
Pada saat jam pulang kerja, Anna tiba-tiba saja menerobos masuk ke dalam mobil Alex.
Tap!
Mendengar suara pintu mobilnya ditutup dari arah samping, Alex pun segera menoleh. Pria itu sedikit terkejut dengan kehadiran sekretarisnya yang sekarang ini sudah duduk di sampingnya.
"Sekretaris Anna? Kenapa kamu bisa masuk ke dalam mobilku?" Alex merasa sedikit kebingungan. Ini pertama kalinya Anna masuk ke dalam mobilnya saat jam pulang kantor karena biasanya gadis itu pulang diantar oleh Kay.
"Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa aku ingin kembali mengejarmu?" Anna tersenyum lebar sambil memasang seatbell untuk dirinya sendiri lalu menatap pria itu.
Mendengar pernyataan gadis itu, Alex menjadi terdiam. Dia tidak ingin melayangkan protes apalagi sampai mengusir Anna keluar dari mobilnya, karena jika dirinya ditanya apakah saat ini dia merasa senang dan merasa tidak terganggu dengan kehadiran gadis itu? Jawabannya tentu saja 'iya'.
Setelah beberapa saat mobilnya melaju barulah Alex kembali membuka suara. "Katakan dimana alamat rumahmu? Biar sopirku mengantarmu pulang terlebih dahulu."
"BCD Golden, Pak," jawabnya singkat memberitahu sopir Alex nama apartemen yang menjadi tempat tujuannya.
"Ternyata kamu tinggal di apartemen yang sama denganku. Kenapa aku baru tahu hal itu?" ucap Alex tidak menyangka.
Anna tersenyum. "Tentu saja tidak. Aku hanya ingin ikut pulang ke kediamanmu."
"Kamu-" Alex melebarkan bola matanya terkejut, tidak menyangka sekretarisnya akan berani melakukan hal itu. "Apa tujuanmu sebenarnya?" tanyanya kemudian.
"Tujuanku? Ya tentu saja membuat seorang Alexander Huang bahagia hingga akhirnya bisa melupakan kesedihannya karena ditinggal mati oleh wanita yang sangat dicintainya itu." Anna menjawab dengan enteng sambil tersenyum manis menatap Alex. Dia berniat memenangkan kembali Alex dengan cara melakukan hal-hal yang disukai oleh pria itu.
Sementara itu, Alex yang ditatap lekat oleh gadis cantik itu malah menjadi salah tingkah. Dia kembali mengingat jika Anna memang pernah mengatakan hal tersebut tadi siang.
"Bagaimana caramu melakukannya? Bukankah kamu tahu jelas bahwa aku ini adalah tunangan kakakmu."
"Untuk caranya sendiri tentu saja harus aku merahasiakannya darimu," jawabnya sambil tersenyum. "Dan untuk masalah kamu adalah tunangan kakakku, tentu saja hal itu tidak menjadi masalah bagiku, karena aku tahu bahwa kamu sama sekali tidak mencintainya? Iya, 'kan? Aku bahkan bisa melihatnya dengan jelas, setiap kali dia berada di sampingmu, kamu selalu terlihat gelisah dan tidak nyaman, berbanding terbalik saat kamu bersamaku. Kamu bahkan terlihat lebih tenang dan lebih nyaman berada di dekatku ketimbang berada di dekat tunanganmu sendiri."
Alex tidak tahu bagaimana cara menyikapi ucapan sekretaris Anna. Dia akui, semua yang dikatakan oleh gadis itu memang benar adanya.
"Lalu bagaimana jika seandainya kita ketahuan?" Alex cukup mengkhawatirkan hal tersebut dikarenakan dia dan Carissa tinggal di gedung apartemen yang sama.
Mendengar Alex berkata 'kita' membuat Anna yang duduk di sampingnya semakin tersenyum lebar. Itu artinya, pria itu sama sekali tidak keberatan jika diajak selingkuh tipis-tipis oleh adik iparnya sendiri.
"Tentu saja aku tidak takut. Apa gunanya kamu jika tidak bisa membantuku mencari alasan?" balas Anna.
"Cih." Alex berdecih sambil membuang pandangannya ke arah luar.
__ADS_1
Sepertinya Anna Harold yang dulu benar-benar sudah kembali. Batinnya.
.
.
Sesampainya di ruang basemen apartemennya, Alex melihat mobil Carissa tidak ada di sana. Itu artinya, wanita itu sedang pergi keluar.
Syukurlah. Berarti tidak akan ada drama dua wanita bersaudara itu bertengkar karena memperebutkanku.
.
.
Begitu mereka sampai di unit Alex.
"Kenapa kamu berani ikut pulang denganku? Apakah kamu tidak takut aku akan berbuat macam-macam padamu?" Pertanyaan yang begitu lucu terasa menggelitik di telinga Anna, lebih tepatnya menggelitik indera pendengaran Bella, sehingga membuat gadis itu mau tidak mau pun tertawa.
