
1 Minggu telah berlalu semenjak Bella kembali menetap di unit apartemen Anna yang lama. Selama 1 minggu terakhir, Anna tidak pernah lagi bertemu dengan Aaron. Dia memang sengaja melakukan hal itu agar Aaron semakin merindukannya.
"Sayang, kapan kita bisa bertemu? Aku sudah sangat merindukanmu. Sudah 1 minggu kita tidak pernah bertemu," tanya Aaron. Saat ini dia dan Anna sedang berkomunikasi melalui telepon.
"Aku juga sangat merindukanmu, Aaron, tapi aku tidak bisa pergi kemana-mana. Kamu tahu 'kan kalau papa melarangku untuk pergi keluar. Papa khawatir kalau aku pergi keluar, aku akan pergi menemuimu lagi, jadi dia menugaskan beberapa orang pengawal untuk berjaga di depan kamarku agar aku tidak bisa kabur," bohong Anna. Dia sengaja mengarang cerita yang masuk akal agar Aaron percaya dengan kebohongannya. Apalagi yang Aaron ketahui adalah bahwa tuan Harold tidak merestui hubungan mereka berdua.
"Sayang, bagaimana kalau aku pergi menemui papamu untuk meyakinkannya bahwa aku bersungguh-sungguh padamu. Aku serius dengan hubungan kita dan aku ingin segera menikahimu."
"Apa? Menikah? Apa aku tidak salah dengar?" Anna sedikit terkejut mendengarnya.
Kenapa Aaron begitu terburu-buru ingin menikahi Anna? Apa karena sekarang dia sudah tahu bahwa ternyata Anna adalah putri dari keluarga Harold yang kaya raya itu? Cih, pasti karena itu alasannya. Dasar gila harta. Batin Bella tersenyum sinis.
"Tidak Sayang, kamu tidak salah dengar. Aku sungguh serius ingin segera menikahimu. Kamu juga mau 'kan menikah denganku?" tanya Aaron.
Anna terdiam sejenak lalu kemudian menjawab, "Oh, tentu. Tentu saja aku juga ingin menikah denganmu, karena aku juga sangat mencintaimu." Anna tersenyum sinis setelah mengucapkannya. "Begini saja, kalau kamu memang serius ingin segera menikahiku, biar aku bicarakan dulu hal ini dengan kedua orang tuaku, karena aku takut, jika kamu yang nekat pergi menemui dan mengatakan hal ini pada papa, papa justru malah marah dan berujung menjadikan kamu sebagai samsak tinju para anak buahnya. Aku tidak mau terjadi sesuatu hal yang buruk padamu, Aaron. Kalau papa dan mamaku sudah memberikan kita restu untuk kita segera menikah, aku sendiri nanti yang akan datang menemuimu. Bagaimana?"
"Ba-baiklah. Terserah kamu saja, Sayang, tapi ingat, jangan lama-lama ya karena aku sungguh sudah tidak tahan lagi berpisah dengan kamu," kata Aaron.
Setelah sekitar setengah jam mereka berbicara, Aaron pun akhirnya mengakhiri sambungan telepon mereka. Pria itu benar-benar sudah tidak sabar ingin segera menjadi bagian dari keluarga Harold yang kaya raya. Dengan begitu, dia pasti bisa hidup enak sampai tua tanpa harus bekerja.
.
.
Selama 1 minggu terakhir, tentu saja Bella tidak menghabiskan waktunya dengan sia-sia, mengingat waktu untuk menjalankan misinya kurang dari 2 bulan lagi. Dia memang tidak menampakkan batang hidungnya di depan Aaron dengan alasan tuan Harold mengurungnya di dalam kamar, tapi sebenarnya waktu seminggu itu Bella habiskan untuk mencari informasi tentang kedua orang tuanya. Sebelum menjalankan misi pertama bagian kedua, yaitu mendapatkan maaf dari mama dan papanya, Bella merasa harus melakukan penyelidikan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kediaman keluarga Adinatha.
__ADS_1
Penyelidikan Bella tidak sia-sia. Rupanya hingga detik ini kedua orang tuanya masih bersedih karena kehilangan putri semata wayang mereka, terutamanya sang ibunda tercinta. Padahal peristiwa tewasnya Bella sudah berlalu sekitar empat bulan setengah yang lalu tapi mereka nampaknya masih belum merelakan kepergian putri mereka satu-satunya. Mama Bella bahkan sering bolak balik masuk rumah sakit karena kesehatannya menurun.
Mengetahui hal itu tentu saja Bella merasa sangat sedih dan semakin merasa bersalah pada kedua orangtuanya.
