Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 65 - Bagaimana Dengan Kita?


__ADS_3

Bella menatap wajah Anna di cermin. "Astaga. Bagaimana bisa aku menyerahkan mahkota Anna Harold dengan begitu mudahnya pada presdir Huang? Aku pasti sudah gila karena terlalu lama tidak disentuh."


Ya, sebagai seorang wanita yang sudah pernah menikah dan tentunya sudah sering merasakan nikmatnya 'ehm ehm' bersama mantan suaminya, Bella tentu saja sulit menolak sentuhan dan menepis pesona Alex yang begitu tampan, tapi yang menjadi masalah sekarang adalah, tubuh yang dia pakai ber cinta dengan Alex bukanlah tubuhnya sendiri, melainkan milik perempuan lain.


"Oh Anna Harold maafkan aku. Aku tahu aku tidak seharusnya melakukan ini padamu, aku sungguh minta maaf. Aku tahu kamu sangat mencintai presdir Huang, tapi seharusnya hal seperti ini masih belum boleh dilakukan, dan aku tahu ini semua terjadi karena kesalahanku. Aku yang tidak bisa mengendalikan diri dan menolak untuk ber cinta dengannya" sesal Bella sambil terus menatap wajah Anna Harold pada cermin dengan ekspresi wajah bersalah dan menyesal.


Puas merutuki perbuatannya, Bella pun memutuskan untuk beranjak keluar dari kamar setelah dia selesai merapikan kembali penampilannya. Namun, matanya seketika terbuka lebar ketika memutar kenop pintu tapi pintunya tidak bisa terbuka.


"Loh, loh? Kenapa pintunya tidak bisa terbuka? Apa pintunya terkunci?" Bella seketika menjadi panik sendiri.


"Presdir Huang! Presdir Huang! Tolong buka pintunya!" teriaknya sambil menggedor-gedor pintu.


.


.


Sementara itu di waktu yang sama namun tempat berbeda, Alex tengah memarkirkan mobilnya kembali di ruang basemen gedung perkantoran Hawei Group.


Sebelum dia turun dari mobil, ponselnya tiba-tiba saja berdering, panggilan dari seseorang. Tanpa menunggu lama-lama Alex pun segera menjawab panggilan tersebut.


"Halo. Bagaimana, Nick?" tanyanya tanpa basa-basi. Dia memang sudah tidak sabar menantikan panggilan telepon dari pria yang bernama Nicky tersebut.


"Tuan Alexander, saya sudah menemukan informasi mengenai orang yang Anda maksud," jawab Nicky.


"Bagus. Sekarang coba jelaskan padaku," perintah Alex tidak sabar.


"Begini, Tuan, orang yang Anda ingin ketahui informasinya itu bernama pak Benny atau biasa dipanggil pak Ben. Sekarang ini beliau sudah tidak bekerja lagi karena sudah sakit-sakitan sejak 3 tahun yang lalu."

__ADS_1


"Lalu, apa hubungan orang itu dengan Carissa? Kenapa waktu itu aku melihat Carissa memberinya selembar cek?" tanya Alex. Ini sebenarnya yang membuatnya sangat penasaran sehingga menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki pria paruh baya yang dia lihat menemui Carissa di parkiran apartemen waktu itu.


"Mm ... begini, Tuan. Saya mohon Anda jangan terkejut saat mendengar berita ini. Sebenarnya ... tunangan Anda bukanlah putri kandung tuan Harold, melainkan anak biologis dari selingkuhan nyonya Irene, yaitu ... pak Ben."


"Apa?!" Alex begitu terkejut mendengarnya.


"Dan satu lagi yang mesti Anda ketahui, Tuan, satu-satunya putri kandung tuan Harold hanyalah nona Anna Harold. Tapi yang membuat keluarga Harold menjadi sedikit rumit karena nyonya Irene bukanlah ibu kandung nona Anna, melainkan putri dari selingkuhan tuan Harold."


Alex terdiam memikirkan penjelasan orang suruhannya tersebut. Dia tidak habis pikir, bagaimana mungkin keluarga terpandang seperti keluarga Harold yang terlihat baik-baik saja dan sangat harmonis selama ini ternyata aslinya begitu berantakan. Suami dan istri sama-sama selingkuh, juga sama-sama memiliki anak dari selingkuhannya masing-masing, dan kedua anak mereka sama-sama dibesarkan di bawah satu atap yang sama. Sungguh luar biasa. Pikir Alex.


"Mm ... Nick, apakah tuan Harold tahu kalau Carissa bukanlah anak kandungnya?" tanya Alex ingin memastikan.


