Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 79- ENDING


__ADS_3

Tetes demi tetes darah milik Anna sudah masuk ke dalam tubuh David. Dengan harap-harap cemas nyonya Merry dan Davidya menatap David dari balik dinding kaca ruang perawatan, berharap setelah ini David mereka akan segera sadar.


Sementara itu di tempat lain, AnnaBella tengah tertidur di atas ranjang perawatannya. Sejak dia masuk ke dalam sana, Alex tak sedikit pun membiarkan dia beranjak dari tempat, karena merasa sangat bosan, wanita itu pun memutuskan untuk tidur.


Di dalam mimpi, Bella melihat Dewa Harapan tengah tersenyum kepadanya. "Selamat, kamu berhasil menyelesaikan misi kehidupan ketigamu. Sekarang kamu bisa menikmati hidup layaknya manusia normal dan hidup sampai benar-benar tua."


Bella tentu saja merasa sangat senang mendengar hal itu, saking senangnya dia sampai meneteskan air mata. Akhirnya, setelah melewati berbagai lika liku, hari yang dinanti-nantikan ini tiba juga.


"Terima kasih banyak Dewa, berkatmu aku bisa memiliki kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya meski pun di tubuh yang berbeda." Bella berkata sambil menyeka air mata bahagianya.


"Terima kasih kembali. Sekarang kamu sudah tahu 'kan kalau sebenarnya di sini kita melakukan simbiosis mutualisme, kamu bisa hidup kembali seperti keinginanmu, membalaskan dendammu terhadap mantan suami dan sahabatmu, kemudian menemukan cinta sejatimu. Sementara aku, aku pun mendapatkan apa yang aku mau."


"Memangnya apa yang kamu mau, Dewa?" tanya Bella penasaran, tapi Dewa Harapan hanya membalasnya dengan senyuman.


"Sudah waktunya aku pergi." Dewa Harapan kemudian berjalan mundur sambil melambaikan tangan pada Bella.


"Tunggu, Dewa. Kamu belum menjawab pertanyaanku. Akh." Bella langsung menghalangi kedua matanya dengan tangan ketika cahaya putih menyilaukan tiba-tiba muncul dan menelan sosok Dewa Harapan.


"Sayang, Sayang. Bangun, Sayang. Apa kamu sedang bermimpi?" Alex mengguncang lengan istrinya ketika melihat gelagat aneh wanita itu saat sedang tertidur.


AnnaBella membuka matanya secara perlahan. Netranya langsung menangkap sesosok pria yang sangat dia cintai.


"Dad." Wanita itu tersenyum kemudian memeluk leher Alex erat-erat sambil menangis bahagia.


"Sayang, ada apa? Apa tadi kamu mimpi buruk? Kenapa kamu menangis?" tanya Alex penasaran.


AnnaBella tersenyum cerah sambil melepaskan pelukannya setelah menyeka air mata yang sempat membasahi pipinya. "Tidak, Dad. Aku sama sekali tidak bermimpi buruk, justru malah sebaliknya."


"Maksudnya?" Alex mengerutkan keningnya heran. "Tapi tadi kamu menangis, Sayang, memangnya kamu memimpikan apa sampai menangis saat tertidur sampai kamu terbangun?"


"Itu, aku bermimpi-"


Tok tok tok!


Ucapan AnnaBella langsung terpotong ketika seseorang mengetuk pintu ruang perawatan wanita itu. Alex dan AnnaBella sontak melihat ke arah pintu, rupanya Davidya yang berdiri di sana.


"Kak Davidya."


"Boleh aku masuk?" tanya wanita itu.


"Tentu saja, Kak. Masuklah." AnnaBella menjawab sambil tersenyum ramah, berbanding terbalik dengan Alex yang justru menatap wanita itu dengan tajam.


"Mau apa lagi kamu datang kemari?" Alex berdiri dari duduknya hendak menghampiri Davidya, tapi istrinya dengan cepat mencekal pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Dad, jangan seperti itu," ucap AnnaBella.


"Tapi, Sayang, tujuan wanita itu kemari pasti hanya ingin-"


"David sudah siuman," ucap Davidya cepat, membuat Alex dan Anna menatapnya.


"Benarkah, Kak? Apa aku boleh pergi menjenguknya?" tanya AnnaBella.


Davidya tersenyum. "Tentu saja, karena itulah aku datang kemari."


"Sayang, kamu tidak lupa 'kan kalau sekarang kamu juga tengah dirawat?" kata Alex. Dia sebenarnya tidak rela jika istrinya pergi menjenguk pria itu. Bagaimana jika nanti David tidak rela melepaskan Anna untuknya.


"Tidak apa-apa, Dad, aku baik-baik saja. Kamu juga mendengar apa yang dikatakan dokter tadi, 'kan? Kalau aku dan calon anak kita baik-baik saja."


"Tapi, Sayang-"


"Tuan Alexander, kamu tidak usah khawatir, adikku tidak akan pernah merebut Anna darimu." Ucapan Davidya membuat Alex terdiam, sepertinya wanita itu bisa membaca isi pikirannya. "Jika kamu bertanya apa alasannya, kamu bisa ikut bersama istrimu dan melihatnya sendiri."