Siang ini dengan segenap keberanian di dadanya, Bella datang untuk menemui kedua orang tuanya. Dia sengaja menggunakan identitas Anna dan tidak mengungkapkan identitas aslinya yang sebenarnya karena hal itu dilarang dalam peraturan dan pastinya akan mendapat sanksi dari Dewa Harapan. Dan juga, jika dia mengatakan bahwa sebenarnya dirinya adalah Bella yang hidup di tubuh gadis lain bernama Anna tentu saja orang tuanya tidak akan mungkin mempercayai hal tidak masuk akal tersebut. Bisa-bisa Anna malah dijebloskan ke dalam penjara karena dianggap sebagai penipu. Jika sudah seperti itu, tentu saja dia sendiri yang rugi.
Sebelum Bella masuk ke dalam rumah besar keluarga Adinatha, terlebih dahulu dia melapor pada petugas keamanan yang berjaga di pos depan.
"Permisi, Pak."
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam berkumis tebal itu.
"Saya ingin bertemu dengan nyonya Adinatha, Pak."
"Belum, Pak, tapi katakan saja pada nyonya Adinatha bahwa saya Anna, sahabat mendiang Bella. Tujuan saja datang kemari karena saya ingin mengantarkan barang peninggalan Bella yang sengaja titipkan kepada saya untuk diberikan kepada beliau," jelas Anna.
"Oh, iya. Baiklah. Tunggu sebentar," katanya lalu menghubungi seseorang.
Tidak berselang lama, petugas keamanan itu pun memberikan ijin untuk Anna masuk ke dalam sana. Setelah pintu gerbang tinggi menjulang itu terbuka, jauh di depan sana memang sudah nampak kepala pelayan yang keluar menyambut kedatangannya.
"Silahkan ikut saya, Nona. Nyonya besar sudah menunggu Anda di paviliun," kata kepala pelayan itu begitu Anna sudah datang menghampirinya.
"Baik, Pak Ron," jawab Anna.
Spontan kepala pelayan itu mengerutkan dahi sambil menatap Anna lekat-lekat. "Nona kenal dengan saya? Seingat saya Nona belum pernah datang kemari."
__ADS_1
Seketika Anna jadi gelagapan sendiri, dia tidak sengaja menyebut nama pria paruh baya yang sudah mengurusi segala urusan perutnya dimulai dari dia masih kecil hingga dewasa.
"Ah ... Bella pernah bercerita sedikit tentang Anda. Dia juga pernah menunjukkan foto Anda pada saya, jadi saya bisa tahu kalau Anda bernama Pak Ron dan merupakan kepala pelayan disini," jelas Anna sambil tersenyum. Sebisa mungkin dia bersikap biasa-biasa saja agar orang-orang tidak menganggapnya aneh.!
"Oh, jadi seperti itu. Kalau begitu, silahkan ikut saya Nona ...."
"Anna. Panggil saya Anna, Pak."
"Oh, iya. Silahkan ikut saya, Nona Anna."
"Baik."
Selama pak Ron menuntun Anna menuju paviliun, pria paruh baya itu juga banyak bertanya mengenai hubungan kedekatan antara Bella dengan Anna. Anna pun menjawab dengan pertanyaan wajar agar orang lain tidak curiga.
Ada perasaan sedih tersendiri yang tiba-tiba mencubit hati Bella ketika kembali menginjakkan kaki di kediaman keluarga besarnya. Setelah 3 tahun lebih dia minggat dari rumah demi menikah dengan seorang pria brengsyek seperti Aaron, Bella akhirnya bisa menginjakkan kakinya lagi di rumah tempat dia dibesarkan. Tapi mirisnya, dia malah datang sebagai orang lain, bukan sebagai Bella Chintya Adinatha, putri tunggal di keluarga Adinatha.
Masih jelas dalam ingatan Bella bahwa waktu itu dia pergi meninggalkan rumah karena dia lebih memilih menikah dengan Aaron ketimbang menikah dengan pria pilihan kedua orang tuanya. Bella baru sadar sekarang bahwa sesungguhnya saat itu dia sudah dibutakan oleh tipu daya Aaron dan Daisy.
Rasanya Bella ingin sekali menangis sambil bersimpuh dan meminta maaf di hadapan kedua orang tuanya, saking menyesal dan merasa bersalahnya pada dua orang yang telah membuatnya terlahir ke dunia ini, tapi perasaan sedih dan menyesal yang mengaduk-aduk hatinya saat ini harus berusaha keras dia tahan agar orang lain tidak curiga.
Setelah berjalan selama beberapa menit, mereka akhirnya sampai di paviliun. Terlihat nyonya Adinatha sedang duduk melamun di atas kursi goyang dengan wajah ditekuk.
"Nyonya, ini dia Nona Anna yang ingin bertemu dengan Anda," kata pak Ron.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1