
"Da-Dad," gumam AnnaBella terkejut sekaligus takut. Ini pertama kalinya dia melihat suaminya semarah itu padanya. Benar-benar sangat menyeramkan. Sebenarnya dulu Alex pernah marah padanya saat diawal-awal dirinya menjadi sekretaris pria itu, tapi marahnya kali ini berbeda.
Tidak berselang lama setelah Alex masuk ke dalam ruang UTD (Unit Transfusi Darah), dua orang perawat tiba-tiba saja ikut masuk sambil membawa kursi roda, dan tiba-tiba saja Alex menggendong istrinya dan meletakkannya di sana.
"Apa-apaan ini, Dad?" tanya AnnaBella sedikit panik sambil mendongak menatap suaminya.
"Diam!" bentak Alex yang masih sangat emosi, membuat wanita itu langsung tertunduk sedih, tidak berani lagi berbicara walau sepatah kata pun. "Kamu benar-benar membuatku marah dan kecewa, Anna Huang." Alex berkata dengan penuh penekanan. Matanya yang merah sudah berkaca-kaca. Dia sebenarnya merasa sangat sedih ketika istrinya tidak patuh padanya.
"Sus, bawa dia ke ruang perawatan," imbuh Alex memberi titah pada kedua perawat yang tadi menyusul kedatangannya.
"Baik, Tuan," sahut kedua suster itu bersamaan kemudian mendorong AnnaBella keluar dari ruang Unit Transfusi Darah.
Melihat istrinya sudah dibawa keluar oleh suster, Alex lantas berbalik dan menatap tajam pada Davidya. "Kamu sudah puas 'kan setelah mendapatkan apa yang kamu mau?"
Davidya tidak menjawab. Dia tahu kalau Alexander Huang pasti sangat mengkhawatirkan kondisi istri dan calon bayinya.
"Kalau sampai terjadi apa-apa pada istri dan calon anakku, aku tidak akan membiarkan keluarga kalian hidup tenang. Ecamkan itu!" Alex mengancam Davidya dengan penuh penekanan, setelah itu dia meninggalkan wanita itu sendirian untuk menyusul istri tercintanya.
__ADS_1
"Syukurlah." Davidya akhirnya bisa bernapas lega saat menatap kepergian Alex. Semenjak pria itu muncul sambil marah-marah, jantungnya terus saja berdebar cepat. Dia pikir Alex akan langsung menyeretnya ke kantor polisi karena membuat seorang wanita hamil melakukan donor darah, rupanya tindakan Alex tidak seperti yang dia bayangkan, wanita itu terlalu berpikir berlebihan. "Bukan hanya kamu yang tidak bisa memaafkan diriku, tuan Alexander, tapi aku pun tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi apa-apa pada istri dan calon anakmu nantinya."
*
*
Di dalam ruang perawatan VVIP, satu orang perawat dan satu orang dokter tengah menangani pasiennya.
"Dokter harus memastikan kalau istri dan calon anak saya baik-baik saja," kata Alex pada dokter obgyn yang tengah memeriksa kondisi AnnaBella dan kandungannya.
"Anda tenang saja, Tuan. Kami akan berusaha melakukan semaksimal mungkin," kata dokter wanita tersebut, sambil mengoleskan gel di atas perut buncit Anna hendak memeriksa detak jantung janin yang berada di dalam perut. Sementara AnnaBella, sejak tadi wanita itu hanya tenang dan diam saja. Semenjak meninggalkan ruang UTD, satu kalimat pun belum terucap dari bibirnya.
Alex sedikit lega setelah mendengar penjelasan dokter, tapi dia tidak boleh senang dulu karena bisa saja beberapa jam ke depan efek samping dari donor darah yang baru saja dilakukan oleh istrinya baru terlihat.
Alex kemudian duduk di samping istrinya, kemudian menatap wajah wanita yang sejak tadi membisu itu dengan lekat.
"Kamu marah padaku?" tanya Alex, tapi AnnaBella hanya menjawabnya dengan gelengan sambil menunduk. "Lihat aku." Alex menarik dagu istrinya dan membuat wanita itu mendongak menatap matanya. "Apa kamu marah padaku?" Alex kembali mengulangi pertanyaan yang sama.
__ADS_1
AnnaBella tidak langsung menjawab, dia justru malah menikmati pemandangan wajah Alex yang terlihat sangat khawatir, cemas, dan ketakutan karena ulahnya.
"Tidak, aku tidak marah."
"Lalu kenapa kamu diam?" Alex kembali bertanya.
"Bukankah tadi kamu sendiri yang membentakku dan menyuruhku untuk diam," jawabnya dengan polos.
Alex mengusap wajahnya sambil mendengus. Sejujurnya dia masih sedikit kesal pada istrinya itu. "Kenapa tiba-tiba istriku jadi sok polos begini sih? Kalau memang kamu patuh dan mau menuruti apa saja yang aku katakan, lalu kenapa kamu bisa sampai di tempat ini, hm?"
AnnaBella semakin menunduk dan menekuk wajahnya. "Aku minta maaf, Dad."
Lagi-lagi Alex kembali mendengus, kemudian memeluk istrinya dengan erat. "Aku juga minta maaf, Sayang. Tadi aku sudah memarahi dan membentakmu. Aku tidak sengaja. Maaf." Alex menjeda ucapannya sejenak. "Kamu tahu, betapa panik dan takutnya aku saat mengetahui bahwa kamu pasti sudah kabur ke rumah sakit. Di otakku hanya memikirkan hal-hal terburuk, tapi syukurlah karena kalian berdua baik-baik saja. Semoga ke depannya pun juga demikian."
AnnaBella tersenyum. "Daddy tenang saja, kami berdua pasti baik-baik saja." Wanita itu berkata dengan yakin.
Mendengar ucapan yang terkesan sangat santai keluar dari mulut istrinya, Alex sontak mengurai pelukan mereka kemudian menangkup kedua pipi istrinya dan menatapnya lekat-lekat.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu sesantai itu setelah apa yang sudah kamu lakukan, hm? Hal yang kamu lakukan itu bisa saja membahayakan kondisi calon anak kita. Mengerti?"
Kembali diomeli oleh Alex, AnnaBella justru malah memasang senyuman manis. Rupanya, dia sudah menggunakan hak istimewa keduanya untuk meminta agar dirinya dan bayinya semakin sehat setelah melakukan donor darah untuk David, makanya dia bisa sesantai sekarang. Seandainya hak istimewa itu sudah habis terpakai pada misi sebelumnya, Bella juga tidak begitu yakin janinnya akan baik-baik saja.