Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 67 - Jangan Kurang Ajar!


__ADS_3

...**Oke Bestie, karena akak Otor liat favorit/subscribers nya Babang Mahend dan Naura sudah bertambah 10 orang, maka akak Otor langsung up 1 bab lagi sesuai janji di bab sebelumnya😍 Terima kasih banyak buat semua yang sudah mampir memberikan dukungan💋***❤️ Yang mau tambahan update buat cerita Babang Alex dan AnnaBella silahkan mampir ke sana buat yang belum mampir. Ingat ya, 10 tambahan pembaca baru yang meninggalkan jejak \= 1 bab update tambahan😉*...


.......


.......


"Mm ... Alex, kalau kamu tidak mampu membawa hadiahnya kesini sendirian, lebih baik ... kamu minta bantuan beberapa orang pelayan saja," ucap Nyonya Irene. Sementara Tuan Harold sendiri hanya diam melihat kelakuan calon menantunya itu.


Alex hanya tersenyum menanggapi ucapan kedua wanita itu, kemudian berbalik dan mengulurkan tangannya ke arah belakang. "Kemarilah, Sayang."


Mata semua orang seketika membulat ketika melihat sesosok wanita cantik muncul dari balik tembok. Terutamanya Carissa dan Nyonya Irene yang sangat membenci wanita itu dan memang sejak dulu ingin menyingkirkannya.


Berbeda dengan istri dan putri palsu kesayangannya, Tuan Harold sendiri justru merasa sedih setelah sekian lama baru bisa melihat kembali putri kandungnya itu. Meski pun dulu dia sempat murka hingga sampai tega mengusir Anna dan mencoret nama putrinya itu dari daftar kartu keluarga, tapi tetap saja hati kecilnya sangat menyayangi darah dagingnya tersebut.


Merasa posisinya terancam saat melihat Anna muncul bersama Alex, Carissa pun langsung murka. Apalagi saat melihat Alex merangkul pinggang Anna dengan begitu mesranya. Dia yakin, Anna pasti diam-diam sudah menggoda pria itu di belakangnya.


"Apa-apaan ini?!" teriak Carissa. Wanita itu dengan emosi berjalan menghampiri tunangan dan adik perempuannya. Dia ingin menarik Alex dari Anna dan membawa pria itu kembali ke pelukannya. "Heh, perempuan tidak tahu diri? Alex itu tunanganku, berani-beraninya kamu menggodanya di belakangku!"


Alex dan Anna sama-sama diam tidak mengucapkan sepatah kata pun. Disaat Carissa berusaha menyerang Anna, Alex dengan sigap melindunginya.


"Lepaskan dia, Alex! Aku ingin membunuh wanita itu sekarang juga!" teriak Carissa dengan marah. Dadanya sudah bergemuruh hebat karena emosi.


"Pa, lihat kelakuan anak j a l a n g itu, Pa, setelah tidur dengan banyak pria, sekarang dia kembali mempermalukan kita dengan menggoda Alex, tunangan Carissa sendiri," kata Nyonya Irene dengan panik pada suaminya. Sementara Tuan Harold sendiri masih diam. Pria paruh baya itu masih bingung dengan apa yang terjadi, tapi jika coba dia lihat dengan mata kepalanya sendiri, Alex dan Anna terlihat saling mencintai.


Merasa Alex sangat melindungi Anna, Carissa pun segera berjalan menghampiri Tuan Harold. Dia berniat meminta bantuan pada sang papa. "Pa, lihat kelakuan anak kurang ajar itu, Pa. Tega-teganya dia merebut calon suamiku. Aku tidak terima, Pa. Aku tidak terima! Pokoknya Papa harus mengusir pelacooor itu pergi dari sini!"


Tuan Harold masih terdiam. Dalam hatinya masih dipenuhi rasa bersalah, apalagi setelah dia mengusir Anna waktu itu, dia jadi sering didatangi oleh mendiang istrinya di dalam mimpi. Mendiang ibu kandung Anna terlihat sangat marah karena Tuan Harold sudah membuang dan menelantarkan putri kandung mereka.


