The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
30. Selir Baru


__ADS_3

Sejak Fang zue menghilang tahta kerajaan jatuh ditangan Ruan Ruo. Disamping kesibukannya sekarang Ruan ruo lebih over protektif menjaga istri kecilnya yang sedikit nakal itu


"Al kau mau kemana?" tanya Ru yang baru bangun dari tempat tidurnya. Melihat Alin dengan setelan celana jeans dan tank top dibalut jas putih Ruan Ruo hanya menghela nafasnya


"Bukan kah sudah ku katakan untuk berhenti dari rumah sakit itu?"


Alin berlari ke arah atas tempat tidur dan mengecup pipi Ru "Ru. Aku tak bisa hanya diam disini" bisik Gadis itu disertai kekehan, perjalanan ke kerajaan utara membuatnya sadar akan penting nya profesinya itu. dia tidak terlihat lelah setelah kejadian tadi malam, sungguh aneh dirinya saja masih mengantuk tapi gadis didepannya begitu bersemangat


Alin turun dari tempat tidur dan mengambil tasnya "Ru kau tenang saja, yang kau khawatirkan itu takkan terjadi lagi padaku" ucap Alin dengan sangat yakin.


Ruan Ruo bangkit dari tempat tidurnya dan memeluk pinggang Alin yang hendak kabur dari pandangannya


"Ru lepaskan kalau tidak aku akan ketinggalan mereka" pekik Alin yang sedikit terkejut dengan pelukan Ruan ruo yang begitu posesif


Ruan Ruo menaruh dagunya dipundak Alin "Kau perlu ingat untuk tidak dekat dekat dengan Marcell, dia itu berbahaya"


Alin hanya bisa tersenyum masam untuk menjawabnya ternyata Ruan Ruo sudah tau kejadian dia mencari Marcell ditemoat latihan


"Ya udah aku berangkat sekarang ya. Wassalamua'alaikum my hubby" ucap Alin


......


Tanpa diketahui Alin beberapa hari ini tersebar rumor tak enak dari masyarakat tentang dirinya. Ruan Ruo memukul meja saat membaca koran tentang Rumor masyarakat itu "Aku tak mau mendengar atau melihat kabar seperti ini lagi. My Lady barusan saja sembuh dari lukanya dan dokter mengatakan dia tak boleh terlalu stress, cepat kau cari tau dari mana sumber koran itu dan tutup pabriknya lalu buat Rumor dimasyarakat bahwa pabrik itu membuat cerita hoax tanpa fakta yang nyata. Aku juga akan membawa hal ini ke pengadilan"


Sekertaris Raja terdahulu yang dikenal sebagia Pak Kim segera mengangguk dan memperintah anak buahnya


Kini Ruan Ruo menjadi Raja dikerajaannya, dia harus cuti untuk segala urusannya dilondon, dia bekerja dua kali lipat lebih giat bahkan dia harus lembur seharian agar keesokan harinya dia bisa pulang lebih cepat 


Tok...tok...tok...


Pak Kim masuk dengan sejumlah berkas ditanganya "Ini berkas hasil kerjasama kemarin yang ditawarkan kerjaaan utara dan tuan ada yang ingin bertemu denganmu!"


Seorang wanita yang sudah lama tak terlihat kembali memperlihatkan wajahnya. Ruan Ruo menyuruh pak Kim untuk keluar


Setelah Pak Kim keluar, suara Bariton yang kasar keluar dari mulutnya "Ada apa kau disini?"


Shenna menatapnya dengan mata berair "APA KAU TAK MERINDUKAN AKU?! Setiap malam aku menangis hanya karena mengingatmu. Apa tak ada cintamu untukku? Apa kau sejahat itu padaku"


Ruan Ruo bertekad takkan peduli dengan nya sejak dia berbohong dan mengfitnah Alin. Shenna melangkah maju untuk memeluk dirinya namun Ruan Ruo mundur dan menghindarinya "Menjauhlah dariku. Jangan ganggu aku karena aku sudah bahagia"


Masih dengan tangan yang kosong diudara Shenna meneteskan Air matanya dan memeluk dirinya sendiri "Baik jika kau bahagia dengannya aku akan pergi bersama anakku"


Ruan ruo terkejut mendengarnya


"Apa kau mencoba menipuku pelacur?" ucap Ru dengan kasar. Shenna menghelus perutnya yang masih terlihat datar "Aku benaran hamil Ru dan ini...."


