Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 43 - Merasa Dipermainkan


__ADS_3

Kay menghentikan laju mobilnya tepat di depan lobi apartemen Anna.


"Kamu sungguh tidak apa-apa?" tanya Kay ingin memastikan sebelum Anna keluar dari mobilnya.


Anna mendengus sebelum dia kembali menjawab pertanyaan yang sama untuk yang kesekian kalinya dari pria itu. "Kay, harus berapa kali sih aku bilang? Aku sungguh tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."


Melihat Anna sudah mulai kesal karena ulahnya, Kay pun memutuskan untuk berhenti menanyakan hal itu lagi. "Syukurlah kalau kamu benar-benar tidak apa-apa, berarti aku sudah bisa lebih tenang sekarang," ucapnya meski pun tidak sepenuh hati. Karena pada kenyataannya dia masih sangat mengkhawatirkan gadis itu. "Jangan marah ya, aku sungguh hanya mengkhawatirkanmu."


"Iya, aku tahu."


"Tapi kamu tidak marah 'kan, An?" Kay masih harus memastikan hal itu dulu sebelum dia berpisah dengan Anna malam ini.


"Tidak, aku tidak akan marah asalkan kamu tidak bertanya lagi." Anna tersenyum sambil menatap pria itu.


Melihat Anna tersenyum, Kay jadi ikut tersenyum. Itu artinya gadis itu benar-benar baik-baik saja dan tidak marah padanya.


"Kalau begitu aku turun dulu, ya? Dah, sampai ketemu besok."


"Hem." Kay mengangguk, dia tidak bisa berkata-kata lagi, dan hanya menatap punggung teman wanitanya saat keluar dari mobilnya.


"Dah, hati-hati di jalan." Anna tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Kay, dan Kay pun hanya membalasnya dengan hal serupa tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi. Begitu Anna hilang dari pandangannya, pria itu pun kembali melajukan mobilnya menuju apartemennya sendiri.


.


.


Keesokan paginya.


Hawei Group


Alex datang lebih pagi dari sebelum-sebelumnya. Dia ingin memastikan apakah semalam Anna Harold benar-benar kuat atau hanya berpura-pura biasa-biasa saat menyaksikan dirinya bermesraan dengan Carissa. Siapa tahu setelah gadis itu kembali ke apartemennya, dia baru menangis sejadi-jadinya karena cemburu. Begitu pikir Alex.


Aku harap matanya sekarang sudah sipit karena menangis semalaman. Batin Alex sambil senyam-senyum sendiri. Saat ini dia baru saja keluar dari lift didampingi oleh kedua pengawalnya.


Suasana di kantor masih sangat sepi saat Alex sampai di sana, bahkan belum ada siapa pun selain dia dan kedua pengawalnya. Sampai-sampai kedua pengawalnya itu saling bertanya-tanya, entah ada apa gerangan sehingga bos mereka sampai meminta untuk diantar ke kantor lebih awal 1 jam dari sebelum-sebelumnya.


Begitu sampai di depan ruangannya, sejenak Alex menghentikan langkah sambil menatap meja kerja sekretarisnya yang masih kosong karena pemiliknya belum datang. Selama beberapa saat Alex berdiri di sana tanpa mengatakan satu kalimat pun. Puas menatap meja kosong tersebut, presdir Hawei Group itu pun memutuskan untuk masuk ke dalam ruangannya sendiri.

__ADS_1


Setelah duduk selama 10 menit di kursi kebesarannya, Alex merasa ada yang kurang setiap kali dia menatap meja kerja sekretaris Anna dari balik dinding kaca tapi dia tidak mendapati sosok gadis yang mengusik hati dan pikirannya tersebut.


Alex mendengus. "Lebih baik aku menelponnya sekarang dan menyuruhnya untuk segera datang."


Alex mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya, mencari nomor kontak sekretaris Anna untuk dia hubungi.


Sementara itu, Bella alias Anna baru saja selesai mandi hendak bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Mendengar ponselnya berdering dia pun segera mengeceknya.


Melihat siapa yang menghubunginya, Bella pun mengerutkan keningnya. "Eh, kenapa presdir Huang menghubungiku pagi-pagi begini? Tumben."


Tanpa berlama-lama Bella pun segera menjawab panggilan tersebut.


"Halo, Pres-"


"Datang ke kantor sekarang juga dan jangan lupa membeli sarapan untukku." Kalimat perintah yang tak menerima bantahan itu memotong ucapan Bella.


"Ta-pi Presdir, saya baru saja selesai man-"


"Aku tidak mau menerima alasan apa pun! Aku beri kamu waktu 30 menit! Kalau tidak, kamu sendiri yang harus menanggung akibatnya!"


Tut tut tut.


"Ada apa dengannya? Kenapa sekarang dia berubah begitu banyak? Sangat kekanak-kanakan! Menyebalkan sekali!" kesal Bella, lalu melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur.


Mengingat ucapan Alex yang mengatakan bahwa jika dirinya terlambat, pasti akan mendapatkan hukuman dari atasannya itu, Bella pun buru-buru mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas.


"Si al! Dasar bos menyebalkan!" umpatnya, sembari terburu-buru melakukan aktifitasnya. "Ada urusan penting apa sehingga dia datang ke kantor pagi-pagi begini?"


10 menit kemudian, Bella sudah lengkap dengan setelan kantornya. Demi menghemat waktu yang masih dia punya, Bella memutuskan untuk berdandan, mengikat rambut, dan memakai sepatu di dalam taksi saja. Apalagi setelah dia sampai di area perkantoran nantinya, dia masih harus mengambil menu sarapan yang sebelumnya memang sudah dia pesan untuk dirinya sendiri dan Alex.


