Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 49


__ADS_3

"Argh!!!" Anna memekik kala membayangkan betapa sakitnya saat anggota tubuhnya membentur lantai marmer.


Bruk!


Untuk beberapa saat Anna terus memjamkan matanya kuat-kuat sambil terdiam di tempat. Gadis itu sedang berusaha mengkondisikan detak jantungnya yang kini terpacu cukup cepat. Tapi ... dia tersadar ada satu hal aneh yang kini dia rasakan.


Kenapa jatuh ke lantai marmer rasanya tidak sakit sama sekali? Kenapa justru rasanya sangat empuk, hangat dan nyaman? Apa jangan-jangan, sekarang aku hanya sedang bermimpi? Batinnya. Apalagi saat ini Anna masih memejamkan kedua matanya yang tadinya kemasukan debu.


Anna mengucek kedua matanya yang tadi sulit terbuka karena kelilipan debu. Begitu dia membuka mata, dia merasa sangat terkejut,  karena ternyata dia tidak merasa sakit sama sekali karena tubuhnya mendarat di atas tubuh Alex, dengan posisi kepalanya berada tepat di atas dada bidang pria tersebut.


Astaga! Jadi ternyata aku tidak merasakan sakit sedikit pun karena ini. Tadi aku terjatuh dan sekarang menimpa tubuh presdir Huang. Batinnya tidak menyangka.


"Sepertinya kamu sengaja tidak bergerak agar bisa terus berada di atasku, ya?" Ucapan Alex tersebut seketika membuat Anna tersadar untuk segera bangkit dari atas tubuh pria itu.


"Ma-maafkan saya, Presdir." Buru-buru Anna berusaha bangkit dari atas tubuh Alex, tapi tiba-tiba saja Alex malah menarik pergelangan tangannya hingga membuatnya kembali terjatuh di atas dada bidang dan lebar milik pria tersebut.


"Argh!" pekik Anna.


Tapi tidak berselang lama setelahnya, Alex malah merubah membuat posisi mereka dengan cepat, hingga kini gantian Alex yang berada di atas tubuh gadis itu.


"Presdir! Apa yang-"


Namun, baru saja Anna hendak protes dengan tindakan Alex tersebut, tiba-tiba saja dia melihat rak yang tadinya dia tempati berpegangan kini mulai oleng dan hendak menimpa tubuh mereka berdua.


"Presdir! Awas!!! Argh!" Anna berteriak ketika melihat buku-buku yang tadinya tersusun rapi di dalam rak dalam sekejap sudah berjatuhan dan menimpa kepala hingga sekujur tubuh Alex beserta dengan rak kayunya.


"Akh-" Alex memekik tertahan saat rak kayu beserta isinya dalam sekejap sudah menimpa tubuhnya, membuat tubuhnya semakin menghimpit tubuh gadis yang berada di bawah kungkungannya.

__ADS_1


Kini jarak antar wajah mereka sangatlah dekat, hanya berjarak kurang dari 10 senti, membuat jantung keduanya berdegup cukup kencang. Dengan posisi tubuh mereka yang sangat in tim, entah mengapa ada hawa aneh yang menjalar di dalam tubuh keduanya, dan detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar. Kini mereka berdua saling menatap dari jarak yang sangat dekat. Saling melihat dengan jelas wajah masing-masing. Entah mengapa kecantikan dan ketampanan mereka semakin bertambah berkali-kali lipat jika saling melihat dari jarak yang sangat dekat.


Melihat wajah Alex yang semakin turun mendekati wajahnya membuat Anna segera memalingkan wajahnya. Dia sadar ada sesuatu yang lebih penting dari sekedar saling terpesona dengan keindahan wajah masing-masing.


"P-Pres-dir, An-da tidak apa-apa?" Anna bertanya dengan gugup. Namun tiba-tiba saja gadis itu merasa beban di atas tubuhnya semakin berat, wajah presdir Huang juga tiba-tiba menempel di pipinya, membuatnya membelalakkan mata dengan apa yang terjadi. Jantung yang tadinya sudah berdetak cepat karena kejadian yang menimpa mereka, kini semakin terpacu karena posisi mereka yang terasa semakin in tim.


Anna terdiam selama beberapa saat, tubuhnya terasa membeku. Namun setelah beberapa saat, presdir Huang tidak kunjung bergerak sama sekali hanya sekedar untuk bergeser dari atas tubuh gadis itu. Menyadari hal itu, rasa deg-degan yang melanda pun seketika berganti menjadi rasa khawatir.


