Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 41 - Move On?


__ADS_3

Ketika Anna dan Kay sudah sampai di depan pintu unit Carissa.


"Apa kamu sudah siap bertemu dengannya?" Kay bertanya sambil menatap gadis yang berdiri tepat di sampingnya. Dia tahu jika ini pertama kalinya Anna akan kembali bertemu dengan kakaknya setelah wanita itu menjadi tunangan presdir Huang. Dan pertanyaan Kay itu langsung Anna balas dengan anggukan disertai senyuman menandakan bahwa dirinya sudah siap lahir batin bertemu dengan Carissa.


Melihat Anna sudah benar-benar siap bertemu dengan kakak sekaligus rivalnya tersebut, Kay pun segera menekan bel pintu. Tidak berselang lama, seorang pelayan datang membukakan pintu untuk mereka berdua.


"Silahkan masuk, Tuan, Nona. Tuan Alex dan Nona Carissa sudah menunggu Anda sejak tadi," ucap pelayan tersebut.


"Terima kasih."


Sementara itu di dalam kamar si pemilik unit, Alex dan Carissa sedang duduk dengan posisi yang sangat mesra di atas sofa, sambil menunggu kedatangan asisten Kay dan sekretaris Anna. Semenjak Alex datang, Carissa tidak pernah berhenti bergelayut manja di lengan pria yang sudah menjadi tunangannya tersebut.


"Alex, katanya kamu punya hadiah kejutan untukku. Apa itu?" tanya Carissa penasaran sekaligus tidak sabar, sambil membelai rahang tegas milik prianya, tapi yang dibelai sejak tadi hanya diam saja seperti patung bernyawa.


Merasa risih dengan perlakuan Carissa, Alex pun segera menurunkan tangan wanita itu. "Nanti saja aku tunjukkan saat acara makan malamnya di mulai."


"Baiklah, aku akan  menunggunya." Carissa terseyum senang. "Tadinya aku pikir kamu tidak bisa melakukan hal yang romantis sama sekali, ternyata aku sudah salah menilaimu."


Tok tok tok!


"Masuk!" teriak Carissa seraya memperbaiki posisi duduknya.


"Maaf mengganggu, Tuan, Nona. Orang yang ditunggu sudah datang dan sekarang sedang menunggu di meja makan," ucap si pelayan.


Saat ini Alex sedang berada di dalam kamar Carissa. Tadinya saat Alex baru pertama kali datang, Carissa langsung menarik tunangannya itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Alasannya karena wanita itu ingin dibantu untuk menaikkan ritsleting gaunnya. Padahal, dia hanya sedang berusaha menggoda Alex. Jika saja hanya sekedar menaikkan ritsleting gaun saja, ada pelayan yang bisa membantunya melakukan hal itu. Menaikkan ritsleting gaun jelas hanyalah alasan semata. Rencananya, disaat Carissa memamerkan punggungnya yang putih mulus pada pria dingin yang menjadi tunangannya tersebut, dia sangat berharap Alex akan bergair4h dan mau menyentuh dirinya nanti.


"Oh, baiklah. Katakan pada mereka untuk menunggu sebentar, kami akan segera datang," kata Carissa.


"Baik, Nona."

__ADS_1


Setelah pelayan itu pergi, Alex segera bangkit dari duduknya. "Ayo kita keluar ke sana."


Carissa mengangguk. "Ayo."


Alex merangkul pinggang Carissa dengan sangat mesra saat mereka berjalan keluar dari kamar, membuat Carissa terus mengembangkan senyuman bahagia karena perlakuan tidak biasa dari pria tersebut.


Sepertinya Alex jadi tergila-gila padaku setelah melihat perubahan wajahku yang semakin cantik. Tidak sia-sia aku menghabiskan banyak uang untuk perawatan di Korea. Batin Carissa.


Setelah hampir sampai di dekat ruang makan, kening Carissa langsung mengkerut saat melihat punggung seorang gadis yang sangat tidak asing di matanya.


Apa itu sekretaris baru Alex? Kenapa sepertinya tidak asing? Aku seperti mengenalnya? Postur tubuhnya, rambutnya, semuanya mengingatkanku pada seseorang. Apa jangan-jangan ... ah, tidak mungkin dia. Alex sangat membenci perempuan si alan itu, jadi sangat tidak mungkin dan tidak masuk akal jika dia yang menjadi sekretaris baru calon suamiku. Gumamnya dalam hati.


Sementara itu, menyadari kedatangan Alex dan Carissa, Anna dan Kay langsung berdiri dari duduknya. Mereka ingin menyapa kedua orang itu.


"Selamat malam, Presdir, Nona Carissa," sapa Kay, sementara itu Anna lebih memilih untuk diam dan menunduk. Dia sangat yakin jika Carissa pasti akan sangat terkejut saat melihat kehadirannya di sana.


Dan benar saja, Carissa langsung membelalakkan matanya saat menyadari bahwa kecurigaannya barusan ternyata benar.


"Alex, jelaskan padaku. Apa maksudnya ini? Kenapa bisa dia yang menjadi sekretarismu?" Carissa mendongak menuntut jawaban dari tunangannya tersebut.


Apakah selama ini aku masih kurang menjelek-jelekkan dia di depan Alex? Kenapa Alex masih mau menerimanya menjadi sekretaris barunya? Memangnya dia bisa apa sebagai sekretaris? Si al. Aku harus memikirkan cara untuk membuatnya segera dipecat, sebelum dia berhasil menggoda Alex dan membuatnya berpaling dariku. Batin Carissa dengan penuh emosi yang mengaduk-aduk jiwanya.


