
Beberapa jam kemudian.
"Kamu sedang apa?" tanya Kay, dia menghampiri Anna yang sedang berkutat di dapur unit Alex.
"Aku sedang memasak untuk makan siang," jawab Anna. Sekilas gadis itu berbalik melihat ke arah Kay sambil tersenyum.
"Oh, ya? Memasak?" tanya Kay tidak percaya. Setahunya, Anna Harold yang dia kenal selama ini tidak tahu memasak. Lalu gadis itu sedang memasak apa? Pikirnya. "Tapi entah mengapa aku tidak percaya dengan kemampuan memasakmu," ucap Kay lalu tertawa.
Anna memicingkan matanya menatap Kay. "Sepertinya kamu terlalu meremehkan kemampuan memasakku."
"Aku bukannya meremehkanmu, tapi seingatku kamu tidak bisa memasak sama sekali. Apa kamu ingat? Waktu itu aku pernah berkunjung ke apartemenmu, dan kamu memintaku untuk memasak sesuatu untukmu karena kamu kelaparan tapi sedang malas mencari makanan di luar." Kay kembali tertawa ketika mengingat moment itu.
Melihat Kay tertawa, Anna pun ikut tertawa. Kedekatan pemilik raganya dengan pria itu sepertinya lebih dari yang Bella bayangkan. Lalu kenapa Anna Harold dulu tidak menyukai Kay saja? Sesosok pria dewasa yang baik hati, perhatian, dan penyayang di mata Bella. Tentunya jauh lebih baik dari seorang pria yang dingin dan kaku yang selalu menolak cinta Anna selama ini. Tapi ... jika membahas soal hati, jelas tidak semudah membalikkan telapak tangan saat ingin berpindah ke lain hati.
"Itu 'kan dulu, Kay. Sekarang aku sudah bisa melakukannya. Selama ini aku sudah banyak belajar."
"Oh ya, benarkah? Aku jadi tidak sabar ingin mencicipi masakanmu." Kay berkata sambil tersenyum.
.
.
Masakan buatan Anna sudah tersaji di meja makan.
"Em ... sepertinya enak. Baru mencium aromanya saja sudah menggugah selera. Aku semakin tidak sabar ingin segera mencicipinya." Kini Kay sudah duduk di salah satu kursi meja makan.
"Tunggu sebentar, aku lihat presdir Huang dulu. Siapa tahu dia juga ingin bergabung makan siang bersama kita," kata Anna.
__ADS_1
"Iya, pergilah. Tapi sepertinya tadi dia tertidur setelah meminum obat yang diresepkan oleh dokter Bram."
"Tidak ada salahnya jika aku cek, karena siapa tahu dia sudah bangun." Anna segera beranjak menuju kamar pribadi si pemilik unit. Sebelum dia memasuki kamar Alex, terlebih dahulu gadis itu mengetuk pintu kamar. Tidak mendapat sahutan dari dalam sana, Anna pun memutuskan untuk membuka pintu dan masuk ke dalamnya.
Apa mungkin predir Huang masih tertidur? Batin Anna.
Anna berjalan menghampiri ran jang Alex, hendak membangunkan pria itu untuk mengajaknya makan siang bersama. Namun, pemandangan di depannya membuat gadis itu sedikit terkejut. Alex yang tengah tertidur nampak sangat gelisah. Ditambah lagi, buliran keringat kini sudah memenuhi dahi pria itu.
Sepertinya presdir Huang sedang mengalami mimpi buruk. Aku harus segera membangunkannya. Batinnya.
Baru saja dia hendak mengguncang lengan Alex, tapi tiba-tiba saja tangan pria itu menangkap pergelangan tangannya.
"Bella, jangan pergi, Bel. Jangan pergi."
Deg. Jantung Bella seketika berdetak hebat saat mendengar Alex menyebut namanya dalam mimpi. Ditambah lagi saat dia menyaksikan pria itu berkata dengan lirih, bulir cairan bening mulai menetes dari ujung mata Alex.
Cukup lama Bella terdiam, sambil menatap Alex dengan mata berkaca-kaca. Dia pun jadi bingung sendiri harus membangunkan Alex atau tidak. Entah mengapa melihat Alex menangis saat memimpikan dirinya membuat hatinya perih bak tercabik-cabik.
"Bel, aku menyesal, Bel. Aku yang salah."
Deg.
Jantung Bella kembali terpacu mendengar Alex mengigau, lebih tepatnya bingung dengan maksud ucapan pria itu.
