Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 47 -


__ADS_3

...(Bab ini masih perlu direvisi dikarenakan Otor mengantuk berat ketika sedang menulisnya🙏🏼)...


Sekarang Bella sudah berdiri tepat di depan unit Alex. Tempat yang dulunya selalu dia kunjungi hampir di setiap hari kerja.


Dulu, menyiapkan setelan kerja Alex, memakaikan dasi, menyiapkan sarapan setelah sampai di kantor, serta menyiapkan segala kebutuhan Alex yang lainnya adalah salah satu rutinitas harian Bella saat menjadi sekretaris Alex. Dan kini, dia kembali menginjakkan kaki di tempat itu dengan wujudnya sudah jauh berbeda dari sebelumnya.


Bella mulai menggerakkan jemari tangan kanannya menekan password pintu. Entah mengapa setelah berpikir bahwa password pintu unit Alex sudah diganti dengan angka yang mirip dengan namanya membuat hatinya terus berdebar hingga detik ini.


Tidak, tidak. Aku tidak boleh berpikir konyol seperti ini. Mungkin angka itu dipilih oleh presdir Huang agar dia bisa dengan mudah mengingatnya. Batin Bella. Dia tidak mau berpikir yang tidak-tidak. Apalagi berpikir bahwa Alex dulu menyukainya, mengingat dirinya dulu sudah bersuamikan Aaron selama 3 tahun terakhir dia menjabat sebagai sekretaris bosnya tersebut.


Pintu unit Alex terbuka, Bella pun melangkahkan kaki untuk memasuki unit mewah tersebut. Tidak ada yang berubah semenjak dirinya terakhir kali menginjakkan kaki di tempat itu 9 bulan yang lalu. Semuanya nampak sama saja. Bingkai-bingkai foto mereka berdua masih saja tetap terpajang di tempatnya tanpa beranjak sedikit pun dari tempatnya. Bella berjalan menatap foto-foto itu. Bibirnya seketika mengembang ketika kembali mengingat moment saat foto-foto itu diambil.


"Eh, ternyata kamu sudah datang?" Suara Alex seketika mengintrupsi indera pendengaran Anna. Sontak saja gadis itu berbalik melihat ke arah sumber suara.


"Argh-" Anna memekik tertahan sambil menutup mata dan memutar kembali badannya ketika melihat penampakan Alex yang baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Oh, maaf. Penampilanku pasti mengejutkanmu, ya?" ucap Alex. Sebuah kemunculan yang memang sudah dia rencanakan dengan niat membuat Anna semakin tergila-gila padanya ketika melihat otot-otot kekar yang bisa menggoyahkan iman sebagian besar kaum hawa. Memang terkesan konyol, tapi kenyataannya itulah yang sengaja dilakukan oleh pria itu.


Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Bella melihat pemandangan tersebut, tapi entah mengapa membuat jantungnya yang sudah berdebar kini semakin berdebar lagi saat disuguhkan pemandangan indah yang tak biasa tersebut.


Apa dia sengaja melakukannya? Sudah tahu memintaku untuk datang jam 8, tapi dia sendiri baru selesai mandi di jam segini. Dasar. Kenapa makin kesini dia semakin menyebalkan saja?


Tidak berselang lama kemudian. Setelah Alex mengenakan pakaian santai lengkap, pria itu pun segera menghampiri sekretarisnya yang masih berdiri mematung di tempat.

__ADS_1


"Maaf, aku pikir tadi kamu belum datang. Jadi aku keluar kamar dalam keadaan seperti itu. Jantungmu pasti berdebar-debar 'kan menyaksikan otot-ototku yang padat dan seksye ini?" Kalimat tanpa filter itu sontak membuat Anna menatap tajam ke arah Alex. Tidak peduli pria yang ditatapnya itu adalah atasannya, tapi tetap saja Anna tidak suka dengan gaya narsis yang terkesan menjijikkan yang ditunjukkan pria itu.


Jujur saja, jika aku harus memilih, aku lebih menyukai presdir Huang yang dulunya berwajah dingin dan datar, daripada presdir Huang yang seperti sekarang ini.


"Sebenarnya apa tujuan Anda memanggil saya datang kemari di hari libur seperti ini, Presdir?" tanya Anna. Tersirat guratan amarah di wajah gadis itu. "Kalau bukan karena urusan pekerjaan, lebih baik sekarang saya pergi dari sini. Saya masih punya banyak urusan yang harus saya selesaikan."