"STOP!" Ruan Ruo menutup telinganya, dia tak sanggup mendengar apa yang seharusnya dia dengar 'Aku tak mau kehilangan Alin untuk kesekian kalinya' ucap Ru dalam hati. kalau Alin tau dia tidak akan segan untuk meminta cerai

__ADS_1


"Kau tau Ru inilah akibat dari apa yang kita lakukan. Aku terkena Karma karena hal ini aku diusir dari rumahku. Aku dibenci keluargaku dan tak memiliki siapapun! Aku mohon Ru dulu kau berjanji akan menikahiku maka nikahilah aku sekarang" ucapnya


Ruan Ruo memukul meja dengan suara brakk... Meja jati dengan kaca diatasnya itu retak. "Aku takkan menikahimu! Itu jawabanku jangan berpikir untuk memanfaatkanku karena posisiku yang sekarang"


Tiba saja pintu yang  sudah dikunci itu terbuka dan memperlihatkan selir Sheng dan juga putri Wei. Selir Sheng berjalan dengan cepat kearahnya dan dalam sekejap menamparnya "Apa maksudmu tak mau menikahinya? Setidaknya jadikan dia selirmu. Dia adalah keponakanku kalau kau berani macam macam dengannya maka aku sendiri yang akan menghadapimu"


Putri Wein hanya bisa terisak melihatnya dia sangat kecewa dan juga sedih. Dia masih menyandang status Ratu dikerajaan walaupun Fang zue menghilang. Dia tak tau harus berbuat apa hingga akhirnya dia merasa nyeri diperut "Akh..."


"Kakak!" Ruan Ruo langsung menangkap tubuh Putri wei dan berlari membawanya ke kamar "Cepat panggil dokter!" teriak selir sheng pada pak Kim. Pak Kim hendak pergi mencari dokter tapi suara barinton khas Ruan Ruo menghentikannya "Cukup pergi cari Alin, bawa dia ke sini sekarang"


Ruan Ruo melanjutkan langkahnya dan meletakkan putri Wei diatas tempat tidur


"Kenapa kau tidak panggil dokter saja?! Aku akan panggil dokter pribadiku untuk memeriksa Ratu" tawar Selir Sheng yang mendapat penolakan langsung dari Ruan Ruo


"aku tak mempercayai siapapun!"


.......


Alin menyuruh mereka semua menunggu diluar karena kondisi putri wei yang lemah. Setelah selesai dia pergi ke ruang kerjanya Ruan Ruo dimana disana sudah ada selir Sheng, Shenna, Ruan Ruo.


"Kakak Ipar baik baik saja dia hanya stress dan sedikit tertekan. Aku sudah memberi obat untuknya agar selalu dikomsumsi"


Ruan Ruo menghela nafas lega lalu dia memeluk pinggang Alin dengan posesif "Kau juga sebaiknya istirahat" Bisik Ruan Ruo dengan nada mesra.


Alin mendorong dada Ruan Ruo yang sangat dekat dengannya "Aku harus kembali, disana masih banyak pasien yang butuh perawatan"


Alin yang mendengar itu hanya mengerutkan keningnya "Apa yang kau bicarakan bibi?" tanya Alin. Alin melihat ketegangan antara Ruan Ruo dan Shenna lalu dia mengerti dan menghela nafas "Aku tau dia hamil sejak aku pertama kali melihatnya didepan kamar putri Wei" ucap Alin dengan setenang mungkin. Ruan Ruo semakin pucat dia sangat takut Alin akan jadi seperti dirinya yang dulu saat marah, dia lebih baik melihat Alin melampiaskan amarahnya daripada bersikap seolah olah tak ada yang terjadi.


Selir Sheng terkekeh "Kalau begitu biarkan Ruan Ruo menjadikan nya sebagai selir kerajaan? Kau adalah istrinya dan istri harus menutupi aib suaminya jangan sampai tersebar kabar yang mencoreng nama baik anggota kerajaan" Alin hanya bersikap tak peduli dan berjalan hendak keluar pintu dia berhenti tepat didepan pintu dan berbalik menatap mereka bertiga dengan tajam "Aku tau Statusku sebagai anggota kerajaan hanyalah sebagai istrinya Ru. Aku tidak bilang aku melarang Ru untuk menjadikan Shenna sebagai selir karena itu adalah keputusan nya Ruan Ruo yang berkaitan dengan masa depan kerajaan. Aku hanya punya satu permintaan!"