"Untuk apa aku mengatakannya? Kamu juga tidak pernah bertanya." Alex menjawab dengan ekspresi yang sama dingin dan datarnya seperti biasanya.


Tidak mendapatkan tanggapan memuaskan dari Alex, Carissa berdecak kesal seraya berbalik menatap asisten Kay dengan tatapan tajam.


"Dan kamu Asisten Kay, kenapa kamu juga menyembunyikan hal ini dariku?! Kenapa kamu tidak bilang kalau sekretaris baru Alex adalah dia! Kenapa Asisten Kay?! Kenapa?! Apa karena dia adalah teman baikmu?!" teriak Carissa tidak terima. Rasanya dia ingin menggampar asisten tunangannya itu sekarang juga, namun dia berusaha keras untuk menahan diri agar tidak melakukannya.


Melihat sikap dan reaksi Carissa saat bertemu dengan Anna, semua orang bisa menyimpulkan bahwa wanita itu sangat membenci adik perempuannya. Entah apa penyebabnya.

__ADS_1


Sementara itu, reaksi yang berbeda justru diperlihatkan oleh Anna, berbading terbalik dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Carissa. Anna sendiri nampak sangat tenang dan biasa-biasa saja saat bertemu dengan kakak kandungnya tersebut.


Semua ini salah asisten Kay. Bisa-bisanya dia tidak mengatakan hal ini padaku. Bukankah sebelumnya kami pernah bertemu, lalu kenapa dia tidak menceritakan semuanya padaku? Bukankah aku sempat menanyakan tentang sekretaris baru Alex, tapi kenapa dia tidak mengatakan bahwa sektetaris baru itu adalah Anna? Atau mungkin dia memang sengaja melakukannya karena dia ingin melindungi gadis itu? Kurang ajar sekali. Lihat saja nanti, kalau aku sudah menikah dengan Alex, aku pastikan akan menyingkirkannya juga. Di luar sana masih banyak orang cerdas dan kompeten yang bisa dijadikan sebagai asisten, kalau perlu, aku sendiri nanti yang akan mencarikan asisten baru untuk suamiku. Batinnya lagi.


"Kalau keberadaan kami disini tidak diinginkan oleh Nona Carissa, maka sebaiknya kami pergi saja. Permisi," ucap Kay, lalu menunduk sopan ke arah Alex dan Carissa. "Ayo Anna." Kay menarik tangan Anna untuk pergi dari sana, tapi tiba-tiba saja aksinya itu langsung dicegah oleh Alex.


Gawat! Mereka tidak boleh pergi. Batin Alex.


"Tunggu, Kay! Kalian tetaplah disini. Jangan kemana-mana," cegah Alex.


Setelah memastikan bahwa Anna dan Kay tidak jadi beranjak dari tempatnya, pria itu pun lalu berbisik pada tunangannya. "Sudahlah, jangan membuat keributan. Kamu sendiri yang sudah mengundang mereka untuk datang makan malam kemari. Lagi pula, apakah kamu ingin mengusir mereka sebelum mereka menjadi saksi bahwa malam ini aku memberikan hadiah kejutan spesial untukmu?"


Mendengar bisikan Alex, amarah Carissa yang tadinya membakar hati kini berangsur padam. Mengingat bahwa sekarang statusnya adalah tunangan Alex dan dirinyalah yang paling berhak atas pria itu, Carissa seketika merasa tidak ada lagi yang perlu dia takutkan, apalagi sekarang Alex sudah tergila-gila padanya.


Setelah keadaan sudah kembali tenang, makan malam akhirnya dimulai, dengan posisi Alex duduk berhadapan dengan Anna, dan Kay berhadapan dengan Carissa.


Saat mereka tengah makan bersama, Anna dan Kay hanya diam saja. Mereka berdua hanya fokus pada makanan di piring mereka masing-masing. Sementara dua orang di seberang meja mereka terus saja memerankan adegan makan malam romantis berdua, seolah kedua tamu yang mereka undang hanyalah sebuah pajangan yang tidak dipedulikan keberadaannya.


Alex menyuapi Carissa, begitu pula dengan wanita tersebut, dia juga menyuapi Alex dengan makanan.


Melihat kemesraan Alex, rasanya Kay ingin segera menarik Anna pergi dari sana. Pria itu takut Anna kembali terluka karena pemandangan di hadapan mereka. Namun, melihat Anna makan dengan lahap dan tidak memepedulikan pemandangan di hadapannya, Kay pun memilih untuk mengurungkan niat.


Sementara itu, Alex justru merasa jengah karena melihat Anna yang sama sekali tidak menampakkan raut tidak suka apalagi cemburu padanya.


Aku pikir dia tidak bisa makan karena melihat kemesraanku dengan Carissa, rupanya aku salah, dia justru makan dengan lahap dan malah aku yang tidak bisa makan. Batin Alex dengan perasaan kesal.


"Sayang, aa ...." Carissa mencoba menyuapi Alex kembali, tapi pria itu justru menolak dengan berkata, " Aku sudah kenyang."


Alex lalu bangkit dari duduknya. Ini saatnya aku memberikan kalung pemberian Aarav pada Carissa. Aku yakin, rencanaku kali ini pasti akan berhasil. Batin Alex sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Pejamkan matamu," kata Alex pada Carissa, membuat Anna dan Kay ikut menatap ke arah dua orang yang seperti sedang dimabuk cinta tersebut. (Tapi bohong😅)


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2