"Sudah puas sandiwaranya, Nyonya Irene, Nona Carissa ... Harold?" Alex tersenyum sinis seraya menekankan kata Harold pada ucapannya.

__ADS_1


"Maksudnya?" Nyonya Irene dan Carissa saling menatap kebingungan. Kenapa sekarang Alex menatap remeh ke arah mereka berdua, pikir keduanya.


Dengan perlahan Alex melepaskan rangkulan tangannya dari Anna, kemudian berjalan menghampiri kedua wanita licik itu beserta Tuan Harold.


"Apa kalian berdua sudah puas bersandiwara?" kata Alex mengulangi pertanyaannya.


"Apa maksudmu, Alex?" tanya Nyonya Irene yang mulai tersinggung dengan ucapan calon menantunya itu.


"Iya, Alex, maksud kamu apa? Kenapa kamu bilang kalau kami bersandiwara?" Carissa mendekati Alex hendak bergelayut manja di lengan pria itu, tapi dengan cepat Alex langsung menepis tangannya.


"Jangan sentuh aku!" sentak Alex membuat wanita itu terlonjak kaget. "Aku tidak sudi disentuh oleh perempuan menjijikkan seperti kamu." Alex menyapukan tangannya di atas jasnya yang sempat disentuh oleh Carissa.


"Jaga bicaramu Alexander Huang! Berani-beraninya kamu menghina putriku!" geram Nyonya Irene yang merasa sangat marah ketika putri kesayangannya dihina. Sebagai seorang ibu, dia akan menjadi garda terdepan untuk melindungi putri kesayangan satu-satunya itu.


Alex tersenyum remeh seraya balas menatap tajam wanita paruh baya itu. "Anda juga sama menjijikkannya, Nyonya."


"Kurang ajar!" Saking emosinya, Nyonya Irene langsung mengangkat tangan hendak menampar mulut Alex yang tidak ada sopan-sopannya saat berbicara dengan orang tua sepertinya.


"Sayangnya saya tidak akan membiarkan tangan kotor Anda menyakiti saya." Alex menghempaskan tangan wanita paruh baya itu dengan kasar, sehingga Tuan Harold yang sejak tadi diam ikut tersulut emosi saat melihat Alex bersikap kurang ajar pada istri dan putri palsu kesayangannya.


"Jangan kurang ajar kamu Alexander!" geram Tuan Harold yang sekarang sudah mencengkram kerah kemeja Alex.


Bukannya takut, Alex justru malah menurunkan tangan Tuan Harold dengan pelan . "Tenang dulu, Tuan Harold. Saya tidak begitu yakin Anda masih akan membela mereka kalau Anda melihat pertunjukan menarik ini."


Alex bertepuk tangan sebanyak 2 kali, tidak berselang lama kemudian, 2 orang pria berbeda generasi muncul dari balik tembok. Melihat siapa yang datang bersama asisten Kay, mata Nyonya Irene dan Carissa seketika terbelalak, dalam sekejap tubuh mereka menjadi lemas tak bertenaga.


'Alexander Huang kurang ajar! Tidak tahu diuntung! Berani-beraninya dia membawa Ben kemari.' Batin Nyonya Irene. Wanita paruh baya itu sudah gemetar ketakutan karena sepertinya rahasia terbesarnya akan segera terbongkar.


"Ben?" ucap Tuan Harold dengan tatapan bingung. Dia tidak mengerti kenapa Alex membawa bekas sopir pribadi istrinya 20 tahun lebih yang lalu datang ke rumahnya.

__ADS_1


"Oh, rupanya Tuan Harold sudah mengenal Pak Ben, ya? Kebetulan sekali kalau begitu," ucap Alex sembari tersenyum mengejek menatap Carissa dan ibunya yang kini sudah terlihat sangat pucat.


"Ya, tentu saja aku mengenalnya. Dulu itu Ben adalah sopir pribadi istriku," jelas Tuan Harold. "Tapi untuk tujuan apa kamu membawanya kemari, Alex?" tanya Tuan Harold kemudian karena penasaran.