Apa tadi aku tidak salah dengar? Presdir Huang bilang dirinya menyesal? Menyesal karena apa? Dan dia juga merasa bersalah padaku karena apa? Apakah dia pernah melakukan suatu kesalahan terhadapku tanpa aku ketahui? Tapi aku rasa tidak.
"Anna, ada apa?" Suara Kay tiba-tiba mengejutkan Anna, gadis itu pun menoleh, rupanya Kay sekarang sedang memasuki kamar dan berjalan menghampirinya.
__ADS_1
Anna menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Sst. Sepertinya Presdir Huang sedang mimpi buruk. Dia menangis saat tertidur," bisik Anna.
"Apa? Mimpi buruk?!" Dengan panik Kay berjalan cepat menghampiri sahabatnya, dan kini dia melihat Alex mencengkram erat pergelangan tangan Anna.
"Kenapa tidak kamu bangunkan, An? Kalau dibiarkan, dia bisa menangis sampai berjam-jam karena memimpikan mendiang sekretaris Bella," ujar Kay tanpa sadar. Karena sebenarnya hal ini dirahasiakan kepada orang-orang.
Deg.
Untuk yang kesekian kalinya Bella dibuat tercengang dengan fakta yang baru dia ketahui tentang Alex, dan fakta baru itu jelas membuatnya tidak percaya dan tidak menyangka karena semua itu ada kaitannya dengannya.
Apakah sebegitu parahnya presdir Huang merasa kehilangan karena kematianku? Tapi kenapa bisa, dan apa penyebabnya? Batinnya, tanpa terasa air matanya mulai menetes menjauh dari pelupuk matanya, tapi dengan cepat dia segera menyekanya karena tidak ingin ada yang melihatnya, takut membuat orang lain salah paham dan curiga.
"Lex, bangun, Lex. Ayo bangun." Kay menepuk pelan pipi Alex untuk membangunkannya. Untungnya Alex cukup mudah untuk dibangunkan. Begitu Alex membuka mata, pria itu langsung terduduk dari posisi berbaringnya. Napasnya langsung terengah-engah, seperti orang yang habis berlari jauh.
"Kay, aku memimpikannya lagi, Kay. Aku memimpikannya lagi." Alex menatap Kay dengan tatapan sendu dengan kedua mata sembabnya.
Kay tidak langsung menjawab ucapan Alex, dan malah memberikan segelas air untuknya. "Minumlah dulu, lalu setelah itu coba tenangkan dirimu."
Setelah meminum air pemberian Kay, Alex nampak menyadarkan kepalanya di headboard tempat tidurnya, mencoba mengatur napas untuk mengatur detak jantungnya yang sempat berdetak kencang karena kembali memimpikan mimpi buruk itu setelah sekian lama.
Tadinya setelah Alex pindah di unitnya yang baru, dia tidak pernah lagi memimpikan kejadian buruk yang menimpa Bella hingga menyebabkan wanita itu meninggal. Dan entah mengapa setelah dia kembali ke tempat yang penuh dengan kenangan tentang Bella, Alex malah kembali memimpikan cinta sejatinya itu. Padahal, tadinya dia berpikir kehadiran Anna Harold akan membawa semangat baru untuknya dan membuatnya melupakan semua kejadian buruk itu. Tapi nyatanya sama saja, tidak ada bedanya. Dan ada satu hal yang perlu Alex garis bawahi, dia mulai menyadari bahwa dirinya menyukai Anna karena setiap kali dia dekat dengan sekretarisnya itu, dia selalu merasa seperti sedang berada di dekat Bella sehingga membuatnya merasa nyaman.
Sementara itu, begitu Kay melihat Alex sudah lebih tenang, barulah dia mulai angkat bicara. "Aku heran padamu, Lex. Kenapa kamu masih saja berani menginjakkan kakimu dan tidur disini jika kamu sendiri tahu bahwa akibatnya pasti akan seperti ini? Setiap kali kamu tidur di tempat ini, kamu pasti akan kembali mengalami mimpi buruk yang sama." Kay berbicara seolah-olah apartemen itu seperti sebuah tempat kutukan bagi Alex.
"Ak-aku pikir semuanya sudah berubah, Kay. Tapi ternyata ...." Alex sengaja menggantung ucapannya ketika sadar bahwa ada Anna di antara dirinya dan Kay. "Sudahlah, Kay. Untuk sementara aku tidak ingin membahasnya dulu. Bisakah kalian berdua meninggalkan aku sendirian? Rasanya aku ingin menyendiri dulu untuk sementara waktu. Aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun," pinta Alex kemudian.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1