Jangan-jangan, terjadi apa-apa pada Presdir Huang? Batin Bella, takut sekaligus khawatir.


"P-Presdir, Anda tidak apa-apa?" tanya Anna, tapi sayangnya Alex sama sekali tidak menjawab, apalagi bergerak untuk merubah posisi mendebarkan ini.


"Presdir?" panggil Anna sekali lagi.


Tidak kunjung mendapat sahutan dari pria tersebut, seketika membuat Anna semakin takut dan khawatir. Jangan-jangan terjadi apa-apa pada pria itu. Begitu pikirnya.


"Presdir, bangun, Presdir," panggil Anna, berharap pria itu segera tersadar hingga membuat mereka bisa terbebas dari posisi yang menyiksa jiwa tersebut.


Sudah beberapa kali Anna memanggil-manggil Alex, tapi pria itu tidak kunjung sadarkan diri. Untungnya kedua tangan Anna tidak terjepit oleh tubuh besar pria itu sehingga membuatnya bisa mendorong tubuh besar Alex agar bisa sedikit menyingkir dari atas tubuhnya.


Ah, kenapa dia berat sekali? Makan apa sih dia? Badan kok bisa tinggi besar begini. Batin Anna, seraya berusaha sekuat tenaga untuk terbebas dari himpitan tubuh besar pria di atas tubuhnya.


Namun, sekuat apa pun Anna berusaha, tetap saja membuatnya kesulitan untuk membebaskan diri. Karena merasa lelah berusaha, Anna pun memutuskan untuk memikirkan cara lain.


Sepertinya aku harus meminta bantuan orang lain, tapi bagaimana caranya? Berteriak sampai suaraku habis pun tetap tidak akan ada yang bisa mendengarkanku. Jika harus menunggu presdir Huang sadar, mau sampai kapan? Batinnya.


Tiba-tiba gadis itu mendengar suara ponsel berdering. Suaranya terdengar sangat dekat. Sepertinya berasal dari saku celana pria di atasnya.

__ADS_1


Nah, itu dia. Aku bisa meminta bantuan pada orang yang menelepon tersebut.


Kini tangan Anna sudah bergerak meraba saku celana Alex, vibrasi yang berasal dari ponsel tersebut membuatnya dengan mudah untuk menemukan dimana posisi benda pipih itu.


Tangan Anna mulai merogoh saku celana Alex, meski pun takut salah pegang, tapi gadis itu memilih untuk mengabaikan kekhawatiran tersebut. Daripada tersiksa dengan posisi terjepit seperti ini, lebih baik dirinya salah pegang sekalian. Toh pria itu juga tidak sadarkan diri, jadi tidak akan tahu jika dirinya sudah menyentuh si Mr. Max. Dan untungnya, kekhawatiran itu tidak terbukti, Anna bisa berhasil mengeluarkan benda pipih tersebut lebih cepat dari yang diperkirakan karena saku celana Alex tidak begitu dalam.


"Syukurlah, dapat!" Anna akhirnya bisa bernapas lega, ditambah lagi saat melihat ternyata Kay yang menelepon Alex.


"Halo, Kay. Ini aku."


"Anna? Kenapa kamu yang menjawab panggilannya? Mana Alex?" tanya Kay sedikit kebingungan, mengingat hari ini adalah hari minggu. Kenapa Anna bisa bersama dengan Alex? Begitu pikir Kaysan.


Astaga. Bagaimana cara aku menjawabnya? Aku ingin menjawab bahwa presdir Huang ada di atasku, tapi pasti akan membuat Kay yang mendengarnya jadi salah paham dan berpikir yang tidak-tidak tentang kami. Batin Bella.


"Halo, An. Kenapa kamu diam? Mana Alex? Aku ingin berbicara dengannya."


"Mm, Kay, tolong kami, Kay-"


Belum selesai Anna menjelaskan, tapi Kay sudah lebih dulu panik setelah mendengar Anna mengucapkan kata 'tolong'.


"Ada apa, An? Cepat katakan! Apa yang terjadi pada kalian berdua?"


Anna pun kemudian  menjelaskan pada Kay bahwa dirinya dan Alex tertimpa rak buku di dalam perpustakaan milik Alex, hingga membuat Alex yang tertimpa rak kayu pingsan saat menolong dirinya.


"Bertahanlah, An. Aku akan segera datang!" kata Kay, dengan panik dan terburu-buru meraih kunci mobilnya untuk segera pergi ke apartemen lama Alex.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2