian hanya bisa bergantung satu sama lain. Banyak yang ingin papa sampaikan, yang pertama mama kamu minta kalian pulang dengan seorang cucu, yang kedua kalian berdua jangan lupa jaga kesehatan, dan yang ketiga kalian harus tau kami semua menyayangi kalian jadi papa mohon jaga pernikahan kalian agar kalian tak menyesal nanti kedepannya"


Alin terharu mendengar ucapan pria paruh baya yang ada dihpnya, dia tak bisa mengatakan apapun jadi Ruan Ruo yang mengambil ahli "Makasih pa untuk semua nya, Ru berterima kasih papa sudah mau mempercayai Ru dengan memberikan Alin di kehidupan Ru. Untuk soal cucu kalian, kami berdua masih dalam proses pembuatannya" Mr. Raf tertawa dengan puas disana "Hahaha... Iya papa menunggu waktu itu tiba. Kau berjuanglah karena aku tau Anakku itu tak mudah ditaklukan" Wajah Alin memerah mendengar ucapan papanya "Ussh, Papa ngomong apa sih? Alin disini masih denger percakapan kalian tau"


"Hehehe iya ini hp nya papa balikin ke Ray, ya" sebelum Mr. Raf mematikan ponselnya Alin berteriak "Pa tunggu! Alin mau bilang makasih papa sudah ngasih yang terbaik buat Alin selama ini. Papa adalah The best Daddy in the world, I love you so much papa. Sekali lagi Alin sayang sama papa" Alin memberikan ciuman ke ponsel itu dan Mr. Raf tertawa "Kau berlianku yang paling berharga dikeluarga ini nak. Teruslah jaga kepolosanmu itu hehehe"


Setelah selesai menelfon mereka berdua kembali ke kamar "Al, kita lanjut Yuk" Alin menaikkan sebelah alisnya "Lanjut apa?" tanya nya seraya menyesap air lemon dengan perasan madu. Ru menyeringai dan menatap cabul ke arahnya "Lanjut buat dedek Gemezz"


"Dasar Mesum"


.....


Selama tiga hari diatas kapal Alin tak memiliki kesempatan untuk bicara dengan Arzan padahal katanya ia ingin menyampaikan sesuatu, setiap kali Alin ingin bicara padanya ntah Ru selalu muncul dari mana dan menarik tangannya. Ru selalu membuat alasan agar Alin tak bisa menemui Arzan


Sebelum pulang, dibandara mata Alin mencari sosok Arzan "Kau cari siapa?" tanya Ru yang sudah siap untuk naik helikopter. Alin tersenyum masam "Ru berikan aku waktu sebentar, ada yang ingin ku bicarakan dengan Arzan!" Ruan Ruo hendak meledak karena marah 'Arzan, Arzan, Arzan... Kenapa sih selalu nama Tarzan itu yang dicari?!' umpat Ru dengan kesal dihatinya. Ru berbalik dan meninggalkan istrinya itu "Pergilah, Aku akan tunggu dihelikopter!"


Kesempatan pun datang Alin langsung berlari ke arah pintu bandara dan melihat sosok yang iacari baru saja keluar dari taksi "Zan, ada apa? Cepat katakan jujur Feeling aku buruk kali ini" ucap Alin yang masih ngos ngosan karena berlari. Arzan menenangkan gadis itu dengan memberinya minum terlebih dahulu "ini buruk Lin! Minggu ini, Akan menjadi minggu yang paling kau berkenang dihidupmu" Alin menghela nafasnya "Kalau begitu itu baik" ucap Alin lega. Arzan memprotes kata kata Alin "Jangan dipotong dulu, kau kebiasaan nyeletup omongan orang. Berkenang bukan karena bahagia Al, tapi karena duka yang membubung tinggi hingga membuat langit menjadi gelap diiringi hujan-guntur dan membuat bumi yang dipijak bergetar jadi pada intinya kau harus kuatkan dirimu" ucap Arzan. Muka Alin seketika pucat "Apa ini sudah waktunya?" gumamnya. Arzan menggeleng "Aku nggak tau apa yang akan terjadi ntah ini berkaitan dengan dirimu, suamimu maupun keluargamu tapi ada hal yang harus kau ingat kau tak sendiri. Sebenarnya aku tau kau melihatnya juga dan bukan hanya aku" Alin menggelengkan kepalanya "Kali ini aku tak melihat apapun"


Sepanjang perjalanan dihelikopter. Alin terlihat suram walaupun dia tersenyum saat berbicara tetap saja sangat keliatan dia sedang memikirkan sesuatu. Hingga sampai dibandara baru, Alin menurunkan barangnya dibantu oleh dua pengawal nya "Al ada apa?" tanya Ru yang baru saja melepaskan peralatannya. Alin menggelengkan kepalanya "Tak ada apapun. Oh ya Ru bolehkan aku izin kerestoran mama" ucap Alin 'Aku perlu berpikir jernih mungkin ini sudah waktunya untuk ku...' Ruan Ruo menggenggam tanganya dan membuat Alin tersadar dari lamunannya "Aku akan ikut. Kita bawa semua oleh oleh yang kita beli kesana" Ruan Ruo memesan kereta dan membiarkan Alin masuk terlebih dahulu. Para pengawal juga ikut namun dia berjaga disamping kusir dan diluar pintu kereta.


Sesampainya direstoran Alin membunyikan bel berkali-kali namun tak ada seorang pun "Mungkin papa ada dirumah Ru,kan bilang papa dia habis mengadakan syukuran" ucap Alin. Ru senang Alin mulai menjadi ceria lagi saat melihat restoran milik keluarganya, dengan membawa dua tas belanjaan dikiri dan kanan tangannya dia melangkah menuju Rumahnya. Dia meliat ada banyak sepatu dan sandal didepan rumahnya "Hehehe mungkin papa mengadakan syukuran buat tujuh bulanannya kak Amy" gumam gadis kecil itu yang hanya diliat Ru.  Alin masuk dan dengan nada ceria dia mengucapkan salam


"Assalamualaikum!"


~• Tbc

__ADS_1


__ADS_2