
Angin kembali berhembus, hati yang sudah menjadi abu diatas kapal yang berlabuh kini terbang kembali mengikuti Angin...
Adakah alasan untuk Hati yang sudah hancur ini kembali ke tempat yang sama?...
Pagiku dimulai dengan suara berisik,
Dapat kurasakan tempat tidur bergerak seakan ada yang menaikinya selain diriku, tapi karena rasa kantuk aku pun tak membuka mataku
"Bunda..."
Samar samar suara menggemaskan terdengar ditelingaku. Dapat kurasakan kecupan kecupan kecil diwajahku "Ehm..." Aku menggeliat karena masih enggan terbangun. Dapat kurasakan salah satu dari mereka masuk ke dalam pelukanku "Bunda.... Bangun...."
"Sebentar sayang" gumamku seraya mengecup rambutnya. "Bunda... Why just Hanzel get Morning kiss from you?" protes Khana yang tiba tiba saja ikut nyempil antara aku dan Hanzel.
Ku kecup rambut khana dengan pelan lalu Aku duduk disisi tempat tidur dan mengikat rambutku yang terurai tak karuan. "Morning Baby..." ucapku yang mendapat ciuman di pipi kanan dan kiriku "Morning juga Bunda..." gumam Hanzel yang langsung berbaring malas disampingku, Khana juga sama. mereka memasang tampang memelas
Kedua malaikat kecil ku ini sangat menggemaskan, mereka manja dipagi hari seperti anak pada umumnya. Tak terasa mereka berdua hampir lima tahun dan itu artinya aku semakin tua kan
"Kalian sudah mandi?" tanyaku yang dijawab gelengan lemas dari mereka berdua. Hanzel membuka mulutnya dan dengan Puppy eyes yang sama seperti milikku dia mulai berbicara "Bunda... Boleh tidak aku sama Khana ikut Daddy Arzan. Kata Daddy Arzan dia mau berenang"
"Iya bunda, Khana mau ikut berenang sama Daddy. Bunda juga ikutan ya..."
Aku menutup mataku agar tak terpengaruh puppy eyes milik mereka
"Nggak, bunda nggak mau"
Jawabku singkat, wajah mereka seketika sedih seakan ingin menangis
"Ta...Tapi bunda..."
"Sst...kan bunda cuman bilang bunda nggak mau, bukan berarti kalian nggak boleh ikut Daddy" ucapku seraya menghelus kedua rambut mereka. Hanzel dan Khana melompat kesenangan "Yeay bisa belajar berenang sama Daddy" gumam mereka secara bersamaan
"Tapi ingat jangan Nakal dan turuti kata Daddy disana nanti. Oh ya ada satu syarat lagi, sebelum pergi berenang kalian harus sarapan dulu" ucap ku pada keduanya yang dibalas anggukan. Tokk...Tokk...Tokk... Suara ketukan mengalihkan perhatian ku ke arah pintu, seorang gadis cantik masih lengkap dengan piyamanya berdiri diambang pintu
"Morning, Aunty"
"Morning juga sayang" ucapku. Aku melambaikan tanganku untuk menyuruhnya mendekat dan duduk didekatku, Hanzel dan juga Khana
"Kenapa kalian semua bangun pagi sekali?"
"Astagfirullah, Aunty. Aku lupa tadi aku disuruh om Arzan manggil Hanzel sama Khana dan juga dia nyuruh aku bangunin Aunty" jelas Lucy. Aku menjitak pelan kepalanya "Lain kali jangan mau disuruh-suruh sayang, apalagi kalau orang yang nyuruh itu cerewet kayak om Arzan itu" ujarku yang mendapat ancungan jempol dari Lucy "Aunty tenang aja, lagian juga Lucy ini dibayar dua Euro oleh Om Arzan makanya Lucy mau hehehe" jelas Lucy yang berhasil membuatku ikut tertawa "Anak pintar" gumamku tanpa sadar.
__ADS_1
Aku segera bangun dan mengambil jilbab instan yang biasa ku pakai sebelum memakainya aku pergi membasuh muka terlebih dahulu.
Saat keluar aku sudah melihat Semuanya berkumpul dimeja makan
"Hmm... Haruskah bunda masak?"
Tanyaku pada semuanya. Arzan menggelengkan kepalanya dan menunjuk bingkisan di atas meja
"Yeay burger" Hanzel yang pertama mengambil bungkusan bulat dan Khana juga ikutan namun dia mengambil bungkusan yang panjang
"Aku mau kebab" gumamnya seraya membuka bungkusan.
Semuanya mulai makan setelah membaca doa, aku menatap tajam ke arah Arzan "Fast Food dipagi hari, kamu pikir ini baik untuk kesehatan?"