"Tidak sama sekali, Tuan. Yang tuan Harold pikir bahwa hanya dia yang beselingkuh dari nyonya Irene. Beliau sama sekali tidak tahu bahwa nyonya Irene ternyata lebih dulu berselingkuh darinya, bahkan sampai melahirkan anak dari pria lain," jelas Nicky untuk yang kesekian kalinya.


"Ah, baiklah, Nick. Kerjamu bagus sekali," puji Alex. "Oh iya, aku masih punya satu tugas lagi untukmu, dan aku harap kamu bisa menyelesaikannya secepat mungkin."


.


.


Beberapa saat kemudian.


Alex membuka kunci pintu kamar yang ada di ruangannya dengan terburu-buru. Dia yakin, pasti wanitanya sudah marah di dalam sana. Bagaimana tidak, dia sengaja mengunci pintu kamar dari luar tanpa memberikan sedikit pun penjelasan.


Ceklek. Begitu pintu kamar sudah terbuka, Alex buru-buru masuk ke dalam sana.


"Say-" Bibir Alex seketika terkunci saat melihat bahwa ternyata wanitanya sudah berdiri di hadapannya sambil menatapnya dengan tatapan tajam disertai kedua tangan yang terlipat di depan dada. Tidak salah lagi, wanita itu pasti marah karena dikunci selama setengah jam di dalam kamar.

__ADS_1


Tanpa meminta penjelasan sedikit pun, Anna langsung mendorong Alex ke samping hingga pria itu bergeser dan memberinya jalan untuk keluar.


Anna melenggang keluar meninggalkan ruangan Alex. Yang membuatnya kesal, Alex sudah membuang-buang waktunya selama lebih dari 1 jam pagi ini. Padahal, di luar sana dia masih punya banyak sekali pekerjaan yang harus segera dia selesaikan, salah satunya materi meeting pagi ini yang harus dia cek betul-betul. Jangan sampai dia melakukan kesalahan ketika melakukan presentasi saat rapat sedang berlangsung pukul 10 pagi nanti.


"Sayang, tunggu. Dengarkan penjelasanku dulu," panggil Alex seraya berusaha mengejar Anna tapi sekretaris kesayangannya itu malah sudah terlanjur keluar dari ruangannya.


Kini Anna sudah duduk di balik mejanya dengan wajah cemberut sambil membuka komputernya. Sekarang dia mengerti kenapa banyak perusahaan di luar sana yang melarang adanya hubungan percintaan yang terjalin antar karyawannya.


Melihat wanitanya marah, Alex langsung menarik tangan Anna, dia ingin mengajak wanita itu bicara baik-baik tapi sekretarisnya itu malah langsung menepis tangannya.


"Sayang, ikut aku. Aku ingin bicara sebentar denganmu," bujuk Alex dengan berbisik, takut ada yang mendengarnya memanggil sekretarisnya itu dengan panggilan 'sayang'.


"Presdir Huang, sadar tidak? Ini itu tempat kerja, tidak baik membahas masalah pribadi saat jam kerja masih berlangsung," kata Anna yang juga setengah berbisik sambil terus mengarahkan pandangan ke layar monitor komputernya.


"Iya, aku tahu, Sayang. Tapi bisakah kita bicara sebentar? Sebentar ... saja. Lagi pula, siapa yang akan marah pada kita, aku 'kan bos di sini."


"Presdir Huang yang terhormat, saya tahu perusahaan ini milik Anda, tapi bagaimana kalau kinerja saya sebagai sekretaris presdir menurun? Siapa yang akan bertanggung jawab? Siapa yang akan disalahkan kalau saya melakukan kesalahan saat presentasi rapat nanti? Bisakah Anda tidak memarahi saya kalau saya sampai mempesentasikan data laporan dengan asal-asalan, hm?"


Alex terdiam. Sepertinya tidak ada gunanya dia memaksa Anna untuk bicara dengannya pagi ini.


"Baiklah, jam istirahat nanti aku mau kita bicara," kata Alex. Karena tidak mendapatkan tanggapan apa pun dari wanitanya itu, Alex lantas kembali masuk ke dalam ruangannya dengan perasaan galau.


"Max, bagaimana kalau ternyata dia tidak mudah dibujuk? Bagaimana denganmu? Bagaimana juga denganku? Bagaimana dengan kita?" gumam Alex sembari menatap wanitanya dari balik dinding kaca ruangannya.


B e r s a m b u n g...


...__________________________________________...

__ADS_1


...Halo Bestie, sembari menunggu Babang Alex dan AnnaBella update, kuy baca karya baru Akak Otor yang udah tamat, judulnya 'Musuhku, Jodohku'. Dijamin gak kalah seru loh😄...


__ADS_2