Bukannya menjawab pertanyaan Tuan Harold barusan, Alex malah berbalik bertanya pada Nyonya Irene. "Nyonya, Anda ingin menjelaskannya sendiri pada suami Anda atau membiarkan saya yang membongkar semuanya?" Setelah itu Alex balik bertanya pada Carissa. "Oh, atau bagaimana denganmu, Nona Carissa ... Harold? Apakah kamu tidak memiliki keinginan untuk menggantikan ibumu menjelaskan semuanya?" tambah Alex kemudian lalu kembali menatap kedua wanita itu dengan senyuman mengejek.


Dag dig dug, dag dig dug. Jantung Nyonya Irene dan Carissa sudah berdetak tidak karuan. Entah apa nanti reaksi Tuan Harold ketika mengetahui kebohongan mereka selama ini.


"Rahasia apa?" Tuan Harold berbalik menatap istri dan putrinya yang sudah pucat seperti mayat hidup. Melihat ketakutan yang tergambar jelas di wajah keduanya, Tuan Harold jadi semakin yakin bahwa keduanya pasti memiliki rahasia besar yang sepertinya diketahui oleh Alexander.


Dengan tangan gemetar Nyonya Irene berjalan menghampiri suaminya. "Ti-tidak, Pa, laki-laki kurang ajar ini hanya berbohong," katanya sambil menatap Alex dengan tatapan benci.


"Berbohong apa? Alex bahkan belum mengatakan apa pun." Tuan Harold mulai curiga.


Melihat suaminya menaruh curiga padanya, Nyonya Irene lantas menjatuhkan diri di lantai sambil menangis sejadi-jadinya.


"Apa pun yang dikatakan oleh mereka, jangan pernah percaya, Pa. Mereka hanya ingin menjebak Mama. Mereka hanya ingin memfitnah Mama dan Carissa," ucap Nyonya Irene sambil menagis.


"Maksud Mama apa? Papa tidak mengerti," tanya Tuan Harold. "Apa jangan-jangan, Mama memang sedang menyembunyikan sesuatu dari Papa." Bukannya percaya, Tuan Harold malah jadi semakin curiga pada istrinya itu.


Nyonya Irene menggeleng cepat sambil mendongak menatap suaminya. "Tidak, Pa, tidak. Mama tidak menyembunyikan apa pun dari Papa. Sungguh, Mama tidak berbohong." Wanita paruh baya licik itu lantas bangkit dari duduknya kemudian menggenggam erat tangan Tuan Harold. "Asal Papa tahu, dia, dia, dia, dan dia!" Nyonya Irene menunjuk Alex, Anna, Kay, juga pak Ben secara bergantian. "Mereka semua pasti bersekongkol untuk menjelek-jelekkan Mama dan Carissa di hadapan Papa. Mama mohon, Pa, tolong jangan percaya apa pun yang akan mereka katakan," bujuk Nyonya Irene dengan wajah memelas disertai air matanya yang sudah menetes tanpa henti saking ketakutannya.


Tiba-tiba suasana dramatis itu buyar berantakan ketika Alex tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha! Nyonya ... Nyonya. Anda ini sebenarnya lebih cocok jadi artis seni peran ketimbang jadi ibu rumah tangga. Akting Anda benar-benar bagus sekali. Saya saja sampai salut melihat kemampuan akting Anda," ejek Alex, membuat Nyonya Irene semakin menatapnya dengan tatapan benci dan tidak suka. "Karena Anda tidak kunjung mau mengakui kesalahan Anda di depan Tuan Harold, maka jangan salahkan saya kalau saya sendiri yang akan membongkar kelicikan Anda selama ini."


"Sebenarnya apa masalahmu, hah?!" Tiba-tiba saja Nyonya Irene berteriak sambil menyerang Alex dengan beringas.


Bug!

__ADS_1


B e r s a m b u n g...


__ADS_2