AnnaBella dan Alex saling menatap. Sekarang ini di pikiran keduanya hanya satu, jangan-jangan terjadi sesuatu pada David setelah pria itu siuman. Karena penasaran, Alex pun membawa istrinya menggunakan kursi roda menuju ruang perawatan tempat David di rawat. Meski pun AnnaBella merasa kondisinya sangat baik, tapi Alex tidak akan membiarkan istrinya itu berjalan sendiri ke sana.


Sesampainya di sana, mereka bertiga melihat nyonya Merry sedang berbicara dengan David.


"Ibu bilang tadi namaku David?" David yang nampak linglung setelah sadar bertanya pada sang ibunda.


"Kak Davidya, apa yang terjadi?" tanya AnnaBella.


"Kata dokter, David mengalami amnesia."


Deg. AnnaBella dan Alex langsung menatap Davidya.


"Itu karena saat dia menolongmu waktu itu, kepalanya mengalami cedera yang cukup parah," imbuh Davidya menjelaskan.


Wanita itu jelas sedih mendengarnya. "Kak Davidya, ini semua salahku. Aku benar-benar minta maaf."


Davidya tersenyum. "Tidak perlu minta maaf. Aku justru bersyukur David hilang ingatan. Karena kalau tidak ..." Davidya menatap Anna dan Alex secara bergantian, bibirnya tersenyum tapi matanya berkaca-kaca, "aku tidak bisa membayangkan betapa depresinya dia begitu bangun justru malah mendapati fakta bahwa sekarang kamu sudah menikah dan sebentar lagi memiliki anak."


"Kak Davidya, aku juga minta maaf, padamu dan pada David," ucap Alex tiba-tiba. Melihat kondisi David sekarang ini dia pun turut prihatin. "Dan aku berterima kasih banyak atas pengorbanan adikmu untuk istriku. Aku tidak akan pernah melupakan pengorbanannya sampai kapan pun."


Davidya hanya tersenyum menanggapi ucapan Alex, kemudian mengajak sepasang suami istri itu untuk mendekat pada adiknya. Rupanya David benar-benar tidak ingat siapa pun, termasuk Anna, wanita yang dulunya sangat dia cintai.


.


.

__ADS_1


5 Tahun lebih kemudian.


"Mommy, Mommy, Uncle David sudah datang!" teriak seorang gadis kecil yang wajahnya sangat mirip dengan Anna, bak pinang dibelah dua tapi beda versi. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, dan dia mengenakan gaun putih bernuansa rainbow. Gadis kecil itu lantas berlari menghampiri David.


"Happy birthday, Livy. Ini hadiah untukmu," ucap David.


"Terima kasih banyak, Uncle. Livy sayang Uncle." Gadis kecil itu menerima hadiahnya kemudian memeluk leher David dan men ci um pipinya.


"Uncle juga sayang Livy." David balas men ci um pipi gadis kecil itu kemudian membawanya ke dalam gendongannya. "Oh iya, mana Lynella? Uncle juga punya hadiah untuknya."


"Kak Lyn tadi masih ada di dalam kamar," jawab Livy.


Lyn atau Lynella adalah saudara kembar Livy. 5 Tahun lalu, kelahiran keduanya sempat menggemparkan keluarga besar mereka. Pasalnya, anak kembar perempuan itu lahir tidak identik, Livy memiliki wajah yang sama persis dengan Anna, sedangkan Lynella, gadis kecil itu sangat mirip dengan Bella. Bukankah hal itu sangat membingungkan?


David menggendong Livy menuju kamar Lyn. Di dalam sana mommy mereka nampak masih mendadani putri sulungnya.


"Kak Lyn!" panggil Livy. "Uncle David sudah datang."


Lyn langsung menoleh. Bella junior tersebut tersenyum sumringah melihat kedatangan pria itu.


"Uncle David ...!" Lyn berlari memeluk paha David.


Sementara David, pria itu lantas menurunkan Livy dari gendongannya, kemudian memberikan hadiah untuk Lyn. "Happy birthday, Lyn. Ini kado untukmu."


"Terima kasih, Uncle. Uncle baik sekali," ucapnya sambil mencium pipi David.


David tersenyum sambil mengelus puncak kepala Lyn dengan lembut. "Sama-sama, Sayang."


Setelah mendapatkan kado dari David, Lyn lantas kembali pada mommy-nya, karena rambut gadis kecil itu memang belum selesai diikat. Sementara Lyvi, David mengajaknya keluar ke ruangan tempat ulang tahun mereka nanti akan diadakan.


Berselang satu jam kemudian.


"Happy birthday Lyn dan Livy, Mommy dan Daddy berharap kalian berdua tumbuh menjadi anak yang hebat dan cerdas." Alex dan AnnaBella masing-masing mencium pipi kedua putri mereka. Sementara itu, David menatap Livy dengan lekat sambil tersenyum.


'17 Tahun lagi. Aku masih harus bersabar menunggumu 17 tahun lagi.' Batin David. Ingatan pria itu lantas terbang pada kejadian tidak logis yang pernah dia alami beberapa tahun silam.


Flashback On.


"David Alyson, kau sudah berhasil menyelesaikan misi kehidupan terakhirmu, lantas apa sekarang yang kau inginkan?" Dewa Harapan pemegang tahta tertinggi bertanya pada David yang saat itu masih menjadi salah satu bagian dari mereka.


Dewa Harapan alias David terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku ingin awet muda dan Anna Harold terlahir kembali hanya untukku."


Flashback Off.

__ADS_1


...~TAMAT~...


__ADS_2