"Oh, tenang, tenang dulu sekretaris Anna. Aku sama sekali tidak ada niat untuk macam-macam denganmu," jelas Alex.


"Lalu?"


"Aku ... aku hanya ingin meminta bantuanmu untuk membersihkan buku-buku yang sudah tidak terpakai di perpustakaanku. Dulu saat sekretaris Bella masih hidup, aku belum sempat meminta bantuannya untuk membersihkan buku-buku yang sudah tidak terpakai." Alex menjelaskan sambil tersenyum. Terlihat jelas bahwa laki-laki itu tidak merasa bersalah sedikit pun karena ingin mempekerjakan sekretarisnya di hari libur.


Anna mendengus. "Saya pikir pekerjaan apa yang begitu penting di hari libur, rupanya hanya pekerjaan ringan seperti ini saja."


Rasanya Anna ingin marah dan mengatai atasannya tersebut, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi ada misi yang harus dia emban. Jika dia membuat masalah dengan presdir Huang, itu artinya dia akan semakin sulit untuk menjalankan misi keduanya. Berdekatan saja dia belum mendapatkan hasil apa pun hingga detik ini, apalagi jika dia sampai membuat masalah dan membuat dirinya jauh dari pria itu.


"Ya, tentu saja. Kenapa tidak?" jawab Alex.


Anna pun kemudian berjalan menuju pintu berwarna coklat yang ada di sudut ruangan. Melihat hal itu Alex pun langsung memanggil sekretarisnya tersebut.


"Tunggu, Sekretaris Anna!" panggil Alex, seraya berjalan menghampiri gadis itu. Anna yang dipanggil pun segera menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah atasannya tersebut.


"Ada apa, Presdir?" tanya Anna.

__ADS_1


"Kamu, kenapa bisa tahu dimana letak perpustakaannya?" tanya Alex dengan tatapan menyelidik dan penuh curiga.


Deg.


Astaga. Iya juga ya. Apa yang sedang aku lakukan? Kenapa aku malah berjalan menuju perpustakaan tanpa bertanya terlebih dahulu? Kalau begini 'kan presdir Huang bisa curiga dan berpikir yang tidak-tidak tentangku. Batinnya.


Anna yang bingung harus menjawab apa pun mulai gelagapan. "Ah ... itu- saya ... saya tahu dari sorot mata Anda Presdir. Tadi saat Anda menyebut soal perpustakaan, mata Anda langsung mengarah ke sana, jadi ... jadi saya hanya bisa menebak bahwa ruangan yang Anda lihat itu adalah perpustakaannya. Apalagi Anda tadi ... Anda tadi keluar dari pintu itu," Anna menunjuk pintu kamar tempat Alex keluar dalam keadaan baru selesai mandi dan hanya dengan handuk melilit di pinggangnya, "jadi bisa saya simpulkan bahwa ruangan dengan pintu warna abu-abu itu adalah kamar Anda dan pintu berwarna coklat itu adalah perpustakaannya."


"Oh, ya? Apa aku sungguh seperti itu tadi? Tapi entah mengapa aku tidak merasa dan tidak mengingat bahwa aku pernah melihat ke arah sana saat berbicara denganmu tadi."


"Iya tentu saja, Presdir. Kalau Anda tidak melakukannya, mana mungkin saya bisa tahu. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tempat ini, jadi mana mungkin saya bisa tahu letak perpustakaannya kalau saya tidak mendapat petunjuk langsung dari Anda." Anna memaksakan diri untuk tersenyum senatural mungkin. Jelas-jelas dia hanya mengarang cerita untuk mengelabui Alex.


"Benarkah?"


"Iya, Presdir. Kalau begitu saya masuk dulu." Anna segera memutar badan dan berjalan cepat menuju pintu perpustakaan.


Hampir saja. Gumamnya dalam hati sambil menggigit salah satu sudut bibir bawahnya.


Sementara itu, Alex masih saja berdiri di tempat sambil menatap punggung sekretarisnya hingga hilang ditelan pintu.


"Hem .... Aneh. Apa tadi aku benar-benar melihat ke arah pintu perpustakaan saat berbicara dengannya? Tapi aku rasa tidak," gumam Alex.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


...________________________________________...


...Sesuai janjiku kemarin malam ya Bestie, hari ini aku akan crazy up🤗...


__ADS_2