Selir Sheng sudah sangat senang sudah pasti gadis didepannya akan hancur, dia akan membiarkan gadis itu mengucapkan permintaan terakhirnya "Apa itu? Aku akan mempertimbangkannya"


Alin kembali memasang seringai kejamnya dan berkata dengan nada santai "Ru...Kau boleh memberinya status sebagai selir tapi kau tak boleh menikahinya dan tidak boleh menyentuhnya. Jika kalian emang menghormati ayah mertua sebagai Raja yang telah memustuskan perjodohanku dengan Ru kalian pasti tidak akan menolak ini, benarkan bibi?"


Selir Sheng yang mengerti perkataan tajam Alin hanya bisa mengangguk dengan paksa. Sudah jelas dengan Raja memutuskan perjodohan itu, berarti sang raja mempercayai Ruan Ruo berada ditangan Alin dan seperti peraturan keluarga yang turun menurun bahwa tak ada satupun anggota keluarga kerajaan yang diperbolehkan mengambil selir. Dia adalah satu satunya selir kerajaan, itupun karena dulu ada krisis kerajaan sehingga Tuan Lee yang menjabat sebagai Raja harus mengambil selir yang berumur lima belas tahun. Selir sheng sejak kecil ingin menjadi Ratu sebab itu ayahnya yang merupakan pedagang terkaya saat itu membuat Sang Raja mengambilnya sebagai selir namun sangat naas nasibnya karena terabaikan bahkan Tuan Lee benar benar tak menyentuhnya sampai sekarang.


Shenna hendak menolak "Aku akan pergi saja kalau begitu biar aku bawa anak ini sampai akhir hayatku. Aku yakin tuhan akan memberi jalan terbaik untuk kita berdua"


Alin berdecak kesal dia sangat tak suka jika urus urusan seperti ini seseorang membawa nama tuhan "Kau tak perlu pergi! Sekarang jawab dengan jujur berapa umur kandunganmu?"


Shenna menunjukkan kedua tangannya "Enam minggu!"


Alin menatap Ruan Ruo "Keputusan ada ditanganmu Ruan Ruo.  Kau bisa melakukan tes DNA untuk menetukan siapa ayah dari bayi itu saat umurnya telah mencapai 10-12 minggu. Jika benar itu anakmu, kau boleh menikahinya" ucap Alin.


Alin keluar begitu saja dari ruangan itu. Awalnya dia hanya melangkah dengan berjalan pelan namun semakin lama pandangannya kabur mungkin karena cahaya matahari yang menyilaukan dan juga dia tak memakian lensa ataupun kacamata, dia mempercepat langkahnya dan akhirnya dia memutus kan untuk berlari sebelum semuanya terlihat gelap


Dia menutupi kepalanya dengan jas putihnya dan berjalan melewati taman yang berbentuk Labirin hingga kakinya berhenti melangkah diujung dermaga ditepi danau. dia sekarang berada disisi lain istana lama yang tak terpakai tampatnya begitu sunyi dan tak ada satupun prajurit atau orang lain yang datang ke tempat itu padahal menurutnya tempat itu sangat sejuk dan sinar mentaripun tak menembus celah daun karena pepohonan yang begitu rimbun. Alin mengambil nafas dalam dan berteriak sekencang mungkin

__ADS_1


I...


HATE...


THIS...,


F**K you all!


Teriak Alin sekencangnya


Dia Sudah biasa berteriak untuk melepaskan amarahnya dan ini menjadi satu satunya tempat dia melampiaskan amarahnya sejak tinggal di istana.


Pandangan Alin kembali seperti semula dan dia kembali ke tepi dermaga dan bersandar di bawah pohon diliatnya masih ada pedangnya disamping pohon yang tertinggal beberapa hari yang lalu saat dia kesini "Masih ada waktu sebelum jam istirahat berakhir" gumam Alin, dia memasang Alaram diponselnya agar tidak terlambat.