Arzan menggeleng "Tentu tidak tapi ya sesekali tak apa. aku juga membawakan makanan khusus untuk mu, ini ada pizza juga" Aku menatap Pizza itu dengan cukup lama
"Ya kalau kamu tak mau ya tak apa ini kan bisa aku ambil lagi" gumam Arzan. Aku lekas mengambil satu kardus pizza itu dan memasukkannya dalam kulkas
"Aunty jadi sarapan apa kalu pizzanya dimasukin ke kulkas?" tanya Lucy yang masih menyantap burger ditangannya. Aku tersenyum dan mengambil semangkuk buah dingin dari kulkas "Makanannya Aunty tak kalah enak dari Fast Food"
Aku menaruh nya sebentar dalam microwave lalu mengeluarkan mayonaise keju dari kulkas. Setelah mencampur rata semuanya aku membawa nya ke meja makan "Salad buah... Apa kalian mau?"
Yang pertama mengambil dengan sendok adalah Arzan sedangkan anak anak masih sibuk dengan Fast Food mereka. "It's Yummy" gumam Arzan
Selagi makan kami berbincang bincang "Jadi gimana persiapan pernikahannya?" tanyaku pada Arzan, Arzan mendengus kesal "Kata mu kamu mau membantu tapi apa? Untuk mencoba gaun pengantin saja sejak bulan kemarin belum kamu lakukan" protes Arzan yang disambung dengan grutuannya
"Bareng aku lah, kan aku yang nikah tapi Al kalau nunggu kamu sama aku dapat jata libur barengan bisa bisa nunggu kiamat dulu"
"IYA, nggak usah aja sekalian nikah. Atau nikah nggak usah pake gaun pengantin, gampangkan kok hidup dibuat susah...." lama lama kok aku jadi kesal sendiri ya berbicara tentang pernikahan.
"Ya jangan gitu dong Al, nanti sore kita pergi nyoba gaun biar aku jemputin anak anak disekolah dan kamu di Kampus"
Aku hanya mengangguk padahal aku sudah menyarankan pakai orang lain yang ukuran nya sama saja buat nyoba gaun kan nanti saat nikah gaunnya bakalan dipakai juga sangat disayangkan saran itu ditolak olehnya.
Setelah itu aku disibukkan dengan pekerjaan ku lagi, karena sebuah pesan aku melangkah keluar dari zona nyaman padahal bisa dibilang ini waktu istirahatku, baru saja aku duduk di ruang kesehatan yang dingin dan adem. Menurut pesan didepan lobi tapi tak ada seorangpun yang menunggu disana ntah mengapa kedua kaki ku membawaku ke halaman samping disitu ada dia
Siapa namanya?
Rumireo Radeya bukan?
Aku sapa dirinya dan mulai Berbincang bincang kali ini kesempatanku bertanya, kebetulan anak anak masih di sekolah. Jadi akan ku tuntaskan rasa penasaran yang hinggap kali ini, ya awalnya aku tak tertarik pada ceritanya namun seiring waktu aku justru kepikiran tentang alasannya menyamakan aku dengan Alin. Dia mulai menceritakan saat saat terakhirnya dia melihat Alin kini aku tau kita berdua benar benar mirip setelah Ru memperlihatkan fotonya padaku, nggak mungkin kan dia saudara kembarku yang tertukar? Itu hal paling absurd yang pernah aku pikirkan mana ada saudara kembar yang namanya sama persis. Ya nama asliku Alin Craetta tapi aku ragu apa aku benar Alin yang dicari orang dihadapanku ini
Mungkin benar aku Alin Craetta yang Ru cari, itu salah satu penjelasan yang masuk akal karena timingnya sungguh pas aku hamil selama 9 bulan dalam keadaan buta dan kata Ru saat pergi lima tahun yang lalu Alinnya juga dalam keadaan buta dan dia juga sedang hamil
Jika benar aku adalah Alin yang ia cari, kenapa baru sekarang dia menemukanku? dan pertanyaan terbesarku kenapa hati ini menyuruhku untuk tak mengungkit masa lalu? Apakah di masa lalu aku dicampakkan atau dia yang aku campakkan? tanyaku pada diri sendiri.
__ADS_1
Aku ingin tak peduli karena itu semua masa lalu dan sekarang yang terpenting bagiku hanyalah Hanzel dan Khana, tapi sayangnya aku tau setelah ini aku akan terus kepikiran jika tak menemukan jawaban darinya jadi mau tak mau aku harus ikut campur dimasalah ini.
Sudah terlanjur basah sekalian saja aku menyelam bahkan biarpun aku tak bisa berenang masih banyak alat bantu yang bisa ku gunakan. Ku serahkan hal ini pada tuhanku, biar saja aku dikatakan tak tau malu karena ikut campur
Aku menjawab semua yang ditanyakan Ru hingga sebuah pertanyaan membuatku tertegun bagaimana aku bisa menjawabnya
Jika aku adalah Alin akan kah aku kembali padanya...
Dari ceritanya Ru aku pergi darinya, tapi apa alasanku meninggalkannya seorang diri dan mengambil resiko dengan pergi disaat hamil bahkan lagi buta. selama ini aku pasti memiliki Alasan jika ingin bertindak.
Hal ini membuat Kepalaku sakit dan aku bisa merasakan gejolak diperutku, kenapa harus sekarang dan kenapa juga harus didepannya pria tampan seperti Rumireo? Aku menyesal tak sempat meminum obat tadi.