Jangankan terhadap Anna Harold, padaku dulu pun kamu hanya berani melakukan hal-hal aneh saat kamu sedang mabuk saja. Saat sadar, kamu mana berani melakukannya. Jelas-jelas kamu sudah mencintaiku secara diam-diam selama bertahun-tahun, dan selama 5 tahun lamanya, kita selalu menghabiskan waktu bersama, entah itu di kantor, di luar, mau pun di apartemenmu yang lama, tapi tidak pernah sekali pun kamu berani berbuat kurang sopan padaku. Padahal jika sengaja dipikir-pikir, kamu memiliki banyak sekali peluang untuk berbuat macam-macam, mengingat terlalu banyaknya waktu yang kita habiskan berdua saja. Batinnya.
"Apanya yang lucu? Kenapa kamu tertawa?" tanya Alex.
"Tidak, tidak apa-apa. Kedengarannya lucu saja, jadi aku tertawa," jawab Anna.
"Kamu mau apa?" tanya Alex yang tiba-tiba muncul di belakang gadis itu.
Tadinya Bella pikir pria itu masuk ke dalam kamarnya membersihkan diri dan berganti pakaian, nyatanya malah diam-diam membuntutinya sampai ke dapur.
"Aku, aku ingin memasak menu makan malam untukmu, tapi aku tidak menemukan bahan makanan apa pun yang bisa dimasak di sini."
Alex mengulum senyum. " Sekretaris Anna, aku tidak percaya pada kemampuan memasakmu. Daripada kamu membuatku sakit perut, lebih baik kita makan di luar saja. Ayo."
"Tapi-" Seketika Alex menarik pergelangan tangan Anna membuat ucapan gadis itu terpotong.
.
.
Parkiran
__ADS_1
Kini Anna dan Alex sudah masuk ke dalam mobil. Namun, sebelum Alex sempat menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba dia melihat mobil Carissa melaju ke arahnya. Pria itu pun mengurungkan niat untuk menyalakan mesin mobilnya. Tentu saja karena takut ketahuan sedang bersama gadis lain di dalam mobil.
"Menunduk." Tiba-tiba saja Alex menarik tangan kanan Anna lalu menekan pundak gadis itu agar segera menunduk dan bersembunyi.
Anna yang tidak tahu apa-apa pun jadi terkejut dan bertanya-tanya tapi tetap saja menurut. "Memangnya ada apa?"
"Mobil Carissa datang," jawab Alex seraya ikut menunduk.
"Oh."
Selama beberapa detik mereka berdua terdiam, namun tidak berselang lama Anna pun terkekeh. "Sadar tidak? Kita berdua sudah seperti pasangan selingkuhan yang takut kepergok istri sah."
"Diam," katanya sambil menyumpal mulut Anna menggunakan tangan besarnya.
Kini mobil Carissa sudah terparkir tepat di samping mobil Alex. Wanita itu tersenyum saat mengetahui bahwa ternyata tunangannya sudah kembali dari kantor. Carissa pun segera turun dari mobil, tapi tiba-tiba saja seorang pria paruh baya berpakaian lusuh dengan penampilan yang lumayan berantakan datang menghampirinya.
"Carissa, Carissa." Pria paruh baya itu berusaha menghadang langkah Carissa. Saat ini keduanya sudah berdiri tepat di depan mobil Alex.
"Mau apa lagi kamu datang menemuiku?!" ketus Carissa, sambil melihat ke arah sekeliling dengan panik.
"Nak, Ayah hanya-"
"DIAM!" bentaknya, sambil kembali melihat ke arah sekelilingnya dengan panik. Carissa sangat berharap tidak akan ada yang mencuri dengar obrolan mereka.
Karena dibentak, pria paruh baya itu pun jadi menunduk sedih.
"Dengar," Carissa menarik pria paruh baya itu untuk bersembunyi diantara mobilnya dan mobil milik tunangannya, "sudah aku bilang, jangan pernah berani-berani menemuiku secara langsung seperti ini. Jika kamu butuh uang, kamu tinggal menelponku saja. Aku pasti akan memberikan berapa pun uang yang kamu minta, tapi aku minta tolong, jangan lagi menemuiku seperti ini. Kamu tahu 'kan betapa berbahayanya jika sampai ada orang yang melihat apalagi sampai menguping pembicaraan kita." Carissa berkata dengan suara yang sudah dia pelankan.
"Ayah minta maaf, Nak, karena ayah sudah membuat kamu marah dan tidak senang karena kehadiran Ayah." Nada suara pria paruh baya itu pun sudah ikut dipelankan.
"Cukup. Katakan saja berapa uang yang kamu butuhkan?" Carissa yang tidak bisa lagi berlama-lama pun memilih untuk langsung pada intinya. Takut pertemuan mereka dilihat oleh orang lain.
"Ayah butuh ...."
"Cepat katakan, jangan membuang-buang waktuku," desak Carissa tak tenang.
Pria paruh bayah itu semakin menunduk sedih. "Ayah butuh uang 30 juta untuk biaya operasi."
Bukannya menanyakan pria paruh baya itu sakit apa sehingga harus dioperasi, Carissa malah mengeluarkan selembar cek dan menuliskan angka berlipat-lipat kali lebih besar dari yang diminta pria paruh baya yang mengaku sebagai ayahnya tersebut.
__ADS_1
"Ambil ini dan pergilah. Mulai sekarang, jangan pernah coba-coba lagi muncul di hadapanku." Carissa langsung melenggang pergi setelah pria paruh baya itu menerima selembar cek darinya.
B e r s a m b u n g ...