.


.


"Hosh, hosh. Syukurlah, aku tidak terlambat."


Bella merasa sangat lega karena dia masih punya sisa waktu 2 menit lagi begitu dia sampai di depan ruangan atasannya.

__ADS_1


Bella meletakkan tasnya di atas meja seraya mengatur napasnya yang terengah-engah karena berlari dari kedai hingga memasuki gedung perkantoran kemudian sampai di depan ruangan presdir Huang. Setelah berdiri selama beberapa saat dan dia sudah bisa mengatur napasnya dengan lebih baik, Bella alis Anna pun segera mengetuk pintu ruangan atasannya tersebut.


Tok tok tok!


"Masuk!" teriak Alex.


"Selamat pagi, Presdir," sapa Anna saat dia memasuki ruangan atasannya.


Begitu melihat orang yang ditunggu-tunggu sedari tadi akhirnya muncul juga, Alex pun segera menghampiri dan duduk di atas sofa sambil menyaksikan sekretaris Anna menyiapkan menu sarapan untuknya.


Alex menatap wajah sekretaris Anna lekat-lekat, dia sungguh merasa sangat kesal ketika mata sekretarisnya itu tidak sembab apalagi sipit karena menangis semalaman seperti yang dia bayangkan dan harapkan.


Apa dia sungguh tidak merasa cemburu biar sedikit pun saat melihat aku bermesraan dengan Carissa? Dia benar-benar sudah keterlaluan. Batin Alex. Kekesalan yang teramat sangat seketika menyelimuti hatinya. Dia sungguh merasa Anna sedang mempermainkan dirinya sekarang. Dulu gadis itu begitu tergila-gila padanya dan mengejar-ngejarnya, tapi sekarang malah terkesan abai dan cuek. Alex sungguh tidak terima perasaannya dipermainkan seperti ini.


"Selamat menikmati sarapannya, Presdir, saya permisi keluar dulu."


Anna beranjak dan berjalan menuju pintu. Namun, baru saja tangannya hendak menarik gagang pintu, tiba-tiba dia merasa ada yang menarik tubuhnya dari belakang, dan dalam sekejap dia sudah berada di dalam kurungan tangan Alex.


"Pres-dir, ap-apa yang Anda lakukan?" Anna merasa sangat gugup, jantungnya seketika terpacu untuk berdetak lebih cepat. Apalagi saat menyadari bahwa jarak antar wajahnya dengan wajah Alex sangatlah dekat, kurang dari 10 senti.


Alex tidak menjawab pertanyaan Anna. Pria itu malah fokus menatap wajah cantik sekretarisnya dari jarak yang sangat dekat. Tanpa sadar jakun Alex naik turun, apalagi saat melihat bibir ranum yang ada di hadapannya.


Kenapa sekarang malah jadi seperti ini? Dulu saat Anna Harold berada di dekatku, atau bahkan tiba-tiba memelukku dari belakang, aku sama sekali tidak merasakan apa-pun, justru aku merasa sangat risih dan terganggu dengan kemunculan dan sikap agresifnya itu. Tapi entah mengapa sekarang ... sekarang aku merasakan adanya desiran aneh saat posisi kami sangat berdekatan seperti ini? Dulu, aku hanya bisa merasakan hal ini saat berdekatan dengan Bella. Selain dengan Bella, aku sama sekali tidak pernah merasa seperti ini jika berdekatan dengan gadis lain mana pun. Tapi entah mengapa sekarang keadaan sudah berbalik. Anna Harold menjadi wanita kedua yang mampu melakukannya. Batin Alex.


Namun, saat Alex tengah fokus melamun, tiba-tiba saja tubuhnya langsung terdorong ke belakang saat sekretaris Anna tiba-tiba saja mendorong dadanya dengan kuat.


"Presdir, Anda jangan coba-coba bersikap kurang ajar pada saya!" teriak Anna dengan marah, seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk perlindungan diri, ingin mempertahankan harga dirinya sebagai seorang perempuan.


Sadar dengan apa yang dia lakukan sudah berlebihan, Alex pun segera meminta maaf pada sekretarisnya tersebut.


"Sek-retaris Anna, ak-aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk ... bersikap kurang ajar padamu. Aku hanya- aku hanya ingin memintamu untuk membuatkanku teh. Itu saja. Sungguh. Pagi ini aku sedang tidak ingin minum kopi, jadi aku ingin memintamu membuatkan aku teh di pantry," ujarnya beralasan, takut sekretarisnya itu mencapnya sebagai bos mesyum dan kurang ajar.


"O-oh, kalau begitu ... saya juga minta maaf sudah salah paham, Presdir." Rupanya Anna juga tidak kalah gugupnya. "Kalau begitu, saya pamit ke pantry dulu sebentar."


Dengan cepat Anna berlari keluar dari ruangan Alex menuju pantry. Entah mengapa kejadian barusan mengingatkan Bella di masa lalu, saat Alex mabuk dan tanpa sadar menciumnya.


Astaga, ada apa denganku? Kenapa aku tiba-tiba malah teringat pada kejadian waktu itu? Batin Bella.

__ADS_1


Kejadian seperti itu bukan hanya terjadi sekali saja, tapi sangat sering. Namun, Bella berusaha untuk memaafkan dan melupakan kejadian tersebut mengingat saat itu Alex melakukannya dalam keadaan mabuk alias tidak sadar.


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2