'Akh...Sial nafasku sesak' gumamku dalam Hati. Aku tak tahan untuk tak merintih, untung aku bawa obat dijasku. Lebih baik bagiku minum obat dari pada harus dibawa ke dokter atau rumah sakit karena nantinya Ganesh dan Arzan bakalan bertambah cerewet jika tau penyakitku ini kambuh.
Ru mengajak ku makan tapi belum sempat aku jawab iya, Arzan tiba tiba muncul layaknya Jin dari botol. Ku lihat dia membawa anak anak dibelakang
"Jangan sentuh dia..." ucap arzan sekali lagi. Ntah mengapa dia jadi over protektif, ya sebenarnya dia selalu berlebihan tapi kali ini aku seperti melihat percikan api keluar dari matanya
"Kamu kenapa?" tanyaku pada Arzan, Arzan hanya diam dan tak menggubrisku "Sudah lama kita tak berjumpa tuan Ruan Ruo!" sapanya dengan seringai diwajah tampan. Arzan berbisik ditelingaku "Bawa Anak anak pergi dulu!" aku hanya mengangguk karena tak ingin emosi Arzan seketika meledak begitu saja
Aku tau pasti ada yang Arzan tutupi dari ku karena aku tak sebodoh yang ia pikirkan. Selama ini aku hanya diam dan tak bertanya satupun tentang masa laluku tapi sekarang aku harus tau kebenarannya
Setelah mengantar Anak anak ke ruang kesehatan untuk bermain dan istirahat, aku kembali ke tempat Arzan dan Ru. Aku tidak langsung menyapa mereka justru aku bersembunyi dibelakang dinding dan menguping pembicaraan mereka bahkan mengintip
"Jauhi dia, dia bukan Alin yang kau cari" ucap Arzan seraya menarik kerah baju Ru. Ru melepaskan tangan Arzan lalu iya menyeringai "Jadi dia betul Alin, sudah kuduga kalian semua bersandiwara dengan kematiannya"
"Aku bilang jauhi dia atau kau nggak akan bisa melihatnya lagi"
"Dia masih istriku aku berhak membawanya" dari tempatku berdiri aku bisa liat Ru mengepalkan jari jarinya dengan sangat kuat
Lalu Arzan memasang tampang meremehkan ke arah Ru "Setelah apa yang kamu lakukan pada nya, Kamu masih bisa berkata dia adalah istrimu?! Sungguh aku tak pernah melihat orang yang nggak punya malu dan sekejam dirimu"
"Aku mau memperbaiki semuanya namun kalian menghalangiku"
"Percuma Tuan Rumireo Radeya anda sudah terlambat... Kau tau mengapa dia tak mengenalimu? Itu karena dia terkena Amnesia Retrograde"
Retrograde?
Aku ingin tertawa mendengarnya, menurut Analisa ku sendiri yang telah ku Alami seharusnya gejala Amnesia Disosiatif . Emang benar penyebab keduanya sama, tapi gejala dan pengobatannya berbeda, kalau Amnesia Retrograde yang aku ingat adalah ketidakmampuan memunculkan kembali ingatan masa lalu yang lebih dari peristiwa lupa biasa dan penyakit ini dapat disembuhkan dengan terapi. Sementara itu Amnesia Disosiatif terjadi ketika seseorang memblok suatu informasi tertentu, biasanya berhubungan dengan peristiwa stres atau trauma, namun hal ini menyebabkan dirinya tidak dapat mengingat informasi pribadi yang penting dan satu satunya cara pengobatannya adalah keinginan orang itu sendiri untuk mengingatnya kembali.
Aku sudah berusaha mengingatnya namun tak semudah yang aku bayangkan setiap kali ku berusaha mengingatnya kepala ku akan terasa dijatuhi besi satu ton dan nafasku sesak persis seperti lima tahun yang lalu setelah sadar dari kecelakaan.
"Jadi dia terkena Amnesia? Aku akan membuatnya mengingatku lagi" ucap Ru dengan sangat yakin. Arzan mengerutkan keningnya "Itu tak semudah membalik telapak tangan" gumam Arzan, lalu aku liat Arzan membisikkan sesuatu ditelinga Ru yang membuatnya terguncang dan berdiri dengan tatapan kosong dimatanya.
"Terserah kau mau percaya atau tidak tapi kali ini aku pastikan Alinku nggak akan tersakiti lagi untuk yang kesekian kalinya" ucap Arzan seraya berjalan ke arahku. Aku segera bersembunyi di dinding lagi lalu aku mendengar suara tertawa dari belakangku "Kalau mau mengintip setidaknya cari tempat yang tak terlihat" sontak aku berbalik ke arah empunya suara.
__ADS_1
"Kamu membuatku takut" gumam ku pada Arzan yang sedang tertawa. "Ayoo... Kamu sudah janji hari ini bersama denganku kan!" Arzan menarik lenganku layaknya menarik anak kecil. Untuk sekilas aku menatap ke arah Ru yang masih terdiam ditempatnya
~•Tbc