Dia melatih seni anggarnya dan mandi dengan keringat. Setelah itu dia membungkus beberapa bunga Clitoria ternatea yang sudah ia keringkan beberapa hari. Dia menemukannya di taman labirin, ada banyak bunga seperti itu disana sangat disayangkan hanya dibiarkan layu seperti itu saja. Bunga itu berwarna ungu cerah dan sangat enak untuk dibuat teh selain itu bunga itu punya banyak manfaat orang orang di Asia tenggara sering menyebutnya dengan kembang Telang.


Alin sengaja membungkusnya untuk diberikan pada putri Wei dan juga suaminya yang sedang tertekan


"Hai kau apa yang sedang kau lakukan disana?" tanya seseorang Alin langsung berbalik dan melihat Ruan Ruo


"Mengapa kau disini?" tanya Alin dengan tatapan polos. Ruan Ruo langsung berfokus pada tubuh istrinya yang dipenuhi keringat bahkan pakaian nya basah dan menujukkan warna pakaian dalamnya tiba tiba saja wajah Ru memerah Alin yang sadar akan hal itu dari tatapannya segera menutupi pakaiannya dengan jas "Kau mesum!"


"Aku normal bukan mesum. Lagian mana ada pria yang tahan melihat penampakan seperti itu, aku tak mau melihatmu melakukan hal ceroboh seperti itu lagi. Bagaimana kalau yang datang tadi itu bukan aku, kau pasti sudah sangat malu" ucap Ruan Ruo seraya melepas jas hitamnya dan menutupi bagian tubuh Alin yang basah


"Aku gerah mumpung ada kau disini tolong jaga sekitar dulu karena waktu istirahatku nggak banyak" ucap Alin saraya menarik Ruan Ruo untuk duduk dibawah pohon. dia membarikan teh berwarna ungu pada Ruan Ruo "Ini teh Telang. Baik untuk orang Stress" jelas Alin. Ruan Ruo langsung menyesapnya dan Aroma khas dari teh ungu itu membuatnya jadi rileks "Teh ini sungguh nikmat walaupun aku bukan orang stress dalam arti gila" tiba tiba saja wajah Ru ditutupi oleh jasnya


Alin mengeluarkan sarung dari tas nya dan mulai memakainya lalu dia melepas semua pakaian nya. Wajah Ruan Ruo semakin memerah "Apa yang kau lakukan?"


Alin menjemur pakaiannya diterik matahari "Aku gerah dan perlu mandi" ucap Alin belum sempat Ruan Ruo protes Alin sudah langsung menenggelamkan sebagian tubuhnya didanau


"Akh... Disini begitu dingin dan sangat segar rasanya"


"Alin! Cepat kau kembali ke sini!" teriak Ru dari tepi danau. Alin semakin berenang menjauh karena menikmati Air jernih itu dia teringat sebuah kejadian yang telah lama dia lupakan 'Bukankah dulu aku pernah kemari sambil bernyanyi' pikir Alin


There is an castel on a clouds...


Lagu dan irama itu mengingatkannya pada seorang bocah laki laki yang entah bagaimana kabarnya sekarang.


Alin berendam cukup lama hingga Ruan Ruo benar benar kesal dan terus mengoceh "..... Aku tau kamu kesal padaku karena Shenna kan? Tapi jangan begini cara kamu melampiaskan amarahmu Al!"


Alin menyisir rambutnya "Kenapa bukan kah kau masih cinta padanya, dia kan cinta pertamamu dan pernah menyelamatkan hidupmu? Kau ingat perjanjian kita jika kau menikah lagi maka aku akan pergi, jangan jadi orang serakah Ru! Lepaskan aku jika kau ingin bersamanya." ucap Alin


Ruan Ruo memeluk tubuh Alin "Maaf Al, ini semua salahku karena dulu aku tak menyadari pentingnya dirimu dihidupku. Aku tak akan menikahinya aku hanya akan memberinya gelar selir kerajaan persis seperti Selir Sheng, itu sebagai balas budi ku padanya" ucap Ruan Ruo.


Alin hanya bisa tersenyum masam sebelum berkata "Aku harap waktu bisa berhenti Ru!"


~•TBC

__ADS_1



__ADS_2